Adore and Crave Me, Dear Broken One!

Dunia ini menyebalkan, bukan? Ayolah, Jangan berbohong! Jika dirimu mampu mengeluh, mengertilah bahwa kita semua adalah korban; tepat saat dilahirkan di dunia ini. Menangislah, siapa yang menyakitimu, Sayang? Keluarga? Teman? Orang lain yang bahkan tidak dirimu kenal? Saat manusia menyalurkan rantai meyakitkan, mereka pada akhirnya akan menyalahkan tuhan atas sistem yang mereka ciptakan sendiri. Untuk apa hidup seperti ini, mungkin itulah yang kamu pikirkan sekarang, bukan? Dirimu memandang ke masa lalu, di mana sesosok monster yang melahirkanmu memakan seluruh harta peninggalan sang ayah dengan cara berjudi dan menyewa pelacur pria, sisi temperamen sang monster bergejolak setelah harta kian menipis dan dirimulah menjadi media samsak baginya. Bertahun-tahun, mungkin, dirimu berkeluh dalam hati; terbiasa menyimpan semuanya hingga memancarkan hawa suram. Kebanyakan orang pun tidak menerima dan berakhir mengataimu aneh. Dari sifat pendiam, murung, tidak terawat dan pucat.

'Hei, jika dirimu mau terus terlihat bersedih, jangan di hadapan kami! Orang banyak yang menderita, tapi tidak seperti kamu!'

Menyakitkan, bukan? Jika dipikir memakai otak, dirimu akan terus seperti ini, tidak ada yang membantu mengeluarkanmu dari lingkaran setan, tetapi selalu bersuara agar dirimu memakai topeng untuk menyenangkan diri dengan kepalsuan. Itulah dunia, mau bagaimana lagi? Saranku-- jikalau tidak ingin diinjak, lebih baik menginjak lebih dahulu selagi bisa. Ludahi mereka selagi mereka belum meludahimu.

Aku pun memutuskan menggumamkan baris lagu di depan cermin panjang, tersenyum tipis seiring meyisir helai rambut hitam dengan sela jemari secara menyamping. Kupandang dirimu masih terisak di atas kasur, duduk sembari memeluk kedua kaki yang menekuk. Ekspresi kesal terpasang saat memandang sepasang kaki dan sepasang tangan diperban demi menutup luka-luka dari sang monster. Wajahmu beralih memucat, mungkin membayangkan apa yang terjadi jika kembali ke rumah keesokan hari.

"Aku sudah menawarkanmu berkali-kali." Diriku membuka suara, tangan bergerak melonggarkan dasi ke arah bawah setelah melepas dua kancing atas kemeja. "Kabur dan tinggal bersamaku, sisanya akan kuurus. Bukankah mudah meninggalkan seseorang yang bukan siapa-siapa?"

Pandanganku beralih ke arah belakang dan dirimu mempertemukan tatapan. Kau hanya diam sejenak sebelum membuang pandangan ke arah jendela apartemen, tapi kurasa pemandangan malam ini tidak layak untuk dinikmati. Kenapa? Karena yang kuinginkan sekarang hanyalah sepasang mata dengan siratan memohon dan meminta tolong kepadaku, bukan kepada langit tanpa siapa-siapa yang menyaksikan. Memangnya siapa? tuhan? Bahkan bagiku dengan pemikiran iblis dan malaikat yang saling berperang, tidak mendapatkan keadilan di tempat seharusnya.

"Bagaimana bisa jika diriku diancam? Ib-- maksudku, dia memaksaku bersetubuh dengan pria sewaannya saat diriku berusia 19 tahun, dia sengaja merekamnya agar diriku terikat. Kau sendiri ... pernah bersetubuh dengan ibuku saat aku masih kecil, aku tidak ingin tinggal dengan om yang pernah berhubungan dengan dia."

"Ouch, tidakkah perlu mengingatkan lagi? Saat itu diriku membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Sekarang uang yang kukumpulkan bisa membuatku memiliki gelar untuk menjadi pengacara. Banggalah sedikit."

