4. Behind The Scene
"James, kamu akan terlambat."
Suara Nyonya Watts terdengar sedikit menyebalkan pagi ini bagi James. Wajahnya terlihat kesal menaruh kembali selembar pamflet yang digenggamannya tadi di meja. Sambil mengancingkan kemejanya sesekali dia melirik kertas itu -- membacanya. Saksikan pertunjukan sirkus selanjutnya ....
"Di Verimont a-arg ...."
"Sebaiknya kau bergegas!" panggilan kedua sukses membuat semua perhatiannya buyar seketika.
Pria itu melirik jam bundar yang terantai di sakunya. Wajahnya berubah panik, segera menarik laci untuk mencari wig putih.
"Kau akan terlambat James!"
"Okay Mom!" James menyematkan rambut palsunya cepat sembari memastikan penampilannya pagi itu terlihat sempurna pada cermin persegi besar. Bergegas keluar, tangannya menyambar vest berwarna coklat yang tergantung di coatracks dekat pintu kamar.
Di ruang makan sekaligus dapur, Nyonya Watts sudah duduk menunggu di kursi favoritnya dekat jendela sembari memakan sarapannya. Tampaknya hidangan untuk James juga sudah tersaji.
James menenggak susunya sambil berdiri.
"Perlahan!" ekspresi Nyonya Watts berubah khawatir saat menyaksikan James menaruh kembali gelas kaca yang nyaris kosong.
"Aak ... per ... bye Mom!"
James tidak sempat berbasa-basi. Pria berumur dua puluh itu menggigit dan menahan potongan pizza di antara giginya dan mencium pipi Nyonya Watts yang baru saja berdiri setelah menghabiskan sarapannya.
"KAU!" teriak Nyonya Watts pada James yang menuju pintu depan -- sembari membersihkan sisa saus tomat yang menempel di pipi.
Wanita itu terlihat bersemangat memarahi bayi kecilnya yang sudah dewasa. Walau begitu percakapan pagi itu telah usai setelah lambaian tangan dari James, tepat sebelum pintu itu ditutup.
"Hati-hati ...."
***
Langkah ringan dan tubuh kurus James, membawa pemuda itu melewati kerumunan dengan mudah.
"Yakkss ...." teriakan Bu tua Grey saat James mencolek pinggulnya. Seperti biasa, Pak tua Grey diam-diam tertawa di sudut toko saat wajah istrinya berubah merah padam. Sialnya sebelum wanita tua itu menoleh, James sudah tiba di depan toko buah Tuan Brown di ujung pasar.
"Terima kasih, Tuan Brown!"
"Hey pencuri, aku tidak berkata aku akan memberimu itu!"
Sebuah apel sudah berpindah ke tangan James dari rak pajangan kayu. Pelanggan Tuan Brown terlihat memadati toko itu dan tentunya tidak ada waktu bagi Tuan Brown untuk mengejar dan menghabiskan waktunya yang berharga untuk seorang pencuri apel.
"Hey, pagi! Apakah pertunjukan semalam menyenangkan?"
Sebuah tepukan ringan mendarat di rompi vest milik James saat ia keluar dari area pasar. Thomas Savery, temannya sedari kecil dan lebih pendek -- berusaha menyamakan langkahnya dengan James. Thomas tinggal di bangunan setinggi tiga lantai dari batu bata coklat yang baru saja mereka lewati.
"Kau terlambat Thomas!"
"Cuaca begitu dingin, aku malas bangun."
Hujan gerimis sejak dini hari membuat sepatu hitam setinggi lutut milik keduanya kotor -- terciprat noda air berwarna coklat dari jalanan conblock pasar Newtown yang becek. Mereka biasanya memang selalu ketemu di tengah jalan seperti tadi. Apalagi keduanya saat ini bekerja di pabrik roti yang sama milik Tuan Charles.
"Semalam adalah pertunjukan yang spektakuler. Aku ingin melihatnya lagi," James bercerita dengan nada antusias sambil melangkah. Kedua bola matanya bersinar saat mengingat kembali peristiwa semalam, mengenai janji dari salah satu pemain sirkus.
"Ide buruk James, Verimont itu berada di balik gunung. Kau dan aku sama-sama mengerti!"
