4. A Way to Helm's Deep

 "Apa kau beristirahat dengan cukup semalam?" Eowyn bertanya pada Aoife yang tengah berjalan di sampingnya. Mereka berjalan berdampingan, dengan Aoife menuntun kuda yang ditunggangi Eothain dan Freda di sepanjang perjalanan mulai dari keberangkatan mereka dari Edoras.

Matahari belum menyingsing begitu tinggi, tetapi Edoras telah dikosongkan dan para penduduknya sedang berbondong-bondong berada dalam perjalanan mengungsi ke Helm's Deep―salah satu benteng tangguh yang dimiliki Rohan―dipimpin oleh Raja Theoden. Perjalanan itu menempuh padang rumput-padang rumput yang mulai menggersang, dengan kebanyakan para penduduk pandangannya sedang ditundukkan. Mereka merasa kecemasan menyelimuti diri di tiap langkah kaki, tetapi cercahan harapan yang dipercikkan oleh keluarga Raja bagaikan angin musim gugur yang berembus di tengah musim panas―teduh dan menenangkan bagi mereka yang dirundungi kecemasan itu.

Aoife hanya bisa meringis menanggapi pertanyaan Eowyn. "Kurang lebih begitu," jawabnya, sambil masih teringat kegiatan yang ia lakukan semalam. Tentu saja gadis itu berbohong, ia sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak tadi malam mau seberapa kuat ia berusaha. Tiap ia memejamkan mata, bayang-bayang selalu berkelebat di pikirannya, membuatnya tak bisa lepas dari rasa gundah dan gelisah. Bayang-bayang masa lalu, hingga bayang-bayang yang kemungkinan terjadi di masa depan, Aoife lelah menghadapi itu semua dan membuatnya terjaga semalaman. Namun, gadis itu tidak mau membuat Eowyn khawatir.

Eowyn mengulas senyum lega. "Syukurlah. Kalau kau tiba-tiba merasa tidak enak badan, tolong jangan memaksakan diri," kata perempuan itu. Aoife mengangguk paham, merasa tidak enak sekali jika nanti harus merepotkan orang. Ia sudah terlalu banyak merepotkan Eowyn terutama. Gadis tersebut bersyukur bertemu dengan sosok yang begitu baik hati seperti Eowyn―sang keponakan raja itu sangat ramah, dan sosoknya membuat orang-orang berdecak kagum. Kecantikan, kelemahlembutan, dan ketegasan, terukir di tiap lekuk wajah Eowyn yang elok. Tak heran jika ia sangat dihormati oleh rakyat.

"Eowyn," panggil Aoife. Eowyn menoleh sambil masih tetap tersenyum. "Boleh kubertanya sesuatu?" Awalnya Eowyn mengerutkan dahi bingung, tetapi kemudian ia terkekeh.

"Tentu saja, Aoife. Tak ada larangan untukmu bertanya padaku." Aoife sedikit tersipu. Detik berikutnya, ia kembali memikirkan pertanyaan yang sempat berkelebat di pikirannya, namun ketika beberapa kali ingin bertanya, Aoife sempat ragu.

"Kalau kau ini keponakan Sang Raja, err ... di manakah putra Sang Raja itu sendiri? Aku tak melihatnya berkuda di samping Raja untuk mendampingi memimpin rombongan."

Raut wajah Eowyn tiba-tiba berubah, Aoife mendadak merasakan jantungnya berdegup kencang. Apa ia telah melontarkan pertanyaan yang salah? Betapa bodohnya ia yang tak tahu diri itu. Eowyn terhening sejenak, tatapannya berubah menjadi sedih.

"Putra Raja satu-satunya, Theodred, telah tiada sebab luka yang dideritanya dan ia dapatkan ketika memimpin pasukan untuk menumpas penyerang Westfold beberapa waktu lalu," jelas Eowyn lirih. Gadis itu melanjutkan, "Kakakku Eomer yang menemukan Theodred terluka parah dan segera membawanya kembali ke Edoras."

