4. Kesepakatan
"Faenish."
Seorang gadis dengan rambut keriting sebahu tiba-tiba berlari menghampiri saat Faenish didorong masuk ke ruang perawatannya. Gadis itu lalu memaksakan sebuah pelukan, meski harus dalam posisi aneh karena Faenish berada di kursi roda.
Luka-luka bakar Faenish masih perih jika disentuh, apalagi jika ia mendapat pelukan yang seperti meremas tubuhnya. Namun Faenish berusaha keras agar tidak meringis kesakitan dan balas menyapa orang yang memeluknya. "Ryn?"
"Tampaknya aku sudah bisa meninggalkanmu sekarang. Kalau begitu aku permisi." Rico pamit dan langsung melangkah pergi.
"Kupikir aku tidak akan bisa melihatmu lagi—AW." Ryn terpaksa melepas pelukannya karena seorang gadis berambut sangat pendek menarik bagian belakang kerah bajunya. "Apa yang kau lakukan Drina?"
"Tidakkah kau lihat Faenish kesakitan? Kau bisa membuat Faenish mati kehabisan napas," jawab Drina datar.
"Dia tidak akan mati semudah itu, lagi pula aku hanya ingin mengekspresikan rasa kangenku." Ryn mengajukan protes.
"Kalian benar-benar berisik." Rexel bangkit berdiri dari tempat duduknya, wajahnya tampak kesal. "Mama pulang untuk mengambil bajumu, dan aku ingin keluar sebentar." Tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ia mainkan, Rexel melangkah keluar ruangan.
"Faenish." Ryn berseru cukup keras agar perhatian kedua sahabatnya kembali. "Kau benar-benar membuatku khawatir. Kau pingsan seharian. Kemarin kau bagai artis yang sulit sekali ditemui, dan sekarang kau tampak seperti mumi."
"Aku juga merindukanmu Ryn." Faenish menampilkan senyuman sebelum balas bertanya, "Bagaimana sekolah?"
"Tidak ada yang menarik," jawab Ryn. Namun ia menarik Faenish mendekat untuk menceritakan beberapa hal dan butuh waktu berjam-jam hingga ceritanya selesai.
***
Saat Faenish akhirnya tinggal berdua dengan sesosok pria transparan di kamar itu, ia tahu pembicaraan mereka tidak terelakkan. Pemuda itu kembali menuntut penjelasan yang sama.
"Baiklah. Kita anggap segel yang kubuat berhasil," ujar Faenish cukup frustrasi. "Masalahnya adalah aku tidak tahu segel apa itu. Aku hanya melihat gambar segelnya di buku Nenek Magda."
Sosok itu tetap menunjukan ekspresi tidak percaya dan menatap Faenish dengan tatapan menusuk.
"Aku benar-benar tidak tahu. Aku hanya membaca penjelasan awal atau lebih tepatnya dua kata awal dalam penjelasan segel. Bisakah untuk saat ini kau percaya kalau aku tidak tahu apa pun soal segel yang mengikatmu sekarang, dan aku juga akan bersikap seakan aku percaya kalau kau bukan pembunuh? Kita perlu memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan semua kekacauan ini karena fakta bahwa kau tidak bisa pergi lebih dari lima meter dariku jelas tidak nyaman bagi kita berdua."
Pemuda itu tidak merespons.
Faenish menarik napas panjang dan meyakinkan diri sebelum akhirnya berkata, "kita buat kesepakatan. Kau tidak akan mengintipku saat aku ada di dalam kamar mandi atau berganti baju dan aku akan membantumu mencari cara untuk terlepas dari segel ini."
"Bukankah kau bilang kau tidak tahu apa-apa tentang segel ini?" ujar si pemuda berjubah, terdengar sinis.
"Ya, tetapi aku masih sedikit mengingat gambar segelnya, jadi kita bisa mencari di buku-buku tua lain. Mengingat kau bahkan tidak bisa menyentuh buku, kau tentu tidak bisa mencarinya sendiri."
Faenish merasa bersalah karena ia sekarang menawarkan bantuan kepada pembunuh Nenek Magda, tetapi mau bagaimana lagi. Membayangkan pemuda itu menghantui sisa hidupnya benar-benar mengerikan.
Faenish tetap akan membuat perhitungan dengan pemuda itu, tetapi nanti setelah roh pemuda itu tak terikat lagi padanya dan ia kembali menjadi manusia normal. Saat itu, barulah Faenish akan mencari jalan untuk menjebloskan pemuda itu ke penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Biarkan aku kembali ke tubuhku dan aku akan mencarinya sendiri," ujar si pemuda.
