Asheeqa 1
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
"3 panggilan Allah yang wajib manusia penuhi : pertama panggilan salat (adzan), kedua panggilan haji, dan ketiga panggilan kematian."
-Asheeqa 1-
Matahari bersinar teriknya siang ini. Gimana nggak panas? Tepat jam dua belas siang di puncak musim panas, saat matahari persis di atas kepala. Topi yang aku kenakan aja nggak ngaruh, tetep aja panasnya tembus sampai kulit kepala. Nggak ngebayangin deh gimana di neraka nanti. ngeri kalau inget-inget kesitu, apalagi dengan aku yang kayak gini? neraka atau surga aja masih abu-abu. Tetapi kali ini demi tugas Negara nggak boleh kalah sama panas.
Ini titah bukan sembarang titah dari sang ibunda ratu, judulnya aja "Mencari Sang Raja". Jadi pasrah apapun kondisinya, mau panas, hujan atau badai sekalipun bukan jadi halangan. Mendaki gunung lewati lembah sungai membelah indah ke samudera mencari Abah yang lagi mancing, hehehe. Ngalahin Ninja Hatori kali ya. Sebenarnya sih hanya urusan sepele, disuruh bunda nyariin abah, nyuruh abah balik.
Abah sendiri sudah berumur 70 tahun, tapi kalau kalian lihat sendiri nggak bakalan nyangka deh kalau dia udah tua. Badannya masih kekar loh, kalau diajak lari pasti kalian kalah. Ya iyalah kalian kalah, wong abah naik motor. Abah itu kocak, bisa aja buat aku dan bunda ketawa ngakak. Mungkin itu kali ya yang bikin awet muda.
Oh ya, belum tau ya siapa aku? Kenalin namaku Asheeqa cucunya Abah Abraham, anaknya bunda Mutia. Aku sendiri masih berumur 22 tahun. Baru selesai sidang dan masih nunggu wisuda.
Kulangkahkan kaki menuju tempat pemancingan. Tempat biasa Abah nongkrong bareng geng AA GIM. Jangan mikir kalau mereka itu fans Aa Gym ya? walaupun Abah kadang sering nonton ceramahnya ustadz yang terkenal sama lagunya "Jagalah Hati". Tapi AA GIM disini itu singkatan Aki-Aki GIla Mancing. Sebenarnya sih yang kasih nama AA GIM aku sendiri, habis kalau sudah mancing bisa lupa waktu, eh nggak ding aki-aki disini masih ingat kok buat urusan akhirat. Buktinya di tengah tempat pemancingan berdiri kokoh musholla Al Jihad namanya. Jadi anggapan kalau mancing itu bikin lupa waktu itu salah, buktinya di sini selalu ada yang bisa ngingetin waktu salat.
Beberapa orang yang melihatku memasuki pemancingan, menyapa dan tersenyum ramah. Di sini aku lumayan terkenal loh. Sejak kecil Abah sering mengajakku, walaupun kadang ke sini cuman lihatin abah mancing. Tapi kadang di sini sifat jahil aku sering kambuh. Lepasin ikan hasil mancing para pemancing di sini. Alasannya sih kasihan sama ikan. Wong ikannya lagi asyik berenang malah dipancing, kan kasihan gimana kalau nanti ibu atau ayahnya ikan pada nyariin. Abah aja kalau pergi lama pasti bunda nyariin, padahal abah bisa pulang sendiri. Kalau ikan kan lebih tragis lagi, mereka nggak bisa balik sendiri, apalagi kisah mereka akan berakhir di piring saji. Maaf,...
"Nyuruh Abah balik ya?"sapa laki-laki paruh baya berpapasan denganku.
Aku hanya tersenyum mengangguk setuju.
"Noh, Abah lagi mancing di kolam gurami."katanya menunjuk salah satu kolam yang berada di paling ujung.
"Makasih mang Udin."ucapku masih tersenyum pada lelaki yang hampir tiap hari mancing disini.
