Kode Mengerikan!

"Ghea...," panggilan dengan nada menuntut di belakangku terdengar. Aku tersadar seketika dan melepaskan pelukan lelaki dari masa laluku ini. Kemudian kedua lelaki ini bertatapan dan Agil terlihat shock. Seperti melihat hantu!

"Siapa?" tanya keduanya bareng, dengan suara yang sama menuntutnya. Astaga!

"Eh, Zein.... Ini Agil, bos gue. Dan Pak Agil, ini Zein, adiknya Zeid," jelasku.

Agil menyodorkan tangannya kepada Zein, dengan angkuhnya berkata, "Agil, pacar Ghea sekarang!" katanya menekankan kata 'pacar'. Ditambah ekspresi menyeramkan yang kuyakin sebagai balasan karena aku menyebutnya 'bos' tadi. Mati aja Ghea!

"Zein, seperti yang tadi disebutkan Ghea. Adik tunangannya kalo boleh ditambahkan!"

"Mantan tunangan," sergah Agil.

Aura peperangan langsung terasa. Haduh!

"Zein...," panggil seseorang di belakang kami. Memecah konsentrasi dua lelaki yang sudah siap untuk saling bunuh.

Aku membeku ketika Zein memutar tubuhku dan menghadap wanita itu. Wanita yang menyimpan goresan penuh makna di masa laluku.

"Ghea?" Suara yang sangat kukenal dan tentu saja terpatri dalam ingatan. "Ghea, kan?"

Aku mendekati sosok itu perlahan. Waktu seakan berhenti di saat kami berpandangan. Semuanya meluruh dan luluh lantak menjadi satu. Semua himpitan emosi kembali terasa dan menekan seluruh sudut tubuhku saat akhirnya aku menubruk beliau dan menangis kencang dalam pelukannya. Pelukan yang kurindukan. Pelukan yang terasa seperti rumah. Pulang...aku pulang.

"Ta...Tante," isakku. Makin erat beliau memelukku, seakan semua kerinduan ini bisa terbayar tunai dengan sebuah pelukan erat.

"Kita ngobrol di kamar Tante, Ghea," katanya menggandeng tanganku. Meninggalkan kedua lelaki yang masih mematung di koridor rumah sakit.

"Apa kabar, Ghea?" tanyanya tenang setelah isakanku mereda. Saat ini kami berdua duduk berdampingan di sofa kamar perawatan beliau.

"Seperti yang Tante liat," kataku setelah tenang dan duduk di sebelah beliau. "Dan Tante?" tanyaku menyipitkan mata. Menilai kondisi fisiknya yang jelas terlihat berbeda.

"Hanya penyakit orang tua biasa," kilahnya.

"Dan Tante belum setua itu," balasku sambil tersenyum.

"Rasa-rasanya siapa pun bakal cepat menua kalau ditinggalkan anak-anaknya, Ghea," katanya lesu.

Aku terhenyak mendengar jawabannya, "Tan...," aku kehilangan kata-kata.

"Sudah menikah, Ghea?" tanyanya lagi.

Hanya bisa menggeleng dan beliau kembali memelukku erat sekali, "Kenapa Ghea? Kenapa Ghea belum juga menikah?"

"Belum dapat jodohnya," jawabku diplomatis.

"Tante benci mengatakan ini, tapi Tante pikir saat Ghea dulu meninggalkan kami semua, suatu saat Tante bakal bertemu dengan Ghea yang sudah bahagia," isaknya.

"Ghe...Ghea gak pernah mau ninggalin Tante," lirihku dalam dekapannya.

"Tante tahu. Keadaan yang membuat Ghea seperti itu? Tapi, Ghea baik-baik saja selama ini?"

Salah satu orang yang paling tidak ingin kubohongi adalah wanita di depanku ini, "Sejauh ini baik, meskipun kadang masih larut dalam malam-malam menyesakkan, Tante," jawabku.

"Tante bahagia Ghea masih bisa bertahan, karena tidak semua orang bisa bertahan sebaik Ghea, Tante rasa."

