Bab 1
Lantunan jazz lembut menari di udara, memperindah suasana malam di sebuah restoran. Interior mewah menghiasi ruangan putih besar, dikelilingi pahatan pada tembok bermotif bunga di beberapa sudut.
Langit-langit tinggi, membuat yang memasukinya seakan bukanlah manusia. Meski ruangan besar, cahaya terang tetap menyinari semua bagian.
Lampu gantung raksasa sebesar meja pesta terpasang rapi. Dengan bagian yang terdiri dari kumpulan keramik kecil bercahaya, lampu itu melebar ke segala arah seakan memekar.
Dipenuhi akan orang-orang berpakaian rapi di setiap sisi, semua yang melihat bisa mengetahui kenyataan itu. Hanya ada dua pihak yang menyewa seluruh tempat makan tersebut.
Perbedaan yang dengan jelas terlihat dari cara mereka berpakaian, seakan membagi kubu di dalam restoran. Kelompok pertama terdiri dari orang-orang rapi yang memakai suits hitam, kacamata hitam serta kemeja putih berdasi. Kelompok kedua terdiri dari orang-orang yang memakai jaket kulit dengan dalaman yang berbeda dari kaos hingga kemeja.
Sekilas hanya seperti pertemuan biasa, tapi tiap dari mereka saling melempar tatapan sinis dan memasang posisi siap bertempur kapan pun. Di tengah ruangan yang dipenuhi udara berat, terdapat sebuah meja besar yang hanya diisi oleh tiga orang.
Satu orang tampak dari kelompok yang memakai suits hitam, terlihat menikmati makanan di depannya. Frederic Dieulafoy, pria 26 tahun sedang mengiris terrine daging perlahan dan memasukkannya ke dalam mulut.
Tampa ekspresi yang berarti, pria yang telah melepas kacamatanya ini hanya fokus dengan hidangan khas prancis itu.
Satu orang lagi dari kelompok berjaket kulit, tapi ia hanya mengenakan kaos putih agak ketat yang sedikit menampakkan bentuk otot dan dada bidangnya. Ryland Chambers, pria berusia 26 tahun itu memasang wajah masam meski di depannya telah tersaji Confit de canard yang cukup menggugah selera.
Tampa melakukan gerakan berarti pada makanan di depannya, pria berkaos putih ini hanya menatap Fredric. Jaket kulit yang harusnya ia kenakan, digantung di sandaran kursi yang didudukinya.
Orang terakhir di meja makan ini adalah Vera Liana, seorang perempuan memakai dress merah terang. Hanya diam dan tersenyum ke depan sementara sadar fakta bahwa dirinya berada di tengah kekacauan yang menunggu untuk terjadi.
"Maaf, kurasa membawa anjing ke tempat makan memang terlalu berlebihan. Dia bahkan tidak tahu etika di depan hidangan," kata Fredric menyindir dengan nada datar.
"Hah?! Apa yang kau bilang?! Nokturnal sepertimu bersikap sombong, boleh juga kau," balas Ryland dengan nada tinggi setelah membanting tinjunya ke arah meja.
"Nokturnal tidak apa, setidaknya kami masih lebih beradap."
"Hohoho, baguslah kalau begitu."
Ryland berdiri dari tempatnya dan langsung menodongkan sebuah dessert eagle ke arah kepala Fredric. Tindakan tiba-tiba itu sontak membuat kelompok Fredric berdiri dan bersiap menyerang, tapi dihentikan begitu saja oleh isyarat tangan dari Fredric sendiri.
Di sisi lain, kelompok Ryland juga seketika bergerak tepat setelah melihat kelompok Fredric ikut bertindak.
"Panas sekali Ry-land," ucap Fredric menatap pria pemegang dessert eagle itu.
Fredric hanya memasang wajah cemberut dengan tatapan menusuk tajam tanpa kata-kata. Ryland tidak gentar sama sekali dan tidak mengubah arah laras pistolnya.
Vera berdiri dan mencoba menenangkan kedua pria yang berseteru itu. Ia tahu mereka serius ingin saling membunuh karena perempuan ini sedang merelai orang paling berbahaya di dunia. Fredric adalah CEO dari perusahaan ternama di Prancis sekaligus mengendalikan jaringan mafia terbesar di Eropa. Ryland adalah anak dari seorang konglomerat kaya di Amerika sekaligus pemimpin gerakan milita bawah tanah di sana.
"Sudah, sudah. Kita kemari untuk makan malam bukan? Jadi, kesampingkan dulu masalah ini. boleh kan?" Vera membujuk dengan nada agak lirih dan lembut berharap kedua orang di depannya mau berhenti.
"Kali ini kau selamat anjing. Jika bukan karena Vera, kau pasti sudah menginjak ekormu sendiri," kata Fredric menghela napas sambil memberi isyarat bahwa tidak perlu melakukan serangan.
"Cih, dasar penjilat. Aku kehilangan niatku sekarang," ucap Ryland yang langsung duduk di tempatnya kemudian mencoba memakan Confit de canard miliknya.
*Ring~ring~
Suara nada panggilan menyelip di antara perbincangan berat tadi. Itu ternyata berasal dari handphone milik Vera.
"Maaf, saya mau ke toilet dulu."
Vera bergegas pergi setelah mendapat panggilan tersebut, meninggalkan kedua kelompok yang saling membenci tanpa ada penengah.
"Lihatlah, karena ketidaksopananmu dia langsung bergegas pergi," sindir Fredric
"Hah?! Memangnya kau bodoh? Itu karena sikap kakumu yang mirip batu itu. Tegang sekali, pantas saja Vera mengasihanimu. Karena tidak mungkin ada wanita yang mau mendekat, aku kasihan pada Vera."