Aoife memiringkan kepala, hatinya ikut mencelos mendengar kabar duka tersebut. Rohan sedang dibanjiri banyak kedukaan akhir-akhir ini, mengingatkan Aoife pada luka yang sama akan namanya kehilangan. Dipandangnya sosok yang berada jauh di depan sana, yang tengah gagah memimpin rombongan rakyat untuk menjamin keselamatan mereka.

"Lalu ... kakakmu, Eomer?" Eowyn sontak menghirup napas dalam. Dia menyunggingkan senyum lemah.

"Ada begitu banyak hal yang terjadi dalam waktu singkat, Aoife. Hingga aku sendiri masih tidak percaya bahwa hal itu benar-benar telah terjadi," ujar Eowyn sambil menatap netra abu-abu Aoife yang nampak kebingungan. "Maaf, aku harus beranjak. Nanti aku akan menghampirimu lagi, oke? Ingat, jangan memaksakan diri."

Gadis dengan rambut bergelombang pirang itu melangkah pergi, menghampiri kumpulan orang-orang tua di depannya yang terlihat memerlukan bantuan terhadap barang bawaan mereka. Aoife mendesah, merasa bersalah telah membuat Eowyn jadi sensitif atas pertanyaan-pertanyaannya.

"Kakaknya Eomer telah diasingkan dari kerajaan ketika Raja Theoden masih dalam pengaruh Grima Wormtongue, Lassie. Aku, Aragorn dan Legolas sempat bertemu dengannya dan pasukannya, di tengah perjalanan kami memburu orc yang menangkap dua teman hobbit kami." Aoife menoleh terkejut, mendapati seorang pria kerdil yang menunggangi kuda mendekat ke gadis itu.

"Maaf―apa kau juga termasuk rombongan Aragorn? Um... maaf aku belum pernah melihatmu sama sekali."

"Hoho, tidak perlu, Lass. Aku Gimli putra Gloin, salah satu dwarf terbaik yang ada Middle-Earth!" kata pria kerdil sambil tergelak ringan. Aoife ikut terkekeh melihatnya, meski dia tak habis pikir kini berada di hadapan salah satu jenis makhluk di Middle-Earth yang belum pernah ditemuinya―dwarf! Seandainya ibu Aoife masih ada dan ia menceritakan kisahnya kini yang telah bertemu; orc, elf, dan dwarf, pasti ibunya menganggap itu semua adalah omong kosong. Aoife mengangkat sudut bibir, katanya, dwarf adalah makhuk yang keras kepala namun juga memiliki sisi jenaka.

"Memang benar apa kata Lady Eowyn tadi, Lass, begitu banyak yang terjadi ketika kau masih tak sadarkan diri dari lukamu waktu itu. Bagaimana Gandalf si Penyihir Putih yang memukul mundur Saruman dari pengaruhnya pada Raja Theoden, kemudian upacara pemakaman Putra Raja, Theodred yang berlangsung penuh rasa berkabung. Setelah Eothain dan Freda datang, Raja membuat keputusannya untuk mengungsikan rakyat ke Helm's Deep, meski Gandalf dan Aragorn menyarankan untuk segera melakukan perang terbuka. Gandalf pergi dengan kesal entah kemana setelah mendengar keputusan raja itu. Oh! Penyihir memang datang dan pergi sesuka mereka!"

"Begitu ya ..., aku baru tahu dan tidak bermaksud―"

"Tidak usah memikirkannya, Lassie. Tidak ada gunanya juga jika harus terus terlarut dalam kedukaan masa lalu. Dan omong-omong, pagi ini mentari bersinar cerah, semoga kehangatan mentari membuat pagimu indah!"

Aoife tersenyum. Dia jadi sedikit terhibur dengan kehadiran dwarf bernama Gimli, yang dalam sekejap menghilangkan rasa bersalah juga risaunya.

