6. Hantu

Sesuai dugaan Faenish, sekolah heboh dengan kasus kematian Nenek Magda. Baru saja ia melangkah ke area sekolah, Faenish sudah diserbu berbagai pertanyaan soal peristiwa itu. Untung saja ada Drina dan Ryn yang seakan menjadi pengawal pribadinya. Namun sikap kedua sahabatnya itu malah semakin aneh setelah kembali dari menemui seorang guru pada jam istirahat. Faenish tahu ada yang tidak beres, tetapi tidak ada satu pun yang mau menjelaskan ada apa.

"Faenish bisakah kau tunggu sebentar, ada yang ingin kami tunjukan padamu," seru Ryn dengan terlewat bersemangat begitu bel pulang berbunyi.

Faenish menatap bingung ke arah dua sahabatnya, tidak biasanya mereka menahan diri saat jam pulang sekolah. Biasanya justru mereka yang akan buru-buru menyeret Faenish pulang dan dengan buru-buru juga pergi untuk urusan masing-masing.

"Kau akan tahu nanti," seru Ryn sebelum Faenish sempat mengucapkan sesuatu. Ryn kemudian melirik dua orang teman sekelas mereka yang masih sibuk membereskan tas. Begitu kedua orang terakhir itu meninggalkan kelas, Ryn langsung memeluk Faenish dengan erat.

"Astaga Faenish, Akhirnya. Aku benar-benar senang."

Tak seperti biasanya, Drina pun ikut memeluk Faenish.

"Ada apa sebenarnya?" Faenish berusaha keras membebaskan dirinya dari kemungkinan mati kehabisan napas.

"Akan kami jelaskan nanti. Kita harus menunggu sedikit dan kami akan menunjukannya padamu." Drina akhirnya melepaskan pelukannya, disusul Ryn yang entah kenapa telah berubah ekspresi menjadi sedih.

"Kami benar-benar minta maaf Faenish, kami tidak bermaksud menyimpan rahasia darimu. Hanya saja kami tidak boleh mengatakannya, aku benar-benar minta maaf." Ryn nyaris terisak sekarang.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" Faenish semakin tidak mengerti.

"Oh, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi." Ryn berseru frustrasi sebelum mendekatkan diri dan berbisik kepada Faenish. "Kami adalah Kaum Berbakat dan sekarang kau juga."

"Kalian juga?" Seru Faenish tak percaya.

"Kau sudah tahu?" Kini giliran Drina yang bingung.

"Bisa dibilang begitu," jawab Faenish. "Nenek Magda mengajariku sedikit."

"Nenek Magda? Mengajarimu? Sejak kapan?" Ryn bertanya dengan kecepatan luar biasa, kata-katanya nyaris tak terdengar jelas.

"Kurasa sekitar kelas enam atau lima, aku tak begitu yakin."

"Kau belajar segel dan ramuan lebih lama dari kami," seru Ryn histeris.

"Itu melanggar aturan," tegur Drina. "Kau seharusnya tidak belajar tentang Kaum Berbakat sebelum kau dinyatakan sebagai salah satunya."

"Maaf."

"Faenish tentu saja tidak salah," bela Ryn. "Nenek aneh itu yang mengajarinya bukan?"

"Tetapi tetap saja ini tidak benar." Drina berkeras.

"Lalu? Kau mau menuntutnya? Nenek aneh itu juga sudah tidak ada sekarang." Ryn ikut ngotot. "Lagi pula, bukankah ini lebih baik? Faenish sudah tahu soal Kaum Berbakat, jadi tugas kita sebagai kakak asuhnya sedikit berkurang."

***

Nenek Magda memang sudah menceritakan tentang Akademi Pelatihan Bakat, tetapi Faenish tetap merasa gugup saat ia berjalan mengikuti Drina dan Ryn ke area ruang guru. Jantungnya berdetak semakin cepat saat Ryn menggerak-gerakan tangan untuk menggambar sebuah segel di permukaan dinding gudang tua.

"Kau tahu soal portal?" tanya Drina kepada Faenish.

"Ya."

"Kalau begitu kau duluan," seru Ryn sambil mendesak Faenish untuk mendekat ke arah dinding yang tadi digambarinya.