"iya kembali kasih, mamang lanjut mancing ya."ujar mang Udin kembali melemparkan umpan ke tengah kolam.
Aku pun memilih berjalan menuju tempat yang tadi ditunjuk mang Udin. Tempat pemancingan ini memang berisi 5 kolam. Ada kolam utama yang berisi berbagai macam ikan diantaranya ikan Mas, Gurami, Bawal, Nila dan Gabus. Biasanya kolam utama ini juga dipakai untuk perlombaan. Sedangkan 4 kolam lainnya khusus berisi satu jenis ikan. Tapi kolam ikan gabus nggak ada, kata Aki Ramlan yang punya tempat pemancingan ini gara-gara peminat ikan gabus sedikit. Padahal ikan gabus ini merupakan salah satu ikan pancingan yang menyenangkan. Dengan umpan hidup berupa serangga atau anak kodok, gabus mudah di pancing. Tapi gara-gara giginya yang tajam dan sambaran serta tarikannya yang kuat, dapat dengan mudah memutuskan tali pancing.
Kembali ke Abah. Terlihat Abah asik mengobrol dengan beberapa orang, sebagian seumuran dengan Abah lihat aja rambut mereka kebanyakan beruban.
"Abah!"kataku setengah berteriak memeluk Abah dari belakang.
"Nih anak perempuan, nggak ada lembut-lembutnya sih. Abah belum budeg nduk." keluh Abah menggelengkan kepala dengan tangan mengusap dadanya kaget.
"Abah memang masih denger, tapi kan gengnya Abah sebagian udah,..."elakku tersenyum melihat teman-teman Abah.
"Hem, terserah kamu lah nduk."
"Pulang yuk Bah, bunda udah nungguin nih. Abah memang belum laper ya?"bujukku mengambil pancingan dari tangan Abah.
"Bentar, belum adzan dzuhur."Abah merebut kembali pancingan yang kupegang.
Allahuakbar,,,, Allahuakbar,,,,
"Tuh dan Adzan. Ayo pulang. Aki-aki yang ganteng-ganteng kayak Brad Pit udah dipanggil tuh, jangan sampai malaikat Izrail yang manggil,"kataku tersenyum menakut-nakuti mereka.
Mereka tampak menghela nafas parah, mendengar ocehanku.
"Kamu bisa aja sih Ka ngomongnya."sahut abah mengelus puncak kepalaku yang tertutup topi.
"Cucumu Ham memang pinter ngingetin kita-kita. Ngomongnya udah kayak ustadzah. Tapi, dirinya sendiri ... "ucap salah satu temen Abah menggantung yang aku tahu namanya aki Soleh.
"Belum menutup aurat."kompak geng AA GIM melanjutkannya, sukses buat bibirku maju lima senti.
"Tuh denger,"sahut Abah menyetujui perkataan temen-temennya.
"Iya aki-aki ganteng, Mehru nutupin aurat kalau udah ketemu jodoh."
"AAMIIN!"teriak mereka mengamini perkataanku.
Gaya omonganku memang mirip ustadzah di televisi kata orang kalau lagi ngomongin agama hehehe, tapi ya gini aku masih belum menutup aurat. Penampilanku juga menyerupai laki-laki. Celana jeans, atasan kaos ditambah kemeja yang sengaja nggak aku kancing plus memakai topi. Rambutku sebenarnya panjang tapi aku lebih suka menggulungnya ke dalam topi, kalaupun nggak ya paling aku kuncir satu kayak ekor kuda kemudian dimasukin ke lubang yang ada di topi. Istilah kerennya sih gaya aku tuh cewek tomboy, oh ya satu lagi aku ini hobi makan permen karet. Sebelas duabelas lah sama Lupus tapi aku versi cewek.
