White Camellia
Baginya, Akashi adalah poinsettia. Sebuah bunga merah simbol bulan December, yang selalu punya arti penanda perayaan Desember yang penuh kegembiraan.
Namun bagi Akashi, dirinya bukan poinsettia.
Sebab, bulan Desember menjadi sesuatu hal yang ia benci karna harus menunggu kembalinya seseorang bersama bunga camelia putih yang tak pernah terhitung jumlahnya.
AoiKitahara present
A M B I V A L I D
The Basketball Which Kuroko Plays belongs to Fujimaki Tadatoshi
Romance | Angst | Hurt/Comfort | Drama
Warn: Typo(s), AU, OOC, alur yang bergerak lambat, flashback tanpa peringatan.
Sangat disarankan saat membaca fanfict ini sambil mendengarkan lagu yang saya sisipkan dibeberapa paragraf
Nijimura ShuuzouxAkashi Seijuurou
Happy reading!
.
.
Kapan?
Entah sejak kapan dirinya begitu terbiasa menatap kosong samping kiri tempat tidurnya ketika bangun di pagi hari. Namun ia tak ingin terbiasa, ia terlalu takut untuk terbiasa atas kesendirian dan rasa kesepiannya ini.
Berapa lama waktu sudah berlalu?
Bahkan dirinya yang sekarang sudah menyerah menghitung waktu yang terus terlewati.
Membiarkan hari-hari sepinya menjadi sesuatu hal yang tak berarti apapun tanpa sesosok pelipur lara.
Kertas putih tersebut terlihat penuh akan garis tinta hitam, membentuk satu kesatuan huruf kanji, bercerita dengan hampa tanpa suara, menyampaikan perasaan terdalam dari seseorang seperi Akashi, dimana perasaan itu nampaknya tak pernah terlihat dan hanya selalu disimpan dalam batin.
Mengulas senyuman manis namun tersirat kerinduan di paras rupawannya saat menatap hasil tulisan isi perasaannya dalam secarik kertas putih dengan tanda tangan Akashi diakhir kalimat sebagai salam kerinduan.
Berapa kali ia melakukan hal seperti ini? Dua kali? Sepuluh? Ratusan?
Semakin ia menghitung jumlahnya, semakin sesak yang ia dapatkan.
Puluhan gumpalan kertas yang memenuhi kamarnya tak diindahkan sama sekali, mencoba tak peduli sekalipun kamarnya sudah terlihat seperti kapal pecah.
Yang ia lakukan hanyalah melipat kertas yang berisi perasaannya itu membentuk sebuah origami pesawat kertas, diantaranya ia menyelipkan setangkai bunga camelia putih di atas pesawat kertas tersebut, berjalan keluar rumah dan menerbangkan kedua benda tersebut.
"Shuuzou, aku merindukanmu." Akashi bergumam kecil, seulas senyuman yang sedari tadi hadir kini perlahan memudar, berganti menjadi genangan air mata di pelupuknya.
Karena kerinduannya, maka Akashi selalu 'mengirimkan' bunga camelia putih. Bunga yang menjadi simbol sebuah penantian.
*.-A M B I V A L I D-.*
Di malam hari Akashi terbangun dengan sedikit terbatuk, tenggorokannya terasa kering mencekat, sekilas terlihat dirinya seperti baru saja bermimpi buruk. Pemuda berambut hitam, sekelam kegelapan pun terbangun dan mengusap punggung kekasihnya sambil menyodorkan segelas air putih yang ia ambil dari nakas.
"Ada apa, Akashi?" Tanya pemuda di sampingnya.
Ia hanya terdiam beberapa saat sebelum benar-benar menghela napas perlahan. "Tidak apa Shuuzou, aku hanya terbangun karna merasa haus, maaf sudah membangunkanmu."
Nijimura mengerti sebelum akhirnya ia tersenyum tipis dan memeluk tubuh yang lebih kecil darinya itu. "Kalau begitu kembalilah tidur, besok kau harus kembali bekerja kan?"