James mengangguk, walaupun dia benar-benar menginginkan pergi ke Verimont. Kota itu terlalu jauh-- dua bulan perjalanan menggunakan kereta kuda.
"Hai semuanya!" teriak seseorang dari ujung jalan melambai saat keduanya tengah menyeberang, Denis Papin telah menunggu dengan koran di tangannya -- dekat kotak pos berwarna merah.
"Apa yang kulewatkan?" teriak Denis pada kedua sahabatnya.
Ketiganya kompak diam diantara para pejalan kaki yang lalu lalang dan mengobrol -- memenuhi simpang jalan Paperton. Menyeberang saat petugas keamanan yang mengatur lalu lintas meniupkan pluit panjang.
Jalanan beberapa pekan terakhir, memang cukup padat dan dipenuhi kereta-kereta kuda kaum bangsawan. Kota Cilici sedang bersiap mengadakan pertunjukan opera terbesar tahun ini. Tersiar kabar akan ada pesta dansa di balai kota. Rasanya tidak ada satupun pemuda yang ingin melewatkan kesempatan menari dengan putri-putri cantik diiringi alunan waltz. Denis, sahabat mereka kemarin bahkan telah membeli topi bowler baru untuk menarik perhatian gadis incarannya.
"Berikan pendapatmu Denis? Sahabatmu James, mengatakan bahwa dia ingin pergi ke Verimont!"
"Tentu saja James bisa pergi. Namun perjalanan yang memakan waktu berbulan-bulan akan membuatmu dipecat!"
James mengangguk.
"Oh ya, aku lupa. Aku harus lembur hari ini."
"Kenapa?" tanya James dan Denis hampir berbarengan. Memperlambat langkah mereka karena sudah memasuki kawasan pabrik.
"Ingat yang kuceritakan sekitar seminggu yang lalu?" Thomas menghela napasnya.
Cerita minggu lalu?
James berpikir sejenak, itu berarti mengenai para penambang yang menemukan batu hitam untuk menggantikan fungsi kayu sebagai media bakar. Tuan Charles memesan batu bara dalam jumlah besar untuk pabrik sebab harganya yang lebih murah dari kayu.
"Batu bara tidak cocok dengan mesin pemanggang yang sudah ada. Terlalu panas dan mereka menyebabkan roti gosong dan berbau."
"Kalian bisa memberikannya padaku. Aku akan memakannya."
"Roti hitam, gosong dan berbau! Kau menginginkannya? Euuu ...!"
"Hentikan kalian berdua membuatku jijik. Lantas bagaimana nasib batu bara itu?"
"Kau menginginkannya?" tanya Thomas menatap James penuh arti. "Kau bisa membakarnya saat musim dingin dan ruang tamumu akan menghitam."
"Tidak lucu!"
"Aku bercanda huft ... aku sedih sekarang. Mungkin kalian bisa membantuku nanti malam?" rangkul Thomas berjinjit -- berjalan di tengah kedua sahabatnya yang tentu saja segera menyingkirkan tangan Thomas.
***
"Aku pikir akan membeku sendirian di sini bersama para kuda. Kalian sahabat terbaikku!" lengan baju Thomas sudah tergulung. Dia bertugas memindahkan batu bara dari kereta dengan sekopnya -- lengan dan sebagian wajahnya berubah hitam.
"Jangan berterima kasih sebab aku sudah menyesal."
"Aku juga."
James menaikan batu bara ke trolley yang lebih kecil, dan Denis memindahkan batu bara itu ke ruang penyimpanan Tuan Charles. Masih ada sebagian lagi di dalam kereta, namun Thomas memutuskan untuk beristirahat sejenak.
"Kau tahu, coba saja batu bara ini bisa kita manfaatkan!"
"Ya, seperti panci masak milik Denis ini!" Thomas terkekeh sambil menunjuk pemanas air milik Denis di atas perapian. Ketel yang bisa mengeluarkan bunyi panggilan saat air di dalamnya mendidih. Denis melakukan sedikit modifikasi pada peralatan masak milik ibunya. Kini, ia tidak usah khawatir akan menyebabkan apartemennya terbakar lagi.
Beberapa saat mereka asyik berbicara, bercanda sambil duduk pada batang kayu mengelilingi perapian. Kemudian ketiganya kompak terdiam saat menyeruput coklat panas.