"Ya udah, A yem going home ya pren."pamit Abah menggunakan bahasa inggris seadanya. Aku hanya memegang jidat mendengar perkataan abah. sedangkan teman-temannya yang lain tertawa.
"Nih bawa,"kata Abah menyerahkan ember bekas cat berisi ikan hasil pancingan abah."Jangan dilepasin lagi ikannya."lanjut abah, tahu apa yang sedang aku pikirkan. Aku hanya nyengir kuda menampilkan deretan gigi putihku.
"Bunda udah masak kali bah, masa iya mau goreng ikan lagi buat lauk."
"Bukan buat lauk, tapi itu pesenan bundamu. Katanya ada pelanggannya yang minta dibikinin gurami asam manis."jelas Abah. Memang sih bunda kan punya usaha catering.
Aku hanya mengangguk, dan mengikuti abah berjalan keluar pemancingan.
"Ka, beneran nih apa yang tadi kamu bilang?"Tanya Abah penasaran.
"Bilang apa bah?"timpalku.
"Soal nutup aurat. Kalau syaratnya cuman jodoh sih abah bakalan serius nih nyariin kamu jodoh. Biar kamu kayak ustadzah-ustadzah gitu,"kata abah semangat, aku hanya bisa menelan ludah. Senjata makan tuan nih.
"Abahku yang ganteng,jodoh kan di tangan tuhan bukan di tangan abah. lagian mana ada yang mau sama Asheeqa, kayaknya Asheeqa juga nggak ada niatan mau nikah."
"Hush, nggak mau nikah. Emang mau jadi perawan tua?"kata Abah tiba-tiba berhenti berjalan dan menatapku tajam.
Aku hanya nyengir, dan menggelengkan kepala. Siapa juga yang mau jadi perawan tua. Satu alasan yang membuatku membahas soal jodoh dan nikah, ya soal wali.
"Lah ini malah bengong, lagi bayangin jadi perawan tua ya,"ujar Abah sukses membuatku manyun. Abah hanya tertawa melihatku.
"Abah pengin liat kamu bahagia, dan juga pengin liat kamu dapat dicintai sama seorang laki-laki selain abah. Soal nanti kamu nikah ya pasti harus ada walinya, abah yakin kok a ..."
"Stop! Nggak usah dibahas."kataku cepat memotong perkataan abah dengan wajah merah menahan emosi. Abah akhirnya memilih diam dan kembali melanjutkan perjalanan pulang kerumah.
Aku memilih berjalan mendahului abah, jujur kalau membahas soal ini mood ku langsung hancur. Hal yang paling sensitif untuk dibahas, apalagi membahas sosok yang nggak pernah ada. Sosok yang hanya tertulis di akta kelahiranku. Yang membuatku sulit berdamai dengan kehidupan. Dan membuatku menjadi pribadi yang tomboy.
Beberapa saat aku hanya diam dan menendang beberapa kerikil dihadapanku, Abah yang melihat reaksiku akhirnya memilih mempercepat jalannya agar menyamaiku. Dibelainya punggungku dan tersenyum padaku. Hanya belaian dan senyum lembut abah membuatku sedikit melupakan pembicaraan yang paling aku benci.
Dengan sedikit terpaksa aku membalas senyum abah, tapi tiba-tiba dari belakang seorang berlari dan menabrak bahuku. Nggak tahu apa ya? Aku kan masih emosi, main nabrak orang nggak minta maaf lagi.
Laki-laki yang menabrakku hanya menengok kebelakang dan mempercepat larinya. Ditangannya memegang tas perempuan.
Dari arah belakangku, beberapa orang ikut lari mengejar pria tadi, sesekali mereka teriak.
"Jambret! Jambret! Jambret!
"Sial ternyata jambret." batinku tambah emosi.
"Abah, Asheeqa pinjem embernya ya. Urusan bunda biar Asheeqa yang jelasin."pamitku pada Abah sebelum lari mengejar jambret.
Abah hanya mengangguk menjawab perkataanku.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top