Hanya gumaman kecil sebagai balasannya, tanpa mengatakan apapun Akashi kembali berbaring dan masuk ke alam mimpinya.
Di malam yang dingin seperti itu terasa hangat, berbagi kehangatan bersama di malam penghujung Desember seperti ini memang memberikan efek positif bagi kebanyakan orang, meskipun bagi Akashi hal ini adalah sesuatu yang biasa terjadi sehingga tak ada yang spesial darinya.
*.-A M B I V A L I D-.*
"Akashi- kun?"
Tersentak pelan saat menyadari dirinya tengah melamun mengingat sekilas memori manis yang ia anggap 'biasa' tersebut. Ia tersenyum kecil, sekedar menarik sudut bibirnya membentuk kurva yang melengkung ke atas meski terlihat samar.
"Ya, Satsuki?" Jawab Akashi sambil memandang wanita berambut peach tersebut.
"Kau baik-baik saja? Sepertinya kau sedang lelah?" Tanya Momoi dengan cemas, bagaimana pun juga Akashi adalah temannya dari dirinya menginjak jenjang SMP.
Tangan kekarnya mengusap helaian delima tersebut secara perlahan, mencoba merapikan beberapa bagian rambutnya yang terlihat berantakan. "Tidak apa, aku hanya kepikiran sesuatu, Kuroko belum menjemputmu?"
Kuroko Satsuki tersebut menggeleng pelan. "Tetsu- kun masih bekerja, harusnya ia sudah selesai dan menjemputku ke sini."
Figur yang dibicarakan pun masuk setelah mengetuk pintu beberapa kali, menjemput sang istri untuk pulang.
"Akashi- kun, maaf merepotkanmu, apa Satsuki- san membuatmu kerepotan dengan konsultasinya hari ini?" Tanya Kuroko.
"Seperti biasa, dia banyak membicarakan hal-hal yang ia lalui, lagipula sudah tugasku sebagai seorang psikolog untuk mendengarkan keluhan pasiennya," ucap Akashi sambil sesekali tertawa kecil.
Kuroko mengulas senyum tipis. "Benar."
"Kalau begitu kami berdua pamit, terima kasih Akashi- kun." Satsuki melambaikan tangannya dan pamit bersamaan dengan Kuroko yang menghilang dibalik pintu kayu tersebut.
Melirik arloji yang melingkar di tangan kanannya. Waktu praktiknya telah usai, tangannya tergerak melepaskan jas putih miliknya, lalu berjalan keluar sambil menenteng tas dan jas abu-abunya di lengan kiri.
Akashi berjalan pelan menyusuri jalanan Kyoto, sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri hingga tanpa sadar dirinya hampir saja menjadi korban kecelakaan jikalau seseorang tidak menarik pundaknya. Manik ruby itu melebar sambil menoleh menatap tangan yang berada di pundaknya.
"Kagami Taiga?" Gumamnya pelan.
"Kau mau mati, Akashi?" Bentak sang pemuda yang disebut sebagai Kagami Taiga tersebut.
Meringis canggung kala mendengar bentakan dari Kagami, tak ada niat sedikit pun untuk berbalik menghardiknya, karna bagaimanapun Akashi masih tahu terima kasih, lagipula ia juga salah karna melamun saat berjalan.
"Maaf sudah merepotkanmu Kagami, lain kali aku akan lebih berhati-hati," ujar Akashi
Kagami memandangnya sebentar, garis keras diwajahnya luntur tergantikan dengan tatapan mengiba dan Akashi sudah bisa menebak apa yang akan diutarakan oleh Kagami.
"Kalau begitu aku duluan, hari ini aku terlalu lelah dan ingin istirahat, sampai jumpa," pamit Akashi membuat Kagami yang belum sempat mengucapkan sepatah kata harus menelan bulat-bulat ucapan yang tercekal di tenggorokan.