"Bertahannya Ghea hanya dengan mencoba untuk hidup dari hari ke hari. Hanya itu," tuturku jujur. "Melewati satu hari yang berat dan penuh kesibukan hingga malamnya Ghea bisa terlelap saking lelahnya."

"Tante ngerti, Ghea. Apa Ghea pernah berpikir kenapa Tante tidak mencari Ghea?"

"Kenapa, Tante?"

"Karena Tante tahu kita semua butuh waktu. Butuh terbiasa. Kehilangan Zeid membuat Tante hancur sampai lebur. Seharusnya Tante lebih kuat, karena itu bagian dari pilihan Zeid. Tante tahu itu, tapi berat sekali. Apalagi bagi Ghea, dengan segala macam berita yang menyudutkan Ghea waktu itu."

"Tan...."

"Tante minta maaf untuk semua kelakuan keluarga besar Tante, Ghea. Tante minta maaf karena saat itu tidak mampu untuk melindungi Ghea sebagaimana seharusnya seorang ibu melindungi anaknya. Tante terlalu larut dalam kesedihan Tante tanpa mengingat ada yang tak kalah hancur dari Tante."

"Tante...," kataku sambil terisak di bahunya.

"Bagaimana pun, Ghea sudah Tante anggap anak sendiri. Terlepas dari status hubungan Ghea dengan Zeid yang tinggal menunggu waktu, Ghea sudah Tante anggap bagian dari keluarga Ilyasa sejak Zeid membawa Ghea ke rumah untuk dikenalkan sama Tante," lirihnya. "Hanya saja, saat itu terjadi Tante seperti tidak sadar, sampai rasanya tidak ada kekuatan untuk membela Ghea. Bahkan sampai sekarang pun, jiwa dan raga Tante masih berserakan. Tante masih memungutinya satu demi satu, mengumpulkan semuanya, dan berusaha hidup selayaknya hidup seperti seharusnya. Demi Om Abdel dan Zein."

Aku sampai tersedak tangisanku sendiri, aku lupa ternyata bukan aku saja yang merasakan penderitaan ini. Aku lupa, bahwa Tante Meirina, ibunda Zeid mungkin merasakan perasaaan kehilangan yang lebih dalam. Lebih parah.

Saat itu, yang kupikirkan adalah menjauh, lari dari keluarga ini. Belum lagi menata hati untuk menerima atau setidaknya berdamai dengan realita, malah saat itu seluruh media mengejarku dengan semua pemberitaan yang menyudutkan. Semua kebaikan keluarga ini meluruh jadi butiran debu hanya karena pemberitaan dan statement tidak bertanggung jawab dari bibinya Zeid, yang sejak awal sudah tidak menyukai kehadiranku di tengah keluarga Ilyasa entah apa sebabnya.

Dan kali ini, takdir mempertemukan kami lagi justru di tempat kerja orang yang belakangan ini sudah membuat hatiku menghangat dengan segala macam perlakuannya.

"Sudah, Ghea," kata beliau sambil menepuk punggungku. "Cukup sekali Tante kehilangan Ghea. Jangan menghilang lagi, ya," pintanya tulus sambil mengelus pelan pipiku. Kali ini kulihat cahaya di mata yang kurindukan. Mata itu berbinar lagi.

"Iya, Tante," jawabku. "Jadi, kenapa Tante di sini? Sakit apa?"

"Entahlah," sahut beliau tersenyum. "Stres mungkin."

"Stres?"

"Semuanya larut dalam kesedihan. Om melampiaskannya dengan bekerja tak kenal waktu dan Zein..."

Aku baru melangkah melalui pintu depan ketika sebuah benda aneh beroda membentur-benturkan diri di kakiku. Siapa lagi yang bikin ulah kalo bukan anak nakal yang satu itu, Zein.

Segera kuambil mobil-mobilan dengan ukuran cukup besar yang sudah dimodifikasi dengan kamera dan layar mini di atas bodynya. Kuangkat sampai sejajar mukaku. Layar mini itu langsung aktif.

