Asheeqa 13
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kita tidak pernah tahu kapan maut menghampiri kita. Detik ini kita masih hidup tapi kita nggak tahu detik berikutnya kita hidup atau mati.
~Asheeqa~
Aku masih duduk termenung sejak sepeninggalan dokter Azlan.
Kata-kata dokter singa benar-benar jadi cambuk di hatiku. Semua perkataan dokter singa tentangku yang malu dengan Bila memang benar. Aku begitu malu dengan Bila. Kenapa aku begitu egois? Kenapa aku masih seperti ini? Kenapa aku masih enggan menutup aurat? Satu-satunya alasan yang bikin aku kayak gini ya karena sosok dia.
Dia yang telah menorehkan luka hati terdalam. Dia yang membuatku jatuh terpuruk seperti ini. Dia yang membuatku menjadi Asheeqa yang enggan memakai hijab. Itu alasan terbesarku.
Tapi melihat Bila, aku benar-benar malu. Bila yang terlahir dengan keterbatasannya, Bila yang telah kehilangan orangtuanya. Tapi tak sedikitpun Bila marah sama Allah. Dia malah menjadi seorang gadis kecil yang taat sama Allah. Kenapa aku nggak bisa?
Seharusnya aku lebih bersyukur di bandingkan dengan Bila. Aku masih punya bunda dan abah. Aku juga terlahir normal. Tapi lagi-lagi aku mengutamain ego dan menerima mentah-mentah godaan setan.
Tak terasa airmataku kembali mengalir.
"Kakak kenapa?" Ucap seseorang di depanku.
Aku segera menghapus airmata. Dan tersenyum menatap seseorang yang duduk di atas di kursi roda. Menatapku prihatin.
"Kakak nggak apa-apa de." Kataku pura-pura.
"Kakak kayak mamah, suka bohong. Aku tau kak kalau orang abis nangis." Jawabnya masih tersenyum.
"Ketahuan ya?"
"Iyalah. Tuh pipi kakak basah. Mata merah, hidung merah apalagi tuh ada ingusnya hehehe." Dia terkekeh.
Aku buru-buru membersihkan ingus. Malu juga dilihatin anak kecil.
"Saudara kakak ada yang sakit ya? Sampai bikin kakak nangis kayak gini." Tanyanya penasaran.
"Kakak nggak usah nangis diam-diam kayak gini. Kami yang sakit tahu kalau kalian menangisi kami. Sejujurnya kami nggak ingin bikin kalian nangis. Kami hanya ingin lihat senyum kalian. Karena senyum kalian obat buat kami." Lanjutnya masih memamerkan senyum manisnya.
"Kakak nggak nangis soal itu kok. Kakak lagi pengin nangis aja." Kataku masih bohong.
"Kalian orang dewasa memang nggak pandai buat bohong." Jawabnya menatapku.
Aku tertawa mendengar pernyataannya.
"Tuh kan malah sekarang ketawa. Aneh." Jawabnya mengejekku.
Aku mencubit pipi anak cowok di hadapanku ini. Spontan dia langsung manyun dan mengelus pipinya.
"Kok kamu di sini sih? Nanti di cariin dokter loh." Kataku menakut-nakutinya.
"Kakak gitu banget sih. Jahat. Aku capek minum obat kak." Katanya lirih.
"Minum obat kok nggak mau sih? Nanti kamu nggak sembuh-sembuh gimana? Nggak kasian sama mamah dan papah kamu?"
"Aku sayang sama mereka kak. Tapi kata dokter penyakitku ini susah buat sembuh. Aku harus menunggu orang baik yang mau donorin." Jawabnya menunduk, terlihat raut sedih di wajahnya.
Aku mengelus kepalanya yang tertutup kupluk berwarna hitam.
"Sabar ya, In Shaa Allah nanti ada orang baik. Yang mau donorin." Ucapku menyemangatinya.
"Selalu sabar kak. Allah ngasih penyakit kayak gini ke aku kan bisa buat gugurin dosa-dosaku kak." Jawabnya tersenyum semangat.
"Aduh ternyata kamu di sini Ren. Suster sama mamah kamu udah muter-muter nyariin kamu. Nggak tahunya di sini." Ucap seorang perawat lega melihat anak cowok di depanku ini.
"Suster tahu aja sih aku di sini. Gagal lagi deh main petak umpetnya." Jawab anak cowok di depanku ini kesal.
"Udah waktunya minum obat Rendi. Yuk balik ke kamar, nanti dokter Azlan marah loh kalau kamu telat minum obat lagi," ujar suster Mira. Tertera jelas nama Mira Aryanti di name tag yang di pakai sang suster.
