23. Perubahan Positif

Sore harinya, begitu Faenish sampai di rumah, ia berniat kembali ke akademi melalui portal yang ada di perpustakaan. Faenish masih belum selesai membaca buku tentang sejarah Akademi Pelatihan Bakat. Faenish tidak mungkin membawa buku itu pulang karena ada Sarashalom yang masih belum mengizinkan Faenish menghabiskan terlalu banyak waktu dalam membaca buku, sedangkan buku-buku sejarah akademi tebalnya melebihi sebuah kamus besar.

Faenish dan Evert juga berniat menguji beberapa hipotesis tentang sensasi tarikan tak wajar setiap kali Faenish melalui portal. Teorinya, saat Faenish menembus portal, ia membuat jarak yang besar antara dirinya dan Evert. Sementara ikatan yang mengikat mereka hanya mengizinkan Evert menjauh dalam jarak terbatas dari Faenish. Mereka memang sudah merenggangkan jarak tembok pembatas hingga beberapa meter lebih jauh, tetapi tentu saja belum mencangkup jarak antara suatu tempat dengan dimensi buatan yang bisa dikatakan tak berhingga. Jadi saat mereka berada di demensi berbeda, Evert secara otomatis ditarik ke tempat Faenish berada.

Menurut Evert, besarnya jarak di antara mereka saat Faenish melangkah melalui portal berpangaruh pada gaya tarikan yang dirasakan pemuda itu. Sebelumnya Evert tidak bisa menjauh lebih dari lima meter sehingga ia selalu menjaga jarak yang cukup dekat di belakang Faenish. Namun sekarang mereka sudah nyaris bisa berpisah lebih dari 60 meter dan siang tadi Evert berada cukup jauh dari Faenish saat gadis itu memasuki akademi.

"Mau sampai kapan kau berdiri di situ?" tanya Evert.

Faenish memang sudah berdiri di depan portal cukup lama, ia belum yakin untuk membuat segel pembuka portal sendiri. Takutnya ia sudah tidak punya cukup bakat untuk bisa membuat segel.

Dengan susah payah Faenish meyakinkan diri dan mulai menggambar segel pembuka portal. Setelah segel diaktifkan Faenish kembali mematung di tempatnya, tidak begitu yakin apakah dia berhasil atau tidak.

Tak sabar menunggu, Evert langsung menarik lengan Faenish dan menyeretnya ke arah permukaan lemari buku. Kali ini tidak ada sensasi tarikan yang begitu berarti. Mereka melewati portal tanpa insiden.

Faenish mengembuskan napas lega, ia masih bisa membuat portal dan mereka sudah membuktikan hipotesis Evert soal pengaruh jarak dalam melewati portal. Namun masih ada satu hal lagi yang mengganjal. "Apa kau bisa menyentuh sesuatu dalam wujudmu yang semi transparan itu? Maksudku aku memang bisa merasakan tabrakanmu tadi siang, tetapi Drina tidak."

Bukannya menjawab, Evert justru memberikan perintah, "Buat segel perisai perlindungan dan lewati portal itu sekali lagi." Evert lalu meninggalkan tubuh fisiknya dan berjalan menjauh dari portal.

Meski tidak sepenuhnya paham, Faenish menuruti Evert. Ia segera menciptakan perisai dengan segel lalu mengaktifkan kembali portal. Begitu Faenish kembali ke perpustakaan Nenek Magda, sosok transparan Evert muncul dan menyambar perisai.

"Kau sudah bisa dipengaruhi segel?" gumam Faenish.

"Aktifkan lagi portalnya." Evert kembali tidak menjawab. Namun setelah mereka melewati portal, Evert berkata, "Setiap kali melewati portal, jangan lupa membuat segel perisai. Wujud transparanku tidak bisa menyentuh apa pun selain dirimu dan segelmu."

Entah kenapa Faenish merasa bergidik saat mendengar pengakuan Evert, tetapi ia mengabaikan perasaan itu. Apalagi saat menyadari kalau mereka tidak sendirian di tempat itu. Sosok Zoenoel tampak berdiri tak jauh dari mereka dengan tatapan intens ke arah tubuh fisik Evert yang tampak tak sadarkan diri.