Perlahan punggung tegap tersebut bergerak, siapapun yang melihat punggung tersebut akan selalu mengucapkan hal yang sama, sebuah ucapan selamat untuk prestasinya selama ini, namun hanya sedikit orang yang mengerti sebuah penantian serta kepercayaan yang selalu dipikulnya. Kagami mengerti, gerak gerik yang dipelihatkan oleh Akashi menunjukan bahwa tak ada lagi yang harus ia tanyakan. Sebab semuanya sudah jelas.
Akashi takkan menyerah begitu saja pada kenyataan.
Menghadapi kenyataan pahit yang membelenggunya selama ini bukanlah perkara mudah baginya, terlebih Akashi adalah tipikal orang yang tertutup dan lebih memilih memendamnya sendirian tanpa sepengetahuan siapapun.
Baginya menanggung luka itu sendirian merupakan kewajibannya sebagai seseorang yang mewarisi darah keturunan konglomerat, penanda bahwa ia bukanlah tipe lemah yang bisa dikalahkan. Tapi sampai kapan? Sampai kapan dirinya sanggup untuk terus menahannya sendirian?
*.-A M B I V A L I D-.*
Terbangun dengan terkejut seperti sebelumnya. Pikirannya menjadi kalut, beberapa serpihan memori bunga tidurnya semalam pun masih kabur seolah tertutup kabut. Memandang seluruh penjuru kamar, mencari keberadaan seseorang yang dikasihinya.
Sayup sayup terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi yang dapat ia tebak kekasihnya sedang membersihkan diri di dalam sana. Akashi memilih turun dan membasuh wajahnya di wastafel lantai bawah. Kakinya melangkah menuju kulkas, memeriksa persediaan bahan makanan apa yang tersisa untuk sarapan pagi ini.
Nijimura terlihat menuruni anak tangga sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk, semerbak aroma harum tercipta dari masakan yang tengah dibuat oleh Akashi, dapat dipastikan Nijimura menebaknya dengan sangat mudah.
"Sup tofu seperti biasa?" Tanyanya dari belakang tubuh Akashi, kepalanya menyembul dari sisi kiri Akashi, mencoba memperhatikan masakan yang tengah dibuat oleh kekasihnya tersebut.
"Ya, kenapa? Tidak suka?" Akashi berbalik bertanya namun tak mengalihkan atensinya dari masakan.
"Bukan begitu, ayolah aku selalu menyukai masakan apapun yang kau buat," ucap Nijimura yang niat hati bukan untuk menggombal di pagi hari seperti ini.
"Berhentilah menggodaku Shuuzou, lebih baik kau membantuku menyiapkan nasi dan setelahnya duduklah manis di kursi itu," ujar Akashi dengan intonasi nada yang datar.
Menghela napas menyerah, mencoba mengalah agar nantinya takkan terjadi pertengkaran seperti minggu lalu yang membuatnya kalang kabut mencari Akashi yang kabur dari rumah. Kekanakan? Sepertinya.
"Hei Akashi."
"Hm." Sang empunya hanya menjawab dengan gumaman sebagai balasan.
"Bisakah kau berhenti bersikap dingin seperti itu? Menyakitkan tahu saat kekasihmu sendiri menjadi dingin saat bicara denganmu," ujar Nijimura sebal sambil mengerucutkan bibirnya.
Tangannya berhenti mengaduk sup dan refleks menoleh menatap Nijimura dengan pandangan datar. "Kalau begitu kenapa kau tidak mencari kekasih lain saja jika kau tersakiti dengan sikapku?"
*.-A M B I V A L I D-.*
Mengingat ucapannya saat itu yang pasti menyakiti Nijimura, diam-diam Akashi mengutuk mulutnya, berulang kali hendak merapalkan sepatah kata maaf pun tak pernah terjadi, ia yang dulunya begitu tsundere atau terlalu menjunjung tinggi harga dirinya bahkan di depan kekasihnya sendiri?