"Gimli?" Keduanya refleks menoleh, melihat Eowyn dengan semringah muncul dan berjalan mendekati mereka. "Aku berterimakasih kau sudah mau menemani Aoife sebentar," ujar Eowyn begitu sampai di hadapan mereka. Gimli tertawa kecil.

"Tak apa, Lassie, sungguh menyenangkan bisa berbincang sedikit dengan gadis manis yang baru pulih dari lukanya ini."

Pada akhirnya, ketiganya menghabiskan waktu berbincang bersama hingga sama sekali melupakan rasa letih dan lapar seiring beranjaknya matahari yang mulai meninggi. Aragorn juga tiba-tiba bergabung dan ikut nimbrung. Mereka semua bercanda dan tergelak bersama oleh lelucon-lelucon kecil yang dilontarkan serta aksi yang dilakukan Gimli―dwarf itu sampai sempat terjatuh dari kudanya setelah menjelaskan tentang bagaimana penampilan dwarf perempuan. Bahkan Eothain dan Freda yang terlihat lesu sedari kemarin pun mulai memperlihatkan wajah yang cerah dan terhibur di atas kuda yang mereka tunggangi.

Gimli memicingkan mata jauh ke arah depan. Aoife yang penasaran mengikuti arah pandang dwarf tersebut meski tahu tak akan bisa mendapati seperti apa yang dijangkau Gimli, sebab dirinya tak sedang menunggangi kuda.

"Ugh, dasar elf! Bagaimana bisa dia mendahuluiku mengawasi jalanan di depan sana sedangkan aku masih terjebak berbincang dan melucu di sini?" gerutu Gimli dengan suara berat khasnya.

Di tengah rasa penasaran dengan apa yang dilihat Gimli dan menyangkutpautkan elf―yang Aoife yakini bahwa dwarf tersebut sedang menyinggung tentang Legolaskegiatannya itu terinterupsi ketika tiba-tiba suara Aragorn terdengar bertanya padanya. "Kudengar kau kemarin sempat berbincang bersama Legolas?" Aoife mengalihkan pandangan hingga gadis itu merotasikan kepala. Ia lalu mengangguk.

"Ya, dan dia menawarkan ide terbaik yang pernah kudapat dalam kurun waktu akhir-akhir ini. Legolas menawariku mencari udara segar di sekitar Golden Hall, dan semenjak itu aku merasa ... lebih hidup," jawab Aoife menjelaskan. Inderanya masih dapat mengingat rasa sentuhan angin teduh yang menyapanya pertama kali setelah ia terbangun dari kegelapan.

Aragorn tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Kupikir kau tidak akan menyukai ideku menyerahi Legolas untuk menjagamu sesaat waktu itu. Well, karena memang ada beberapa manusia yang sensitif dan belum bisa menerima keberadaan elf―makhluk yang bagi mereka adalah dongeng."

"Tidak, tidak." Aoife terkekeh sambil menggelengkan kepala pelan.

"Kita akan beristirahat di sini untuk beberapa saat!" sebuah komando membuat semuanya serentak menoleh. Itu adalah perintah langsung dari raja, disambut berbagai macam ekspresi lega oleh rakyatnya. Mata Eowyn berbinar dan pipinya terangkat oleh senyuman semringah, setelah berjam-jam merasa tidak tega pada para warga yang begitu terlihat letih dan putus asa.

"Ayo, Lassie, selagi kita beristirahat, kupikir kau belum pernah menunggangi kuda mengelilingi Rohan yang indah bersama seorang dwarf? Kesempatan yang langka, lho! Dan lihat bagaimana nanti kami para dwarf menegur elf yang seakan tak pernah lelah itu!" tawar Gimli pada Aoife sembari menatap tajam sosok yang tengah berdiri termangu pada salah satu puncak batuan besar di hamparan padang.

