6. Rencana
Baru dua hari lamanya Phoebe berada di rumah orang tuanya. Tidak ada hal aneh lagi yang terjadi selama Phoebe di sana. Namun justru karena itu ia kini malah merasa bosan bukan main. Sekali waktu ia menemani ibunya berbincang santai, tetapi selalu berakhir dengan kecemasan berlebih dari sang ibu. Hal itu membuat Phoebe memilih untuk membatasi percakapannya dengan beliau.
Sementara itu, ayah dan kakak Phoebe jarang di rumah karena mengurus perusahaan kontraktor milik keluarga. Phoebe hanya bertemu satu kali dengan mereka berdua sejak pulang ke rumah. Itu pun saat jam makan malam. Esok paginya kedua orang tersebut sudah berangkat bekerja bahkan sebelum Phoebe bangun tidur.
"Bagaimana kabar aanak-anakku?" tanya Phoebe melalui panggilan telepon siang itu.
"Mereka menggemaskan seperti biasa. Pagi tadi Sote mengganggu Agro dengan menumpahkan wadah minumnya," sahut Orion dari balik sambungan telepon.
"Syukurlah mereka baik-baik saja," kata Phoebe menanggapi. Gadis itu bergelung di atas tempat tidurnya yang nyaman sambil menimbang-nimbang sebuah pertanyaan yang menggelitiknya selama beberapa hari.
"Hei, Orion. Apa secara kebetulan, kau seperti mendengar kedua hewan peliharaanku itu ... bicara?" tanya Phoebe hati-hati. Bahkan ia sendiri merasa pertanyaan tersebut sangat konyol.
"Tentu saja," jawab Orion tiba-tiba.
Sontak Phoebe bangun terduduk di atas tempat tidurnya. "Benarkah? Kau juga mendengar mereka bicara?" seru gadis itu bersemangat.
"Yah, mereka berkomunikasi, meski aku tidak paham apa yang mereka bicarakan. Agro menyalak dan Sote mengeong. Kurasa mereka bisa saling memahami meski beda spesies. Itu kan maksudmu?"
Phoebe menghela napas panjang, lalu kembali terkulai di atas tempat tidur. "Sudahlah. Lupakan," gumamnya kemudian.
Selama ini Phoebe memang belum memberi tahu siapapun tentang beragam kejanggalan yang dia alami sejak menghilang di reruntuhan. Termasuk pada Orion, teman terdekatnya. Salah satu alasannya karena pemuda itu begitu logis. Orion hanya akan menyuruh Phoebe memeriksakan kondisi mentalnya ke Psikolog jika membicarakan hal tidak masuk akal seperti itu.
"Aku bosan sekali di rumah. Mau cepat kembali ke apartemen, tapi ibuku masih melarangku bekerja," ujar Phoebe mengalihkan topik pembicaraan.
"Dasar gila kerja. Nikmati saja liburanmu untuk melakukan hal yang kau sukai."
"Tapi aku suka memotret," tandas Phoebe cepat. "Ah, aku punya ide. Sudah lama aku tidak bertemu dengan anak-anak Goldfox. Mumpung sedang cuti panjang, sepertinya kami bisa membuat acara fotografi bersama."
"Goldfox? Komunitas yang kau bentuk saat kuliah dulu? Memangnya kalian masih aktif? Sejak bekerja kau jarang mengurus komunitas itu lagi, kan?"
"Ada juniorku yang menjadi penanggung jawab saat aku sibuk. Mereka masih sering melakukan hunting foto bersama meski aku jarang bisa ikut akhir-akhir ini," terang Phoebe.
"Ah, terakhir yang kuingat saat menghadiri pameran kalian di Patra dua tahun lalu. Setelah itu kita sudah sibuk bekerja di divisi baru." Orion menanggapi.
"Begitulah. Itu juga terakhir kalinya aku bertemu langsung dengan seluruh anggota. Setelah itu kami hanya saling berkomunikasi via online saja."
"Oke. Kalau itu menyenangkan bagimu, lakukanlah. Aku akan datang kalau kalian mengadakan pameran lagi," ujar Orion kemudian.
Phoebe meringis senang. "Kau harus datang."
Pembicaraan mereka pun akhirnya usai. Phoebe menutup telepon dengan hati yang lebih ringan, membayangkan hunting foto bersama teman-teman komunitasnya yang sudah lama tidak dia temui.
Tepat pada saat itu, dari balik pintu kamar Phoebe yang sedari tadi sedikit terbuka, muncul sang ibu yang mengintip dengan penasaran.
"Menelpon pemuda itu lagi? Orion? Setiap hari kau menghubunginya, apa akhirnya kalian memutuskan untuk menjalin hubungan serius?" goda ibunya sembari masuk ke kamar dan duduk di samping Phoebe.
"Ibu! kenapa selalu menguping pembicaraan orang lain!" protes Phoebe sebal.