"Dan sampai sekarang aku tidak pernah ingin kau berpaling dariku Shuuzou," gumaman kecil terlontar dan menghilang bersamaan dengan uap panas yang menguar dari kedua kutub bibir tipis Akashi.
Kenapa saat itu ia tidak pernah bisa jujur dengan perasaannya? Menunjukkan bagaimana ia juga begitu mencintai Nijimura?
Dan lihat apa yang terjadi sekarang? Ia hanya dapat melukiskannya melalui sederetan kalimat dan menerbangkannya atau sekedar menganyutkannya di laut tanpa arah yang ia sadari secara logis pesan itu takkan pernah berlabuh pada seseorang yang dituju.
Ribuan origami pesawat yang selalu ia terbangkan dengan bantuan angin serta ditemani sekuntum bunga camelia putih itu tak pernah menyentuh langit sekalipun, mengudara sejenak sebelum akhirnya kembali ke Bumi.
Dan ribuan origami perahu kertas yang selalu menjadi saksi bisu sebagai pengantar pesan selain pesawat kertas tersebut juga takkan pernah sampai pada dirinya, menerjang ombang ganas lalu kemudian tenggelam di dasar laut.
Namun ia tidak peduli, ia hanya percaya pesan itu akan tersampaikan, mengingat besarnya perasaan Akashi pada Nijimura yang belum pernah sekalipun ia tunjukkan. Ia mendedikasikan hidupnya yang ditujukan untuk Nijimura.
Helaian magenta tersebut mulai tertimbun salju sedikit demi sedikit, sepasang manik ruby-nya menatap langit sejenak kala mendapati setitik dua titik salju berjatuhan sebelum akhirnya fokus atensinya beralih pada sebuah perahu kertas dikedua tangannya dengan sebuah bunga akasia kuning.
Baginya cintanya selalu menjadi rahasia yang disimpan dalam hati namun dengan kebersamaan bunga ini ia berharap perasaannya tersampaikan pada Nijimura, karna akasia selalu mengartikan sebuah cinta rahasia.
Pandangan netra batu ruby tersebut menjauh tanpa akhir dari bibir pantai, meletakkan dengan perlahan perahu kertas yang membawa harapannya tersebut di atas air laut, kemudian membiarkan ombak membawanya pergi menjelajah lautan yang tak berujung tersebut.
"Kau selalu mengatakan bahwa aku adalah sebuah bunga poinsettia, lambang dari keceriaan dan keriangan, selalu menjadi penanda perayaan Desember yang penuh kegembiraan." Garis bibirnya melengkung ke atas sedikit, senyum paling manis menurutnya dan senyum paling menyedihkan menurut orang lain.
"Tapi bulan Desember seperti ini, tidak pernah membawa kegembiraan bagiku."
Keinginan kecilnya hanyalah dimana ia bisa meminta maaf dan membalas semua yang telah Nijimura lakukan untuknya.
Perahu kertasnya yang kini mengarungi lautan sedikit banyaknya ia berharap untuk membawa luka hatinya ini.
*.-A M B I V A L I D-.*
Bel pintu utama terdengar memekakkan telinga di minggu paginya yang damai. Akashi mendesah kesal dan bangkit lalu berjalan dengan malas menuju ruang tamu untuk menyambutnya.
Maniknya melebar sesaat sebelum menyadari bahwa kedua teman lamanya itu kembali berkunjung ke kediamannya.
"Satsuki, Kuroko masuklah." Akashi memberi ruang dan mempersilakan masuk kedua pasutri tersebut.
Kuroko dan Satsuki duduk dengan tenang di sofa ruang tamu Akashi, sedangkan sang empunya rumah tengah menyiapkan minuman hangat untuk menyambut mereka.
"Tidak usah Akashi-kun, nanti hanya merepotkanmu saja," tolak Kuroko dengan halus.
"Tidak apa Kuroko, kalian sudah kemari jauh-jauh dari Tokyo, dan lagi ini musim Desember, ada baiknya aku menyeduh coklat hangat untuk kalian," ujar Akashi secara ramah.
