Capter 5
Play music 👆🏻
Budayakan vote dan comment ya
Para pembaca...
Selamat membaca
"Kita tidak bisa membaca masa depan.
Tapi, aku harap kau dan aku menjadi takdir."
Hari yang cerah di pagi hari, celah-celah bayangan pohon yang berbaris. Hangatnya menghangatkan tubuh, membuat semakin bersemangat untuk lari di pagi hari.
Terlihat pohon yang berbaris mengelilingi danau, angin yang bertiup menggerakkan daun-daun yang berjatuhan, orang-orang yang berlari kecil di sekitar danau, membuat aku jatuh cinta dengan tempat ini.
Karen mengenakan baju berlengan pendek dan celana panjang. Sembari berjalan menyusuri danau tempat biasa ia berlari pagi dan terkadang malam hari.
Ia mendapatkan panggilan, yang tak jauh adalah Selena.
Gue berharap Kenzo yang telpon.
Karen mengaktifkan earphone nya. "Why?"
"Loh bilang siapa? Okay gue kesana sekarang." Ia menutup ponsel terlebih dahulu dan langsung menghubungi seseorang. "Nan, siapin mobil, gue tunggu di depan." Sambil berlari cepat meninggalkan danau.
***
Nando bergegas, saat ia mengenakan jaketnya. Karen tiba dan lngsung mengambil kunci mobil di tangan Nando. Ia terkejut dan mendongak melihat Karen yang langsung masuk dan menyalakan mobil dan pergi begitu saja.
"Tuh anak." Gumam Nando langsung berlari masuk ke dalam rumah. Tak lama itu keluar dari garasi, mengendarai sepeda motor miliknya. Melacak mobil Karen dan mengikutinya.
***
Setiba di Yegu Hospital. Karen memarkirkan mobilnya di depan pintu Yegu Hospital, membuka pintunya dan berlari masuk ke dalam tanpa menutupnya kembali.
Satpam yang bertugas disana mendekati mobil milik Karen. Seru satpam kepada Karen. Tapi, nihil Karen mengabaikan panggilan itu.
Nando yang baru saja tiba mengambil alih.
"Ini mobil majikan gua Pak." Ucap Nando tiba-tiba sambil menunjukkan STNK (Surat tanda naik kendaraan) Satpam menatap dan mengangguk sebagai jawaban. "Maaf Pak sebelumnya." Lanjut Nando.
Langsung masuk ke dalam mobil Nando bergegas memarkirkan mobilnya.
***
Karen berlari ke ruang ICU terengah-engah, lihatnya dari kaca pintu seorang wanita yang sedang dilepaskan alat bantu dari rumah sakit oleh perawat. Tangis Kenzo pecah kepada Ibunya. Ia memeluk tubuh dingin Ibunya erat. Tidak rela kehilangan orang yang ia sanyangi.
Satu persatu mereka masuk mengelilingi ranjang. Semua menangis kehilangan.
Tanpa sadar air mata Karen terjatuh.
Kenzo menjerit kesal, menangis sambil memeluk Ibunya. Ayahnya menarik Kenzo menjauh dari Ibunya. Kenzo melawan tak terkontrol, tangisnya histeris. Tiba-tiba Karen muncul menarik kasar Kenzo. Ia memegang kedua tangannya sambil berteriak menangis.
Kenzo!
"Ren." Sahutnya tersadar sambil memeluk Karen cepat.
"Jangan kek gini," Ucap Karen membalas pelukkan Kenzo dan menepuk belakangnya.
***
Karen menenangkan Kenzo di rooftop Yuge Hospital. "Minum dulu." Ucap Karen sambil membukakan botol minum.
Kenzo mengambil dan meminumnya.
"Sekarang loh udah sadar?" Tanya Karen sambil menatap Kenzo.
"Loh kesini sama siapa?" Tanya balik Kenzo sambil melepaskan jaket dan meletakkannya ke pundak Karen.
"Naik mobil." Sahut Karen, berpikir. "Yak! Mobil gue." Lanjutnya terkejut dan sadar.
"Kenapa?"
"Gue pergi bentar." Ucap Karen terburu-buru. Kenzo menarik tangan Karen cepat hingga Karen menoleh.
"Jangan pergi." Pinta Kenzo.
Karen berbalik menatap mata Kenzo dalam. Ia mengurungkan langkahnya dan kembali duduk di samping Kenzo. "Loh butuh sandaran? Nih pundak gue." Tunjuknya sambil tersenyum. Tanpa berpikir Kenzo langsung meletakkan kepalanya ke pundak Karen sambil memejamkan kedua matanya.
Karen terdiam terlihat gugup. "Berat?" Tanya Kenzo tiba-tiba.
"Gak!" Jawabnya cepat.
Kenzo tersenyum tenang.
Walau hati kita dekat. Tapi, perasaan kita tidak saling mengenal.
***
Malam ini, langit yang gelap. Bintang-bintang pun tidak terlihat hanya ada bulan yang menyinari malam.