Sebuah dercitan besi terdengar dari balik hutan. Denis yang pertama mendengarnya, suara seram tak jauh dari pertambangan tua terlantar.
Denis berjaga dengan panci penggorengan -- diletakkan tadi di rerumputan agar mudah menjangkaunya saat memasak, sementara Thomas berdiri -- bersiap dengan sekop di tangannya. James lebih tertarik untuk menyelidiki dan masuk ke semak-semak sambil membawa lampu api minyak dari ikan paus.
Thomas dan Denis pun terlihat ragu pada awalnya, walau akhirnya mereka menyusul James bergerak masuk -- menyusuri pepohonan yang gelap.
"Aaaaa ...." teriak Denis terpeleset jatuh tiba-tiba. Berkat cahaya dari lampu minyak terlihat dua buah rangkaian besi yang tersusun vertikal dengan kayu di tengah.
"Tempat ini bahkan bukan area pertambangan. Untuk apa rangkaian rel yang biasa digunakan oleh trolley pengangkut mineral dipasang di sini?"
Ketiganya lalu berjalan mengikuti rel tersebut. Ada sebuah cahaya di depan mereka, dan juga kereta trolley yang berjalan pelan sambil menimbulkan bunyi suara berdecit -- suara sama yang terdengar tadi.
Kereta itu menghampiri pondok bercahaya, terlihat jelas dua petugas berseragam sedang berdiri di trolley pertama yang memiliki sepasang pegangan besi seperti jungkat-jungkit.
James mengetahui alat itu, karena sebelumnya dia pernah mengoperasikannya saat menjadi ahli mesin di pertambangan. Bergerak dalam rel dan dioperasikan oleh dua orang yang bergantian memompa tuas pemompa yang naik dihadapan mereka -- pump trolleys.
Terdengar aba-aba petugas berseragam lain di depan mereka menaikkan papan kayu berwarna merah. Trolley berhenti dan kedua petugas tadi terlihat bergantian menyeka keringat -- sebelum bergegas menuju trolley di belakang.
Tanpa membuang waktu, James dan temannya berlari menaikki tangga pondok itu. Tulisan kantor pos pun terpasang dan dapat terbaca jelas berkat lampu-lampu minyak yang digantung sepanjang atap rumah.
"Minggir!" seseorang keluar dari gerbong kedua, tangan kanannya terlihat menarik bungkusan karung besar.
"Apa yang Anda lakukan?" tanya James mendekati Pak tua yang sedang memeriksa kondisi kereta.
"Kami? Ini semua adalah surat dari luar kota Cilici. Kau kira siapa yang mengantar mereka selain kami?
"Benarkah?" tanya James antusias. "Termasuk surat dari Kota Verimont?"
"Ide buruk itu James," ujar Thomas seperti mengerti isi kepala James. James memang jarang sekali terlihat serius.
"Berapa lama menuju Verimont dengan kereta itu?"
"Jaraknya sekitar ... kilometer, mungkin seminggu jika petugas kami kuat memompa trolley tanpa henti."
"Oh ...." James tampak kecewa. Pemuda itu tadinya berharap bahwa alat ini bisa ke Verimont lebih cepat.
"Ide buruk teman, manusia tidak akan sanggup mengoperasikan tuas itu cepat. Menurunkan dan menaikkannya dengan tangan. Tanyalah pada Denis, siapa tahu saja jika dia bisa membuatkanmu alat penggerak roda otomatis seperti ia membuat alat pemanggil ketel otomatis."
"Mungkin bisa, kau tahu terkadang ketel tak hanya berbunyi. Penutupnya biasa bergerak karena dorongan uap di dalamnya ...." ujar Denis.
"Ide brilian," James mencium pipi Denis. Sesudah itu dia meninggalkan keduanya dan pulang lebih dahulu.
***
"Jangan bicara padaku, aku masih kesal atas perbuatanmu semalam!" ujar Thomas di pinggir jalan tempat ia biasa bertemu James.
"Kami memindahkan batu bara itu berdua. Kau sungguh tega!"
"Dengar, aku menggambar sesuatu. Aku akan menunjukkannya di tempat yang sama nanti malam!"