Seakan mengabaikan keberadaan Faenish, Evert kembali ke tubuhnya dan segera menghampiri Zoenoel. Kedua pemuda itu kemudian terlibat pembicaraan yang tidak bisa di dengar Faenish. Sadar kalau ia tidak mungkin ikut campur, Faenish mengarahkan langkahnya untuk mencari beberapa buku sejarah akademi.

Faenish sedang membaca saat tiba-tiba pandangannya menjadi putih menyilaukan. Saat cahaya itu hilang, Faenish tidak lagi berada di perpustakaan akademi.

***

"Bagaimana rasanya punya ibu?" Tanya Faenish kepada anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun yang duduk di sampingnya.

"Tidak enak," jawab anak itu sebelum balas bertanya, "bagaimana rasanya punya ayah?"

"Tidak enak," jawab Faenish.

"Kau tidak mau bertanya bagaimana rasanya punya adik?" anak itu bertanya lagi.

"Tidak. Aku sudah tahu." Faenish menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari kolam yang membentang di depan mereka.

"Bagaimana bisa? Kau adalah anak tunggal," tuntut si anak.

"Ya, tetapi aku punya kau."

Anak itu tersenyum bangga sebelum kembali bertanya, "Jadi apa kita bisa berbagi ayah?"

Faenish balas tersenyum. "Kalau kau siap disiksa seumur hidupmu."

"Setidaknya ayahmu menyadari keberadaanku," wajahnya berubah muram.

"Jika kau jadi aku, kau akan berharap ayahku tidak menyadari keberadaanmu. Lagi pula, menurutku kau beruntung karena ibumu hanya memperhatikan Glassina jadi kau bebas ke sana kemari dan bertemu denganku."

"Kau benar, tetapi jika nanti kau menemukan ibumu, bisakah kau membaginya denganku?"

"Kau bilang adik perempuanmu menyebalkan? Coba lihat dirimu sekarang!"goda Faenish.

"Aku tidak serakah seperti dia, aku hanya ingin terlepas dari mereka dan menjadi bagian keluargamu."

Faenish mengusap kepala anak itu lembut. "Baiklah adik kecil, tetapi jika nanti kau menemukan ayahmu dan ternyata dia lebih baik dari ayahku maka kau harus membaginya denganku."

"Tentu saja." Dia berseru bersemangat, "Sekarang apa kau lapar Kak Ezer?"

"Apa kau diam-diam membawa makanan untukku?"

"Itu gunanya adik, aku langsung ke sini begitu tahu kau dihukum lagi."

"Wah, wah, wah ternyata kau cukup berguna Noel, baiklah aku akan mempertimbangkan untuk tidak membunuhmu di latihan kita selanjutnya."

***

Untuk kesekian kalinya Faenish mendapatkan gambaran-gambaran yang ia yakini adalah masa lalu Evert atau mungkin lebih tepatnya Ezer, nama asli pemuda itu. Siapa sangka Faenish mengarang nama yang nyaris mirip dengan nama aslinya. Sejak Faenish mendapatkan gambaran tentang malam kematian Nenek Magda, ia beberapa kali mendapatkan gambaran secara acak dan dalam setiap gambaran itu ia selalu berada di posisi Ezer.

Faenish tidak tahu apa yang terjadi sehingga ia mendapatkan kemampuan ini dan ia juga tidak tahu bagaimana menghentikannya. Yang Faenish perhatikan, setiap kali ia mendapat kilasan ingatan, Ezer selalu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Jadi, Faenish menyimpulkan bahwa jika Ezer terlalu memikirkkan tentang sebuah kejadian di masa lalu maka ingatan tentang peristiwa itu akan muncul begitu saja di kepala Faenish. Seperti saat ini.

"Apa kau tahu ramuan atau segel yang bisa memblokir isi kepalamu dari orang lain?" tanya Faenish begitu menghampiri sosok Ezer yang sedang duduk membaca sendirian di bagian lain perpustakaan.

Ezer menggeleng singkat sebagai respons.

