7 - Pandora RedCoffe

"Wahhh.. Bau kopi yang menyengat," ucap Hestia.

"Iyah, ini adalah tempat penyimpanan biji kopi. Mereka para perampok sengaja menyimpan biji kopi disini karena tidak dapat digunakan untuk apapun." jawab Ruby.

"Bukannya bisa untuk minum kopi? Atau dijual?" lanjut Hestia.

"Orang-orang kota ini hanya suka koktail, dan kalau dijual pun sudah pasti sangat murah." ucap Ruby.

"Aku akan keluar dulu, mengambil semua peralatan dan tunggu saja disini bersama Professor." kata Ruby sambil berjalan kembali keluar dari gudang.

"Hah? Professor? Dimana?" Hestia nampak begitu bingung dan melihat disekelilingnya.

"Hei! Yang Ruby maksud itu aku." Tiba-tiba suara terdengar oleh Hestia dan seketika melihat asal suara itu.

Hestia terheran-heran karena itu berasal dari kadal yang dia bawa bersama Ruby. Kadal itu terduduk di salah satu lemari dekat Hestia berdiri.

"Sampai kapan kau kaget begitu? Lebih baik kita ke ujung gudang itu, di sana ada tempat tidur." kata kadal tersebut.

Hestia hanya mengangguk dan berjalan ke ujung gudang, kadal itu pun melompat ke pundak Hestia. Sesampai diujung ternyata benar, ada dua ranjang yang terpisah jauh. Sebelum Hestia istirahat, dia mengecek perlengkapan dan kadal professor itu meloncat turun dari tubuhnya.

"Ahh maaf, sebelumnya aku belum perkenalan. Panggil saja Professor, Ruby biasa memanggilku begitu." kadal itu kembali menyapa Hestia.

"Itu nama?" tanya Hestia sedikit merasa aneh.

"Tidak penting amat, tapi daripada dipanggil kadal." ucap Professor.

"Iyaaaa tapi kan faktanya kamu emang kadal, Prof." lanjut Hestia.

"Aku memang kadal, tapi otak ku ini setara dengan manusia, lumba-lumba dan seekor lebah." kata Professor.

"Baiklah," jawab Hestia mengakhiri obrolan mereka dan memilih rebahan di ranjang.

Ruby kini berjalan ke suatu tempat dimana biasa orang menyebutnya pasar gelap. Disana Ruby mencari perlengkapan membuat kopi dan alat masak lainnya.

Setelah banyak alat didapatkan, Ruby kini menuju sebuah toko pengrajin. Dia bertemu seorang Dwarf tua yang sudah kenal Ruby lama.

"Pak ci! Ini aku Ruby." sapa Ruby ketika masuk bengkelnya.

"Wah!! Nona Ruby ternyata, masuk-masuk!" ucap Dwarf tersebut.

Ruby berjalan menghampirinya "Apa Pak Ci sibuk? Aku butuh bantuan mendesak." ucap Ruby.

"Tidak begitu sibuk, job pekerjaan hari ini cukup sedikit. Apa yang ingin nona Ruby buat?" tanya Dwarf tersebut.

Ruby pun menggambar bentuk yang dia inginkan, Dwarf tersebut tiba-tiba terkejut.

"Itu sangat mudah nona, dan tanpa waktu lama menyelesaikannya." kata Dwarf.

"Anti ledakan, benturan dan sekeras titanium." ucap Ruby.

"Ada misi berbahaya yang harus saya selesaikan dengan seorang sahabat, jika dibuat dengan seperti biasa itu akan mudah hancur." lanjut Ruby.

"Tunggu saja sebentar, ngomong-ngomong aku nih bukan pengrajin biasa. Aku ini Dwarf ingat itu!" ucap nya yang kemudian langsung mengambil semua bahan dan dibuatnya.

Kini Dwarf itu mengerjakan sebuah proyek yang diinginkan Ruby, karena Ruby pikir itu akan memakan waktu cukup lama Dia segera meninggalkan tempat kerja Dwarf tersebut untuk mencari barang lain. Baru saja keluar dari bengkel Dwarf, Ruby melihat toko baju dan mungkin dia butuh penampilan yang berbeda juga.

"Sepertinya switter ala jubah merah ini cocok untukku." pikir Ruby yang terkesima dengan pakaian itu.

Akhirnya dia membelinya dan mengganti pakaian lamanya. Setelah itu dia kembali ke bengkel dan betapa terkejutnya ternyata barang yang diminta Ruby baru saja selesai dibuat.

"Sebuah tabung kaca titanium yang tak mudah pecah dan tahan disegala medan iklim telah selesai saya buat Nona," kata Dwarf sambil tersenyum bangga.

"Kau sungguh keren tuan Dwarf." ucap Ruby.

Ruby kini melakukan transaksi kemudian dia segera pulang menemui Hestia di gudang persembunyiian. Namun tidak sadar ternyata diperjalanan Ruby pulang, dia diikuti beberapa orang yang dikenal penculik dan penjual budak.

Hestia tiba-tiba terbangun dari tidur yang sebentarnya karena merasakan hawa berbahaya mendekat, mungkin hanya sebuah firasat. Hestia melihat ke sekelilingnya,dan tidak ada siapapun hanya ada Professor yang sedang membuat ramuan penyembuh dari bahan yang Hestia punya.