Diriku tentu saja tidak marah, apa yang kau katakan benar. Tidak mengherankan jika kejadian tersebut terus disinggung. Hanya saja, sungguh lucu mengapa dirimu terus memutuskan diri kabur kepadaku saat tubuh tak tahan lagi menerima pukulan serta goresan bertubi-tubi. Sampai titik menjengkelkan perlahan hilang, hati ini jatuh kepada dirimu yang rapuh dan tersakiti. Bukankah dirimu harus bertanggung jawab? Membuat pria sepertiku jatuh lebih dalam, tahun demi tahun, dirimu menerima tetapi juga menolakku secara bersamaan. Sungguh memancing rasa tidak sabar serta dahaga.

"Percayalah padaku." Kali ini diriku membalikkan badan, tidak jauh dari posisi depan kasur--- merentangan kedua tangan, melepas kekehan halus sebagai tanda bahwa aku sendiri ingin melepas masa lalu demi lembaran baru. "Selama beberapa tahun ini, pikiranku dipenuhi olehmu. Karenamu, kau tahu?"

"Perasaan seperti itu hanya sementara." Dirimu memeluk sepasang kaki lebih erat, menenggelamkan wajah di atasnya. Helai rambut panjang berjatuhan, mengekspos kulit bahu. "Dulu seorang pria pernah berjanji akan menyelamatkanku, tetapi ia sendiri menghilang tanpa kabar seakan tidak berani mengambil langkah."

Aku membunuh pria tersebut. Tidak menghilang, loh.

Kapan-kapan aku akan memberitahumu.

Untuk sekarang, biarkan dirimu berasumsi, agar kau tahu hanya akulah yang berani mengambil langkah tersebut.

Aku pun mendengus, melepas jas dari tubuh dengan kedua tangan--- melempar luaran tersebut ke pinggir kasur setelahnya. "Aku tidak suka dibandingkan dengan orang lain, karena kau tahu sendiri, aku bukan manusia sedari awal. Aku ini makhluk terbuang dari hasil hubungan malaikat dan iblis. Kau tahu penderitaanku, bukan?"

"Bercampur pikiran baik dan buruk, tetapi sebenarnya saling terpisah dan terbentur. Diriku harus terus menerus berusaha untuk memisahkan. Tindakan mana yang harus kulakukan? Sedangkan pikiran manusia begitu saya tercampur, mereka bisa melakukannya di bawah kesadaran mereka. Sedangkan aku? Hei, lakukan ini. Tidak, tidak, lakukan itu! Jangan menjadi jahat, tidak! Jadilah baik. SIALAN."

Nada tenang berganti emosional hingga membentak, tetapi hal tersebut tidak kumaksudkan kepadamu. Kedua tangan mengacak rambut sebagai tanda frustasi dan kau sendiri kembali menatapku dengan ekspresi sedikit terkejut, walaupun pandangan simpatikmu menjadi pemandangan dari pikiran waras terakhirku. Luluh kepadamu, sang sosok rapuh, aku pun memutuskan menduduki kasur--- tepat di hadapanmu, napas memberat dikarenakan lontaran tadi, semakin memberat saat pandangan dipertemukan semakin dekat. Kedua pipimu sedikit memerah, mungkin karena tak pernah menyaksikan ekspresi serius yang belum sama sekali kuperlihatkan.

"Cal---"

"Jangan sebut namaku, jika dirimu ingin melarikan diri lagi."

Salah satu tangan terangkat dan berakhir mengelus samping pipimu perlahan dengan jemari, kedua mata sedikit menyipit--- menemukan air mata mengering di sana. Bukankah melelahkan seharian menangis? Dirimu tidak pernah menangis saat kabur ke hadapanku. Tidak pernah melihatku berjalan dengan wanita lain, hanya bekerja dan pulang dengan tumpukan kertas berkas menyebalkan. Terakhir kali berhubungan intim saat seorang pelacur hendak memenuhi libidonya dalam kondisi mabuk di pinggir jalan, itupun sebelum bertemu denganmu yang sudah beranjak dewasa.

"Aku... tidak tahu, apa yang harus kulakukan." Lantas baru kali ini dirimu mengeluarkan air mata saat berada bersamaku, kedua pupil mata membesar--- diriku terkejut. "Diriku merasa jijik dengan tubuh ini, kotor. Aku merasa tidak pantas, tetapi dilain hal, aku juga takut disakiti lagi oleh orang berbeda. Bagaimana jika itu adalah dirimu? Bukankah lebih baik disakiti oleh orang yang sama daripada diselamatkan oleh seseorang yang akan berakhir menyakiti saat ia sudah berlagak peduli?"