Faenish pernah membaca soal portal, tetapi ia tidak pernah menggunakannya. Jadi Faenish cukup ragu saat tubuhnya didorong ke arah dinding, matanya langsung terpejam saat hampir membentur permukaan keras.

Untung saja, Faenish tidak pernah membentur dinding, ia seakan berjalan menembusnya. Saat membuka mata, Faenish telah berada di sebuah ruangan besar berbentuk kubah.

"A-a-apa itu?" Suara Ryn terdengar tidak jelas dari arah belakang Faenish.

"Astaga." Drina ikut berseru kaget.

"Ada apa?" Faenish berbalik dan mendapati kedua sahabatnya sedang menatap ngeri pada sosok transparan berjubah yang tidak lain adalah Evert.

"HANTU." Terdengar teriakan keras dari seorang gadis di dekat Faenish. Bersamaan dengan itu, Ryn tiba-tiba menarik Faenish untuk menjauh dari Evert.

"Apa itu sosok yang menyerang rumah Nenek Magda?" tanya Drina.

"Ya," jawab Faenish ragu-ragu. Ia tidak tahu bagaimana semua orang ini dapat melihat sosok Evert, tetapi Faenish bersyukur Evert menaikan tudung hingga wajahnya tersembunyi. Situasi akan lebih buruk jika mereka melihat wajahnya.

"Dia menghantuimu selama ini?" tanya Ryn.

Faenish tidak tahu bagaimana ia harus menjawab pertanyaan Ryn. Untung saja perhatian Ryn dan semua orang di tempat itu teralihkan oleh sebuah batu besar yang tiba-tiba muncul. Batu tersebut bergerak menyerang sosok Evert, disusul sekumpulan air, api, serta aliran listrik. Namun, semua serangan yang muncul seakan lewat begitu saja dan membentur permukaan dinding ruangan dengan bunyi mengerikan.

Evert tetap diam bergeming di tempatnya, tanpa luka sedikit pun. Permukaan dinding yang seharusnya rusak dengan serangan-serangan tersebut, juga terlihat mulus tanpa retak.

"Kurasa dia memang sejenis hantu," seru seorang pemuda santai sambil menepuk-nepuk tangannya pelan, seakan sedang membersikan kotoran.

"Apa yang kau lakukan Dazt?" tuntut Drina yang menjadi satu-satunya orang yang tidak menganga heran melihat perbuatan Dazt.

"Hanya memastikan dia hantu atau bukan," jawab Dazt.

"Kau menyerang seseorang dengan segel—"

"Dia tidak sepenuhnya orang, jadi aku tidak melanggar aturan. Jika itu yang kau maksud."

"Tetapi tetap saja, menyerang dengan segel terlebih di area akademi—"

"Tidak ada yang rusak bukan?"

"Daztileno menghadap Kepala Akademi." Sesosok makhluk dengan kekurusan yang luar biasa muncul dari antara kerumunan yang langsung menepi memberi jalan. "Kau juga Faenish."

"Baik Profesor Anggelita," jawab Dazt santai sebelum berjalan menghampiri Faenish. "Ayo Faenish, kutunjukan jalannya."

"Biar kami saja." Drina berseru seraya menghalangi Dazt menyentuh tangan Faenish.

"Apa saya menyebutkan nama lain selain mereka berdua? Kelas akan dimulai, masuk ke ruang kelas kalian masing-masing atau menghadap saya di kelas ramuan." Tanpa melihat respons para siswa, Profesor Anggelita langsung berbalik menuju ruangannya.

Dalam hitungan detik, kerumunan siswa langsung membubarkan diri dan bergerak menuju ke berbagai pintu yang ada di sana. Meninggalkan Faenish, Drina, Ryn, Dazt, serta Evert.

"Aku tidak menyukainya, benar-benar tidak menyukainya," keluh Ryn.

"Jangan membawa Faenish ke dalam masalah, Dazt." Drina memperingatkan.

"Aku hanya akan membawanya ke ruang Kepala Akademi, kau tenang saja," ujar Dazt. "Namun kalau dipikir-pikir, tempat itu adalah masalah bukan?"