Intruder! Intruder!

Hanya satu kata itu yang terlihat di layarnya, berulang-ulang. Zein kampret! Di sana pasti dia sedang tertawa terbahak-bahak melihat ekspresiku.

"Kalo gue banting aja gimana?"ocehku kepada layar mini tersebut. Tau pasti kalo dia mengawasinya dari layar televisi besar di kamarnya.

"No! No! No!" teriak Zein sambil berlari menyongsongku, keluar dari sarangnya yang nyaman dan tergesa-gesa menuruni tangga.

Aku meletakkan 'mainan Zein' di lantai. Sengaja menginjak bagian atas body-nya pelan dan tersenyum senang.

"Jangan menyakiti, Mary Jane, anak nakal!" kata Zein menghampiriku tersengal-sengal. Mendorong badanku dan hampir terjungkal gara-gara hilang keseimbangan. Dia mengusap-ngusap body si 'Mary Jane' dengan penuh sayang dan rengutan ke arahku.

"Gue hampir jatoh!"

"Emangnya gue peduli?"

"Abaaaaaaaang...," teriakku membahana.

"Abaaaaaaaang...," kata Zein dengan intensitas yang sama.

Zeid yang turun dari kamarnya di atas sambil geleng-geleng kepala juga memegang benda yang sama dengan yang dipegang Zein di tangannya. Remote control. Astaga, gak ada yang sadar umur ya? Masih main beginian?

"Anak nakal ini ngedorong Ghea sampe hampir jatoh," aduku. "Kalo di sebelah ini jurang, pasti Ghea sudah mati mengenaskan," seruku berapi-api menunjuk lantai yang sebenarnya datar.

Alis Zeid terangkat sempurna. "Lalu?"

"Ghea nginjak Mary Jane, Bang!"

"Mary Jane nyebut Ghea intruder!"

"Emang intruder!"

"Dari mananya?"

"Sejak gue sengaja pulang libur kuliah semester lalu dan nemuin lo, anak nakal yang udah ngorupsi waktu senggang Abang gue yang cuman seiprit itu buat main sama gue!"

"Zein, Ghea sudah," kata Zeid santai sambil menarikku ke sofa. "Abang liat semuanya."

"Abang liat dari mana?"

"Tuh," tunjuk Zeid ke arah mobil-mobilan yang baru datang setelah Zeid kendalikan dengan remote control di tangannya. Sama seperti mobil sebelumnya, mobil-mobilan ini juga dilengkapi dengan kamera dan layar mininya.

Aku mengangkat mobil-mobilan mini itu dan layar mininya langsung bereaksi. Intruder!

"Abang!!" jeritku. "Masa yang ini juga nyebut Ghea gitu?"

"Semua yang ngangkat 'Momo' dari lantai juga bakal dibilang gitu, Ghea," sahut Zeid sabar dan kembali meletakkan 'Momo' di lantai. "Gak usah dimasukin ke hati, Sayang."

"Momo?"

"Narova Morina Sinaga. Momo Geisha," sahut Zeid kalem yang membuat bibirku otomatis mencebik. Mary Jane dan Momo, kombinasi yang pas buat diinjak sampai lebur. "Dan Zein, jangan mendorong Ghea berlebihan seperti itu, Mary Jane kan tahan banting kayak kata lo."

"Iya, tapi kalo kakinya kek anak nakal ini, Si Mary Jane bisa kolaps, Bang," gerutu Zein. "Udah ah...ke atas dulu, Abang pasti milih pacaran daripada nemenin gue main," gerutu Zein.

Aku memeleletkan lidah ke arahnya. Kamu boleh adiknya, tapi aku pacarnya. Weeeeksss!

"Zein, simpen Mary Jane di lantai dan kita balapan lagi kayak tadi," kata Zeid sambil mengatur posisi.

"Lalu, si anak nakal intruder ini?"

"Kami bisa pacaran sambil duduk di sofa ini," kilah Zeid. Matanya berkilat. "Abang yakin, bisa ngalahin lo sekali lagi!" kata Zeid sambil mulai memainkan remote controlnya. Roda Momo mulai berputar dan menggerung di tempat.

