7. Only You

Belebas Langgas, September 2017 dalam catatan Inu


Dari semua pesan Pak Wis, saya cuma bisa ingat satu: jangan sampai kena malaria. Nyamuk Anopheles tak pandang bulu saat mencari mangsa. Mau itu orang-orang Belebas Langgas, penduduk desa, pembalak hutan, atau para fasilitator pendamping, semuanya bisa kena. Saya masih tidak menyangka giliran saya tiba juga akhirnya. Dan sialnya, gejala itu muncul saat Bang Alang sedang menemani Ibam mengambil data ke sisi hutan yang lain. Sementara saya dan Laily masih standby di basecamp.

Dua malam sakit kepala saya tidak mereda. Tubuh menggigil saat malam dan demam saat pagi tiba. Saya masih berharap semuanya adalah flu biasa, karenanya saya masih bertahan dengan tetap mengajar seperti biasa biarpun semua tulang rasanya remuk. Induk semang Laily pernah bercerita kalau malaria tidak cuma membuat demam tetapi juga pegal-pegal sekujur tubuh.

Bocah-bocah tetap membangunkan saya dengan suara ribut, mengetok dinding pondok kayu dan melempari jendela dengan kerikil. Mereka baru pergi setelah saya melongok keluar dan bilang akan menyusul. Sejak Bang Alang dan Ibam pindah tugas, kami tidak lagi belajar di basecamp, melainkan di rumah Pak Jun—induk semang Laily.

Setelah dua hari sebelumnya datang terlambat, Laily sepertinya mulai merasa curiga karena selama ini saya selalu tepat waktu saat mengajar. Saya pakai alasan lagi sibuk benerin kamera yang rusak. Alasan itu juga yang saya pakai untuk meninggalkan kamera di basecamp. Padahal saya cuma ndak mau ambil risiko memegang kamera dengan tangan gemetar.

Lima hari. Begitulah tekad saya. Saya akan bertahan sampai hari kelima, saat itu Ibam dan Bang Alang sudah kembali dari kota dan saya bisa mengizinkan diri untuk terkapar sebentar.

Namun di hari ketiga itu, saya ndak kuat lagi menyusul bocah-bocah yang semangat belajarnya setinggi pucuk pohon madu itu. Bahkan untuk keluar kamar pun rasanya tak sanggup. Padahal saya benar-benar tidak ingin Laily tahu. Kalau dia tahu pasti dia sudah marah-marah dan membuat keributan besar.

Benar saja dugaan saya, ketika saya tidak datang mengajar dan anak-anak mengabarkan bahwa pintu basecamp masih tertutup, Laily datang seperti angin ribut.

Tanpa mengetuk pintu, tanpa banyak bertanya, ditariknya sarung punya Ibam yang saya pakai untuk selimut. Tangannya bekerja cepat meraba kening saya lalu memindai suhu dengan termometer. Tahu-tahu, dia sudah kembali dengan sepiring bubur dan mendesakkannya ke mulut saya. Sementara mulutnya sendiri tidak berhenti mengomel mengapa baru sekarang dia tahu. Padahal, saya cuma ndak mau bikin orang lain susah.

Setelah memaksa saya menghabiskan bubur dan memasang kompres di kening saya, Laily menitipkan saya pada Lajur dan Unyak. Ketika datang lagi, dia kembali mengomel soal betapa sulitnya menemukan kendaraan untuk membawa saya ke rumah Pak Mantri di desa sebelah. Saya bilang tunggu besok saja saat Bang Alang dan Ibam sudah balik, tapi yang saya dapat malah pelototan seram dari Laily.

Akhirnya, Laily memutuskan besok akan tetap membawa saya dengan motor trail yang dipinjamnya dari salah satu buruh karet di desa. Saya minta Laily menunggu Bang Alang dan Ibam tapi jawabanya, "Apa Mas Inu belum tahu, ada orang yang pagi hari kena demam malaria lalu sore sudah lewat ke akhirat?"

Bahkan waktu saya mengingatkan kalau dia belum pernah naik motor trail, Laily menyembur galak, "Enggak jauh beda kan lewat karena malaria atau naik motor trail?" Gadis kesayangan bocah-bocah Belebas Langgas ini memang tak kenal basa-basi.

Gadis kesayangan kami semua.

Ada Laily di basecamp membuat saya merasa lebih tenang memejamkan mata. Setelah tiga hari mencoba kuat, punggung yang rontok akhirnya terasa juga. Ketika membuka mata hari sudah gelap. Pastilah, Laily sudah kembali ke rumah Pak Jun.

Saya merangkak, meraba-raba mencari lampu minyak. Begitu lampu minyak saya nyalakan, berkas sinar menerangi alas tidur yang asing berbalut kain putih dengan kelambu yang juga berwarna putih.

Aneh. Apa mungkin saat saya tidur tadi Laily membawa saya ke tempat Pak Mantri? Tapi tempat tidur ini mirip sekali dengan tempat tidur di rumah yang dulu. Dulu, dulu sekali. Saat saya masih kecil dan Ibu masih sering menyanyi sambil merangkai bunga di rumah.

Sayup-sayup suara senandung mengalun, menembus masuk ke dalam kamar seperti angin yang sejuk. Ini bukan kamar saya meskipun suara lagu itu pun terasa akrab di telinga. Dari sela-sela pintu saya mengintip. Pemandangan di luar membuat mata saya terbelalak.

Ibu duduk di depan meja mungil. Di tangan kanannya ada gunting kecil dan di tangan kirinya ada setangkai bunga lili. Meja kecil itu dipenuhi bunga-bunga lili. Hati-hati Ibu menyisipkan tangkai-tangkai bunga lili ke dalam vas, membentuk rangkaian bunga yang indah. Sambil merangkai bunga, Ibu bernyanyi. Lagu itu lagu kesayangan yang selalu dinyanyikan Ibu sebelum saya tidur.

Selesai dengan rangkaian bunga dalam satu vas, Ibu melanjutkan merangkai bunga untuk vas yang lain. Kembali Ibu menyanyikan lagu yang dulu sering dimainkan oleh Ayah dengan gitar tuanya. Senyuman mengiringi setiap gerakan Ibu. Sudah lama sekali saya tidak pernah melihat senyuman itu. Sejak Ayah pergi dan kemudian Ibu menyerah pada serangan kanker. Melihat Ibu bersenandung dan merangkai bunga, rasanya seperti mimpi. Ketika saya membuka mulut untuk memanggil Ibu, lengan saya ditepuk pelan.

Tepukan lembut di bahu memaksa saya membuka mata. Aroma tikar pandan dan suara monyet hutan membawa saya kembali. Tangan yang sejuk di atas kening. Dekat di muka, suara Laily berbisik. Memberitahu kalau Bang Alang balik lebih cepat jadi saya bisa segera berangkat cari Pak Mantri.

Saya masih merasa bermimpi sampai saat saya minta makan pizza, Laily menjawab dengan galak, "Bercandanya enggak lucu!" Laily melempar syalnya yang semalam dijadikan kain kompres lalu melangkah pergi. Setelah Laily pergi, saya baru menyadari sesuatu. Baju yang dipakai Laily masih sama dengan yang dipakainya kemarin. Saya tidak berani bertanya apakah semalaman dia duduk di tempat yang sama.

Sejak hari itu, saya mulai memanggilnya Lili.

***

Cerita Inu dalam Aperture adalah bagian dari The Journal of Rangers, yang hadir bersama:

Aperture by @langitrenjani

Wallflower by

Hiraeth by @pureagiest

Theatrica by

Skyline by 

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top