Aoife menoleh ke arah Aragorn dan dijawab anggukan kecil. Begitu pula ketika ia menoleh ke Eowyn, gadis itu melemparkan senyum dan berkata, "Pergilah, lalu sampaikan pada Legolas. Dia butuh istirahat selagi kita masih memiliki cukup waktu. Eothain dan Freda akan aman bersamaku."

Tak lama kemudian, setelah meminta izin pada Eowyn dan Aragorn, Aoife sudah berada di punggung kuda Gimli dan berada di belakang dwarf tersebut. Ia sangat tertarik sekali dengan tawaran Gimli, sebab dia tak ingin sama sekali menyia-nyiakan kesempatan yang sedari dulu ingin ia dapatkan; berkuda di hamparan padang Rohan, bagian daerah lain selain Westfold. Aoife tersenyum saat menyaksikan seluruh pemandangan yang dapat ia lihat dari punggung kuda yang ia tunggangi. Sensasinya benar-benar luar biasa, gadis itu tak ada hentinya berdecak kagum.

Dia sangat suka berkuda, bukan hanya karena Rohan negerinya adalah negeri penunggang kuda belaka, tetapi memang sebuah kesukaan murni dari desiran lubuk hati. Dulu ketika masih remaja, Aoife sangat suka berkuda bersama teman-teman lelaki di desanya―masa-masa ketika dirinya menjadi gadis bengal dan bebal. Ibu Aoife melarang keras putri pertamanya itu menunggangi kuda, dan memarahi habis-habisan jika Aoife ketahuan melakukannya. Kata Ibu, berkuda bukanlah kegiatan yang dilakukan oleh perempuan, dan ujung-ujungnya menyuruh Aoife membantu sang Ibu saja di dapur memasakkan pesanan.

Mengingat semua itu Aoife jadi menghela napas, membiarkan helaannya itu berbaur dengan angin yang sedang berembus.

"Legolas!" Gimli berseru, ketika kuda yang ia tunggangi bersama seorang gadis di belakangnya itu sudah hampir mendekati sosok elf yang tengah berdiri terpaku di puncak batuan besar. Mata ellon yang tadinya memicing teralih pada suara derap kuda yang menghampiri. Kening Legolas berkerut.

"Gimli, Aoife?" tanya Legolas begitu mereka sampai di hadapannya. Aoife beranjak turun, lalu mengulas senyum pada ellon tersebut.

"Apa yang sedang kaulakukan?"

"Mengamati dan mengambil tugas jaga. Tidak ada yang menjamin perjalanan kita aman dari musuh."

"Tapi kau melakukan itu sedari tadi, elf! Demi tubuh kalian yang tampaknya tak kenal lelah―bagaimana mungkin elf lebih tidak pantang lelah dari dwarf?raja sudah memerintahkan kita untuk beristirahat sejenak!"

"Benarkah?"

Di tengah percakapan Gimli dan Legolas itu, Aoife berjalan ke puncak bebatuan besar tempat Legolas tadi berdiri. Gadis tersebut menghirup napas dalam-dalam sambil memejamkan mata, lalu membuangnya secara perlahan, merasa menjadi lebih rileks. Ketika ia memandang pemandangan di depannya, Aoife menatap dalam diam hamparan padang rumput yang memang bisa lebih terlihat luas dari atas puncak batu.

"Aoife?" bariton suara Legolas sontak membuat gadis itu menoleh.

"Dengarkan Gimli, Legolas. Memang sebaiknya kita beristirahat terlebih dulu saja. Aku tidak tahu masih seberapa jauh lagi Helm's Deep atau kalaupun memang ada musuh yang akan menyergap, setidaknya untuk menghadapi mereka tenaga kita berhasil pulih meski sedikit, 'kan? Lady Eowyn yang memintaku untuk menyampaikan ini padamu," ujar Aoife.

Legolas tersenyum simpul, ia menatap lembut netra abu-abu Aoife. "Baiklah kalau begitu."