"Prof! Dimana Ruby?" tanya Hestia.

"Bentar lagi juga kesini." jawabnya.

Pintu masuk gudang terbuka, dan benar Ruby datang dengan tampilan barunya. Hestia cukup terkejut sekaligus terkesima, namun semua itu hilang dalam sekejap.

"Kita harus segera keluar dari tempat ini!" ucap Ruby panik.

"Apa ada masalah?" tanya Hestia.

"Mereka datang, cepat kemas barangmu dan kita pergi." kata Ruby.

Hestia pun segera mengemas semua barangnya bersama Professor, sedangkan Ruby membuka sebuah kotak yang tersimpan di pojok gudang. Sebuah pandora Ruby angkat keluar dari kotak tersebut, dan tanpa berlama-lama langsung dibuka.

"Apa banyak uang di pandora tersebut?" tanya Hestia.

"Biji kopi red valvet, kopi legendaris yang sangat sulit didapatkan." kata Ruby setelah membuka pandora tersebut.

Tanpa bertanya lagi, Hestia membantu Ruby memasukan biji-biji kopi kedalam tabung besar yang digendong Ruby sebelumnya. Selesai mereka berkemas, mereka berlari keluar dari gudang. Saat diatas ternyata benar kata Ruby, para penculik dengan jumlah banyak baru saja sampai di sekitar gudang. 

"LARI! LARI! LARI!" seru Ruby mengajak Hestia segera berlari kabur. 

Aksi kejar-kejaran pun tak terelakan. Hestia dan Rubby segera berlari menuju hutan terdekat.

"Kau ada ide?" tanya Hestia.

"Untuk sekarang tidak ada," jawab Ruby.

Tiba-tiba Hestia punya keberanian untuk melawan para penculik itu, namun dia harus ke tempat yang cukup luas untuk bertarung melawan orang dengan jumlah banyak.

"Ikuti aku," ucap Hestia.

"Kau ada ide?" tanya Ruby.

"Setidaknya aku sekarang ada sedikit keberanian." jawab Hestia.

"Hah?" Ruby sedikit bingung namun mau gimana pun dia hanya patuh ke Hestia yang membebaskan dia dari tempat perbudakan.

Akhirnya mereka sampai di lapang luas dekat bukit, Hestia pun menghentikan langkahnya. Ruby sempat bingung, namun ketika Hestia memberikan sebuah tongkat kayu Ruby paham maksudnya.

"Kau ingin mengorbankan aku?" tanya Ruby.

"Kau hanya perlu percaya padaku, bukan?" ucap Hestia meyakinkan Ruby.

Tiba-tiba rombongan penculik juga berdiri didepan mereka dengan jarak 10 meter. Ruby melirik Hestia, dan alangkah terkejutnya melihat Hestia tersenyum dengan tatapan licik ke para penculik itu. Ruby menelan ludahnya dengan penuh kegelisahan.

"Kita lihat apakah dua puluh orang bodoh itu dapat menahan alam yang mengamuk." ucap Hestia.

Pertama, Hestia memberikan ramuan regenerasi super (venom) ke Ruby untuk meminumnya. Kedua, Hestia mengeluarkan ramuan Beanstalk yang dia tiru dari seorang yang dia temui di perpustakaan Nirmala (Hestia membuatnya saat sebelum dia masuk ke gua batu Amethyst). Ketiga, Hestia kepikiran untuk membuat ramuan senjata yang lain untuk kedepannya.

Ruby meletakkan semua perlengkapannya dekat Hestia kemudian berjalan menuju  para penculik dengan tongkat kayu pendeknya.Saat para penculik maju berlari ke arah mereka, Ruby setelah meminum ramuan venom tanpa ragu maju menghadapi dua puluh orang dewasa sendirian. Hestia justru terkesima melihat luka-luka parah yang diterima Ruby menutup seketika. Butuh 15 menit hingga semua berhasil Ruby kalahkan, dan Hestia melempar ramuan Beanstalk ke arah para penculik. Seketika semua orang itu terikat batang raksasa tanaman kacang panjang.

"Aneh sekali, padahal tadi luka ku cukup banyak dan parah. Kenapa semua menutup hanya darah bekas luka yang ada diluar." kata Ruby terheran-heran.

"Aku tidak menyangka ramuan itu berkerja lebih baik dari ramuan penyembuh yang aku buat. Sayangnya itu ramuan satu-satunya yang ku buat susah payah, dan sekarang kita tak memilikinya lagi, untungnya itu permanen." kata Hestia menjelaskan ramuan yang diminum Ruby.

"Harusnya itu kau yang minum, bukan?" tanya Ruby.

"Tidak apa, lagian aku tak begitu bisa bertarung. Cukup mengandalkan ramuan-ramuan aku ini." ucap Hestia santai.

"Kita akan kemana?" tanya Ruby.

"Cari hilir sungai, kau harus dibersihkan dulu darah-darah itu. Dan kebetulan aku sedang ingin makan ikan sekaligus memikirkan ramuan untuk berjaga-jaga." kata Hestia.

"Let's Go.." kata Ruby.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top