25. Penyimpan Ingatan

Faenish berada di dalam sebuah kamar asing dan ia sedang berbaring bersama seorang pria yang memeluknya dari belakang.

"Tidurlah," ucap pria itu lembut seraya mengusap-usap kepala Faenish.

"Aku belum mengantuk. Ceritakan dongeng itu lagi," pinta Faenish.

"Si pemuda dan iblis?"

Faenish mengangguk.

"Baiklah, tetapi kau harus menutup matamu."

Faenish menurut, ia menutup mata dan mulai mendengarkan.

"Kisah ini bermula saat seorang pemuda melakukan kesepakatan dengan iblis. Sebagai ganti nyawanya, sang pemuda yang diculik iblis menawarkan bantuan untuk membacakan buku keramat. Sang iblis yang tak bisa menyetuh butuh keramat hasil curiannya pun setuju.

Tahun-tahun berlalu, sang Pemuda tetap hidup dalam perjanjian. Ia sengaja mengulur waktu dan mencari-cari alasan untuk tidak membaca terlalu banyak dari buku keramat karena setiap pengetahuan dari buku itu membuat sang iblis mendapatkan semakin banyak kekuasaan yang menyengsarakan dunia.

Hingga satu kali, Si pemuda mendapatkan ide baru. Ia menggunakan alasan kemortalannya untuk mencoba melepaskan diri dari jeratan sang iblis. Ia membujuk iblis untuk mencari pengganti dirinya yang sebentar lagi akan berubah menjadi pria dewasa lalu semakin menua dan akhirnya mati. Sayangnya, iblis tetaplah iblis. Bukannya melepaskan si pemuda, iblis justru menyuruh si pemuda untuk membuat keturunan laki-laki yang disebut sebagai sang Pengganti.

Si pemuda sudah memikirkan kemungkinan ini akan terjadi, dan ia sudah memikirkan rencana selanjutnya. Sekali lagi si pemuda melakukan tawar-menawar dengan iblis. Sesuai rencana, ia berhasil keluar dari sarang iblis untuk mencari seorang wanita yang akan menjadi ibu dari sang Pengganti.

Dalam rencana si pemuda, ia sudah menentukan siapa gadis yang akan dicarinya. Gadis yang ia tahu akan membantunya mengakhiri kekuasaan si iblis.

Saat akhirnya si pemuda bertemu dengan gadis yang dicarinya, Pemuda itu kehilangan fokus. Ia seharusnya mengulur waktu. Namun tanpa ia sadari, ternyata ia sudah banyak terpengaruh dengan iblis hingga tidak bisa menahan hasratnya sendiri.

Gadis itu pun mengandung dengan bahagia, tetapi si pemuda tidak bisa tenang. Ia sangat mengharapkan anak yang dikandung baginya adalah perempuan. Karena begitu ia mendapatkan anak laki-laki, si pemuda akan langsung ditarik kembali ke sarang iblis.

Si pemuda sadar, ia tidak ada bedanya dengan si iblis dengan melakukan kesepakatan keji kali ini. Ia sudah berubah menjadi pemuda yang licik dan suka memanfaatkan orang lain, tetapi ia tidak punya pilihan lain. Ini satu-satunya cara agar ia bisa keluar dari sarang iblis, dan ini satu-satunya kesempatannya untuk menjauhkan buku keramat dari sang iblis.

Seseorang harus menghentikan iblis untuk mendapatkan kekuatan besar, seseorang harus menjauhkan buku keramat dari tangan iblis dan itulah misi rahasia si Pemuda...."

Suara pria itu semakin terdengar samar dan Faenish tiba-tiba saja masuk dalam sebuah pusaran berputar-putar. Entah bagaimana, Faenish sudah berada di sebuah ruangan rumah sakit.

"Kurasa ayahnya yang membawa anak itu," ujar salah satu suster.

"Kasihan sekali. Wanita ini bahkan belum bertemu anaknya," timpal suster lainnya. ia kemudian tersentak saat menyadari bahwa Faenish telah membuka mata. "Bagaimana perasaan Anda ibu? Apa ada yang sakit?"

"Mana anakku?" ujar Faenish dengan suara serak.

"Anak Anda ... anak Anda sedang dimandikan ibu."

Faenish tahu ada yang tidak beres. Namun ia terlalu lelah untuk bergerak.

Selama seharian, ia membiarkan para suster mengarang berbagai cerita tentang keberadaan anak dan suaminya. Ia diam saja, berpura-pura tidak tahu.

***

Saat Faenish kembali berada di perpustakaan akademi, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Gambaran yang tadi dilihatnya adalah bagian dari ingatan Nenek Magda, Faenish sudah membaca bagian ini di buku harian. Namun membaca dan melihat secara langsung adalah hal yang berbeda. Apalagi saat ini ia seakan bisa merasakan hal yang dirasakan Nenek Magda.