Ah, dirimu menangis, tetapi kenapa hati ini diselimuti rasa bersemangat?

"Rasanya bersumpah tidak ada guna, benar?" Tubuh semakin menaikkan kasur, melepas seringai tipis seiring menempel dahi pada dahimu. Kau sendiri otomatis sedikit mendongak, beralih takut dengan senyuman, yang lagi-lagi, tidak pernah terlihat. "Aku tidak bisa berjanji akan terus menyenangkanmu. Mungkin menyakitkan, tetapi yang pasti, bukankah diriku dapat membahagiakanmu sejenak? Daripada sang monster yang terus memukuli, bahkan tidak pernah memberikan makanan pantas kepadamu."

Jemari beralih bergerak ke bawah, sedikit menjepit bawah dagu--- membuatmu semakin mendongak saat tubuhku perlahan berada di atasmu. "Tubuhmu kotor sama halnya denganku. Aku tidak akan mempermasalahkannya. Jijik dengan tubuhmu sendiri dan membenci fakta bahwa tubuhku ini pernah bersetubuh dengan orang itu?"

Aku melepas tawa kecil.

"Keresahan menakjubkan. Tapi jika kali ini dirimu tidak ingin melarikan diri, aku akan membuatmu merasa suci kembali. Menenangkan... bukankah itu kehidupan yang kau inginkan?"

Tubuhmu terlihat perlahan merasa rileks, kedua mata menyipit dengan tetesan air mata yang masih mengalir. Mungkin dirimu tidak tahu, bahwa hawa iblis dan malaikat ini sudah bergejolak hebat. Apakah kau terhipnotis? Merasa nyaman dengan hawa ini; entah baik atau buruk, atau dirimu pasrah? Terhasut? Menerimaku? Pada akhirnya dirimu hanya perlu mengucapkan satu kalimat; jadikan dirimu milikku. Itu saja.

"Apakah dirimu akan melarikan diri?"

Dirimu menggelengkan kepala, berakhir memejamkan mata dan memenuhi pandanganmu dengan kegelapan.

"Tolong selamatkan aku. Aku mencintaimu, Callous, aku ingin melepas seluruh masa lalu. Aku sudah tidak kuat--- rasanya sebentar lagi, aku bisa mati jika terjebak di sana."

Hawa hitam dan putih tak kasat mata semakin meluas hebat, senyuman seringai pun terlepas bebas. Jantung berdebar kencang diikuti napas agak terengah. Bukankah menakjubkan? Saat menanti bertahun-tahun, memikirkan hal baik agar tidak membuatmu pergi selamanya, pada akhirnya tubuh ini bisa melepas semua. Baik atau buruk, melampiaskan kepadamu tanpa membangun ketakutan. Kau akan selalu menerimaku, bukan?

"Percayalah kepadaku, kau bisa yakin. Aku bisa membuat hatimu berdamai dengan kekerasan, membuatmu menyadiri kecantikan dibalik tubuh yang kau anggap kotor, dan iblis di masa lalu itu--- aku akan membasminya."

Kedua tanganmu bergerak, melingkar di sekitar leherku. Dengan kedua mata sedikit terbuka, dirimu mengangguk pelan setelah mendengar perkataan tersebut. Tampaknya kau sendiri tidak lagi terkejut dengan ekspresi apapun yang kuoles pada wajah. Berakhir semakin memajukan serta sedikit memiringkan kepala, diriku mendaratkan kecupan pada bibirmu; dirimu sendiri menerima, membuka mulut seakan memberikan akses. Pelukan pada sekitar leher mengerat, membuatku mengecup semakin dalam--- mengeluarkan lidah untuk menyambut milikmu dan sedikit mengisapnya.

"H-Hn." Dirimu sedikit mengerang, memejamkan mata begitu erat. Sedangkan diri menikmati pemandangan tepat di depanku. Tangan yang masih bebas bergerak bagaikan ular--- mendarat di belakang punggung dan mendorong tubuhmu agar merosot hingga berbaring di atas kasur; tanpa melepas ciuman, tangan lain beralih mengusap puncak kepalamu dengan lembut.

"Callous---" Dirimu melepas ciuman secara paksa, melepas napas panjang demi menghirup oksigen. Mulutku sedikit terbuka, kembali menyeringai seiring lidah merasakan citarasamu yang masih membekas di bawah bibir.