Tak lama kemudian ia kembali dengan tiga buah gelas coklat hangat di atas nampan dan lalu meletakkannya di atas meja. Akashi menatap bayi perempuan yang berumur sekitar 7 bulan dalam gendongan Satsuki.
"Siapa namanya?" Tangan Akashi tergerak menggenggam pelan tangan bayi tersebut.
"Kuroko Sayu." Satsuki menatap bayinya sambil memgelus wajah mungil tersebut dengan ibu jarinya.
"Sayu, kah? Nama yang indah," gumam Akashi disertai senyuman hangat, membangkitkan perasaan rindu yang menggebu-gebu pada sang pujaan hati.
*.-A M B I V A L I D-.*
Akashi gusar. Beberapa kali ia terlihat nampak tak tenang dalam tidurnya, beberapa kali pula kelopak matanya membuka dan menutup dengan tempo yang tak teratur.
Menyerah, akhirnya ia lebih memilih menggapai remot tv dan menonton acara apapun untuk sekedar membunuh kebosanan. Sekilas terlihat ia tengah menatap televisi, namun tidak dengan pikirannya yang melayang jauh entah berantah.
Benar-benar memuakkan.
Ia malah menjadi begitu merindukan kehadiran Nijimura di sampingnya. Ia tak bisa menangis, atau mungkin ia lupa bagaimana caranya menangis, dan semua tangisannya nampak menumpuk hingga membentuk bukit di dalam dirinya.
Mengusap wajahnya kasar sambil kembali berbaring setelah mematikan saluran televisi tersebut, kemudian mulai menghitung domba dengan harapan dapat terlelap demi bertemu dengan sang kekasih meskipun hanya melalui bunga tidur.
Mendapati dirinya terbangun-masih di tempat yang sama sebelum ia tidur- sambil mengedarkan pandangan, helaan napas kecewa keluar begitu saja. Niat hati ingin beranjak dari tempat tidurnya pun menguap seketika kala mendapati sesosok figur yang tengah berbaring di sisi kirinya.
Helaian gelap itu, wajah maskulin yang begitu dirindukannya, lengan kekar namun genggaman tangannya sangat hangat itu tak pernah sekalipun terlupakan, meski waktu sudah berjalan cukup lama dari hari itu.
Napasnya tercekat, pita suaranya tiba-tiba saja menghilang. Ribuan pertanyaan yang hendak ia lontarkan pun seolah tertahan di tenggorokan, bahkan untuk menyebut namanya saja Akashi begitu kaku dan kelu.
"S-Shuuzou?" Panggilnya pelan seraya menyentuh tubuh Nijimura, berharap yang ada dihadapannya ialah Nijimura yang selalu ia tunggu kepulangannya.
"Enggh... Akashi? Ada apa?" Nijimura membuka matanya, manik abu-abu yang Akashi rindukan kini ada dihadapannya.
Sepasang manik ruby tersebut melebar beberapa saat sebelum akhirnya memburam dengan genangan air mata yang seolah dapat tumpah kapanpun.
Tubuhnya seolah bergerak dengan sendirinya dan langsung mendekap Nijimura dengan erat, sangat erat sampai-sampai ia tak rela melepasnya meskipun hanya untuk beberapa saat.
"H-hei, apa yang terjadi? Akashi ada apa denganmu?" Tanya Nijimura panik.
Akashi menggeleng pelan dalam dada Nijimura sambil berbicara dengan suara yang amat parau. "Aku merindukanmu Shuuzou, aku akan selalu mengatakan dan menunjukan betapa aku mencintaimu, jadi... kumohon... tetaplah bersamaku."
Mengerti dengan maksud Akashi, Nijimura tersenyum tipis dan meraih pundak Akashi. "Ya aku tahu. Tapi maaf..." Ucapan Nijimura menggantung membuat Akashi berhenti bernapas sejenak.
