12. Dua Hal
Kadang dirinya bertanya, apakah orang yang telah mati bisa hidup kembali? Atau kah mereka bisa ada di sisi kita?
Kadang juga ia berpikir, bagaimana cara mengembalikan orang yang telah mati. Pertanyaan konyol memang, dia bahkan menertawakan dirinya sendiri di hari itu.
Titik penglihatan masih tertuju pada sebuah taman yang sepi, tak ada siapapun disana. Setelan bajunya berantakan serta mata yang bengkak karena terlalu lama menangis.
Takdir begitu tak adil pada dirinya, di saat dia sudah sangat nyaman dengan seseorang yang seolah telah menjadi penuntun jalan bagi dirinya, seseorang tersebut malah meninggalkannya.
Tragis memang.
Dia tahu, kadang dia sendiri menganggap dirinya pembawa sial dan ingin mengakhiri hidupnya saja. Memangnya untuk apa kau hidup jika kau adalah pembawa sial bagi orang di dekatmu? Tak ada gunanya bukan?
Tapi..
Dimana ada pembawa kesialan tentu saja ada pembawa keberuntungan. Layaknya hitam dan putih atau jahat dan baik, semua ada sisi mereka masing-masing. Hanya kepada siapa saja hal itu tertulis di catatan takdir.
Begitu pula dirinya, jika dirinya adalah sang pembawa kesialan maka orang itu adalah pembawa keberuntungan baginya.
Hidup orang itu seakan-akan bebas dari semua hal, mungkin jika di ibaratkan dia adalah seekor burung yang terbang tinggi dan menjadi pusat perhatian yang lain.
Sementara dirinya tak akan bisa menjadi sosoknya, dirinya dan orang itu berbanding terbalik bukan?
"Masih disini?"
Dirinya menoleh, menatap sosok yang ia anggap bandingan terbalik dari dirinya.
Orang itu mendekat, menarik lengannya dengan sebuah senyum lebar seperti biasa.
Bibirnya berucap merangkai sebuah kalimat dan lantas terkekeh senang. Dirinya hanya tertegun di tepatnya, air mata yang sejak tadi ada di pelupuk jatuh di pinggir matanya.
"Iya, aku tahu itu" Balasnya lalu memamerkan sebuah senyum dengan air mata yang turun. Tangis bahagianya.
Suara tawa terdengar di taman itu, hawa dingin dari musim itu tak memberikan efek apapun pada keduanya yang tertawa senang disana.
****
"Walau Yaku tahu mereka kedinginan"
"Huh?"
Iris cokelat bergulir menatap pemuda di sampingnya, wajahnya pucat pasi dan juga acak-acakan karena sudah terlalu sering menangis.
"Mereka kuat, mereka bisa menahan itu semua semenjak meninggalkan villa. Yaku saja yang bodoh karena tak mau menahan mereka dan menyuruh mereka untuk tak naik"
Pandangannya masih tertuju pada empat buah makam yang ada di hadapan mereka. Pusara itu masih terlihat baru karena mereka baru saja memakamkan empat jasad teman mereka.
Kayu yang di ukir oleh nama mereka menjadi tanda bahwa itu adalah tempat beristirahat mereka yang terakhir.
Hinata Natsu.
Kageyama Tobio.
Hanamaki Takahiro.
Oikawa Tooru.
Natsu dan Tobio yang sama-sama terkena AMS, Hanamaki yang terkena hipotermia serta Oikawa yang tertimbun tanah.
Jumlah yang tadinya amat banyak kini berkurang, rencana pendakian yang mereka ekspektasi akan menyenangkan malah menjadi sebuah bencana bagi mereka.
Kedatangan mereka ke villa tersebut seperti sudah terkena kutukan. Kutukan yang amat mengerikan karena banyak merenggut nyawa mereka semua.
Kini hanya tersisa Kita, Suna, Yaku, Nishinoya dan Sakusa yang masih selamat. Akaashi dan Semi di nyatakan hilang sejak kemarin, padahal mereka masih ingat dengan jelas kalau Akaashi dan Semi berhasil selamat melewati jembatan bersama mereka.
Keadaan masih hening setelah Yaku berujar tadi, dalam diri masing-masing memaki diri karena tak mampu melindungi anggota yang lain.
"Kenapa hal ini terjadi pada kita" Gumaman lirih itu terdengar, tak ada yang berniat membalas ucapan Suna tadi. Mulut mereka seolah terkunci untuk membalas.
