Bab 16

"Sejeong-ah. Kemari."

Sejeong mengikuti Jieun menuju ruang kerjanya. Jieun duduk di belakang meja kerja dan memberikan sebuah gulungan kertas berwarna coklat.

"Apa ini?"

"Kontrak kerja."

Ah, pasti ini kontrak yang dimaksud Haechan.

Sejeong membuka gulungan kertas tersebut. Tidak ada apa-apa. Hanya kertas kosong. Sejeong mengerutkan kening kebingungan.

"Apa kau melihat sesuatu?"

Sejeong menggeleng.

"Kemarikan tanganmu."

Sejeong memberikan tangan kanannya kepada Jieun. Lalu dengan cepat Jieun menusukkan jarum ke jari telunjuk Sejeong. Sejeong bahkan tidak sempat berteriak karena adegannya terlalu cepat. Hanya matanya yang membulat sempurna dan napasnya terhenti sesaat.

Jieun mengarahkan telunjuk Sejeong ke atas kertas tersebut. Lalu darahnya menetes. Jieun melukai telunjuknya sendiri dan membiarkan darahnya menetes di atas kertas itu juga. Seketika lembar kosong tersebut menunjukkan aksaranya yang berwarna merah darah.

Sejeong membelalak. Lagi-lagi netranya disajikan hal yang tidak masuk akal sehat manusia. Sejeong mulai meragukan dirinya sendiri. Apakah dia masih termasuk golongan manusia setelah melakukan kontrak ini?

Jieun membakar kertas tersebut dengan api biru yang keluar dari tangannya. Lalu membiarkan abu kertas tersebut mengambang di udara. Ia menuangkan sebuah teh hijau ke dalam cangkir lalu memasukkan abu kertas yang mengambang itu ke dalam cangkir dan membiarkannya menyatu bersama teh hijau itu.

Jangan bilang ia akan menyuruhku meminumnya.

"Minumlah."

"Hah?" Dugaan Sejeong benar seratus persen.

"Minum."

Sejeong mengedipkan matanya dua kali.

"Apa perlu aku yang meminumkan paksa kepadamu?"

"Tidak perlu." Sejeong langsung mengambil cangkir tersebut. Ditatapnya cairan yang berada di dalam gelas lekat-lekat.

"Sebelum aku menimumnya. Apakah aku boleh bertanya?"

"Silahkan."

"Apa yang akan terjadi padaku jika tidak melakukan kontrak? Dan apa yang akan terjadi padaku jika kulakukan kontrak ini?"

Jieun duduk kembali di kursinya. Menyilangkan kaki dan menatap Sejeong. "Kupikir kau sudah tahu banyak hal dari Haechan."

"Belum semuanya kuketahui."

"Kekuatan yang kau miliki sekarang hanya sementara. Aku hanya meminjamkannya. Semacam uji coba."

Sejeong mengangguk pelan.

"Selagi kau tidak mengikat kontrak denganku, kekuatan tersebut akan terus menipis dan akhirnya akan habis."

"Jika aku mengikat kontrak?"

"Jika kau mengikat kontrak, semua kekuatan dariku padamu sekarang akan menetap. Bakat alamimu juga akan meningkat."

"Apa aku akan berumur panjang seperti yang lainnya?"

"Iya. Itu adalah efek samping dari kekuatanmu. Semakin kuat akan membuatmu semakin sehat dan sel-sel tubuhmu pun menjadi awet muda."

"Apa kau tidak ingin terus terlihat cantik seperti aku?" Jieun menopang dagunya dengan punggung telapak tangan yang ditumpuk menjadi satu.

Sejeong terkekeh. Ia menatap ke dalam cangkir lagi.

"Jika kau masih ragu, tidak apa-apa. Kau boleh menyimpan teh itu dulu."

Jieun mengarahkan jemarinya ke cangkir. Lalu cangkir tersebut berubah menjadi botol dan cairan teh terkunci di dalam botol tersebut."

"Sungguh tidak apa-apa?"

"Iya."

"Terima kasih."

"Kapan pun kau ingin melakukan kontrak. Cukup sebutkan kalimat 'aku ingin melakukan kontrak'. Di mana pun kau berada. Botol itu akan muncul."

Sejeong mengangguk sekali. Lalu berpamitan pergi.