"Aseeeeek...," seru Zein meletakkan Mary Jane sejajar dengan Momo dan berlari naik ke atas, kembali ke kamarnya.

Televisi ruang keluarga dinyalakan, dan begitu Zeid memencet beberapa tombol di remote view televisi langsung berubah menjadi sudut pandang Momo Geisha dan Mary Jane. Satu layar dibagi dua. Hebat sekali kelakuan Zein dalam mengutak-atik peralatan elektronik, televisi saja dijadikan media untuk permainan seru mereka.

Kedua mobil itu meluncur dengan kecepatan tinggi. Tangan Zeid yang piawai memainkan remote control teruji seperti layaknya dia sedang mengendalikan pesawatnya. Beberapa kali Momo dan Mary Jane saling membenturkan diri untuk mencegat lawan. Segera saja posisi view di layar televisi berganti dari ruang tamu, ruang tengah, berkeliling ruang keluarga sampai ke dapur. Berulang beberapa kali seperti itu. Sepertinya kedua kakak-beradik ini sudah punya sirkuit sendiri.

"Bisa nggak jangan kayak kucing ama uler gitu sama Zein?"

"Kucing? Ghea kucingnya? Imut donk!"

"Bukan," seru Zeid sambil masih konsentrasi ke layar televisi. Zeid mengubah posisi kakinya memanjang di sofa. Menarik badanku ke dadanya agar bersandar di sana. Hm....Nyaman seperti biasanya.

Dengan tangan yang merangkul, badanku dikunci sambil kedua tangannya memegang remote control. Beberapa kali, dia menyempatkan mengecup ubun-ubunku.

"Apanya yang bukan?" tanyaku berusaha mengganggu fokusnya. Biar cepet brenti mainnya!

"Zein kucingnya, hobinya mencakar kamu aja setiap kali kalian bertemu."

"Dan Ghea uler?" tanyaku tak percaya.

"Uler, karena doyannya melungker di dada Abang, hehehe..." sahutnya sambil meletakkan remote control. Blushing mode on. Untung saja posisi Zeid di belakangku.

Terdengar tawa membahana dari atas dan teriakan Zein, "You lose!"

"Abang kalah? Ghea gak terima Abang kalah!" tuntutku.

"Mengalah sesekali perlu, Ghea."

"Alesan!"

"Kan kamu tau susah ngalahin anak yang satu itu," katanya sambil mendongak. Aku tau dia pasti sedang menerawang ke atas. Ke kamar adiknya. Adik satu-satunya yang terpaut usia lima tahun dengannya.

Akhdan Zein Ilyasa, adik kesayangan Zeid yang sedang kuliah di Teknik Mesin UGM. Cetakan Zeid dalam versi lebih muda, lebih tengil, dan lebih menyebalkan tentu saja.

"Nanti Ghea jampi-jampi biar Mary Jane ngadat," seruku.

"Gak boleh sabotase gitu, Ghea," sahut Zeid membelai rambutku. "Kita pacaran di sini aja."

"Emang Abang tadinya mau di mana?" tanyaku iseng.

"Rencana ngajak kamu jalan, cuman kesian Zein kalo ditinggal. Udah ketemunya jarang, masa ditinggal juga. Diajakin bareng kita pasti dia juga gak mau."

"Hu...saingan ama anak nakal itu mulu perasaan."

"Bukan saingan, Sayang. Kalian berdua sama pentingnya bagi Abang."

"Ogah disama-samain. Pokoknya Ghea harus lebih banyak. Setengah persen paling tidak!"

"Hahaha...." Zeid tertawa lepas, mengetatkan rangkulannya di badanku. "Zein adalah orang yang paling Abang percaya selain kamu."

"Anak nakal gitu?"

"Anak nakal itu sebenarnya baik, Ghea," jelas Zeid sabar. "Kalo ada apa-apa sama Abang, masih ada Zein yang Abang percaya buat ngejaga kamu."