Fredric tidak membalas dan hanya diam beberapa saat, setelah itu ia mengeluarkan sepatah-kata pada Ryland.
"Kurasa memang harus diakhiri saja permainan ini."
"Ohohohoho~ sekarang kau berbicara," balas Ryland sambil menyeringai lebar.
--------+++++++++---------
Ruangan agak lembab dengan kayu Lignium vitae sebagai temboknya, menampakkan perempuan yang sedang menelpon seseorang. Wastafel terbuka membiarkan air terus mengalir deras sementara Vera memandangi permukaan cermin dengan wajah lemas.
Vera hanya menghela napas panjang setelah menyelesaikan pembicaraannya sambil menatap sebuah kotak kecil seukuran telapak tangan.
"Kalau ini kugunakan, masalahnya bisa selesai tanpa ada yang terluka," gumam Vera.
*BOOM!
Ledakan keras mengagetkan Vera, membuat perempuan ini bergegas keluar dan mencari tahu apa yang meyebabkan suara tersebut. Saat Vera berdiri menatap tempat makan mereka, ia hanya melihat kekacauan.
Meja dan kursi berhamburan dan kumpulan orang-orang yang dipimpin oleh Fredric dan Ryland telah berdiri dan saling menatap tajam.
Jantung Vera menghentak cepat karena hal yang sangat tidak ia inginkan benar-benar terjadi. Napasnya perlahan memberat dan hanya kalimat dari temannya yang bisa dia ingat jelas.
"Kalau kau mau ini berakhir tanpa korban, gunakanlah ini. Karena, bagaimanapun juga ... mereka bukanlah manusia."
Ryland melemaskan tubuh dan sedikit menggerakkan lehernya ke beberapa arah agar tidak kaku.
"Kalau orang tua itu tahu, bisa gawat. Brian ..." kata Ryland.
"Kenapa tuan muda?" tanya seorang dari kelompok Ryland.
Ryland memicingkan matanya dan melirik ke arah Brian dengan cepat.
"1 kilometer kurasa sudah cukup."
"Baiklah."
Sesaat setelah itu, Brian dan beberapa orang lainnya tiba-tiba menghilang dari depan mata. Di lain pihak, Fredric mengambil handphone miliknya dan membuat sebuah perintah.
"Bungkam para babi birokrasi. Jika para elder tahu, masalah ini akan melebar. Gunakan sebanyak apapun uang yang kau butuhkan," kata Fredric yang kemudian menutup handphone miliknya.
Fredric menggigit bagian telapak tangannya, kemudian menarik wajahnya menjauh hingga robeklah tangan yang digigitnya. Darah mengalir cepat dari sobekan luka tadi, tapi tidak jatuh ke lantai melainkan berputar secara spiral di udara kosong.
Darah yang berputar itu tersebar dan menguap, uapan darah tersebut kembali memadat dengan warna hijau terang. Mematerialisasi seluruh uap hingga berbentuk sebuah sosok besar setinggi 2 meter lebih dengan tubuh zirah dan wajah makhluk buas.
"Family ketujuh, Vastator," kata Fredric memasang senyuman lebar hingga menampakkan taringnya yang cukup panjang.
Ryland merentangkan tangan dan seluruh ototnya mengembang dengan sekejap, rambut tumbuh cepat di sekujur tubuhnya diikuti bagian mulut yang terus berubah hingga berbentuk moncong serigala.
kurang dari dua detik, Ryland telah berubah menjadi manusia serigala seutuhnya yang berdiri dengan kedua kaki.
"Mari kita lihat kemampuanmu, bocah vampir," ucap Ryland menggeram.
Vera yang hanya manusia biasa itu sedang berdiri di antara pertempuran antara manusia serigala dan vampir yang akan terjadi beberapa saat lagi. Meski ia tidak ingin menggunakannya, tapi cara yang disarankan temannya adalah satu-satunya jalan.
"Ingat ini Vera, tergantung dari tiap orang. Reaksi mereka bisa saja berbeda, kalian bisa saja berpisah untuk selamanya. Bisa juga kalian semua akan mati."
Vera telah kehabisan ide dan situasi mengatakan tidak ada waktu untuk berpikir.
"TUNGGU!" Teriak Vera.
*BRUAK!
Atap tiba-tiba saja bocor dan jatuhlah seorang pria berjubah hitam dengan kalung salib emas di dadanya, membuat perhatian Fredric dan Ryland teralihkan pada kedatangan orang baru tersebut.
"Apa kabar ... anjing dan kelelawar ..." ucap pria berjubah hitam itu.
Si pria berjubah hitam mengeluarkan dua senapan besarnya dan mengarahkan tepat ke arah Fredric dan dan Rylan.
"...Hellsing mengatakan halo dari Vatikan," lanjut pria tadi.
"Ka ... ka ... kakak?" tanya Vera yang masih terkejut.
***
Motivasi?
Hanya satu, menuju puncak. Dan seperti yang terlihat, diriku hanya mampu membuat cerita fantasi dan aksi. Sementara genre yang lain hampir tidak bisa, kalau begitu masih belum bisa disebut penulis.
The WWG adalah wadah kepenulisan dengan tingkat kualitas dan kredibilitas yang tak perlu diragukan lagi. Itulah sejauh yang bisa aku amati dan akhirnya memutuskan untuk mendaftar masuk.
Mohon penilaian kelayakannya, terima kasih.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top