Bab 17
"Sejeong-ssi? ada apa?"
"Tidak apa-apa."
"Yakin?" Jungwoo berjalan menghampiri Sejeong.
Sejeong meringis lagi sambil memegang bahunya.
"Bahumu sakit?"
"Ehm. Sedikit. Tapi sungguh tidak apa-apa. Bukan hal besar kok. Hanya bekas luka kecil."
Jungwoo terpegun sesaat. "Baiklah. Kalau begitu aku selesaikan masakanku dulu."
Sejeong mengangguk. "Boleh aku minta segelas air putih," tanya Sejeong lalu mengeluarkan obat anti nyeri.
Setelah meminum obat. Sejeong memainkan ponselnya untuk mengalihkannya dari rasa nyeri. Perlahan sakitnya pun menghilang.
Sepuluh menit kemudian, Sebuah hidangan mewah dan lezat telah tersedia di hadapan Sejeong. Steak daging sapi yang dipanggang rare dengan bau yang menggoda dilengkapi taburan biji wijen dan bumbu yang Sejeong tidak tahu namanya. Semua bahan disusun di atas piring layaknya karya seni.
Saat satu irisan masuk ke dalam mulutnya, suasana hatinya langsung terasa bahagia. Ia tidak pernah menyangka dalam hidupnya akan menyantap hidangan seperti ini.
Gratis pula.
"Jadi, kini kau punya keluarga baru?"
Sejeong mengangguk.
"Syukurlah. Akhirnya kau tidak tinggal sendirian lagi."
"Benar."
"Jujur saja. Jika sampai hari ini kau masih tinggal sendiri. Aku juga ingin mengadopsimu sebagai adikku."
Sejeong tercengang. Ia rasa kalimat Jungwoo tadi hanya candaan. Ia pun merespon dengan tawa yang kikuk.
"Kau pikir aku bercanda, ya?"
"Memangnya tidak?"
"Tentu saja tidak. Aku serius dengan ucapanku sebelumnya."
Sejeong menunduk untuk menutupi ekspresi wajahnya. Ada rasa senang sebenarnya saat mendengar kalimat itu. Karena Sejeong sadar, ternyata di dunia ini masih ada orang lain yang peduli terhadapnya.
Seorang yatim piatu dan cacat.
Meskipun sekarang sudah tidak cacat lagi.
Namun, saat dipikirkan kembali, mengapa ada ruang di hati Sejeong yang terasa hampa?
***
Doyoung duduk berhadapan dengan Min Hyejin, ibu dari Hyekyung. Ia mengundang Hyejin untuk berbicara santai dengannya di hari yang cukup cerah. Doyoung menatap langit sambil meneguk kopinya.
"Jadi kau ini siapa dan apa maksud dari video ini?"
Doyoung tersenyum, satu jam yang lalu ia memang mengirimkan sebuah video yang berisi perundungan anaknya terhadap Sejeong. Sebagai umpan untuk memancing Hyejin datang menemuinya.
"Anda tidak perlu tahu siapa saya. Yang cukup anda tahu adalah para model di video itu."
Hyejin menatapnya tajam. "Apa kau yakin itu anakku? Bisa saja itu hanya rekayasa?"
"Oh, jadi anda menganggap itu rekayasa. Kalau begitu mari kita kirim video ini ke kepolisian untuk dianalisis, biar terbukti asli atau rekayasa."
Hyejin bungkam seketika.
"Ah! Tidak usah ke kepolisian, saya akan mengirim video ini terlebih dahulu ke komite kekerasan sekolah. Kira-kira apa yang akan terjadi ya?"
"Hah? Kau tidak tahu siapa aku?"
"Tentu saja saya tahu, anda adalah istri walikota terhormat kita."
"Dan kau masih berani-beraninya mengancamku. Aku bisa membuat kepolisian dan komite sekolah berpihak denganku. Kau hanya buang-buang waktu untuk melawan. Dasar anak muda tidak tahu diri!"
Doyoung terkekeh. "Ah! Saya lupa bahwa anda memiliki kekuasaan seperti itu. Pantas saja Hyekyung tidak pernah terjerat kasus perundungan selama ini."
"Kau pasti kerabat anak sialan itu, bukan? Dan kau memanggilku untuk membatalkan rapat komite. Hah! Jangan berkhayal. Aku akan membuat anak tidak tahu diuntung itu dikeluarkan dari sekolah."
Doyoung menarik sebelah sudut bibirnya. "Nyonya Kim, bukan hanya anda yang memiliki kekuasaan."
Hyejin menatap Doyoung sambil bersedekap.
"Aku kemari bukan untuk membuatmu membatalkan rapat itu. Tapi untuk memberitahumu rencana yang akan ku lakukan selagi rapat itu berlangsung. Asal kau tahu Nyonya Kim, selagi kau sibuk dengan rapat, orang-orang juga akan sibuk menonton video perundungan Hyekyung. Bukan hanya satu, tapi masih banyak lagi video yang kumiliki. Bahkan video Hyekyung menyeret Sejeong ke hutan malam itu." Doyoung berucap tanpa bahasa yang sopan lagi. Ia berbicara dengan santai namun menghantam tepat sasaran.
Doyoung meneguk kopinya kembali. Hyejin sudah menatapnya geram dan mulai gusar. "Kau bisa menghentikan polisi dan komite. Tapi tidak bisa menghentikan orang-orang menonton video yang sedang viral."