"Ih, Abang! Abang kan lagi off terbang, kenapa ngomong gitu?" sahutku.

"Ya...umur siapa yang tau, Ghea. Gak usahlah Abang terbang, lagi main mobil-mobilan gini terus kepeleset kan juga bisa wassalam, Neng!"

"Hoh...kalo ampe gegara Mary Jane, asli Ghea lempar tuh makhluk ke kolam renang," jawabku agak kencang.

"Gue denger yak, anak nakal!" sahut Zein dari atas sana.

Tak lama kemudian, Mary Jane datang dengan setangkup burger di atasnya. Menyenggol kakiku yang terjulur dari sofa. Tanda perdamaian.

"Huh, gue gak mempan ya disogok sama yang beginian," teriakku, tapi tak ayal mengambil juga burger yang dibawakan Mary Jane.

"Baik kan Zein? Dia yang bikin, Mary Jane cuman nganterin," kata Zeid membelai rambutku pelan. Aku meletakkan burger di meja.

Ketika kami bertatapan, sebuah cengiran bahagia tercetak jelas di bibir Zeid. Aku menahan napas saat sedikit demi sedikit jarak bibir kami terkikis. Tiba-tiba layar televisi menyala, menunjukkan view dari Mary Jane yang memergoki kami hampir berciuman.

"Nunggu halal, woy!" teriak Zein dari atas sana.

"Huh!"kataku sambil menjauhkan diri dan menyambar burger dari atas meja.

"Sama seperti Abangnya, Zein juga memilih untuk tidak terjun dalam bisnis keluarga Ilyasa. Dan..."

"Dan?"

"Ghea, coba Ghea pahami perasaan Tante," katanya sambil menggerung sebal. "Punya anak yang satu cita-cita jadi pilot! Yang kedua malah memilih nyungsep!"

Aku hampir tertawa mendengar ibunda Zeid menggunakan kata 'nyungsep'. Beliau yang biasanya tertata dalam berkata-kata bisa juga menggunakan bahasa gak baku.

"Nyungsep, Tan?"

"Iya, Zein memutuskan menjadi seorang penyelam Ghea. Scuba diving apalah katanya. Coba Ghea bayangkan perasaan Tante. Yang satu di udara, mengangkasa selamanya. Yang satu, malah menyediakan diri untuk jadi makanan predator bawah laut," kata beliau frustrasi.

"Hah? Ghea pikir Zein udah jadi semacem mekanik atau apa gitu yang hobinya ngutak-ngatik mobil? Teknisi paling engga?"

"Itulah.... Apa Zein nikah sama Ghea saja ya, jadi itu anak tidak bakal pergi lama-lama buat menyelam dan..." kata Tante Meirina. Belum sempat beliau menyelesaikan kalimatnya ketukan tak sabar terdengar di pintu kamar. Kedua lelaki yang kupikir sudah saling bunuh tadi berdiri tegap di pintu kamar.

"Maaf karena kami menguping, tapi Ghea kekasih saya," sela Agil masuk dan menarik badanku hingga berdiri dan merapat di sisinya.

"Pacar Ghea?" tanya Tante Meirina ke arahku yang dikunci mati di sisi badannya Agil. Agil mengangguk, tangannya menekan belakang kepalaku agar ikut mengangguk. Aw!

"Oh, tadinya Tante pikir Ghea masih sendiri karena belum menikah. Bolehlah Ghea menikah sama Zein biar gak nyelam-nyelam lagi, cuma kalo Ghea udah punya pacar sih mau bagaimana lagi," kata Tante Meirina. Dahi Agil langsung berkerut.

"Emangnya Ummi serius nyuruh Zein nikah sama Ghea? Wah...kebetulan."

"Kebetulan apa, Zein?

"Kebetulan banget wasiat Abang buat ngejaga Ghea, Mi. Ngejaga Ghea seumur hidup. Artinya kan Zein disuruh nikahin Ghea gitu?" sahut Zein sok polos.