"Kamu minum obat ya. Nanti dokter singa kalau tahu kamu telat minum obat bisa-bisa dia terkam kamu hehehe" Jawabku terkekeh, ternyata Rendi juga salah satu pasien dokter singa.
"Hehehe kakak tahu aja. Kalau dokter Azlan kayak nama singanya di Narnia ya?" Tanya Rendi antusias.
"Tahu dong. Dia kan yang buatku kayak gini." Ucapku berbisik, di dekat telinga Rendi.
Rendi tertawa kemudian berpamitan padaku. Sedangkan suster Mira hanya tersenyum dan mendorong kursi roda Rendi.
***
Malam ini aku berniat buat belajar bahasa isyarat. Aku harus bisa. Aku nggak boleh kelihatan bego di depan si dokter singa. Dan aku bakalan buktiin kalau aku nggak seperti anggapan dia soal jauhin Bila.
Aku terus menatap layar handphone 6 inchi keluaran korea ini. Hadiah saat aku lulus sidang skripsi dari bunda.
Layarnya yang lebar membuatku puas menonton video tentang belajar bahasa isyarat. Jari-jariku mengikuti setiap gerakan dari seseorang di dalam video tersebut. Aku kan pintar, masa sih nggak bisa pakai bahasa isyarat. Saking fokusnya aku sama sekali nggak tahu ternyata abah sudah ada di belakangku, bersiap mengejutkanku.
"Doorrr!" Teriak abah mengagetkanku.
"Ahhh Abah! Ngagetin kaka aja sih." Keluhku sewot menatap abah.
"Serius banget ka. Kamu lihat video apaan sih?" Tanya abah penasaran.
"Huh gangguin kaka aja sih bah. Kaka lagi belajar bahasa isyarat tau. Biar kaka ngerti apa yang Bila maksud." Jawabku terus terang.
"Ohh ceritanya begonoh." Kata abah manggut-manggut.
"Tapi kan Bila tahu bahasa bibir ka. Dan kalau kita nggak bisa bahasa isyarat dia kan bisa nulis di kertas."
"Iya sih bah. Tapi kan asyik kalau cucu abah yang cantik ini bisa bahasa isyarat juga." Ucapku merangkul pundak abah.
"Mana ada abah punya cucu cantik. Wong cucu abah penginnya selalu keliatan ganteng pakai topi." Ejek Abah.
"Huh, kok abah gitu sih. Kaka kan cewek ya cantik lah." Kataku tak terima.
"Cucuku cantik ya? Kalau cantik pakai rok dan hijab baru makin cantik ngalahin miss-miss di televisi gitu." Abah menjawil daguku, dan tersenyum.
Aku yang biasanya marah kalau abah dah omongin hijab. Kali ini aku terdiam dan menatap abah lembut. Abah juga terlihat kaget melihat reaksiku yang nggak kayak biasanya.
"Maaf ya ka." Ucap abah.
"Ngapain minta maaf sih bah. Abah kan nggak salah." Kataku tersenyum.
Abah menempelkan telapak tangannya di dahiku. Kemudian menempelkannya ke dahinya sendiri.
"Nggak panas kok. Suhunya sama kayak dahi abah." Abah menatapku bingung.
"Apa-apaan sih bah. Kaka sehat-sehat aja kali. Main ukur suhu badan. Nggak sekalian pakai termometer aja." Gurauku.
"Iya kayaknya abah musti ambil deh." Abah beranjak dari tempat duduknya, tapi buru-buru aku cegah.
"Kaka baik-baik aja bah."
"Lah terus ngapain tadi nyuruh abah."
"Abah juga ngapain sok ngukur suhu badan kaka. Apa aneh ya liat kaka nggak bereaksi soal pakai hijab?" Tanyaku memastikan sama tingkah konyol abah. Abah sendiri hanya mengangguk.
"Emang kaka bakalan cantik ya bah kalau pakai hijab dan rok?" Tanyaku menatap abah. Tapi lagi-lagi abah hanya mengangguk.
"Kok abah manggut-manggut aja sih. Kayak boneka di dashboard mobil bang Aries hahaha." Tawaku pecah membayangkannya.
"Hush, nyamain abah sama begituan. Abah lebih ganteng kali." Kata abah tak terima.
"Habis abah di tanya jawabannya cuman mengangguk. Ngomong apa ke."
"Maaf deh, abah bingung aja. Tumben kamu nggak nyolot abah bahas begituan. Lagian kan pasti setiap wanita yang pakai hijab kecantikannya bakalan tambah berkali-kali lipat."
