1. Ceiling

Woking, Surrey, United Kingdom
Mid-June 2026
Setelah mengunci pintu apartment-nya, Laila Tanisha Hassan langsung melepas alas kaki dan naik ke ranjang. Ia sudah begitu lelah setelah perjalanan bisnis mendadak ke Monza, Italia—hanya untuk melakukan perbaikan pada mobil balap yang memiliki masalah teknis saat kualifikasi. Bahkan Tanisha sudah terlalu lelah untuk membersihkan sedikit kediaman mungilnya yang sudah ia tinggal selama beberapa hari.
Sembari merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Tanisha langsung merogoh ponsel dari tasnya yang ia taruh di lantai. Mata lelah Tanisha berusaha untuk membaca semua pesan. Karena tim yang ia handle berhasil mendapatkan hasil baik dan podium di Monza, Tanisha mendapat banyak pesan dari rekan kerja dan janji temu. Kemudian Tanisha mendapat pesan dari salah seorang anggota keluarga dengan tone yang sama dan familiar.
"Pulanglah."
Itulah yang Tanisha ucapkan saat menerima pesan dari mamanya, Rania Airlangga Hassan, yang kerap memintanya untuk pulang ke Indonesia. Dari permintaan Rania agar Tanisha resign dan bekerja di konglomerasi Keluarga Airlangga, Admiral Blue, hingga Rania yang mulai mengalah dengan meminta Tanisha untuk bertemu dengannya di Jakarta—Rania sudah mengusahakan banyak cara, tetapi Tanisha tetap asik membaca data mobil balap dan memberikan saran kepada teknisi.
Wanita muda itu sudah lama bekerja sebagai Lead Technician untuk salah satu tim balap asli Inggris. Selain itu, Tanisha juga ahli waris untuk konglomerasi milik mama. Benar-benar karier yang luar biasa dan prospek masa depan yang menarik, tetapi Tanisha memilih untuk bertahan di negara orang sembari mengabdi untuk mencipatkan mobil yang bagus untuk orang asing—dengan ambisinya untuk meraih hasil terbaik di formula one.
Keluarganya sudah kehabisan ide untuk meminta Tanisha pulang. Bahkan papanya, Marco Hassan, tak dapat menggerakkan hati Tanisha untuk pulang ke Jakarta. Hingga saat ini, Tanisha belum menemukan alasan yang tepat untuk pulang ke Jakarta. Bisa dikatakan, Tanisha sudah lama menikmati karir dan kehidupan internasionalnya yang teramat menarik.
WhatsApp
Giandra Soerjapranata
Kak Tanisha!
Ada yang ingin aku sampaikan.
Hingga sebuah notifikasi muncul di layar gawainya dari sosok familiar: Giandra.
Giandra Soerjapranata adalah putri dari teman baik orang tuanya. Seorang wanita dengan profil yang menarik—a olympic gold medalist, penulis best seller di Amerika Serikat, hingga bekerja di tempat yang layak. Bahkan kakak laki-laki Tanisha, Hamdi, pernah memiliki keinginan untuk menikahi Giandra dan berujung penolakan dari para kakek neneknya Giandra, tetapi mereka tetap berhubungan baik seperti biasanya. Selain itu, bisa dikatakan bahwa Tanisha dan Giandra sangatlah dekat.
Meskipun dekat, Tanisha tetap menamai kontak Giandra dengan nama keluarganya—yang nama baik keluarganya yang terkenang oleh satu Indonesia.
Giandra Soerjapranata:
Awal Juli nanti aku akan bertunangan.
"Wow, Akhirnya Giandra mengabariku untuk ini." Tanisha berbicara dengan dirinya sendiri.
Tanisha merasa tak terkejut begitu ia membaca pesan dari Giandra. Hamdi sudah menghubunginya lebih dahulu melalui chat saat ia berada di Monza. Dari penuturan Hamdi, Giandra akan bertunangan dengan seorang diplomat muda yang sepantaran dengannya dan berasal dari keluarga diplomat ulung.
Berbeda dengan dugaannya—meskipun sebelumnya sudah diberitahu, ternyata Tanisha masih saja terkejut karena Giandra sendiri yang menyampaikan berita pertunangannya lewat pesan WhatsApp. Bukan dari orang lain, bukan dari keluarganya.