"Kalau begitu sepertinya kita harus mengunjungi Pak Raizer. Maaf, aku juga tidak tahu kenapa, tetapi sepertinya aku bisa melihat potongan-potongan ingatan masa lalumu."

"Jadi kau sudah tahu siapa Master-ku?" Tanya Ezer tanpa sedikit pun terlihat terkejut dengan kemampuan baru Faenish.

"Keluarga Woranz?" Faenish balas bertanya. Ia cukup ragu dan tidak percaya dengan kesimpulan yang dibuatnya sendiri. Dalam kilasan-kilasan ingatan yang dilihat Faenish, ia tidak pernah melihat seseorang yang disebut Master Utama. Namun beberapa kali Faenish melihat gambaran Ezer yang bermain dengan sosok Zoenoel. Ezer juga sering bertemu dengan seorang wanita dengan topeng hitam bermotif bunga merah, serta berada di dekat rumah tua Keluarga Woranz.

***

"Faenish? Evert? Ah maaf saya begitu sibuk dengan beberapa urusan sampai tidak mengunjungi kalian, senang kalian mau datang ke sini. Apa ada yang bisa saya bantu?" Pak Raizer berdiri dari tempat duduknya untuk menyambut kedatangan Faenish dan Ezer.

"Maaf jika kami mengganggu malam-malam begini," ucap Faenish gugup. Saat memutuskan untuk mencari Pak Raizer di ruangan Kepala Akademi, Faenish tidak terlalu berharap banyak akan bertemu dengan beliau mengingat ini sudah jam tujuh malam.

Tadinya Faenish berpikir ia harus secepatnya mencari Pak Raizer. Namun, sekarang setelah melihat Pak Raizer disibukkan dengan pekerjaan hingga belum juga pulang ke rumah pada jam begini, Faenish jadi merasa tidak enak hati.

"Oh tentu saja kalian tidak mengganggu, saya senang melihat kalian di sini. Apa ada yang bisa saya bantu?"

"Saya ingin bertanya tentang segel yang mengikat kami."

"Benar juga, sudah lama saya tidak mendengar perkembangan ikatan kalian berdua." Pak Raizer tersenyum menggoda. "Maksud saya, apa yang sudah kalian temukan kali ini?"

Seperti sebelumnya, Faenish menceritakan tentang segala yang terjadi dengan detail, termasuk hipotesis-hipotesis dan hasil percobaan yang mereka lakukan. Namun mengingat Pak Raizer memiliki banyak hal yang perlu ia lakukan selain menanggapi permintaan tolong dari Faenish, maka Faenish sengaja memangkas beberapa bagian cerita, seperti tentang Rael.

"Kalian melakukan hal yang baik sekali. Semua orang punya hak atas privasinya. Semoga kalian tetap tidak tergoda untuk menjadi terlalu posesif meskipun ikatan di antara kalian semakin kuat," kata Pak Raizer begitu Faenish selesai bercerita.

"Ikatan ini justru melemah," sanggah Faenish.

Pak Raizer hanya tersenyum. Ia kemudian bertanya pada Ezer, "Jika saya katakan bahwa tidak ada segel maupun ramuan yang dapat membantumu untuk menutup akses ke dalam ingatanmu, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku tidak begitu peduli," jawab Ezer.

Pak Raizer tersenyum lebar. "Ya, ya, ya. Sumpahmu adalah tidak mengatakan apa pun tentang mereka dan secara teknis kau memang tidak melakukannya. Kesetiaan di atas ketakutan dan paksaan memang rapuh. Benar-benar berbeda dengan kesetiaan di atas rasa percaya."

Faenish tidak begitu paham ke mana arah pemikiran dan pembicaraan Pak Raizer, sepertinya pria di depannya ini terlalu banyak pikiran sehingga otaknya sedikit koslet.

"Apa Anda tahu cara untuk memasuki pikiran seseorang?" kali ini Ezer yang mengajukan pertanyaan.

"Kau ingin membalas Faenish?" Pak Raizer balas bertanya.

"Ingatan Magda ada dalam kepala Faenish." Ezer mengingatkan.