Cerita kehidupan Nenek Magda saat itu cukup memilukan. Setelah tak sadarkan diri akibat panah yang menembus tubuhnya, Nenek Magda menemukan bahwa Zico, pemuda yang dicintainya menghilang. Walaupun semua orang percaya pemuda itu sudah meninggal, Magda tetap menunggu selama belasan tahun dan penantiannya tidak sia-sia. Zico tak hanya kembali, pria itu melamar Magda dan mereka hidup dalam kebahagiaan selama hampir satu tahun. Sayangnya, saat anak pertama mereka lahir, Zico menghilang bersama anak itu.

Magda sama sekali tidak melakukan pencarian seperti yang dilakukan Ivone saat suami dan anaknya menghilang. Karena berbeda dengan Ivone, Magda sudah tahu ini akan terjadi.

Zico telah berulang kali mengatakan bahwa ia ingin anak-anak mereka akan selalu perempuan. Magda bukanlah orang bodoh, ia sedikit mengerti dari dongeng yang selalu diceritakan Zico padanya. Magda sadar betul bahwa cerita itu bukan sekadar dongeng. Jelas sekali si pemuda dalam cerita adalah Zico sendiri.

Saat anak pertama mereka adalah laki-laki, Magda tidak begitu heran kedua pria yang paling dicintainya di dunia hilang tanpa jejak. Namun bukan berarti Magda tidak sedih. Ia harus berusaha sangat keras untuk bertahan hidup dan menjalankan permintaan Zico untuk menjaga sebuah buku. Selama ratusan tahun, Magda terus hidup berpindah-pindah tempat sendirian. Ia sudah menerima fakta bahwa sampai akhir hayatnya nanti, ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan suami maupun anaknya.

"Kau melihat ingatan lagi?" tanya Ezer.

Faenish tersentak kaget, ia melupakan fakta bahwa dirinya tidak sendirian di sana.

Buru-buru Faenish mengusap air matanya dan menjawab, "Ya, tetapi kali ini ingatan Nenek Magda."

Untung saja Ezer tidak memaksakan pertanyaan-pertanyaan lainnya dan kembali sibuk membaca. Saat ini emosi Faenish belum stabil. Kesedihan masih benar-benar terasa kental dalam dirinya dan ia bisa menangis lagi kapan saja.

Anehnya, mulai saat itu, Faenish semakin sering mendapatkan potongan ingatan Nenek Magda. Ia tidak perlu tidur atau dalam keadaan memikirkan sesuatu yang memusingkan kepala, gambaran-gambaran ingatan bermunculan begitu saja di kepalanya tanpa peringatan. Bahkan pada saat-saat paling tidak tepat seperti saat Faenish berada dalam ruang kelas Ramuan.

***

"Apa aku harus mendengar dongeng ini lagi?" tanya Faenish malas.

"Ini bukanlah dongeng. Ini adalah sejarah keluarga kita dan kau tidak akan berhenti mendengarkannya sampai kau benar-benar menghafal setiap detail cerita. Karena nantinya, kau harus membuat anakmu menghafal cerita yang sama, seperti yang sedang kulakukan saat ini," jawab Kliv.

"Aku sudah menghafalnya, jadi ayah bisa berhenti bercerita."

"Bagaimana ceritanya?"

"Kisah ini bermula saat seorang pemuda melakukan kesepakatan dengan iblis. Sebagai ganti nyawanya, sang pemuda yang diculik iblis menawarkan bantuan untuk membacakan buku keramat. Sang iblis yang tak bisa menyetuh butuh keramat hasil curiannya pun setuju.

Tahun-tahun berlalu, sang Pemuda tetap hidup dalam perjanjian. Ia sengaja mengulur waktu dan mencari-cari alasan untuk tidak membaca terlalu banyak dari buku keramat karena setiap pengetahuan dari buku itu membuat sang iblis mendapatkan semakin banyak kekuasaan yang menyengsarakan dunia.

Hingga satu kali, Si pemuda mendapatkan ide baru. Ia menggunakan alasan kemortalannya untuk mencoba melepaskan diri dari jeratan sang iblis. Ia membujuk iblis untuk mencari pengganti dirinya yang sebentar lagi akan berubah menjadi pria dewasa lalu semakin menua dan akhirnya mati. Sayangnya, iblis tetaplah iblis. Bukannya melepaskan si pemuda, iblis justru menyuruh si pemuda untuk membuat keturunan laki-laki yang disebut sebagai sang Pengganti.

Maka keluarlah si pemuda dari sarang iblis untuk mencari seorang wanita yang akan menjadi ibu dari sang Pengganti. Namun tanpa diketahui iblis, si Pemuda ikut membawa buku keramat bersamanya.

Satu tahun pun berlalu. Si pemuda kembali ke sarang iblis membawa seorang bayi laki-laki. Sayangnya, iblis berteman dengan iblis, dan hobi iblis adalah meghasut sehingga dengan cepat fakta hilangnya buku keramat diketahui sang iblis.