Giandra Soerjapranata:
Aku tahu Kak Tanisha tidak akan mau pulang ke Indonesia, tetapi aku mengabari dan mengundangmu. Tanggal pertunangan aku adalah tanggal 4 Juli dan acaranya di rumahku. Sungguh, sebenarnya aku sangat menantikan kehadiranmu, tetapi aku menghargai situasimu yang sulit di Eropa sana, jadi aku sudah mengerti apabila Kakak tidak bisa datang. Mohon doanya, Kak, supaya semua prosesnya lancar sampai pertunangan dan pernikahanku nanti.
Tanisha hanya membaca pesan Giandra dalam hitungan detik, tetapi Tanisha langsung membuka aplikasi perjalanan Cobalt Blue yang ter-install pada ponselnya. Ia melakukannya dengan sadar hanya untuk memesan tiket pesawat kembali ke Jakarta. Begitu berhasil menyelesaikan pembayaran dengan perjalanan pulang pergi, ia kembali membalas pesan Giandra.
Tanisha Hassan:
Aku tidak mengatakan bahwa situasiku sulit.
Giandra Soerjapranata:
Tetapi Kakak selalu bilang kalau dirimu tidak mau pulang.
Tanisha Hassan:
Memangnya iya?
Giandra Soerjapranata:
Iyaa.
Bang Hamdi yang bilang.
Tanisha Hassan:
Kamu itu jangan percaya sama ucapannya dia.
Giandra Soerjapranata:
Ia juga mengatakan bahwa orang tuamu frustasi
Tanisha Hassan:
Astaga, abangku itu selalu berlebihan.
Be good. Aku akan pulang.
Giandra Soerjapranata:
Kak?!
Tunggu
Kamu serius??
Tanisha Hassan:
Aku serius.
Aku baru saja pesan tiket pesawat.
Giandra Soerjapranata:
Akhirnya!!
Kabari aku jika Kakak sampai. Aku akan menjemputmu!
Tanisha Hassan:
Ahhh, kamu mengerti aku. Aku masih belum ingin bertemu orang tuaku.
Nanti traktir aku HDL juga, ok?
Giandra Soerjapranata:
Gampang!
Tanisha Hassan:
Ini konyol, tetapi aku memprediksi bahwa keluargaku akan mengucap banyak terimakasih padamu sampai puluhan tahun ke depan.
Giandra Soerjapranata:
Karena membuatmu pulang?
Tanisha Hassan:
Tentu!
Giandra Soerjapranata:
Well, lihat saja.
Tanisha Hassan:
Keluargaku sangat menantikan lelaki yang akan menjadi pacarku.
Aku tahu orang tuaku berusaha untuk menjodohkan aku dengan beberapa teman keluarga.
Giandra Soerjapranata:
Orang tuamu tampak cemas mereka akan kehabisan stok pria tampan dan mapan dari keluarga terpandang untukmu.
Tanisha Hassan:
Mama saja habis menolak lelaki dari keluarga OKL untuk Dianti.
Giandra Soerjapranata:
Karena, menurut mamamu, reputasi keluarga lelaki itu tidak pantas untuk Dianti.
Dianti juga masih muda dan masih membutuhkan banyak waktu.
Tanisha Hassan:
Aku juga masih muda?
Giandra Soerjapranata:
Jarakmu dengan Dianti, bahkan aku, adalah tiga tahun dan itu lumayan.
Dianti bisa lanjut studi atau melakukan apapun selain menikah.
Tentu saja kamu juga, Kak.
Tanisha Hassan:
Well, jika kamu yang menuturkan, semuanya tampak masuk akal.
Tak heran mama pernah menginginkanmu untuk menjadi menantu—kamu begitu cantik dan pintar.
Giandra Soerjapranata:
Aku dan Aunty Rania sudah seperti teman dekat.
Hamdi akan mendapat perempuan yang lebih baik.
Tanisha Hassan:
Kamu sangatlah sempurna, bahkan kamu mempengaruhiku untuk pulang.
Giandra Soerjapranata:
Mulai.
Ya sudah See you, Kak.