"Aku tidak bisa berpikir apa-apa." Napasmu terengah, menyampingkan wajah sembari salah satu punggung tangan menutup setengah wajah bawah. "Ini berbeda... kenapa diriku tidak mengalami perasaan ini saat melakukannya pertama kali?"

Dirimu bergumam sangat pelan, karena aku tahu kau tidak mau menyinggung masa lalu lagi kepadaku. Tetapi dengan indera pendengaran yang tajam, diriku masih menangkapnya dengan cukup jelas. Tentu saja, aku tidak akan marah. Berhubungan intim secara paksa tentu saja berbeda jika dilakukan bersama dengan orang yang disayang, bukan?

"Tatap aku, Sayang. Jangan takut." Diriku berpura bodoh dan tidak mendengarkan, menggeser bawah dagumu agar mata dapat saling memandang. Kau sendiri langsung memberikan tatapan, mengabulkan keinginanku tanpa melawan.

"Pintar."

Kulontarkan satu kata dengan nada pujian dan entah kenapa membuat kedua pupilmu berbinar, apakah hidupmu sefatal itu? Bahkan sampai tidak menerima kata sederhana yang menyenangkan. Apakah sulit bagi seorang ibu mengatakannya? Huh, itulah manusia. Bagi korban sepertimu yang tidak mampu dewasa dengan keadaan adil, kau ini dibesarkan selayaknya benda berbicara. Menyedihkan, tetapi aku memang mencintaimu karena hal ini. Apakah aku harus bersyukur?

Tanganku bergerak, tetapi kali ini meraih salah satu tanganmu dan mengangkatnya. Beralih menggunakan dua tangan untuk mulai melepas perban yang masih terlilit kuat.

"Jangan---" Dirimu menolak, hendak menarik kembali tangan tersebut. Tetapi aku sendiri menahan tanpa kesusahan, menaikkan salah satu alis sembari menaruh tatapan sejenak. Kamu menggeleng kepala kencang dengan tatapan memohon. "Terlalu banyak luka, kulitku tidak pantas diperlihatkan."

"Tidak, tidak. Perlihatkan kepadaku, aku mencintaimu yang sudah rapuh, maka biarkan diriku mencoba menghapus seluruh bekas penderitaan."

Dirimu membelalakan sepasang mata, tidak mampu melawan karena mengetahui perbedaan kekuatan. Tetapi, sekali lagi, diriku tidak pernah melarangmu untuk melarikan diri, tidak ada kata terlambat. Aku pun dengan cepat melepas lilitan perban pada tangan kananmu, mengekspos seluruh luka; puluhan lebam kebiruan dan goresan bekas serta baru. Tetapi terdapat salah satu goresan yang membekukan tatapan, bertempat tepat pada nadi tangan.

Kau sadar diriku sedang menatap luka tersebut.

"Aku---"

Ucapanmu terhenti saat ekspresi datar milikku berganti menjadi seringai halus, kedua mataku menyipit seiring pipi sedikit memerah karena semakin merasakan semangat menggebu. Kudekatkan wajah pada luka tersebut, menjilati luka secara perlahan setelah menjulurkan lidah. Kudengar sedikit suara teriakan terkejut dari mulutmu, membuat tawaanku terlepas walaupun tertahan di leher.

"Cantik sekali." Diriku bergumam, beralih mengecup seluruh bekas lebam kebiruan secara bergantian. "Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku."

Dirimu terlihat sedikit membuka mulut, tetapi berakhir mengurungkan diri untuk melontarkan kata dengan cara kembali menutup mulut. Bahkan saat diri ini membuka seluruh perban tangan dan kaki, kau kembali mendesah singkat saat napasku mulai menyapu kulit paha; mengecup dan menjilat luka membekas dengan sedikit agresif; membuatmu secara tak sadar melebarkan kedua kaki dari arah berlawanan. Ya, aku adalah seorang pria dengan hasrat, sampai mana titik sabarku akan terhapus?

"Callous, Callous." Mulut yang menyebutkan namaku dengan mata masih terpejam, tetapi sungguh mengejutkan saat tangan milikmu itu secara nakal mulai bergerak ke bawah--- jemari dengan berani mengusap klitoris yang masih terlindungi oleh celana dalam. Saat kusadari, cairan mulai membasahi daerah kemaluanmu.

Sungguh, kau yang terangsang adalah cara manjur untuk menghapus kesabaranku.

