8. Mr. Walker

Aku hampir kehabisan kata. Darah terus keluar dari lubang menganga akibat peluru ASV yang bersarang di perut.

Napasku tersengal dan berat. Tapi, senyumku mengembang saat melihat cahaya itu lenyap.

Di sinilah Aku. Stain Walker. Pergi untuk memenuhi takdir kematiannya dan takdir yang lain.

※○※○※○

Alterium, 1845opt

Kemilau kemegahan, gaya victoria, dan aroma jalanan yang basah dari abad ke-19, tidak kentara akibat modernisasi yang mengubah wajah Alterium dalam hitungan tahun. Sesekali terlihat cahaya bintang yang redup, kalah dari pendar lampu kota.

Di tengah keramaian rutinitas malam, sebentuk bintang melesat membelah langit. Beberapa detik setelahnya, tiga garis cahaya menyusul, seakan berkejaran. Nenyebutnya bintang jatuh. Namun, benarkah itu bintang?

Medan waktu yang semula terlihat seperti cangkang telur luluh. Meninggalkan seorang di dalamnya melesat menembus awan hanya berbalut jaket dan celana panjang semata kaki. Lelaki itu tampak panik saat berusaha meraih ke dalam saku jaket. Kegagalan mesin menyebabkan medan waktu di sekitarnya berhenti bekerja. Ia yang seharusnya terpental dengan aman, akan segera menghantam tanah. Fatal.

Ia mulai merasakan tarikan gravitasi menguat. Ia harus cepat atau ini terakhir kalinya ia bernapas. Patah tulang, gagal napas, geger otak, kematian singkat yang menyakitkan lainnya. Tidak. Ini bukan pilihan. Satu-satunya pilihan adalah tetap hidup.

Tangannya merasakan layar kaca dalam saku. Tanah tinggal sejengkal saat medan gravitasi diaktifkan. Membuatnya melayang beberapa inci dari tanah sebelum jatuh menghantamnya. Lelaki itu menggeram, adrenalin berpacu dengan darahnya yang hampir mendidih. Napasnya memburu saat berhasil bangkit dari tanah berkawah. Ia hendak berbaring lebih lama, tapi, tidak punya banyak waktu. Pengejarnya benda bernyawa yang gigih, mereka siap mengejarnya kemana pun ia pergi. Bahkan ke masa lalu.

Stain Walker menjejak rumput dengan langkah sempoyongan, sebelum akhirnya berjingkrak cepat menuju semak belukar terdekat dan terdiam. Mata hitamnya mengawasi saat tiga cahaya mendarat di atas kawah tempatnya terjatuh. Mengenakan armor ASV tipe pengejaran.

Para ASV yang semula diam seperti patung mulai melancarkan protokol darat. Alat deteksi panas menyembul di dada salah satu ASV yang mengebulkan uap, pasti itu leadernya. Mulai melakukan pemindaian. Mereka akan dengan mudah menemukan Stain Walker di balik pepohonan. Namun, Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Dengan tergesa-gesa para ASV menjauh saat MSV mendekati titik kejatuhan. Bukan berarti lelaki itu selamat. Ia juga harus bergegas pergi dari tempat ini. Di mana pun dirinya berada, seorang Walker adalah musuh Spirit Vassle mana pun.

※●※○※○

Melanggar hukum Alterium tentang Ruang dan Waktu. Ia merupakan buronan tingkat lanjut yang perlu dieksekusi di tempat. Membunuhnya tidak lagi ilegal. Tapi, apa pedulinya sekarang kalau tidak bisa pulang. Distorsi antar ruang dan waktu yang terjadi saat benda berkecepatan kurang dari kecepatan cahaya diluncurkan merusak sirkuit utama mesin waktu bentuk jam tangannya.

Menembak peluru di ruang dimensi empat. Robot bodoh!

Benda itu sekarang mengeluarkan listrik statis sehingga perlu dibungkus fiber. Berjalan menyusuri jalan protokol Alterium.

Bagaimana aku pulang sekarang?!

Dengan frustasi Stain Walker mengacak-acak isi saku jaketnya tanpa berhenti berjalan, mencari segenggam Rubena untuk membeli suku cadang guna memperbaiki TM00, kalau pun ada yang menjualnya di zaman ini. Untuk makan saja ia kelimpungan.