Sang ibu hanya terkikik kecil. "Jadi kapan kalian akan menikah?" Wanita itu bertanya tanpa menghiraukan protes putrinya.
Phoebe berdecak kecal. "Berapa kali harus kukatakan? Kami. Tidak. Akan. Pernah. Menikah," sahutnya penuh penekanan. "Aku dan Orion hanya berteman. Tidak lebih," lanjut gadis itu tanpa keraguan sedikit pun.
Kini giliran sang ibu yang merengut sambil – lagi-lagi – memukul lengan Phoebe. "Kalau begitu carilah pria lain yang mau hidup denganmu. Sampai kapan kau akan melajang begini? Selama ini kau hanya pernah membawa satu pemuda ke rumah, tapi kalian terus-terusan hanya berteman. Kalau Orion tidak berniat serius denganmu, tinggalkan saja! Usiamu sudah semakin tua! Kapan kau akan menikah dan membuat ibu tenang, Phoebe," keluh ibunya merepet panjang lebar.
Phoebe mendesah lelah. Lagi-lagi pembicaraan soal pernikahan. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa seseorang harus kehilangan kebebasannya dan mengikat janji sehidup semati dengan orang lain dalam sebuah hubungan yang disebut pernikahan. Padalah hubungan tersebut semata-mata dibuat hanya demi mendapatkan keturunan. Tidak. Phoebe sama sekali tidak tertarik untuk ikut andil dalam pelestarian spesies manusia di dunia. Baginya, kebebasan adalah segalanya. Phoebe menjaga keperawanan bak harta sakral baginya.
"Aku tidak akan menikah, Ibu. Daripada membujukku untuk menikah, lebih baik ibu mengurus Kak Iaros. Lihat saja sudah berapa kali dia menikah dan berganti pasangan. Aku tidak mau menjadi sepertinya," gerutu Phoebe langsung melempar kesalahan pada kakaknya yang kini hidup menduda setelah bercerai dengan istri keduanya.
Iaros punya dua anak dari masing-masing istrinya. Akan tetapi, hubungannya dengan para wanita tidak pernah bertahan lama, baik itu sekadar berpacaran atau bahkan sampai menikah. Iaros selalu ditinggalkan, diselingkuhi dan parahnya lagi mencintai perempuan yang jelas-jelas membencinya. Phoebe saja heran dengan tingkah kakaknya dalam hal asmara. Padahal Iaros cemerlang dalam hal lain, tetapi selalu sial kalau menyangkut soal percintaan.
"Kakakmu itu tidak pernah beruntung dalam hal cinta. Ia selalu bertemu wanita-wanita aneh," ujar sang ibu mendesah pelan. Ekspresinya kini berubah muram.
Phoebe sedikit merasa bersalah karena menyinggung soal kakaknya. "Maka dari itu, aku tidak mau menikah karena aku ingin hidup sendiri ibu. Aku menyukainya, dan kurasa aku bukan tipe perempuan yang bisa terikat dengan satu orang yang sama seumur hidupku. Bukan berarti aku ingin bersenang-senang dengan banyak pria, hanya saja, bagiku kesucian adalah hal yang paling ingin kujaga selamanya. Aku tidak inging disentuh oleh siapa pun. Kuharap ibu bisa memahami keputusanku," ujarnya kemudian.
Sang ibu akhirnya menarik napas panjang dan menatap Phoebe dengan lembut. "Aku memang tidak bisa membujukmu sama sekali," gumamnya menyerah.
Phoebe hanya tersenyum kecil. "Aku bahagia dengan hidupku yang sekarang, Ibu. Jangan khawatir."
Mau tidak mau ibunya pun mengangguk. Meski entah kapan mungkin beliau akan kembali mengungkit persoalan tersebut lagi. Namun, untuk saat ini setidaknya Phoebe bisa menghindari topik tersebut.
"Oya, Ibu, aku berencana untuk bertemu dengan teman-teman lamaku saat kuliah dulu. Jadi mungkin aku tidak akan lama-lama ada di rumah," kata Phoebe mengubah topik.
"Kau mau pergi lagi? Sudah ibu bilang, ambil cuti yang lebih panjang dan istirahatlah sejenak dari pekerjaan –"
"No, no, Ibu. Aku tidak pergi untuk bekerja. Aku mau reuni. Reuni dengan teman lama. Oke?" potong Phoebe sambil menggelengkan kepalanya.
Sang ibu kembali menarik napas panjang. "Baiklah kalau begitu. Kau baru pulang dua hari, tapi sudah akan pergi lagi. Tapi tentu aku tidak bisa melarangmu pergi kali ini. Asal kau benar-benar tidak pergi untuk bekerja, Ibu mengizinkanmu."
"Yay! Ibu memang yang terbaik!" sorak Phoebe sembari memeluk ibunya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top