***
"Lihat kotak ini!" ujar James memperlihatkan gambar yang tergulung. Ada gambar sebuah kotak dengan dua corong kecil di atasnya. Pada tengah kotak terpasang piston untuk menggerakkan roda. "Kalian lihat, sesuatu yang dingin akan dimasukkan bergantian ke dalam corong a dan b, lalu sesuatu yang panas berupa uap akan dimasukkan secara bergantian juga lewat corong b dan a. Tempat masukknya mungkin di atas buat uap dan di bawah buat air. Lalu kita membutuhkan pengaman yang bisa bergerak juga untuk mengatur pemisahan secara otomatis."
"Ide bagus!"
Kedua sahabatnya tampak setuju dan antusia seperti dugaan James. Thomas, ahli mesin pabrik roti mengangguk sesekali; begitu pula Denis, juru panggang pabrik roti yang sering mengutak-atik peralatan masak.
"Sekarang coba kau masukkan batu bara itu!" perintah James pada Thomas.
Namun sial bagi Thomas karena mesin buatan James mendapat panas berlebih dari batu bara dan meledak. Percobaan pertama malam itu gagal.
Malam berikutnya sesuai saran Denis, ketiganya membuat tangkai penutup sebagai pengaman mesin.
Satu bulan sejak itu mereka berhasil membuat piston berjalan dengan sempurna. James berhasil meminta izin dari petugas kantor pos untuk menyambungkan mesin buatannya pada pump trolley.
Percobaan pertama petugas pos berhasil. Kereta tiba lebih cepat sekarang. Menggunakan uap, maka antara Cilici dengan Verimont bisa ditempuh dalam setengah hari. Kemudian sesuai kesepakatan awal, James dan teman-temannya boleh menumpang kereta milik kantor pos untuk perjalanan pulang pergi ke kota Verimont.
Sesuai cita-cita James, mereka akan berangkat sabtu pagi dan pulang kembali saat minggu malam.
***
"Verimont!" James tersenyum lebar, melangkah masuk ke dalam tenda pasar malam Yodea, Verimont.
"Pertunjukan sirkus akan dimulai sesaat lagi."
Thomas dan Denis yang kelelahan selama beberapa bulan terakhir tampak menguap saat memasuki tenda. Benar saja, keduanya bahkan tertidur saat pertunjukan gajah. Sementara James sangat antusias menunggu pertunjukan memasukki acara akhir -- puncak.
"Saya!" James melambaikan pamflet miliknya ke udara. Dia terpilih sebagai penonton setia dan berhak atas hadiah ciuman lima menit dari gadis-gadis yang meniti tali.
Thomas dan Denis tersadar di detik-detik terakhir pertunjukan gara-gara tepuk tangan riuh dari para penonton di samping mereka. Keduanya menjadi luar biasa iri menyaksikan James mencium mesra gadis berpakaian minim di atas panggung. Tepuk tangan meriah mengakhiri penutupan acara.
Keduanya mengerti sekarang alasan sahabatnya gila bersikeras pergi menonton pertunjukan 'sirkus' ini.
"Hai James, kami Wright bersaudara. Apakah Anda benar datang dari kota jauh di balik gunung sana?"
James mengangguk. Dia telah kembali ke barisan penonton setelah aksi panggungnya tadi. Menatap kepada dua orang asing yang sejak tadi memang duduk di sebelahnya.
"Kami mendapat pamflet berikutnya, tertulis pertunjukan berikutnya dilaksanakan di Holo, kota seberang lautan sana. Apakah jika kami mengarungi lautan, maka kami akan seberuntung Anda mendapat ciuman dari gadis-gadis cantik?"
"Kalian gila! Setengah tahun terombang-ambing di lautan, maka kalian pasti akan dipecat dari pekerjaan," ujar Thomas yang mendengar di sebelah James memotong percakapan ketiganya.
"Tidak Thomas, menurutku jika mereka mempunyai sayap dan bisa terbang cepat seperti burung. Mereka bisa menyebrangi lautan itu cepat dan kembali bekerja lagi!" tukas Denis, dan Wright bersaudara terlihat memikirkan jawaban dari Denis tadi dengan serius.
"Aku rasa kami bisa melakukannya, ide untuk membangun sebuah burung!"
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top