Selebihnya ia jadi tontonan orang-orang. Gaya berpakaiannya menarik perhatian beberapa pejalan kaki, sibuk menaksir harganya. Cerobohnya, ia malah menabrak seorang di depannya. Seketika Rubenanya jatuh tercecer dan bergemerincing di atas trotoar.

Stain tidak sempat panik karena dengan cepat mereka beraksi. Para pencuri jalanan bersenjatakan tongkat magnet. Mereka kabur dengan segenggam Rubena miliknya di tangan.

"Sialan kalian! Maling!" Stain hendak mengejar ketiga pencuri jalanan itu, tidak peduli dengan pejalan kaki yang melihat tingkahnya. Namun, sayangnya Stain Walker kurang beruntung. Sebuah buku membuatnya tersandung sebelum dapat bergerak dari jatuhnya. Saat ia melihat ke depan lagi, para pencuri sudah hilang di belokan.

Sial!!

Dengan frustasi lelaki itu mengutuk. Tepat saat berbalik, Stain melihat seorang lelaki tengah memunguti buku-buku yang berserakan di trotoar. Sepertinya orang itu yang menabraknya tadi.

Stain memiringkan kepalanya. Matanya memicing, berusaha mengingat wajah tidak asing itu.

"Kau!?"

※○※○※○

Hujan jatuh menimpa pipa-pipa uap yang berseliweran di atas kepala. Mendesis saat pertama terkena air hujan malam bulan Asthaeri. Kapsul uap semakin jarang melewati lajur kaca bersama tenggelamnya bulan.

Dalam keadaan hampir basah, Stain melihat keluar jendela kafe beraroma robusta dan conna-Vultassa yang pahit, juga eksotis.
Diam-diam Stain berjanji pada diri sendiri untuk mengajak istrinya ke sini.

Seorang lelaki dengan pakaian seperti di novel Sherlock lusuh, membawa dua buah cangkir yang mengepul. Sebagai permintaan maaf menghilangkan Rubena Stain, walau jelas itu tidak sebanding. Harga teh cenderung lebih mahal beberapa keping Rubena dari kopi. Tapi, uangnya lebih dari 3,5 Rubena.

Ia meletakkan satu cangkir di depan Stain dan yang satu lagi untuknya. Lelaki itu tidak berbicara sampai Stain membuka obrolan.

"Ini tidak sebanding lho dengan uangku." Stain melakukan gerakan menimbang-nimbang berat cangkir. Kemudian mengumbar tatapan mengintimidasi ke arah lawan bicaranya. Ia marah. Tapi, entah pada siapa.

"Ya memang. Aku tidak punya banyak Rubena. Sumpah! Aku tidak sengaja," suaranya berani di awal, namun, semakin mendekati akhir semakin melempem dan hilang. "Maafkan aku." Akhirnya hanya kata itu yang keluar.

Stain berdecak, "Ah, sudahlah. Bukan salahmu juga. Lagian, sudah lama aku tidak lihat berandal mencuri secara terang-terangan di Alterium." Stain meneguk teh panas tanpa segan.

"Apa maksudmu? Mereka bisa lebih liar tadi. Anda berbicara seperti bukan dari Alterium saja," Lelaki itu mencibir, namun, kembali teringat kesalahannya pada Stain Walker, ia menyimpan sisa cibirannya dengan minum.

Benar juga. Ini sebelum era revolusi Alterium.

Lelaki itu merogoh saku jasnya, dengan berani menyodorkan sebuah kartu putih kepada Stain, "Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan. Aku Xavier Waters." Stain mengambilnya. Sebuah kartu nama. Dengan segera Stain merogoh ke dalam saku jaket, melakukan hal yang sama.

"Aku Stain Walker." Mendadak sengatan memori membuat lelaki itu hampir tersedak. Ia tahu sekarang. Hanya belum yakin. "Kau benar-benar Xavier Waters?" Stain memastikan.

"Iya ... tentu. Cuma aku yang punya nama itu. Ada apa?" Stain hampir tidak bisa menahan diri untuk terlonjak kegirangan dan meneriakkan apa yang dipikirkannya seperti seorang bocah ingusan.

"Kau ilmuan mesin wak--" air muka Xavier panik, tidak berani menerka apa yang akan terucap dari mulut Stain selanjutnya. Ia membungkam lelaki itu secepat seekor tupai berhibernasi.

"Bagaimana kau ...?!"

Stain tersenyum bangga, "Aku bukan penguntit. Sama sepertimu. Hanya saja dari masa depan."