Drina hampir membalas perkataan Dazt, tetapi Ryn buru-buru menariknya menjauh karena sekumpulan asap hitam mulai menyebar di sekeliling ruangan. Profesor Anggelita tidak pernah main-main dengan ucapannya dan 'menghadap di kelas ramuan' adalah sebuah istilah yang biasa ia gunakan untuk mengisyaratkan bahwa ia akan segera menggunakan ramuan. Bagi yang tidak menuruti perintah professor Anggelita dipastikan harus mengemis obat penawar di ruangannya. Itu jelas bukan perkara mudah.

"Kalian juga sebaiknya pergi," ucap Ryn sebelum ia buru-buru mencari pintu ke ruang kelasnya.

***

"Kau muncul dengan sangat keren di hari pertamamu, hebat." Dazt memuji Faenish seraya memandunya kembali ke area ruang guru.

Faenish tidak tahu harus merespons apa, jadi ia hanya tersenyum.

"Dia tidak mengikutimu lagi?" tanya Dazt saat mendapati Evert tidak muncul setelah mereka melewati portal.

Faenish melihat sekeliling dan ia melihat sosok Evert sedang berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Atau jangan-jangan dia masih di sini, tetapi aku tidak bisa melihatnya?" tanya Dazt lagi. Namun belum sempat Faenish menjawab, Dazt sudah berseru kembali. "Kurasa kita akan segera mengetahui jawabannya. Jika dia muncul di ruang Kepala Akademi, berarti benar dia selalu mengikutimu."

"Bagaimana bisa kau mengambil kesimpulan seperti itu?" tanya Faenish akhirnya.

"Kupikir sistem perlindungan di akademi yang membuat sosok hantu itu terlihat. Jadi di luar akademi, ia lenyap. Itu masih dugaanku, kau tidak perlu khawatir. Apapun itu, Kepala Akademi pasti tahu penyelesaian untuk masalahmu."

Tidak pernah terpikir oleh Faenish untuk meminta bantuan seseorang. Sebelum ini, ia tidak pernah tahu siapa-siapa saja yang merupakan Kaum Berbakat selain Nenek Magda. Lagi pula, Faenish ragu ia bisa menjelaskan bagaimana situasi yang sebenarnya kepada orang lain.

Setelah melewati portal di depan pintu ruangan kepala sekolah, Faenish mendapati dirinya berada di sebuah tempat asing. Sejauh mata memandang hanya ada hamparan telaga serta sebuah pondok yang berdiri tak jauh di depan.

"Sudah kuduga dia muncul," seru Dazt saat memandang Evert yang berdiri di belakang Faenish. Namun ia tidak mengatakan apa pun lagi dan berjalan mengikuti susunan bebatuan yang menuju pondok.

Di dalam pondok nampak seorang pria yang sedang menunggu. Pria itu duduk di balik sebuah meja kerja yang cukup besar. Begitu Faenish dan Dazt sampai, pria itu kemudian mempersilakan mereka duduk di depannya.

"Saya dengar kau membuat sedikit sensasi lagi hari ini Dazt?" Nada suara sang pria terdengar tenang, sama sekali tidak tersirat amarah di sana.

"Hanya sedikit percobaan dan upaya melindungi sekolah," jawab Dazt.

"Kalau begitu kau sudah tahu harus menemui siapa sekarang?"

"Tentu saja. Aku akan mencari Pak Krav. Saya permisi Kepala Akademi." Dazt pamit. Setelah menyempatkan diri untuk tersenyum sekilas ke arah Faenish dan Evert, ia berlalu pergi.

"Maafkan saya karena tidak menggunakan protokol standart untuk memintamu ke akademi ini," ujar Kepala Akademi. "Saya yakin Magda telah mengajarimu banyak hal tentang hal-hal yang dilakukan Kaum Berbakat, bukan begitu?"

"Ya." Faenish menjawab ragu-ragu. Walaupun dari tadi orang yang dipanggil Kepala Akademi di depannya terus tersenyum, tetap saja Faenish merasa aneh. Tidak pernah terpikirkan olehnya, jika guru kimia yang tampak tua dan terkenal pelit ekspresi seperti Pak Razor bisa terlihat muda kembali dan memasang senyuman.

"Apa kau keberatan dengan perlakuan ini?" tanya sang Kepala Akademi.

"Tidak."