☆✴☆

Hari sudah semakin terik, rakyat Edoras yang berbondong-bondong mengungsi ke Helm's Deep sedang sibuk mengistirahatkan diri selagi memiliki waktu. Bersantai, mengobrol ringan guna menghilangkan kecemasan atas waktu yang akan datang, atau mengisi tenaga dengan makanan seadanya untuk mempersiapkan diri sebab perjalanan masih panjang.

Eowyn sang Keponakan Raja memasak sup untuk dibagi-bagikan. Semuanya menerima dengan senyuman senang. Ia lantas berjalan menghampiri Aragorn yang duduk pada sebuah batu berdampingan dengan Aoife, mereka sedang bercakap kecil membincangkan waktu-waktu menyenangkan gadis itu semasa di Westfold. Aragorn juga berbagi sedikit kisah perjalanannya dengan kawan-kawannya.

"Kalian terlihat sangat menikmati waktu, eh? Apa kalian sudah makan?" tanya Eowyn begitu sampai dengan mengulas senyum. Keduanya sontak menggeleng juga membalas senyuman Eowyn.

"Aku memasak sup, kuharap kalian mau mencobanya?"

"Dengan senang hati, My Lady."

Eowyn memberikan dua mangkuk sup yang memenuhi tangannya, lantas masing-masing diterima oleh Aragorn dan Aoife. Gadis dengan rambut hitam berbinar kala memandang sup dalam mangkuk tersebut. Tak lama, keduanya sama-sama mulai menyantap.

"Terima kasih, Lady Eowyn," ujar Aragorn sambil menyunggingkan senyum tipis.

"Sama-sama, bagaimana rasanya? Apa ada yang kurang?" Eowyn bertanya dengan nada antusias. Ia selalu antusias saat sedang dalam proses mempelajari suatu hal. Ini bukan pertama kalinya ia memasak, tetapi ia tidak begitu ahli dalam hal tersebut dan mencoba untuk terus belajar. Selama ini orang-orang hanya menerima dan menyantap masakan buatannya tanpa memberi banyak komentar.

Aragorn menjawab, "Tidak buruk."

Aoife menengadah setelah terpekur sejenak usai menyicip suapan pertama sup buatan Eowyn. "Emm ... kurasa ini butuh sedikit gula," kata gadis itu tiba-tiba.

Eowyn menoleh terkejut dan penasaran. Pandangan yang semula menatap Aragorn dialihkan ke gadis pemilik rambut hitam di sebelahnya. Iris Eowyn masih berbinar antusias. "Oh, iya kah?"

"Rasa asin dan asamnya terlalu kuat, sehingga paduannya jadi terasa sedikit aneh di lidah. Kau butuh gula untuk penetral agar supnya bisa terasa lebih segar," jelas Aoife. Eowyn mengejap kagum.

"Astaga, aku tidak tahu-menahu soal itu. Kupikir di lidahku sudah pas." Eowyn terkekeh sendiri. Tidak ada yang memberitahunya selama ini mengenai kekurangan dari masakan yang ia buat. Gadis itu merasa bersyukur Aoife mengatakannya dengan jujur.

Aoife bangkit dari duduknya. "Mau kubantu? Sedikit sentuhan bisa membuat sup buatanmu lebih enak!"

"Hahaha, tentu saja! Ayo kemari Aoife!" Eowyn menarik pergelangan tangan gadis itu dengan semringah menuju tempat memasaknya tadi.

Setelah beberapa saat sesi memasak bersama yang cukup menyenangkan, semua sup yang mereka berdua buat ludes oleh para penduduk Edoras yang masih merasa butuh santapan sebagai sumber tenaga. Tak begitu nampak lagi raut kecemasan dan lesu dari mereka, semuanya terlihat kembali cerah dan bersemangat.

Eowyn tersenyum puas memandang warga Edoras di sekelilingnya. Ia lantas menatap Aoife. "Terima kasih Aoife, kau memang sangat ahli dalam hal memasak! Kuharap aku bisa sepertimu."