"Tak apa, Yaku yakin ini semua yang terbaik. Y-ya.. Ini yang terbaik untuk ki-"
"APA MAKSUD PERKATAANMU ITU HAH?!"
Kerah baju di tarik paksa, tubuh yang lebih tinggi mengangkat kerahnya hingga membuat tubuhnya sedikit melayang.
"SUDAH BERAPA BANYAK DARI ANGGOTA KITA YANG MATI KARENA HAL INI? DAN KAU MALAH BERKATA TAK APA!? KAU PUNYA HATI ATAU TIDAK HAH!"
"Bu-Bubud!"
Nishinoya melempar begitu saja tubuh Yaku, pandangannya menatap tajam pemuda yang kini meringisi kesakitan karena membentur pohon di belakangnya.
Nafasnya tak teratur karena menahan amarah, dia ingin memberikan dua atau tiga bogem mentah di wajah pucat itu agar sadar bahwa ini semua jauh dari kata 'tak apa'.
Sakusa menghampiri Yaku yang masih terduduk, setetes darah keluar dari mulutnya. Kepala yang tadi menunduk perlahan terangkat menatap tajam sosok Nishinoya yang berdiri angkuh di hadapannya.
"Lu tau Yak? Daripada Natsu, Miwa atau Tobio yang mati gue lebih milih lu buat yang mati"
Mereka yang mendengar membulatkan mata tak percaya atas ucapan yang keluar begitu saja dari seorang Nishinoya. Pemuda dengan surai yang harusnya ke atas itu seolah di rasuki iblis sampai berbicara hal seperti itu.
"Ya setidaknya kalo lu mati mungkin kesialan yang kita dapet bakal berenti. Coba pikir, kalo aja kemarin pas Omi kegelincir dan lu yang jatuh ke sungai dan mati mungkin kita semua bisa selamat lu doang yang mati" Lanjutnya dengan nada santai.
Terjadi keheningan kembali, masih sama-sama kelu untuk menjawab ucapan itu.
Yaku menghela nafas, tubuhnya ia paksa untuk berdiri walau sekujur tubuhnya serasa remuk.
"Yaku terima tapi pernah nggak kalian mikir" Kepalanya masih setia menunduk, dengan langkah tertatih dirinya berjalan mendekat tepat di tengah-tengah mereka.
Dengan perlahan mendongak, satu matanya memancarkan aura berbahaya dan juga mengerikan sementara yang satunya tertutup oleh rambutnya.
"Yaku sebenarnya udah mati"
Deg
Suara tawa terdengar setelahnya, dan pemilik tawa itu tak lain adalah Nishinoya. Pemuda yang kini berhadapan dengannya tertawa lepas, seolah perkataannya tadi adalah sebuah guyonan di dalam acara televisi malam yang biasa mereka tonton bersama.
"Akal lu udah ilang ya Yak? Jelas-jelas raga lu masih utuh kek gitu dan lu bilang kalo lu mati? Jan bikin suasana ancur lu"
Rahang mengeras, tanpa sadar dirinya maju dan menarik lengan Yaku.
"Gue tau lu depresi gegara yang lain mati tapi.. Yaku lu jangan mikir kalo bakal mati okey? Kita pasti bisa ke puncak di tempat yang lu mau" Bahu di cengkeram lembut iris hijau kekuningan itu menatap lurus iris cokelat di hadapannya.
Yaku menunduk lagi, sebuah gelengan kecil menjadi jawaban bagi Suna. Suna menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya kasar. Di angkatnya pelan wajah Yaku agar kembali bertatapan dengannya.
"Yakin ma gue kita bisa sampai di puncak" Tangannya menangkup sisian wajah sang kekasih, memberikan sugesti kepercayaan pada pemuda tersebut.
"Nggak bisa Rin.. " Jawabannya membuat pemuda itu lemas seketika, tangannya turun menuju bahu. Mengenggam erat bahu tersebut dengan tremor.
"Mustahil"
Keduanya menoleh ke arah Sakusa yang baru saja berbicara dengan Kita. Iris hitamnya bertubrukan dengan Iris cokelat sang kembaran.
Iris yang ia ingat akan berkilat jenaka dan juga bersinar itu nampak kosong dan redup sangat jauh berbeda dengan yang bisa ia lihat.
"Yak, sebelum kita naik lagi nih ya gue saranin lu mati aja bisa nggak? Gue nggak mau kehilangan sia-"
"NISHINOYA YUU!"
Again and again
No comment '-'
Selasa
29 Desember 2020
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top