※○※○※○

Xavier memandu Sang Penjelajah Waktu menuju tempat tinggal sederhananya di sebuah gang beraroma apak yang hanya tersentuh cahaya temaram. Uniknya, pipa uap yang mengarah ke sini lebih banyak dari yang ada di kawasan pertokoan. Lebih panas dan lembab.

Xavier membuka pintu besi di ujung gang yang diterangi satu-satunya lampu pijar kecil yang sekarat. Dan saat lampu di dalam ruangan menyala, segala ekspektasi dari kulit bengkel kecil ini musnah. Stain merasa ada di rumah. Dikelilingi oleh berbagi percobaan mekanika, papan kapur penuh dengan guratan rumus, perkakas suku cadang yang berkilau keemasan tercecer berantakan. Aroma uap yang bocor dari pipa dalam ruangan itu tidak lagi Stain Walker indahkan. Ia senang untuk mereguknya.

"Selamat datang di surgaku," ujar Xavier bangga. Kali ini Stain lebih dari setuju. Tempat ini indah dalan arti yang berbeda.

"Jadi ... bagaimana keadaan mesin waktumu?" ungkap Stain antusias.

Xavier tampak muram saat ditanya. Mesinnya masih mengalami kegagalan kerja. Roda gigi yang seharusnya berputar kencang melebihi kecepatan suara masih kalah dengan Teori Relativitas. Stain Walker tahu itu. Tidak terlalu terkejut.

"Ayolah. Mana semangatmu. Ghrunklesombe tidak dibangun dalam sehari." Stain mengambil kertas di meja. Menuliskan rumus untuk membuat TM00 bekerja dengan sebuah pena tinta yang diambil sekenanya. Mungkin dengan sedikit sentuhan teknologinya ...

Mungkin, ia bisa pulang.

Hampir semalaman kedua ilmuan beda zaman itu menggeledah isi perut rumus. Berbagai rumus dan ukuran penampang gear dicoba. Tidak semua. Tapi, cukup masuk akal untuk dikalkulasikan.

Besar, kecil, sedang. Perjuangan mereka tidak sia-sia. Pemikiran logis Stain amat berguna sementara perhitungan Xavier hampir tanpa celah. Mesin itu sudah siap. Hanya perlu satu bagian lagi untuk dipasangkan. Tetapi, di situlah masalahnya.

Xavier berusaha menemukan tuas yang ia beli beberapa bulan lalu dalam basement. Ia berhasil membuat segalanya berantakan, tapi, tidak menemukan tuas itu di mana pun.

"Mungkin tertimpa perkakas?" Stain mengangkat kotak berisi suku cadang dengan susah payah. Berspekulasi bukan saat yang tepat, tapi, kebiasaannya tidak tertahankan. "Bagaimana kalau tidak sengaja terbuang?"

Lelaki rambut coklat itu melotot. Keringat yang bercucuran membasahi pakaiannya seperti tidak ada habisnya. Stain berinisiatif untuk mengambil air sementara membiarkan Xavier mengingat kembali di mana tuasnya ia taruh.

Sementara Stain menghilang di tangga keluar dari basement, Xavier masih berpikir keras. Ia mengingat visual jalanan beberapa bulan lalu. Toko suku cadang. Kemudian, pemilik toko yang ramah menyapa langganannya dengan antusias. Ia memesan tuas dan ....

"Aku ingat!" Pemuda itu berseru lantang.

Stain kembali ke basement beberapa menit kemudian. Sedikit terkejut karena dilihatnya pemuda itu telah siap pergi.

"Ayo ambil tuas pesananku."

※○※○※○

Xavier bersenandung gembira saat keluar dari toko suku cadang dengan tongkat panjang dibungkus kertas coklat di tangannya. Berbanding terbalik dengan Stain. Lelaki itu nampak gundah, bahkan setelah menyamarkan penampilannya.

Stain meraba sebuah kertas lecek di saku kanan, dan postcard yang dibelinya kemarin di saku yang lain. Xavier melihatnya. Kegelisahan dan ketakutan itu nyata. Sehari Xavier mengenalnya. Stain tidak hanya seorang teman, tapi, juga sebagai sosok ayah yang hilang.

Xavier berdeham, "tau tidak?" Ia hendak berkelakar, tersenyum jail saat mata sehitam jelaga Stain Walker tertuju hanya padanya. "Aku sudah pesan ini beberapa bulan yang lalu. Kalau tidak salah sedang turun salju. Dan sekarang sudah musim gugur! Lucu, kan?" Stain terkekeh, tapi, tidak lama. Ia kembali melihat ke langit seakan langitnya akan runtuh.