Sebagai jawaban, gadis itu terkekeh dan tersipu. "Bukan apa-apa, ini hanya masalah pengalaman. Aku terbiasa menghabiskan waktu sepanjang hidupku membantu ibu di dapur. Kalau kau sering bereksperimen di dapur kau juga pasti akan menjadi ahli," paparnya.

"Semoga saja." Eowyn beranjak membereskan peralatan yang telah usai digunakan memasak. Tak lama lagi rombongan akan kembali melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Ia menarik napas dalam begitu tertampik lagi oleh bayang-bayang realita yang akan mereka hadapi ke depannya. Perempuan berambut pirang itu mendongak ke atas, menatap langit biru dengan gumpalan awan seputih kapas yang bergerak seiring angin.

"Setidaknya langit yang cerah masih terlihat indah meski perang sudah di depan mata," batin perempuan itu.

"Eowyn, aku akan memberikan mangkuk terakhir sup ini untuk seseorang." Kalimat Aoife membuat Eowyn tersadar dari lamunan. Ia lalu tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban. Lantas, Aoife berlalu meninggalkan sang Keponakan Raja yang masih sibuk berkemas dan membereskan peralatan.

Sosok yang dimaksud Aoife adalah pria yang saat ini sedang duduk di bebatuan yang cukup jauh dari kebisingan. Mengasah mata anak panah dengan diam dan termangu, Legolas menyadari kehadiran Aoife.

"Apa kau ... tidak lapar, Pria Elf?"

Legolas menoleh, tetapi hanya bergeming sambil tetap melanjutkan kegiatannya. Meskipun begitu, alis pria itu agaknya terangkat saat mendengar panggilan 'Pria Elf' dari kalimat yang dilontarkan sang gadis.

"Elf tidak begitu banyak makan dan tidak sering lapar sesering manusia," jawabnya, membuat bibir Aoife membulat serta mengeluarkan seruan kagum dan tak percaya. Satu lagi fakta mengenai elf yang baru ia ketahui, Aoife kemudian mendekat penasaran.

"Begitu kah?" Gadis itu beringsut duduk di sebelah Legolas, lantas memandangi kegiatan yang ellon itu lakukan. "Meskipun begitu bukan berarti sesosok elf tidak butuh sesuatu untuk tetap menjaga tenaga, 'kan?"

Aoife menyodorkan mangkuk sup. "Cobalah, aku dan Eowyn membuat ini bersama."

Legolas menghentikan aktivitasnya. Ia meletakkan anak panah yang digenggam dan menoleh ke mangkuk sup yang disodorkan padanya. Legolas mengulurkan tangan untuk menerima. Lagi, si perempuan berambut hitam mengulas senyum.

"Apa elf juga memakan makanan manusia?"

"Tentu saja, Aoife. Faktanya selama ini elf hidup berdampingan di tanah yang sama dengan manusia dan makhluk lainnya," jawab Legolas. Ia mencicip sup yang diberikan Aoife, matanya mengejap takjub. "Menyegarkan sekali. Kalian berdua pandai berkolaborasi memasak," lanjutnya memuji. Legolas menyunggingkan senyum menawan di wajah eloknya.

"Terima kasih, Pria Elf." Aoife mendadak tersipu. Pipinya bersemu merah karena tak bisa menyangkal keindahan yang sedetik lalu disaksikan matanya.

"Bagaimana denganmu? Apa kau masih sakit?" tanya Legolas begitu melihat gadis mortal di sebelahnya itu menunduk menyembunyikan wajahnya yang bersemu. Legolas yang sekilas menangkap rona merah wajah Aoife, membuatnya mengerutkan dahi heran.

Aoife menggeleng. "Tidak, aku sungguh merasa baik. Kurasa aku tak pernah merasa sebugar ini sebelumnya."