"Telat. Saya udah janji buat jagain Ghea seumur hidup," kata Agil tenang. Tapi, tangannya mengepal tanda kesal.

"Selama janur kuning belum melengkung, gak ada telat," kata Zein keras kepala.

"Gak bakal ada janur-januran di pernikahan kami, udah gak zaman," balas Agil.

"Udah! Ngomong apaan sih?" tanyaku mengakhiri perdebatan gak penting ini.

"Emang Zein mau sama Ghea?" tanya Tante Meirina malah memperkeruh suasana.

"Zein sih Yes Mi, lagipula nggak terlalu sulit untuk mencintai Ghea kayaknya, Mi," sahut Zein sambil melirik ke arah Agil yang kutahu sudah meredam emosi dari tadi. "Ghea kan lovable."

"Hah?" bisikku.

"Ayo Ghea, kita ngobrol-ngobrol," sahut Zein santai menanggapi jawabanku. "Bertiga aja di sini," kata Zein menekankan kata bertiga.

"Mengobrol di kamar pasien mengganggu istirahat, harusnya Anda tahu itu," potong Agil sebelum aku sempat menyahutinya.

"Ummi istirahat dulu aja. Zein ngobrol di luar sama Ghea. Mungkin salah satunya mengeluarkan jurus ngelamar yang bisa langsung Ghea terima, Mi," kata Zein santai sambil menuntun ibunya kembali ke bed pasien.

Agil menatapku tajam seolah ingin menelan tubuhku bulat-bulat. Meminta penjelasan.

Code Blue...Code Blue...Emergency Room Code Blue...

Speaker yang entah di mana letaknya itu tiba-tiba berbunyi.

Panggilan kepada Dokter Agil Raikan Bachtiar...Panggilan kepada Dokter Agil Raikan Bachtiar. Segera menuju IGD...Segera menuju IGD...

"Sial!" rutuknya saat ponsel dan speaker yang terpasang di penjuru rumah sakit berbunyi bersamaan dan hanya dijawab dengan satu kata 'Ya' darinya.

"Ada emergency lagi?" tanyaku.

"Gimana kalo kita ngobrol di kantin aja, sekalian gue anterin lo pulang," tawar Zein yang datang sejurus kemudian.

"Ngobrol di ruang kerja A'Agil!" katanya tegas menjawab. Untuk pertama kalinya aku mendengar Agil mengucapkan kata A'Agil. Biasanya hanya aku.

"Saya yang bawa dia ke sini, maka saya jugalah yang harus mengantarnya pulang. Tidak ada perdebatan untuk hal ini," sambung Agil yang membuatku sadar bahwa pengendalian emosinya cukup baik dan tak bisa dibantah.

Zein mulai tersenyum tengil lagi, "Di mana?"

"Ikut saya."

"Di sini aja lah, Pak!"

"Kok Bapak?" tanya Zein.

"Eh?"

"Ghea!"

"Oke...oke...A'Agil, cukup," kataku melangkah mendahului mereka.

"Mbak," kata Agil menegur seorang perawat yang berjalan berlawanan arah dengan kami. "Sibuk?"

Perawat itu mengerjap sesaat melihat dua lelaki yang tidak bisa dikatakan biasa ini, "Ya, dok? Oh engga dok, baru selesai shift jaga. Ada yang bisa saya bantu, dokter Agil?"

"Ikut ke ruang kerja saya," kata Agil sambil menyentak tanganku dan menarik aku ke belakang. Berjalan sejajar dengannya. Sementara si perawat berbalik arah dan jalan bersisian dengan Zein di depan.

Kami sampai di ruang yang bertuliskan dr. Agil Raikan Bachtiar, Sp. An di atas pintunya.

"Denger Ghea, tetap di sini selama A' Agil ke IGD atau kubuat kita nikah paksa sama Bapakmu yang hobi ngasah golok itu," ancamnya tanpa tedeng aling-aling. Dia sudah akan melepaskan jas dokternya, saat...

"Jangan...."