"Fuck." Tangan mengacak kasar depan rambut, menggertakkan gigi dengan ekspresi frustasi. Bukan karena marah, tetapi kesal seberapa besar nafsu ini meningkat. Mendadak merasa gerah pun membuatku dengan cepat melepas seluruh kancing kemeja dan berakhir melemparnya ke bawah. Satu tangan lain menghentikan tindakan terangsangmu, tak akan membiarkan dirimu berusaha memuaskan diri sendiri.

Nafas terengah, rasa semangat mulai merasuki kembali. Kedua mata menatapmu dari atas--- menyaksikan tubuh berkeringat dengan gerakan risih akibat libido yang meningkat.

"Jika dirimu bertindak seperti ini, aku juga tidak akan menahan diri." Diriku membiarkan baju terusan milikmu tetap menempel pada tubuh, jemari mulai mengait pada kedua sisi celana dalam--- melepas dari tempatnya dengan cepat.

"A-Ah! " Desahan kuat akhirnya terlepas saat jemari milikku mulai memainkan daerah klitoris; mengusap secara perlahan dan sedikit menekan. Dirimu mendadak mengangkat sedikit tubuh, memeluk leherku sembari mendaratkan ciuman untuk kedua kalinya. Melepaskan rasa nikmat dari kecupan agresif, diriku sendiri sangat amat menikmati saat kau sedikit mengambil alih permainan. Jemariku mulai mengambil aksi lebih, memasukkan jari tengah yang sudah dibanjiri cairanmu ke dalam lubang.

Kau sendiri semakin mendesah--- arah mata perlahan menuju ke atas sebagai tanda kenikmatan. Satu jari lain pun menyusul masuk, memberikan gerakan in and out; dari perlahan sampai bertahap menjadi lebih cepat.

"Ah, ah, ah!" Dirimu melepas ciuman, berfokus untuk mendesah setelah gerakan jemariku kian cepat. Pelukan semakin erat sebagai tanda bahwa dirimu akan mencapai klimaks.

"Ak--- agh, AH!" Aku sendiri sengaja mempercepat gerak jemari untuk membuat perkataanmu terendam oleh desahan dahsyat. Kaki dan bahumu mendadak saja menegang sebagai tanda proses mencapai klimaks. Jemari beralih bergerak pelan, membiarkan tubuhmu beralih proses menjadi rileks setelah mencapai klimaks. Jemari pun keluar dari daerah kemaluanmu.

"Such a good girl, aren't you?"

Bibir mengecup dahimu sembari sepasang tangan membuka resleting hingga melepas bawah celana, hanya menyisakan celana boxer. Tanganku pun membantu tubuhmu yang mulai melemas untuk berganti posisi--- aku sendiri beralih duduk di sampingmu dan membantu tubuh kecil tersebut untuk duduk di atas pangkuanku. Wajah bergerak, bibir mengecup samping lehermu hingga meninggalkan bekas cupang di satu titik saat sedikit menggigitnya. Kau sendiri mengarahkan salah satu tangan, sedikit menjambak samping helai rambutku dengan erangan halus dan panjang.

"Penasaran dengan apa yang berada di bawah sana?" Tangan menurunkan celana boxer, melepaskan penis yang sudah berdiri tegak sedari tadi. Dirimu terdengar menelan ludah--- Ah, manis sekali, sudah kuduga kedua mata tersebut akan menatapnya.

"Kenapa besar?" Kau bergumam, tetapi jemarimu justru mencoba menyentuh--- mengelusnya pelan. Membuatku mengerang singkat sembari sedikit memejamkan mata. Tetapi dengusan puas kukeluarkan, kedua pipi kembali sedikit memerah.

"Kapan-kapan aku akan memintamu untuk menghisapnya, tetapi untuk sekarang---" Tanganku mengarahkan penis, memosisikan hingga menggesek kulit batang dengan klitorismu. Kau sendiri mendesah, jambakan terasa semakin kencang. Menjilat atas bibir, tangan menganggur pun mulai menyelip masuk untuk meremas salah satu payudara.

"Ingin milikku masuk ke dalam?" Mengucapkan dengan nada menggoda, ujung telunjuk mengusap puting sambil tetap meremas. Kau mengangguk polos, tubuhmu kembali risih dan semakin berkeringat seakan tidak sabaran. Atau libido yang justru semakin meningkat? Dengan begini, bukankah masa lalu bukan apa-apanya lagi?