Begitu ajaibnya sosok Giandra hingga berhasil membuat Tanisha memesan tiket pulang pergi dalam hitungan detik.
Tanisha menatap langit-langit apartment-nya. Pikirannya mulai memikirkan apa yang harus ia lakukan saat melihat abangnya, Hamdi, di Jakarta nanti. Tampaknya Hamdi terlalu banyak menyebarkan omong kosong tentang dirinya—karena sudah lama tidak pulang ke Jakarta. Saat Tanisha melihat abangnya secara langsung, apakah sebaiknya lelaki itu dipukul dulu atau langsung ditumis?
Sebelumnya, Tanisha tidak seperti kebanyakan anak kedua—Ia kesayangan papa dan harapan mama. Papa, Marco Hassan, adalah seorang pengacara karir yang berasal dari keluarga pengusaha tekstil Sumatera Utara. Pada tahun 2009, Marco menjadi Menteri Hukum dan HAM, tetapi saat Presiden Andhika Pradana kembali menjabat untuk kedua kalinya, Marco menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam).
Marco menikah dengan Rania Airlangga, Presiden Direktur dari konglomerasi multinasional Admiral Blue, yang dikenal dengan perkataannya to the point, keberadaannya mengintimidasi, tetapi hatinya lembut. Selain terkenal dengan pekerjaan yang ia lakukan di Admiral Blue, Rania juga menjadi sorotan karena selera berbusananya yang sangat apik dan pantas untuk ukuran Presdir yang menjadi istri Menko.
Masyarakat mengenal keluarga Hassan karena Marco menjadi menteri di kabinet Presiden Andhika Pradana atau Marco turut menjadi bagian dari keluarga Airlangga. Akan tetapi, Marco juga memiliki firma hukum bersama Ihsan Pandjaitan yakni Firma Hukum Hassan & Pandjaitan (mahasiswa dari universitas top Indonesia menyebutnya dengan H&P atau HP). Firma hukum yang berkantor pusat di Senayan menjadi tempat kerja dari abangnya, Hamdi Hassan, yang kerap mendapat variasi kasus unik (menurut Tanisha). Anak sulung yang bekerja sebagai pengacara muda selalu berbicara benar saat bekerja, tetapi menyebarkan omong kosong tentang dirinya di waktu luang.
Hanya dirinya, Tanisha, karena ia sudah lama tidak pulang selama beberapa tahun. Akan tetapi, Tanisha tidak ambil pusing soal itu. Lagi-lagi, itu semua karena Tanisha sudah bahagia dan bersyukur bisa pindah dari Indonesia. Seharusnya Tanisha bisa memanipulasi teman-temannya agar pindah dari Indonesia dan memulai hidup baru. Minimal ia bisa menghasut Giandra, tetapi akan ia lakukan di lain waktu.
Hamdi dan Tanisha juga memiliki adik perempuan, Dianti, yang cantik dan menjadi kesayangan mama (menurut Hamdi dan Tanisha). Adik bungsunya memang lebih dipersiapkan untuk membantu mama mengelola bisnis dibandingkan menjadi pengacara seperti papa dan abangnya. Maka dari itu, Dianti tidak terlalu direncanakan untuk menikah dalam waktu dekat.
Usia Hamdi, Tanisha, dan Dianti sudah memasuki usia siap menikah. Akan tetapi, orang tuanya (terutama Rania) begitu menginginkan anak-anaknya menikah dengan orang yang tepat. Tepat menurut Rania—tetapi seharusnya juga cocok dengan anak-anaknya sendiri. Seumur hidup itu lama dan butuh orang yang tepat.
Setelah memandangi langit-langit selama beberapa menit, Tanisha langsung mengantuk karena matanya memberikan isyarat: ia harus segera tidur. Terutama lampu apartment-nya sudah dimatikan dan Tanisha merasa dirinya jauh lebih nyaman dengan caranya untuk mengakhiri hari.
Tampaknya pikiran Tanisha berusaha keras untuk menyiapkan jawaban sekreatif mungkin saat keluarga dan teman-temannya di Jakarta mulai bertanya—hanya untuk memuaskan ekspektasi semua orang.
TBC
Published on January 21, 2025

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top