Kutukan baru dijatuhkan. Kesetiaan si pemuda dan keturunannya terikat paksa pada iblis. Mereka tidak bisa lagi melawan kehendak iblis. Mereka pun diikat dengan tradisi di mana seorang ayah harus melatih anaknya dengan kekejian, sementara sang anak nantinya harus membunuh ayahnya dan kembali melanjutkan tradisi ini sepanjang keturunan mereka di muka bumi. Tamat."

"Kau sudah menghafal ceritanya dengan benar." Tidak ada nada senang dari perkataan Kliv, ia justru tampak sangat muram. "Kita akan mulai latihan pertamamu besok."

Tiba-tiba saja, Kliv bangkit berdiri dan berjalan pergi.

"Tetapi ayah..." Faenish berusaha mengejar.

"Persiapkanlah dirimu baik-baik Eliezer."

***

Faenish menekan-nekan kepalanya yang masih terasa pusing setelah mendapatkan ingatan secara tiba-tiba. Tak hanya ingatan Magda, ingatan Ezer pun ikut mengganggunya.

"Zico adalah Tangan Bayangan pertama?" seru Faenish tidak percaya dengan kesimpulan yang baru saja terpikir olehnya.

Cerita dongeng pemuda dan iblis yang di ceritakan Zico kepada Magda jelas memiliki kesamaan dengan cerita yang turun-temurun diwariskan dalam keluarga Ezer. Artinya, Zico memiliki hubungan dengan keluarga Ezer. Jika memperhatikan isi kedua cerita, maka Ezer adalah keturunan kesekian dari Nenek Magda bersama Zico. Pantas saja lukisan Zico yang ada di kamar terlarang begitu mirip dengan Ezer.

Evert merespon pertanyaan Faenish dengan gumaman samar. Pemuda itu tampak sibuk dengan buku di pangkuannya.

Tiba-tiba saja Ezer meletakan bukunya lalu mencari sesuatu dari rak. Begitu Ezer menemukan buku yang dicarinya, ia membuka satu halaman dan menyodorkannya kepada Faenish. "Coba aktifkan."

"Segel Pembebas Massa Tubuh?" tanya Faenish tidak mengerti. "Aku tidak bisa. Bakatku tidak setinggi itu. Belum lagi perubahan DNA yang sudah mengikis habis—tunggu dulu. Apa kau berpikir kalau perubahan DNA itu bukannya membuat bakatku memudar, tetapi justru sebaliknya?"

Ezer bergumam samar.

Ragu-ragu, Faenish meraih buku yang disodorkan Ezer. Ia tidak begitu yakin dengan teori pemuda itu. Namun pada akhirnya, Faenish memutuskan untuk menggambar segel Pembebas Massa Tubuh dan mengaktifkannya.

Detik itu juga, Faenish merasa tubuhnya menjadi sangat ringan, kakinya mulai terangkat dari lantai. Faenish mengambang di udara sama seperti para astronot yang melakukan penjelajahan di luar angkasa.

"Aku bisa membuatnya?" Faenish bergumam tak percaya. "Lalu kenapa ikatan kita justru merenggang?"

"Faktor lain. Bakat bukan satu-satunya faktor yang bisa mempengaruhi."

***

Dengan mengetahui bahwa bakatnya meningkat, Faenish menjadi sangat bersemangat dalam mempelajari segel. Ia bahkan meminjam buku-buku tentang segel di perpustakaan untuk melihat sejauh mana bakatnya telah berkembang.

Saking bersemangatnya, Faenish sempat menjadi tidak waspada dengan keadaan sekeliling saat ia membaca.

"Buku apa itu?" tanya Sarashalom yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Faenish.

"Bukan apa-apa Ma." Faenish buru-buru menyembunyikan buku di tangannya.

"Rasanya mama pernah melihat gambar-gambar seperti itu."

"Gambar apa?"

"Lingkaran dengan garis-garis rumit di dalamnya, yah sejenis itu."

"Mama melihatnya di mana?"

"Mimpi."

"Mimpi?" Faenish memastikan.

"Ya. Memang terdengar agak aneh. Kalau Mama punya mimpi buruk, biasanya ada bagian di mana Mama melihat garis-garis meliuk seperti itu. Apa buku yang sedang kau baca itu salah satu dari buku Nyonya Magda?"

"Er...ya."

"Jangan lupa membaca buku pelajaranmu juga." Sarashalom tersenyum sebelum melenggang pergi.

Faenish termenung memikirkan kemungkinan ingatan tentang Kitab Segel ada pada Sarashalom. Kalau dipikir lagi, tidak mungkin Nenek Magda menyimpan ingatan tentang buku lain. Hanya saja, jika ingatan Nenek Magda bisa di akses Faenish dengan bebas saat setelah bakatnya meningkat, artinya Sarashalom harus berbakat juga agar bisa mengakses ingatan tentang Buku Segel.

Faenishbergidik ngeri saat membayangkan Rael datang memberikan Ramuan Bom Sel danRamuan Tahi Kucing pada Sarashalom. Ia jelas lebih memilih terikat seumur hidupdengan Ezer daripada harus melihat ibunya tersiksa. 

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top