Keluarga mendiang bergantian masuk untuk mendoakan Ibunda Kenzo, Upacara Pemakaman. Para tamu mengenakkan pakaian berwarna gelap. Foto yang terletak di tengah ruangan lalu di lingkari bunga-bunga. Ia berdiri tegak menatap penuh luka. Jas hitam yang mengantarkan Ibunya ke pemakaman.
Tak seharusnya kau pergi tanpa pamit
Karen datang bersama Selena, ia menatap jauh Kenzo.
"Ren, ayo." Ajak Selena sambil mengandeng Karen berjalan masuk.
Selena menepuk pundak Kenzo, ia melirik dan menatap Karen di sebelahnya.
Selena mengambil setangkai bunga putih lalu meletakkan ke meja yang telah tersedia.
"Gue tinggal lebih lama." Ucap Karen sambil tersenyum khawatir, Kenzo menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
Ponsel Karen berdering. Ia menatap sekilas ponsel,
Al ingusan memanggil.
Tutup Karen, mengabaikan.
"Sel, ayo." Ajak Karen.
"Yang sabar, ya. Kenz." Ucap Selena.
Karen mengandeng tangan Selena dan berjalan keluar, ia menoleh sekilas memandang Kenzo yang berdiri lemah.
***
Makan malam akan segera dimulai Aliyah dan Bibik sedang mempersiapkan hidangan untuk makan malam bersama. Makanan sudah siap Aliyah dan Bibik membawa makanan dan menyusunnya di meja makan.
"Wahh ini malam apaan, tumben." Ledek Al melirik meja makan.
"Loh? Kamu gak jemput Karen?" Tanya Aliyah.
"Dia bisa sendiri ma, jangan manja." Sahutnya.
Al meninggalkan ruang makan. "Al... kamu mau kemana." Seru Aliyah.
"Tuh anak mana, jam segini belum dateng juga." Gumam Al mengigit bibirnya sambil menatap ponsel dan berjalan menaikki anak tangga menuju kamarnya.
***
Karen tengah duduk di halaman rumah duka. "Ren, gue anter loh pulang." Ajak Marko tiba-tiba.
"Gue pulang sendiri aja." Tolaknya.
"Tapi, gue di suruh ama Kenzo, antar luh pulang."
"Halo Kenz. Iya, nih." Ucap Marko sambil memberikan handphone nya kepada Karen.
"Iya." Ucap Karen.
Tiba-tiba...
"Ko, Kenzo mana?" Tanya panik seorang wanita yang baru saja tiba yang tak lain adalah Cassandra.
Karen melirik Sandra sekilas.
"Kenzo di dalam." Sahut Marko. Lirik Sandra melihat Al yang sedang berdiri di depan pintu. Tanpa, pamit Sandra berlari menghampiri.
Karen yang memperhatikan langkah Sandra berlari kearah Kenzo berdiri. Ia menatap jauh mereka berdua. Karen langsung memberikan handphone kepada Marko dan pergi tanpa pamit. Panggilan yang masih berlangsung.
***
Semua orang telah duduk di meja makan sambil menunggu Karen. Malam ini adalah makan malam Karen bersama keluarga A Nardo Jacob. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tetapi, Karen tak kunjung datang. Suasana terasa sunyi.
"Mungkin Karen lagi sibuk." Ujar Aliyah mencairkan suasana.
"Mari kita makan." Sahut Nardo.
Al berdiri kasar, hingga kursi terdorong. "Kalian bodoh atau gimana?" Serunya kesal.
"Al! Jaga ucapan kamu!" Bentak Nardo.
Al meninggalkan meja makan menuju kamarnya. Lalu, ia keluar memakai jaketnya mengambil kunci mobil milik Ibunya.
"Kamu mau kemana!" Bentak Nardo dari meja makan melihat Al yang mengambil kunci mobil.
"Pa, udah biarin." Celah Aliyah panik.
"Gara-gara kamu! Anak manja kek gitu!" Bentaknya sambil meninggalkan meja makan.
Suara kasar mobil terdengar dari dalam rumah. Al pergi begitu saja.
***
Karen tengah berjalan menuju rumahnya. Tiba-tiba sebuah mobil berjalan memancarkan sinarnya tepat di depan Karen berdiri. Ia menghadang pancaran dengan satu tangannya.
Terlihat Al di dalamnya. Ia membuka pintu mobil dan mendekati Karen yang berada didepan mobilnya.
"Loh kemana aja!" Tanya Al kesal.
"Gu-"
"Loh tahu Bunda sama Ayah gue nungguin loh! Gue gak abis pikir."
"Astaga, gue..."
"Ah udahlah. Gue tahu loh gak suka dijodohin, jujur gue suka loh buat kek gini. Tapi, loh jangan buat orang lain jadi nungguin loh." Jelas Al membuat Karen terdiam. Ia menatap dingin Karen. Lalu dia pergi meninggalkan Karen begitu saja.
"Maafin gue." Ucap Karen datar. Tapi, nihil Al mengabaikan permintaan maafnya dan langsung masuk ke dalam mobil dan pergi.
***
Haloha!
Jangan lupa Vote dan Comment ya
Vote dan Comment kalian sangat membantu para Author
Mau request lagu untuk capter selanjutnya juga boleh, ya.
Gimana Capter kali ini? Comment 👉🏻
Vote👇🏻
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top