"Kalau begitu, selamat datang di Akademi Pelatihan Bakat. Jika ada yang ingin kau tanyakan, kau bisa menanyakan kepada kedua sahabatmu. Saya telah menunjuk mereka untuk menjadi kakak asuh bagimu, jadi merekalah yang akan membantumu selama belajar di akademi. Namun kalau kau ingin menggunakan tabung seleksi untuk memilihkan kakak asuh sesuai prosedur normal, kita bisa melakukannya sekarang."

"Tidak perlu," tolak Faenish. "Saya menerima pilihan Anda. Ryn dan Drina adalah pilihan terbaik."

"Baiklah. Berhubung kau masuk agak terlambat, kau punya waktu satu minggu untuk belajar sebelum menghadapi ujian penempatan kelas yang sesuai. Saya kira hanya itu yang perlu kita bicarakan, apa ada yang masih kurang jelas?"

"Anda tidak memanggil saya karena...." Faenish tidak tahu bagiamana ia harus menjelaskan, jadi ia hanya memberi isyarat ke arah sosok Evert yang berdiri di sampingnya.

"Kau memang cukup membuat sensasi di hari pertamamu, tetapi apa salahnya jika mempunyai sosok misterius yang terus mengikutimu seperti itu?" Kepala Akademi kembali menampilkan senyuman yang masih terasa tidak normal bagi Faenish.

"Apa Anda tidak menganggapnya sebagai ancaman? Maksud saya hal seperti ini tidak lazim dan...."

"Saya sudah banyak melihat hal-hal yang akan kau sebut tak lazim, percayalah saya sudah terbiasa. Lagi pula, sepertinya saya tahu apa yang membuat kalian berdua terikat seperti ini."

"Anda tahu segel apa yang membuat kami seperti ini?" seru Faenish bersemangat. "Apa Anda juga tahu bagaimana melepaskannya?"

"Sepertinya saya harus mengecek kembali koleksi buku mendiang istri saya. Masalahnya, di usia saya sekarang, mengingat sesuatu bukanlah perkara mudah. Untuk sementara, mungkin saya bisa sedikit menenangkan keadaan akademi dengan membuat pengumuman kecil. Jadi kau tidak perlu khawatir akan dikatakan membawa hantu." Kepala Akadami tiba-tiba tertawa sebelum berkata, "Saya agak sensitif dengan kata hantu karena secara teknis saya sudah dinyatakan meninggal belasan tahun lalu. Kau bahkan dapat menemukan nisan bertuliskan nama saya di pemakaman umum." Kepala Akademi mencoba untuk bergurau, tetapi Faenish justru bingung.

"Nisan? Anda bukan Pak Razor?"

"Apa Pak Razor pernah tersenyum padamu?"

Faenish menggeleng.

"Saya adalah kembarannya, saya Raizer. Saya sudah dinyatakan mati bahkan sebelum kau lahir, wajar kau tidak tahu. Namun saya pikir Magda memberitahumu soal ini."

"Nenek Magda?"

"Tentu saja. Apa kau tidak pernah bertanya soal suaminya?"

"Tidak." Faenish menggeleng. "Apa itu ayah Anda?"

"Tentu saja tidak. Walaupun saya jauh lebih muda, saya adalah suaminya."

***

Hingga Faenish akhirnya keluar dari ruangan Kepala Akademi, ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi dan apa yang baru diketahuinya hari ini. Kepalanya terasa begitu penuh dengan berbagai pemikiran. Namun yang terpenting adalah ia kemungkinan akan segera terbebas dari ikatan segel aneh ini.

"Kau tidak boleh mengatakan apa pun tentangku, kepada siapa pun, terutama kedua sahabatmu." Ucapan Evert membuyarkan pikiran Faenish.

"Ha?" Faenish melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain di sekitar situ. Ia pun bertanya "Kenapa?"

"Aku tidak menjamin keselamatan mereka."

Apa ini sebuah ancaman? Pikir Faenish.

Faenish tidak begitu yakin, tetapi yang jelas ia tidak berani mengambil risiko. Jika Evert sanggup membunuh Nenek Magda dengan begitu kejamnya, tidak ada yang tahu apa yang sanggup dilakukan Evert pada Ryn dan Drina.

Faenish mengeluh pelan. "Baiklah. Aku tidak akan memberitahu siapa pun."

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top