Dari kejauhan, terdengar perintah dari Raja untuk segera melanjutkan perjalanan sebelum hari beranjak gelap, atau semua yang ditakutkan akan menjadi lebih buruk. Tidak ada yang lebih menggundahkan hati Sang Raja sekarang daripada keinginannya untuk segera sampai di Helm's Deep agar rakyatnya aman. Demikian dengan masing-masing dari insan dalam rombongan itu juga menyuarakan hati yang sama―tentang kegundahan dan momok kengerian yang menanti mereka di depan sana.

Legolas berjalan beriringan dengan Aoife, hanya diselimuti diam tanpa saling bersua. Gadis itu lebih memilih sibuk dengan kelebat pemikirannya. Memikirkan hal yang telah berlalu, masa yang jauh akan datang, atau hanya angan-angan yang mungkin takkan pernah tersampai―semua tak ada bedanya bagi Aoife. Sama-sama mengerikan. Meskipun saat ini ia merasa baik-baik saja, tapi apakah ia sanggup melewati segala hal di hari-hari esok? Aoife tidak tahu, ia tidak bisa menjamin pun tidak terlalu menaruh harap. Harapannya sudah lama pudar semenjak bagian dari hidupnya juga menghilang. Gadis itu memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.

Ellon pirang bermata sebiru langit di sebelah Aoife menoleh, mengalihkan atensi dari hamparan sekitar. Matanya seolah tak pernah tidur dan was-was. "Aoife? Apa kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.

Aoife terlonjak sadar dan mengangguk lemah. Kalbunya juga gundah sama seperti insan lain di rombongan. Pikirannya selalu melayang-melayang. Namun, kehadiran Legolas di sebelahnya seolah menentramkan hati dan pikiran. Gadis itu mendongak, menatap mata biru jernih sang ellon. Desiran hangat mengalir di dalam lubuk hatinya―Aoife seolah menemukan penenangan.

"ARGH!"

Jeritan terdengar dari barisan depan rombongan beserta dengan pekikan kuda dan geraman hewan aneh. Semua orang lantas berhamburan takut. Syaraf di sekujur tubuh Aoife menegang, tangannya refleks mengepal. Mata Legolas memicing tajam di arah kejauhan.

"Uruk-hai penunggang Warg!" Legolas menggeram dan berancang untuk berlari menghampiri kekacauan di depan sana.

Sebelum itu, ia kembali menoleh ke arah Aoife dan berpesan, "Aoife, temui Lady Eowyn sekarang."

Aoife bergeming. "Aku bisa bertarung, Legolas. Bawa aku bersamamu," ujarnya mantap.

Legolas menggelengkan kepala tidak setuju. "Tidak untuk sekarang. Aoife, dengar. Kami akan menumpas musuh di sini, Lady Eowyn akan memimpin rombongan menuju Helm's Deep. Bantulah Lady Eowyn dan lindungi mereka."

Gadis itu melepaskan kepalan tangannya. Napas diembuskan, Aoife dengan berat hati mengiyakan. Meskipun hasratnya untuk bertarung begitu kuat akan rasa bencinya terhadap makhluk yang telah merenggut nyawa orang terkasih dan menghancurkan hidupnya, ia tidak memiliki pilihan lain.

Aoife menatap punggung Legolas yang menghilang dan telah berlalu. Kepalanya dirotasikan mencari keberadaan perempuan berambut emas―Eowyn.

"Semuanya tetap berdekatan! Jangan panik! Segera bergerak jangan saling dorong!" seru Eowyn mengarahkan segenap rakyatnya. Aoife berlari menghampiri dan membantu mengkondisikan warga Edoras yang panik. Matanya sekilas memandang nanar ke arah tempat pertempuran prajurit Raja dengan Uruk-hai penunggang Warg. Dadanya mendadak ikut berdegup kencang. Di dalam hati, gadis itu berbisik agar semoga keselamatan dan keberuntungan menyertai mereka semua. []

☆✴☆

To be continued

During this quarantine I'll try to continue this work. Stay safe you all! ♡

(03/06/2020)

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top