"Maaf, aku tidak begitu percaya padamu. Kau bisa saja melakukan tindakan berbahaya"
"Tubuhku kemungkinan besar akan dikebumikan, jika mereka tak kunjung melihatku sadar."
Faenish berpikir sejenak. Pemuda itu ada benarnya. Hanya saja, tidak ada yang tahu apa yang dapat dilakukan pemuda itu jika ia berwujud cukup padat untuk menyentuh sesuatu.
Faenish mengembuskan nafas berat sebelum berkata, "Baiklah. Akan kuberikan kau kesempatan berada dalam ragamu selama beberapa jam sehari, tetapi tidak saat aku tertidur atau saat aku tidak cukup kuat untuk mengawasimu."
"Sepakat."
***
Yudi berseru kaget dan melompat mundur saat mendapati Faenish berada di balik pintu. Pria itu nampak tidak tidur semalaman karena menjaga tubuh si pemuda misterius.
Faenish sempat merasa iba dengan penampilan berantakan polisi itu. Sayangnya senyuman aneh yang tiba-tiba muncul di wajah Yudi membuat Faenish kehilangan simpati.
"Kurasa ini terlalu pagi untuk jam berkunjung. Apa kau sudah begitu kangen dengan pemuda di dalam?" goda Yudi.
Sebelum Yudi bisa berpikiran lebih jauh, Faenish langsung mengalihkan pembicaraan. "Apa kalian sudah tahu siapa pemuda itu?"
Yudi menggeleng. "Tidak ada satu pun warga yang pernah melihat pemuda ini, apalagi mengenalnya."
"Lalu jika dia sembuh nanti, apakah dia akan tinggal di rumah Nenek Magda?"
"Entahlah. Hasil uji DNA menyatakan bahwa ia memiliki kecocokan yang cukup besar dengan Nyonya Magda. Jadi bisa dipastikan mereka memiliki hubungan keluarga. Namun kurasa akan sangat lama hingga ia sembuh, mengingat dokter sama sekali belum menemukan penyakit apa yang dideritanya. Berita gembiranya, dia bukan sosok penyusup yang kau lihat karena sidik jari dan DNA-nya tidak cocok dengan barang bukti."
Faenish mengerutkan dahi bingung. Namun Faenish juga tidak mungkin menuntut informasi lebih jauh. Hal itu akan sangat mencurigakan. Karena itu, Faenish memilih fokus pada masalah lain. "Sampai kapan kalian akan menunggu dia sadar? Maksudku...."
"Yah, aku mengerti maksudmu. Itulah yang sedang kami perdebatkan. Setahuku masalah ini akan didiskusikan dengan pihak keluarga Nyonya Magda. Jika mereka mengakui anak ini sebagai bagian dari keluarga, pengobatan pemuda ini akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pihak keluarga, tetapi jika tidak, mungkin kami hanya akan menunggu sampai seminggu."
"Masalahnya Nenek Magda tidak memiliki anggota keluarga lagi," ujar Faenish lesu.
"Masih ada satu dan Rico sudah menghubunginya."
"Siapa?"
"Seorang cucu dari Nyonya Magda. Aku juga tidak begitu tahu, Rico yang mengurusnya." Tiba-tiba saja Yudi tersenyum geli. "Kelihatannya kau sangat berharap pemuda itu pulang ke rumah Nyonya Magda."
"Tidak. Bukan begitu, maksudku...."
"Aku mengerti. Aku juga pernah muda." Yudi pun tertawa lepas. "Hanya saja, aku tidak yakin ibumu akan membiarkan putrinya tinggal serumah dengan seorang pemuda tampan."
"Aku tidak akan tinggal di rumah Nenek Magda lagi," sangga Faenish, "aku akan kembali ke rumahku."
"Oh kau tidak perlu malu-malu. Aku tidak akan mengatakan kepada siapa pun." Tawa Yudi kembali menggema.
Sebenarnya Faenish risih dengan bagaimana anggapan Yudi tentang dirinya dan pemuda tak jelas itu. Hal ini benar-benar memalukan, tetapi ia tahu bahwa membantah hanya akan memperparah situasi. Jadi, Faenish hanya memasang senyum simpul sebagai respons.
Faenish kemudian memberi kode kepada sosok transparan yang kini sudah berdiri di dekat tempat tidur. Saat sosok itu melakukan bagian rencananya, Faenish berseru, "Kurasa pemuda itu bergerak."