"Sejeong ..." panggil Jieun lagi.

Sejeong menoleh. "Iya?"

Jieun menatapnya lembut. Seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya. "Kusarankan kau untuk memutuskannya segera."

Pertama kalinya Sejeong melihat ekspresi Jieun yang seperti ini. Rasanya seperti merasakan kehangatan yang telah lama terlupakan dan absen dari kehidupannya. Tatapan yang tak pernah ia terima lagi dari orang lain semenjak kedua orang tuanya meninggal.

Sejeong tersenyum. "Baiklah. Akan kuputuskan segera."

Jieun tersenyum tipis lalu memandang punggung Sejeong yang perlahan menghilang. Ia melepas kaca mata bundarnya. Menyatukan kedua telapak tangannya di atas meja. Tatapannya berubah menjadi serius. Ada banyak tanda tanya dan kekhawatiran di benaknya sekarang.

Sudah tiga kali radarnya mengirimkan sinyal bahaya. Pertama saat di rumah sakit. Kedua, saat Sejeong tiba-tiba hilang kendali dan pingsan. Ketiga adalah beberapa hari yang lalu, yaitu saat hari pertama Sejeong kembali bersekolah. Sinyalnya tidak sekuat yang pertamada kedua. Namun rasanya tetap sama ... menyeramkan.

Mengapa semua sinyal itu berkaitan dengan Sejeong?

Apakah benar iblis itu telah kembali? Bagaimana ia bisa kembali? Padahal Chansung telah—

Doyoung datang ke ruangan Jieun. Wajahnya tampak serius. "Ada apa?"

"Noona. Ini surat dari sekolah Sejeong." Doyoung meletakkan surat tersebut di meja Jieun.

Jieun membuka lipatan kertas itu. Ia membacanya lalu terkekeh. "Sungguh diluar dugaan."

"Apa salah satu dari kita harus datang ke sekolah?"

"Apa kau ingin mengikuti skenario para manusia ini?"

Doyoung tidak menjawab. Jieun melipat kembali surat tersebut dan memasukkannya ke dalam amplop. "Aku serahkan masalah ini kepadamu. Terserah kau ingin menyelesaikannya seperti apa?"

"Kenapa aku?"

"Bukankah kau suka ikut campur dalam kehidupannya?"

Doyoung tersindir.

***

Detektif Park Sera sedang menatap dan menganalisis dengan teliti setiap pola gambar yang terdapat pada tubuh para korban. Ia memperbesar gambar di layar komputernya tersebut. Meski pun atasannya tidak percaya sepenuhnya kepadanya, ia tetap yakin bahwa pembunuh berantai pentagram telah kembali.

Detektif Kim Yeonho mengangkat telepon masuk dan langsung berdiri dari tempat duduknya. "Detektif Park. Kita mendapatkan kasus lagi."

Sebuah kantong sampah besar ditemukan di pinggir jalan. Saat dibuka, ternyata mayat manusia yang berada di dalamnya. Warga yang menemukan menghubungi kepolisian dan beberapa menit kemudian lokasi penemuan mayat ramai dikunjungi orang-orang.

Mereka bergegas pergi menuju lokasi. Korban pembunuhan ini memiliki simbol pentagram juga di lengannya. Kepolisian tidak bisa menyembunyikannya lagi karena warga yang menemukan telah mengekspos ke sosial media dan membuat kasus ini ramai dibicarakan. Bahkan saat mereka datang, orang-orang telah ramai berkumpul karena penasaran apakah benar mayat itu adalah korban pembunuhan berantai.

***

Sejeong baru saja keluar dari apotek untuk membeli obat pereda nyeri. Tiba-tiba beberapa orang berlari ke suatu arah. Sejeong penasaran dan mengikuti orang-orang yang berlari itu. Ternyata di sana sudah ramai dipenuhi kerumunan warga. Sejeong pun mendekati kerumunan itu. Ia sontak menganga terkejut. Seorang mayat baru saja ditemukan. Jarak mayat dan lokasinya berdiri sekarang agak jauh sebenarnya. Namun, karena visi penglihatannya telah meningkat semenjak bergabung di organisasi. Ia bisa melihat jelas dari kejauhan. Sejeong tersentak dan menutup mulutnya dengan tangan. Ini adalah pengalaman pertama baginya melihat korban pembunuhan, selain pembunuhan orang tuanya dulu.