"Ngobrol di sini atau kamu ikut aku saja? Siapa tahu ada operasi mendadak dan kamu bisa mempraktikkan bius alami ala Ghea itu?" tanya Agil santai. Mengabaikan kehadiran dua orang lainnya yang ada di ruangan ini juga.

"Hubungan kalian semacam poni vokalis K*ng*n Band," sahut Zein sambil memandangi ruangan Agil yang bersih dan minimalis dari perabotan.

"Maksud Anda?"

"Udah tau gak pantes tetep aja dipaksain," kata Zein sengaja memancing emosi Agil.

"Udah, bukannya harus segera ke IGD?" desakku.

"Ingat Ghea, kalo kamu macem-macem, pulang ini bakal kaget dengan pintu penghubung yang tiba-tiba ada di antara apartemen kita," katanya sambil berlalu. Mengisyaratkan bahwa kami tinggal sebelahan yang ditanggapi Zeid dengan kerutan dalam di dahi. "Mbak, awasi mereka!" perintahnya yang dibalas anggukan cepat si perawat.

"Perlu apa gak percaya?" pancing Zein lagi.

"Belum pernah dengar kalo berduaan, orang ketiga adalah setan?"

"Setidaknya itu gak berlaku buat kami."

"Huh...saya gak percaya. Sama Anda tepatnya. Saya saja gak pernah berhasil melalui waktu berduaan bersamanya tanpa berakhir dengan ciuman panas yang mampu membuat kami berdua lupa daratan," tambah Agil. "Dan saya tidak berbagi ciuman Ghea dengan siapa pun, termasuk orang-orang dari masa lalunya, cukup dengan pelukan sesaat tanpa izin tadi," kata Agil sambil keluar dan membanting pintu.

Wajahku memerah luar biasa. Agil memang luar binasa dan tak bisa diprediksi kemampuannya dalam membalas kelakuan orang yang tidak disukainya. Tetap dengan nada datar andalannya.

"Jadi, dia pacar lo?" tanya Zein sambil memutar matanya ke arah perawat yang tidak mengalihkan pandangan dari Zein.

"Gue gak terlalu ngerti, Zein. Tapi...," kataku ketika Zein mengangkat tangannya.

"Gak perlu ngerasa bersalah dan berasa ngekhianati Abang, Ghea," sahutnya. Aku langsung terdiam, Zein tahu apa yang akan kusampaikan. "Kenapa ngilang?"

"Lo tau apa yang terjadi," sahutku. "Gue dicap sebagai penyebab kecelakaan Abang."

"Dan lo tau kalo itu gak benar. Kenapa, Ghea?" tuntutnya.

"Gue...gue perlu waktu buat nenangin diri, Zein. Buat gue, menjauh adalah jalan terbaik untuk saat itu."

"Sampai selama ini?"

"Gue gak sekuat yang lo kira, Zein."

"Ummi berpendapat untuk ga cari lo dan ngasi lo waktu. Padahal gue gak setuju. Gue pengen nyari lo, nyamperin lo setelah keadaan sedikit membaik. Memastikan kalo lo baik-baik aja. Kita bisa sama-sama berpegangan tangan dan saling menguatkan untuk nyembuhin luka sepeninggal Abang. Tapi Ummi ngelarang, menurut beliau kita bakal ketemu lagi kalo udah saatnya. Saat semua luka sudah bisa diterima."

"Beliau selalu ngertiin gue," lirihku. "Trus, apa yang terjadi selama gue ngilang?"

"Semua menjadi sangat berat, Ghea. Kacau. Gue bahkan harus mengambil alih Ilyasa Corporation untuk sementara waktu. Ummi bolak-balik masuk rumah sakit, Abi kerja seperti robot tapi tanpa makna, dan gue kerja secepat mungkin untuk mencari pengganti posisi gue karena seperti yang lo tau, gue sama sekali gak berminat kerja kantoran," lanjutnya.

"Karena lo dan Zeid terlalu serupa."

"Dan gue bangga karena itu."

"Lalu?"