Yudi langsung membalik badan. Begitu melihat jari-jari tangan si pemuda bergerak, Yudi berteriak memanggil dokter.
Seperti yang sudah direncanakan, Faenish akan menunggu di pojok ruangan, hingga dokter selesai melakukan segala jenis pemeriksaan yang dibutuhkan. Di sisi lain, Yudi justru menghilang entah ke mana.
Faenish tidak tahu pemeriksaan apa saja yang dilakukan para dokter, yang jelas proses itu memakan waktu yang sangat lama sehingga ia tertidur saat menunggu. Hal ini pada akhirnya disesali Faenish karena punggungnya yang belum sepenuhnya sembuh, benar-benar terasa nyeri saat ia dibangunkan.
Faenish memandang berkeliling, hanya tinggal dirinya dan si pemuda yang berada di ruangan itu.
"Ada apa?" tanya Faenish kepada pemuda yang membangunkannya.
"Bisakah kau pindah ke samping kamarku?" Nada suara pemuda itu terdengar lembut.
Faenish hampir mengira telinganya bermasalah, tetapi belum sempat ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi, terdengar suara pintu dibuka.
"Maaf mengganggu kalian," seru Yudi. Namun ia lebih terlihat senang daripada merasa bersalah. Senyuman aneh terlukis di wajahnya dan Faenish yakin pria itu sedang membayangkan yang tidak-tidak.
Untung saja Rico langsung mengambil alih percakapan dengan menanyakan begitu banyak pertanyaan kepada si pemuda.
Keduanya terlibat percakapan serius, dan Yudi langsung sibuk mencatat jalannya percakapan itu. Sedangkan Faenish hanya duduk diam sambil memijit-mijit punggungnya yang masih nyeri.
"Faenish katanya sudah mempunyai nama untukku." Tiba-tiba saja pemuda itu menatap Faenish.
"Benarkah itu?" Yudi ikut menatap Faenish, tetapi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lalu apa nama yang kau berikan untuk pemuda ini, nona Faenish?"
Faenish menahan diri agar tidak melotot. Faenish sama sekali tidak pernah berkata kalau dia punya nama untuk pemuda itu. "E...."
"E?" Yudi menuntut tak sabar.
Faenish memeras otaknya untuk memikirkan sebuah nama. Entah kenapa pada saat-saat paling dibutuhkan otaknya sering macet.
"Nona Faenish?" Yudi kembali menuntut.
"Evert," seru Faenish akhirnya.
"Evert?" Ulang Rico memastikan, dahinya berkerut seakan nama yang diberikan Faenish begitu mengerikan.
Namun pemuda di depannya justru tersenyum bersemangat. "Nama yang bagus, aku menyukainya terima kasih."
"Kalian berdua memang pasangan yang lucu." Tawa Yudi menggelegar dan ia mengedipkan sebelah mata ke arah Faenish. "Maaf, bukan maksud kami menguping, tetapi apakah tadi kau meminta Faenish untuk pindah kamar, Evert?"
"Ya," jawab Evert. "Saya tidak punya teman bicara. Menghabiskan waktu di sini sendirian benar-benar membosankan."
Tawa Yudi kembali pecah. "Sepertinya perasaanmu berbalas Faenish."
"Jaga sikapmu Yudi." Nada suara Rico terdengar memperingatkan. Namun itu sama sekali tak menghentikan tawa Yudi.
***
"Kau pindah kamar?" tanya Drina begitu melangkah masuk ke ruang perawatan baru Faenish keesokan harinya.
"Apa karena pemuda misterius itu?" sambung Ryn bersemangat seraya melompat-lompat mendekati Faenish.
"Ya dan ya," jawab Faenish malas. Seharusnya Faenish bersyukur karena Yudi entah bagaimana berhasil membuatnya pindah ke ruangan tepat di samping Evert. Jadi, pemuda itu punya banyak kesempatan untuk terlihat hidup dan meyakinkan semua orang bahwa ia baik-baik saja, terlepas dari kondisi amnesia. Namun mengingat Faenish tak tahu apa yang dilakukan Yudi hingga ia bisa berpindah kamar, Faenish sedikit merasa tidak tenang.
Belum lagi Sarashalom yang terlihat semakin dekat dengan Evert. Setiap hari Sarashalom selalu bercerita tentang Evert dan ia selalu menyempatkan diri mampir ke ruangan Evert saat mengunjungi Faenish.