Xavier hendak berujar lagi, namun, urung saat suara bising mesin ASV yang mendarat beberapa kios di belakang mereka terdengar. Pemilik kios berikut pelanggannya berbondong-bondong menjauh. Mereka menerka itu adalah MSV, tapi, benda itu tampak berbeda.

"Stain Walker! Atas tuduhan pelanggaran hukum Ruang dan Waktu. Anda kami tahan! Menyerahlah, dan tidak ada yang terluka." Suara yang keluar dari ASV leader serak akibat kerusakan resolusi speaker di dimensi empat kemarin. Mata biru Xavier terfokus pada Stain Walker.

"Kenapa?" Stain menarik pakaian pemuda itu hingga berada tepat di belakangnya.

Mesin waktunya. Atau sejarah akan berubah.

"Xavier. Apa pun yang terjadi. Kau harus selesaikan mesin waktunya." Stain berujar setengah berbisik.

"Ha?!"

"Kode: kejar bayangan; titik pertemuan: pintu besi." Stain berujar dalam bentuk kode. Bukan berarti Xavier Waters tidak mengerti. Ia tidak setuju.

Stain menemukan apa yang dicarinya. Sejurus, melemparkannya ke arah para ASV dan mendorong Xavier menghadap arah sebaliknya.

"Lari, bodoh!" Itu perintah dari Stain, sebelum jalanan bermandikan cahaya. Membutakan mata.

Xavier reflek berlari. Entah bagaimana, patuh. Dari pangkal matanya, Xavier melihat Stain Walker, dengan berani berlari ke dalam gang terdekat bersama para ASV mengekor di belakangnya.

※○※○※○

Xavier berlari memasuki gang yang dipenuhi jalur pipa uap. Berhenti tepat di depan pintu besi tempat tujuannya. Bengkelnya. Rumahnya.

Dengan segenap tenaga mengedarkan pandangan mencari keberadaan seorang Stain Walker. Detak jantungnya berpacu, terguncang. Pesimis, lelaki yang dianggapnya sebagai ayah tertangkap. Tapi, saat itulah Stain Walker muncul, dengan terpincang-pincang memasuki gang. Tidak berlari lagi.

Xavier menghela napas lega. Ia tidak lagi menunggu Stain mengekor, dengan sigap masuk, menuruni tangga basement. Pemuda itu menyambar kunci inggris dalam kotak perkakas sebelum terduduk di samping mesin waktunya. Dengan hati-hati membuka kertas pembungkus tuas sebelum memasangkannya ke dalam lubang. Tangan kiri memegang tuas. Kanan memutar baut cincin. Beberapa putaran dan mesinnya sempurna.

Terdengar pintu basement tertutup, kuncinya knotnya diputar mengunci. Stain Walker menuruni tangga. Xavier ingin berseru saat seruannya tertahan melihat darah di pakaian Stain. Merah dan terus mengalir. Xavier hendak mendekat, tapi, Stain melarang.

"Aku sudah tau ini akan tejadi. Tujuanku kemari. Takdirku untuk mati ...," ujarnya santai. "Dan takdirmu. Mesin waktunya." Lanjutnya.

Stain merogoh saku kanan. Sebuah kertas gading koyak yang bertuliskan berita tahun 1845opt ternoda darahnya.

'Seorang Tanpa Identitas Tewas, Xavier Waters dan Mesinnya Lenyap'

Xavier tertegun, diam seribu bahasa.

"Xavier. Aku ada permintaan," ungkap Stain akhirnya, putus asa. Ia merogoh saku yang lain, melemparkan postcardnya pada Xavier, seakan menjaga jarak. "Berikan ini pada istriku di masa depan. Setidaknya aku tidak membuatnya terlalu penasaran kemana suaminya." Xavier menggigit bibir bawahnya. Menahan amarah dan kesedihan yang membeludak.

Stain tersenyum menahan sakit, "Sekarang pergilah, nak. Pertahankan sejarah!"

Xavier tidak berkata banyak. Setelah kesekian kalinya, ia tidak bisa melawan perintah Stain Walker. Dengan hati-hati menarik beberapa tuas, terdengar mesin uapnya berkerja. Mesinnya diliputi cahaya biru. Tangisnya pecah.

"Ayah,"

Dan Xavier hilang. Takdir terpenuhi. Sejarah dipertahankan.


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top