Hubungan intim yang kita lakukan, menghapus masa lalu milikmu dan milikku.

"Memohonlah." Diriku berbisik tepat di samping telingamu, "Aku ingin mendengarnya lagi."

"A-Aku mohon, Callous. Aku menginginkanmu." Napasmu terengah-engah, pinggul bergerak risih seakan memberi isyarat untuk cepat dimasukkan selayak sang omega. "Aku menginginkannya, please, aku tidak tahan lagi."

Diriku melepas tawa pelan, senyuman seringai memang sudah dipenuhi rasa puas. Tindakan ini bisa dikatakan tindakan iblis, bukan? Tetapi demi menyelamatkanmu dari masa lalu yang sangat amat membekas, aku akan melakukan apapun. Walaupun surga berakhir ikut campur dan menentang, aku rela melawan hingga dijatuhkan ke dalam neraka. Karena penderitaanku selama ini, surga sama sekali tidak pernah membantu maupun mengarahkanku. Justru hal-hal kotor lah yang membantuku untuk bertahan hidup. Aku dilupakan, tetapi kutahu dirimu tidak akan melupakanku.

"Bagus." Diriku kembali memujimu, mulai memberikan apa yang kau inginkan. Mengarahkan kepunyaanku menuju lubang milikmu, dan kau sendiri dengan sukarela semakin memasukkannya ke dalam. Membuatku merasakan kenikmatan luar biasa; mencampurkan erangan berat dan desahan menjadi melodi tidak tertandingi yang memenuhi ruang kamar.

"Bergeraklah sesuka hatimu." Diriku kembali berbisik, mempertahankan tingkat libido dengan mengusap klitorismu menggunakan jemari selagi dirimu sibuk menggerakkan pinggul; memasuk dan mengeluarkan, berulang, terus menerus.

"Ugh." Aku sendiri melepas erangan berat tanpa henti, penis menegang yang bertemu dengan dinding basabasa, sempit dan hangat--- digesek berulang membuat otakku sendiri juga akan kehilangan akal. Kau bergerak dengan fase cepat, desahan semakin berisik dengan keringat deras dari tubuh dua lawan jenis menandakan bahwa kita melalui malam panjang.

"A-Aku akan klimaks."

Kau memberitahu dengan terengah dan aku sendiri juga akan mencapai klimaks. Memutuskan mengusap kedua sisi pinggulmu, mulut mulai melontarkan kata-kata manis di samping indera pendengaranmu. Membuat seluruh tubuhmu memerah hingga gerak pinggul yang semakin dipercepat cukup membuatku tidak menduga-duganya. Aku pun hampir mencapai klimaks, menahan erangan panjang pada leher. Dirimu sendiri melepas desahan dan berakhir sedikit berteriak lepas, dinding terasa semakin menyempit pada penis--- membuatku ikut mencapai titik klimaks setelahnya dengan mudah.

Kecupan singkat pun kudaratkan pada samping pipimu.

Saat tubuhmu mulai menenang, diriku melepas koneksi--- mengingatkanku akan satu hal saat cairan putih masih sedikit keluar dari ujung kepala. Ya, lupa memakai pengaman, tetapi persetan dengan itu; aku yakin para sialan tidak akan membiarkanmu semudah itu hamil. Aku pun melepas hembusan napas panjang, memelukmu erat dari belakang. Kau sendiri terlihat akan tepar dan berangkat menuju dunia mimpi sebentar lagi. Matamu terpejam dengan ekspresi kelelahan, tetapi... Tenang.

"Tenang saja, aku akan membereskan semua urusanmu besok." Diriku berbisik, membawa tubuhmu untuk berbaring--- sudah kuduga, kau sudah terlelap begitu dalam saat kedua tangan menahan tubuhmu. Senyumam terulas pada kedua sudut bibir, akhirnya dirimu tidak akan pernah kembali ke tempat yang sama. Kedua mata pun memandang wajah terlelapmu sembari menyelimuti agar tidak kedinginan.

Ya, kalau mau cepat selesai, aku hanya tinggal membunuh dan mencari kambing hitam---

"Ugh, ya, sebelum itu, aku harus membersihkanmu."

--- namun, apa yang menyebalkan dari berhubungan intim adalah membereskan bekas dan kekacauannya. Menurutku, membunuh justru lebih tidak merepotkan.

End.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top