"Apa dia ada di ruangannya? Bisakah kita melihatnya sekarang?" tanya Ryn dengan lebih bersemangat.
"Kau pikir dia hewan di kebun binatang?" sindir Drina.
"Aku benar-benar penasaran, ayolah."
"Dia mungkin sedang tidur." Faenish mencoba mencari alasan.
"Bukan masalah." Ryn bersikeras, ia memberikan pandangan memohon ke arah Faenish dan Drina.
"Bukan masalah bagimu, tetapi masalah baginya," hardik Drina.
"Ayolah Faenish, perkenalkan kami padanya," bujuk Ryn.
"Aku tidak," protes Drina. "Kau saja."
"Apa kau tidak penasaran siapa dia? Kudengar dia sangat rupawan siapa tahu dia jodohmu—ah tidak, dia untukku saja."
Drina memutar bola matanya. "Aku tidak peduli siapa dia."
"Ayolah siapa pun temani aku ke sana." Ryn setengah menjerit dan merajuk.
"Baiklah, baiklah. Ayo kita semua ke sana sebelum bayi besar ini mengamuk." Drina bangkit berdiri dengan malas.
"Horey." Ryn melompat girang dan memeluk Drina. "Kalian benar-benar pengertian."
"Ya, dan kau benar-benar menyusahkan." Drina menimpali.
"Kalian tidak akan rugi apa pun jika menemaniku."
"Kita lihat saja nanti," ujar Drina setengah menggerutu.
***
Evert sedang membaca sebuah buku tebal saat Faenish, Ryn dan Drina melangkah masuk ke ruangannya.
"Hay," seru Ryn bahkan sebelum Faenish sempat berkata apa pun. "Aku Ryn."
"Oh, hay." Evert menutup bukunya dan balas tersenyum ke arah Ryn. "Apa aku mengenalmu sebelumnya?"
"Akan menyenangkan jika kita pernah bertemu sebelum ini, tetapi tidak, kita baru bertemu hari ini. Oh yah, yang itu namanya Drina." Ryn menunjuk ke arah Drina yang masih berdiri di dekat pintu. "Dia tidak akan memperkenalkan diri, jadi kuwakilkan saja. Kami adalah sahabat terbaik Faenish. Atau lebih tepatnya kami sepupu jauh, nenek kami bersaudara dan—"
"Apakah itu penting?" potong Drina.
"Tentu saja," seru Ryn dan ia mulai mengoceh panjang lebar seperti biasanya.
Faenish hanya bisa mengembuskan napas berat, sepertinya sebentar lagi kedua saudara sekaligus sahabat baiknya itu akan akrab dengan Evert.
Entah apa bahaya yang menunggu mereka jika mengenal pembunuh itu. Namun Faenish juga tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan kepada mereka berdua tanpa mengungkit tentang Kaum Berbakat.
***
Waktu pun berlalu dengan cepat. Luka-luka di tubuh Faenish sudah semakin membaik sehingga memungkinkan baginya untuk pulang. Mengingat Evert tidak bisa menjauh darinya lebih dari lima meter maka mereka sengaja mengatur jadwal kepulangan yang sama.
Jadi tugas Faenish hari ini adalah mengantar Evert ke rumah Nenek Magda, menunggu pemuda itu berpura-pura tidur, lalu pulang ke rumah orang tuanya.
"Kau pulang hari ini, Faenish? Ah benar-benar kebetulan, Evert juga pulang hari ini." Suara Yudi terdengar aneh karena menahan tawa, jelas sekali ia sedang menyindir. Pria itu bahkan tidak tampak merasa bersalah karena menerobos masuk ke ruangan perawatan Faenish. "Atau mungkin kalian memang berjodoh?"
Faenish hanya bisa tersenyum dan terus melanjutkan kegiatannya dalam mengemas barang.
"Kau tidak perlu malu-malu padaku." Kini tawa Yudi pecah. Ia harus berusaha keras mengatur napas dan setelah tawanya berhenti, ia mencondongkan badan untuk berbisik. "Aku meninggalkan sebuah hadiah kecil untukmu, tak usah berterima kasih. Sampai jumpa Faenish." Yudi pun berlalu pergi.
Faenish tak tahu apa yang dibicarakan Yudi, tetapi ia tidak peduli. Ia harus berpikir keras dalam mencari alasan untuk ke rumah Nenek Magda besok pagi dan berada di sana cukup lama agar Evert bisa terlihat baik-baik saja.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top