Keluarga, Tuhan, dan Cinta (Versi Seorang Manusia Biasa)

  "Keluarga"
*********

Kita terlahir ke dunia
Begitu saja
Tanpa bisa memilih rupa,
Di mana,
Atau dari rahim siapa.

Kita menangis seketika
Menyadari hidup tidaklah sesederhana tampaknya,
Dengan begitu banyak Duka serta Derita.

Kita lalu lupa
Bahwa ada banyak yang berjasa
Sehingga kita mengada
Dan terus tumbuh menjelma
Jadi dewasa.

Kita alpa
Pada susu Ibunda
Pada keringat Papa
Pada semua jerih payah mereka.

Orang tua,
Selalu diuji coba
Dengan tawa dan tangis anaknya
Yang tercipta dari Jiwa-Jiwa Pengelana.

Anak Manusia,
Kadang melupakan Asal Mula
Demi sebuah pengakuan fana.

Janganlah kecewa
Jangan berduka
Ketika di hari tuamu kau tak memiliki sesiapa.

Itu semua sudah lumrah,
karena Keluarga bukanlah perkara Ikatan Darah,
Melainkan ke mana Hatimu selalu mengarah.


"Tuhan"
=======

Tuhan menyaksi
Setiap Ruh yang turun ke Bumi,
Setiap Jiwa yang kembali,
Dan berapa banyak yang masih murni.

Ya,
Tuhan masih menyaksi:

Kerusakan tetap abadi
Nafsu angkara dituruti
Kebaikan mulai dilabeli untung-rugi
Iman pun jadi tak berarti.

Tapi Tuhan tetap menyaksi;
dan tidak pernah pergi
Walau hambanya mencaci maki keberadaanNya di Dunia ini
Ataukah menyadari
Bahwa hanya Sang Pengasih yang selalu ada di relung Hati,
Tanpa peduli siapa pun yang menghendaki.


"Cinta"
---------

Cinta itu keramat
Hangat,
Kuat,
Mengikat,
dan menjerat.

Cinta itu Bejat
Yang membebat
Berat
Dan terus mengarat
Dari Timur hingga Barat.

Hatimu bisa mencinta dengan begitu hebat,
Tanpa peduli Cintakah itu atau melulu Hasrat
Karena Bibir akan selalu melumat,
Tubuh akan merapat,
Tanpa peduli Temu, Pisah, Jarak, Tempat
Yang jauh ataukah dekat.

Cinta Sejati memang selalu memadat menjadi sesuatu yang di luar Akal Sehat.

Itulah mengapa ianya Keramat.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top