"Gitu ya bah? Kalau kaka pakai hijab gimana?" Tanyaku malu-malu. Di luar ekspektasiku Abah langsung sujud syukur.
"Ihh abah ngapain sih sampai sujud kayak gitu. Kaka kan cuman tanya." Aku membantu abah kembali duduk di ranjangku.
"Abah seneng banget dengernya Asheeqa." Mata abah berkaca-kaca bahagia.
"Ihh bah kaka kan cuman nanya, abah malah langsung sujud syukur. Gimana kalau kaka beneran pakai hijab. Potong kambing kali nih abah."
"Ide bagus ka. Nanti abah potong kambing eh nggak abah mau potong sapi aja biar bisa buat makan-makan orang sekampung." Abah malah punya ide lebih gila.
Aku mengusap wajah pasrah. Segitukah abah berharap aku memakai hijab. Hingga ingin mengundang orang-orang.
"Ka kapan kamu mau pakai hijab. Nanti abah beliin baju-baju gamis buat kamu deh. Terserah mau beli di mana. Abah yang bayar semua." Semangat empat lima abah.
"Ihh abah kaka kan cuman nanya. Pakainya kan nanti kalau kaka ketemu jodoh." Elakku.
"Apa jangan-jangan kaka udah ketemu jodoh ya? Ya Allah Alhamdulillah kau telah mengabulkan doa-doa hamba." Ucap Abah mengadahkan tangan kemudian mengusap wajahnya.
"Ihh abah makin ngawur deh ngomongnya. Tadi kan kaka bilang kalau. KALAU bah. Kenapa malah ngomongin jodoh segala." Aku manyun menatap abah.
"Yah kok pakai kalau sih. Kirain beneran mau pakai hijab. Kemarin kan kaka bilang sendiri pakai hijab kalau udah ketemu jodoh. Makanya abah ngira kamu beneran udah ketemu jodoh. Eh nggak taunya cuman kalau. Tapi nggak apa-apa berarti kamu udah ada niatan mau pakai hijab."
Niat apa bener aku udah ada niatan buat pakai hijab. Tapi apa alasannya? Aku kan masih marah sama ayah. Ahh inikan masih pertanyaanku ke abah kalau aku pakai hijab gimana. Eh ini malah abah aja mikirnya udah aneh-aneh.
"Kaka lagi lamunin apa? Lamunin kaka pakai hijab ya?" Tanya abah.
"Nggak lah bah, masih lama kaka pakai hijabnya." Jawabku cepat.
"Yah, abah kira bentar lagi kamu mau pakai hijab. Nggak tahunya malah masih lama." Kata abah menurunkan bahunya pasrah.
"Sorry bah." Aku tersenyum menatap abah.
"Tapi abah beneran kok ka, kalau kamu pakai hijab abah bakalan ngundang orang sekampung."
"No bah!" Tolakku menrah-mentah ide gila abah.
"Abah pengin lihat kamu jadi wanita salekha ka. Jangan sampai malah maut dulu yang menghampiri abah." Raut wajah abah terlihat sedih setelah mengatakannya.
"Abah... " aku memegang erat jemari abah yang sudah mulai keriput.
"Ka, kita tidak pernah tahu kapan maut menghampiri kita. Detik ini kita masih hidup tapi kita nggak tahu detik berikutnya kita hidup atau mati." Ucap Abah memandangku sendu.
"Abah nggak maksain kapan kamu mau pakai hijab. Abah cuman ngingetin perintah memakai hijab itu wajib buat wanita. Kaka pasti tahu ada dalam surat apa dan ayat berapa. Kalau kaka sayang bunda dan abah, kaka pasti tahu jawabannya kan?" Abah menjeda kalimatnya sebentar, "udah malam, kaka lebih baik tidur. Belajar bahasa isyaratnya lanjut besok aja. Kalau nggak nanti langsung belajar aja sama Rayan atau Ayesha." Lanjut abah kemudian mencium puncak kepalaku dan pergi keluar dari kamarku.
Aku masih mencerna kalimat yang abah ucapkan. Tanpa pikir panjang aku langsung mengetik di kolom pencarian mbah Google. Dalil tentang memakai hijab bagi wanita.
Dalam hitungan detik, mulai muncul beberapa artikel. Salah satunya yang memunculkan ayat Al Qur'an.
Surat Al-Ahzab Ayat 59
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Airmataku kembali mengalir deras hingga sesenggukan. Hari ini sosokku sebagai Mehru yang kuat dan cuek berubah menjadi Asheeqa cengeng. Ya Allah apa ini hidayah dari-Mu? Aku dihadapkan masalah-masalah seperti ini atau ini teguran dari-Mu. Agar aku hijrah?
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top