"Untungnya Abi berhasil melewati saat-saat berat itu dan kembali memimpin Ilyasa Corporation, dan gue..."katanya menggantung.

"Malah kabur ke dunia bawah laut," sambungku menyelesaikan.

Zein menghela napas berat, "Ya. Itu yang gue lakuin."

"Kenapa Zein? Bukannya lo sukanya ngutak-ngatik mobil?"

"Karena Momo gak pernah bisa jalan lagi kayak dulu," katanya menerawang. "Dan, karena pemilik Momo nggak ada, maka Mary Jane hanya bisa jadi pajangan aja. Cukup dikenang."

Aku menahan butiran air mata yang sudah menggenang di sudut mata.

"Lalu kenapa menyelam?"

"Karena saat itulah gue ngerasa paling bebas dan..."

"Dan?"

"Dan paling dekat dengan Abang," bisiknya lirih.

Kali ini aku tersedak tangisku sendiri. Ruangan langsung hening, hanya diisi oleh tangisanku dan tetesan air mata Zein yang menangis tanpa suara. Si perawat pun hanya menatap kami dengan pandangan kosong dan hampa.

"Zein...," panggilku.

Zein mengusap matanya yang basah dan kembali dengan senyum tengilnya, "Yep?"

"Sekali-kali ajak gue nyelam, bisa?"

"Of course. Hubungi gue kalo lo senggang," katanya mendiktekan sederet angka yang langsung kusimpan di ponselku. "Lo tau kan kalo rumah selalu terbuka buat lo?" lanjutnya.

Aku mengangguk saat Agil tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan memilih ke ruang pribadinya tanpa suara. Entah apa yang dia lakukan di dalam, beberapa saat kemudian keluar dengan mengenakan kaos berkerah dan mengulurkan baju pasca operasinya kepada perawat yang dari tadi setia menunggui kami.

"Nanti saya hubungi untuk uang lemburnya," kata Agil. "Dan tolong antarkan pakaian saya ke bagian laundry," lanjutnya menyuruh si perawat keluar ruangan.

"Udah selesai ngobrolnya, Sayang?" kata Agil menghampiriku dan merangkulku dari belakang. Lagi-lagi menunjukkan kepemilikannya. Tidak peduli dengan pandangan Zein yang mencela. Posesif. Jelas, Agil lebih posesif dibandingkan Zeid.

"Hm....Ghea," panggil Zein.

"Ya?"

"Gue kepikiran soal omongan Ummi."

"Yang mana?"

"Kalo gue nikah sama lo biar gak nyelam-nyelam lagi," kata Zein. Agil semakin mengetatkan pelukannya. Aku semakin tidak bisa bergerak.

"Lalu?"

"Lo sayang sama Ummi? Mungkin dengan cara ini kesehatan beliau bisa kembali kayak dulu," lirik Zein ke arah Agil. "Kan sekarang lo udah bukan pacar Abang gue lagi, bisa aja dong kalo kita nikah," lanjut Zein mengibarkan bendera perang. "Dan menurut gue, hubungan kita kayak poninya Annisa Mantan Cherrybelle itu."

"Maksud Anda?" tanya Agil dingin.

"Pantes pake banget," tutup Zein sambil berlalu cepat keluar ruangan. Terdengar tawa teredam dari luar sementara geraman marah tepat di depan wajahku.

"Pak?"

Tanpa kusadari Agil menarik tanganku dan menyeretku ke dalam ruangan pribadinya. Tubuhku dihempaskan ke atas kasur yang untungnya sangat empuk, jadi gak terasa sakit. Hanya saja aku kaget dan ini menyebabkan kepalaku sedikit keliyengan.

Tepat saat aku ingin bangkit untuk duduk, Agil sudah memerangkapku dalam pelukan dan kami terhempas bersama di atas kasur dengan posisi aku yang terhimpit di bawah tubuh kekarnya. Mata kami bertatapan...jarak makin terkikis...

Ini sih bukan lagi Code Blue atau emergency lagi....

Ini Code Red... Code Red...Mengerikan!!!ױp�

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top