Doyoung berdiri dari kursinya. "Jika video Hyekyung mulai beredar di internet, cobalah hentikan jika kau merasa bisa. Namun, sedikit informasi untukmu. Aku memiliki orang professional yang bisa membuat video Hyekyung kembali viral dalam satu menit."
Hyejin terpegun dan semakin gusar.
"Kurasa tanpa kujelaskan dampaknya kau akan paham sendiri. Sebab kau tahu dengan jelas betapa buruknya nasib anak yang dicap perundung di negeri ini." Doyoung meninggalkan Hyejin yang tak bisa berkutik lagi. Keangkuhan yang sebelumnya ia perlihatkan luntur seketika saat Doyoung menyerangnya.
"Beraninya menyebutku anak muda. Usiamu bahkan hanya seperti bayi bagiku." Doyoung menggerutu sendiri sambil berjalan menuju pintu keluar.
***
Jungwoo mengantar mengantar Sejeong pulang karena khawatir Sejeong kenapa-kenapa jika pulang sendirian.
"Sebenarnya kau tidak perlu mengantarku, Oppa."
"Apa kau lupa bahwa akhir-akhir ini lingkungan kita tidak aman. Tadi sore saja ditemukan mayat. Apa kau tidak takut?"
"Takut sebenarnya. Tapi aku bisa melindungi diri dari penjahat," ucap Sejeong dengan wajah polosnya.
"Aigoo." Jungwoo mengacak pelan puncak kepala Sejeong. "Kau ini masih kecil, sekuat apa dirimu sampai bisa melindungi diri dari penjahat?"
Sejeong tertawa kecil. Ia tidak bisa menceritakan siapa dia sebenarnya kepada Jungwoo karena perjanjian organisasi.
"Itu rumahku. Terima kasih sudah mengantar." Sejeong membungkuk.
"Hm. Cepat masuk sebelum orang rumahmu mencarimu."
Sejeong berpamitan lalu membuka pintu pagar rumah lalu berjalan masuk. Ternyata ada Doyoung sedang berdiri di depan pintu rumah. Sejeong menatap Doyoung penuh tanda tanya.
"Dari mana saja kau?"
"Dari rumah teman."
Doyoung terkekeh. "Teman? Sejak kapan kau punya teman?"
Sejeong mengernyitkan keningnya.
"Sebelumnya memukuli orang dan sekarang pulang larut malam."
"Baru jam 9." Sejeong melewati Doyoung dan masuk ke dalam rumah.
Doyoung tidak ingin argumennya dipatahkan. "Sama saja." Doyoung menyusul di belakang Sejeong.
"Apanya yang sama?"
Doyoung kebingungan. "Pokoknya mulai sekarang kau dilarang berkelakuan tidak baik lagi seperti berkelahi dan pulang larut tanpa izin."
"Aigoo ... apakah ini asrama putri?" Jieun berlalu sambil membawa wine di tangannya.
"Kalau dilarang berkelahi, bagaimana aku menjalankan misi?"
"Kalau dalam misi, tidak apa-apa."
Sejeong kembali mengernyitkan keningnya.
Taeyong baru keluar dari kamar mandi, rambutnya masih setengah basah dan terdapat handuk kecil berwarna putih di tangannya. "Ada apa ini? Kenapa suasananya menyenangkan?"
"Menengangkan." Jieun mengoreksi ucapan Taeyong.
"Ya, itu maksudku."
"Sedang syuting drama rumah tangga," sahut Haechan yang ternyata sejak awal sudah berada di sofa. Menonton TV namun tetap mendengar percakapan Doyoung dan Sejeong.
"Kau habis kena omelannya?"
Sejeong tidak menjawab. Namun dari tatapannya sudah cukup menjelaskan.
"Astaga ...." Taeyong merangkul bahu Sejeong namun tatapannya mengarah ke Doyoung.
"Sejeong-ah."
"Iya?"
"Terkadang dia memang seperti itu. Sedikit ..." mendekatkan mulutnya ke kuping Sejeong, "menyebalkan."
Sejeong tertawa.
"Ayo. Ku antar kau ke kamarmu."
"YA! Sejeong. Taeyong."
Taeyong berjalan di samping Sejeong sambil menutupi kedua telinga Sejeong dengan kedua tangannya. Sejeong hanya bisa tertawa setelahnya.
"Terima kasih, Taeyong-oppa."
"Sama-sama."
"Aku sempat kebingungan tadi dan tidak tahu harus merespon apa. Syukurlah kau datang membantuku."
Taeyong tersenyum. "Memang sudah sifatnya seperti itu. Tidak hanya pada dirimu. Dia juga cerewet kepada semua orang di rumah ini."
"Mungkin karena dia terlalu menyanyangi kalian."
"Bukan kalian, tapi kita semua."
Sejeong tersenyum.
"Karena itu, jika dia memarahimu lagi, jangan dimasukkan dalam hati. Itu artinya dia sedang khawatir."
"Baiklah. Akan kuingat."
"Ya sudah, selamat beristirahat. Semoga malam ini tidak ada misi."
"Semoga."
Jill memantau Sejeong dari kejauhan. Jendela kamar Sejeong terbuka dan Jill dapat melihatnya dari atap gedung di seberang jalan. Jill menekan ponselnya lalu menempelkan di samping telinga kirinya. "Halo Jieun. Kosongkan waktumu, ada yang ingin ku bicarakan."
[]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top