"Ah, saya hampir saja melupakan informasi penting itu. Hmm, memang bukan hal yang aneh jika Magda memercayakan ingatannya padamu Faenish. Namun maaf, saya harus mengecewakan kalian sekali lagi. Saya rasa tidak ada segel maupun ramuan yang bisa membantu kalian. Hanya saja, saya mengenal seseorang dengan kemampuan khusus. Teman saya ini bisa membantu kalian dalam hal melihat ingatan. Saya akan segera mengatur pertemuan kalian begitu segala sesuatunya siap."

"Terima kasih," ujar Faenish. Namun Ezer justru mengajukan pertanyaan lain.

"Apa mungkin ingatan soal Kitab Segel ada pada orang lain?"

"Pemikiran yang pintar. Istri saya memang sudah hidup sangat lama dan mempunyai begitu banyak ingatan, bahkan mungkin melebihi yang bisa ditampung oleh kepala seseorang. Jadi tidak menutup kemungkinan jika ada orang lain yang menerima ingatan Magda."

"Apa mungkin ingatan itu ada pada Anda?" tanya Faenish.

Pak Raizer tertawa terbahak-bahak. "Saya hampir membuat masalah dengan buku itu jadi Magda tidak akan pernah memercayakan ingatan tentang buku itu kepada saya. Apalagi saat ia sudah tidak ada untuk membereskan masalah yang bisa saja saya buat. Hanya saja,

***

Saat mereka sudah kembali ke perpustakaan Akademi, Faenish memberanikan diri untuk membuka percakapan. "Apa hanya perasaanku saja atau Pak Raizer memang terhilat seakan ia tahu tentang Master-mu?"

Ezer hanya mengangkat bahu tanpa terlihat sedikit pun peduli dengan masalah ini. Pemuda itu justru sibuk dengan bacaannya.

"Apa kau mencurigai Nyonya Ivone sebagai orang yang menerima bagian lain dari ingatan Nenek Magda?" Faenish kembali mengajukan pertanyaan.

Kali ini Ezer menggeleng sebagai respons.

"Lalu siapa yang kau curigai?"

"Sarashalom."

"Ibuku? Bagaimana mungkin?"

"Nenek Magda pernah meminta ibumu untuk meminum sesuatu yang mencurigakan."

"Kau mengintrogasi ibuku?"

"Dia sendiri yang menceritakannya saat di rumah sakit."

"Apa kau sudah mengujinya? Maksudku apa kau yakin itu adalah cairan ingatan? Nenek Magda tidak mungkin memercayakan ingatan seperti itu kepada sembarangan orang, apa mungkin ia sudah memusnakannya?"

"Mungkin saja."

"Apa yang mungkin saja?"

Ezer hanya mengangkat bahu dan sama sekali tidak menjawab.

Faenish mengurungkan niatnya untuk mengajukan pertanyaan lagi. Respons Ezer jelas mengindikasikan kalau pemuda itu sedang tidak ingin diajak berdiskusi.

Selama beberapa menit keduanya membaca dalam diam, hanya terdengar suara lembaran buku yang dibalik dan beberapa kali suara Faenish yang menguap. Faenish sudah benar-benar mengantuk, tetapi ia memaksakan matanya untuk terus membuka.

Festival tahun ajaran baru sudah dekat, semua siswa baru dalam Akademi Pelatihan Bakat wajib mengaktifan segel saat mereka diperkenalkan kepada seluruh pengunjung pada acara itu, dan sampai sekarang Faenish belum menemukan cara agar Clarine bisa menghindari acara itu.

"Apa ingatanku pernah muncul dalam mimpimu?" Ezer tiba-tiba saja bertanya membuat Faenish sempat tersentak kaget.

"Tidak, kurasa aku tidak bisa melihatnya saat aku tidur dan saat kau tidak berada dalam tubuhmu."

Ezer kembali diam sebentar sebelum berkata, "Tidak ada peraturan yang melarang siswa menggunakan ramuan saat naik ke panggung. Kalian bisa memanfaatkan celah ini untuk membuat Clarine terlihat seakan mengaktifkan segel. Drina akan tahu apa yang harus ia buat. Jadi pergilah tidur, aku ingin berpikir."

Faenish dengan senang hati melakukannya, itu adalah apa yang diinginkan matanya sejak tadi.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top