Sejeong sedikit penasaran dengan identitas korban dan penyebab kematiannya. Ia ingin lebih mendekat, tapi garis polisi telah dibentangkan. Kemudian sebuah mobil datang dan beberapa orang keluar dari dalam. Ada sosok yang familiar di sana. Detektif Park Sera.

Sejeong ingin menyapanya. Namun sadar bahwa ini bukan waktu yang tepat. Mayat tersebut di angkat dan akan dibawa ke dalam ambulans. Saat terangkat, sebelah tangannya jatuh menjuntai.

Simbol bintang lima terbalik dengan bundaran di tengah. Pentagram.

Sejeong tak sengaja melihat simbol itu.

Tiba-tiba bekas luka dari kecelakaan tiga tahun yang lalu di bahu kirinya berdenyut. Terasa perih dan membakar. Akhir-akhir ini bekas lukanya sering berdenyut padahal sudah lama ia tidak merasakannya. Oleh karena itu, Sejeong membeli obat pereda nyeri hari ini.

Sejeong memutar tubuhnya dan ingin segera keluar dari kerumunan agar bisa segera meminum obatnya. Sebelah tangannya memegangi bahu kiri dan melangkah sambil menunduk. Lalu tidak sengaja tubuhnya menabrak tubuh seorang pria. Sejeong mendongakkan kepala.

Pria itu ikut terkejut, namun tersenyum setelahnya.

***

"Ahjussi."

Jungwoo tersenyum. "Hai."

Sejeong spontan ikut tersenyum. Semenjak pindah rumah, Sejeong telah lupa akan Jungwoo.

"Lama tidak melihatmu. Kau kemana saja?"

"Aku pindah rumah."

"Tunggu—" Jungwoo mengarahkan telapaknya ke arah Sejeong. "Kau tidak gagap lagi?" tanyanya hati-hati.

Sejeong kembali tersenyum. Ia hanya menjawab dengan anggukan.

"Woah. Sungguh? Bagaimana bisa?"

"Ceritanya panjang."

"Aku siap mendengarkan."

"Benarkah?"

"Iya. Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat untuk mengobrol?"

"Oke."

Jungwoo mengajak Sejeong ke restoran miliknya. Ia ingin mendengarkan kisah Sejeong, jadi ia berinisiatif mengajak Sejeong untuk mengobrol. Sejeong berdiri di depan meja pantry. Ia memperhatikan Jungwoo yang sedang memasakkan ia makanan. Di saat seperti ini, aura ketampanan Jungwoo seperti meningkat 1000 persen.

"Apa kau melihat wajah mayat tadi?" tanya Jungwoo.

"Tidak. Aku hanya melihat tubuhnya dan," Sejeong terdiam sesaat untuk mengingat simbol yang baru saja ia lihat, "tangannya terdapat simbol."

"Simbol? Simbol apa?"

"Pentagram."

"Benarkah? Kalau begitu bisa jadi mayat tersebut korban baru dari psikopat pentagram."

Mendengar kata psikopat membuat Sejeong mengepalkan tangannya. Ia baru saja teringat perih dan sakitnya melihat kematian orang tuanya dan melihat psikopat yang membunuh orang tuanya. Perasaan hari itu tidak akan pernah ia lupakan.

"Tapi syukurlah kau tidak sempat melihat wajah mayat itu."

Sejeong membuang napas dalam lalu menyahut obrolan Jungwoo. "Memangnya kenapa dengan wajahnya?"

"Penuh luka bakar. Sangat menyeramkan. Aku mual mengingatnya."

"Tahan. Jangan muntah. Nanti masakanmu tercemar. Hehe." Sejeong berusaha menutupi kekesalannya dengan bercanda.

"Haha. Tenang saja."

Sejeong kembali memperhatikan Jung woo memasak. Saat sedang fokus memperhatikan. Tiba-tiba cipratan minyak panas mengenai punggung tangan Jungwoo. Ia meringis kecil hampir tidak terdengar.

Justru, di belakang Jungwoo, Sejeong yang meringis kesakitan.

Sebab, di saat bersamaan, bahu kiri Sejeong terasa perih terbakar.

[]

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top