"Kita tidak akan bersama lagi, maka dari itu," tangan kanannya menggenggam setangkai bunga manjushage.
Yang memiliki arti yang sangat dalam.
Yakni.
"-bangunlah, Akashi."
Tidak akan bertemu kembali.
Iris ruby tersebut terbuka lebar, mendapati dirinya masih terbaring di atas kasur dengan posisi menghadap ke langit-langit rumahnya. Langsung menoleh cepat ke sisi kiri kasurnya.
Dan tak mendapati siapapun di sana.
Rapi dan tak tersentuh sama sekali.
Akashi memegang dada kirinya yang sesak bukan kepalang. Menutup wajahnya dengan telapak tangan kanannya, poninya menutupi matanya, dan hanya helaan napas kecewa yang terdengar.
*.-A M B I V A L I D-.*
Halaman buku dibalik, rentetan kata sebuah buku berbasis bahasa Inggris tersebut masih terus ditelusuri, bukan buku tentang ilmu psikologi atau semacamnya, hanya buku novel berisikan kisah klasik.
Tangan kirinya masih setia menumpu kepala, sepatu mahalnya mengetuk lantai dengan bosan, seolah menciptakan ritme dan sebuah musik guna meramaikan suasana.
Tipikal Akashi saat menghabiskan waktu untuk menanti pasien yang membutuhkan konsultasi maupun terapi darinya.
Pintu terbuka dengan sengaja, menampakkan sesosok gadis berambut biru langit dengan wanita berambut peach tersebut.
"Konnichiwa, Akashi- sensei," sapa sang gadis tersebut.
Akashi tersenyum menyambutnya. "Konnichiwa, Sayu."
"Maaf kami tiba-tiba datang kemari, Sayu terlihat sangat murung akhir-akhir ini dan tidak ingin menceritakan apapun yang ia rasakan," ujar Satsuki selaku ibu dari Sayu.
"Tidak apa, silakan duduk." Akashi bangkit dan mempersilakan keduanya untuk duduk.
"Nah sekarang, bisa kau ceritakan apa yang membuatmu resah akhir-akhir ini, Sayu?" Tanya Akashi.
Gadis itu bungkam, manik peach tersebut masih setia memandangi roknya. Mengerti dengan keadaan Sayu, Akashi menatap ke arah Satsuki seolah memberikan kode untuk meninggalkan keduanya sendirian. Satsuki yang mengerti pun mulai bangkit dan berjalan keluar ruangan.
"Jadi, bisa ceritakan hal yang mengusikmu?" Bolpoin berputar bosan digenggaman Akashi.
Sayu memandang sebentar Akashi dan sedikit menghela napas, mulai membuka suara sambil meremas roknya kuat, mencicit pelan.
"Aku dituduh mencuri." Sayu menggigit bibir bawahnya kuat.
"Padahal aku tidak pernah mencuri apapun, mereka menuduhku dan menjelek-jelekanku, sebelum aku menyadarinya, aku kehilangan semua temanku." Suara bergetar mengundang iba.
".... tidak apa kau kehilangan teman-temanmu hari ini, percayalah kau akan menemukan lebih daripada yang kau harapkan, besok atau kapanpun itu kau akan menemukan teman-teman yang bisa dipercaya, cukup berpeganglah pada prinsip itu." Tangan terulur mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
Sayu hanya dapat mengangguk pelan sebelum akhirnya Akashi memanggil Satsuki untuk masuk.
*.-A M B I V A L I D-.*
Udara dingin seolah menembus tulang, masuk melewati pori-pori kulit, seakan memang berniat membekukan tubuh dari dalam. Masih terlalu dini ia terbangun, mengingat ini adalah hari libur bertepatan dengan hari ulang tahunnya.
Akashi memilih bangun ketimbang kembali tenggelam dalam tidurnya, ia pikir Nijimura akan pulang, apalagi setiap tahun biasanya Nijimura akan memberinya kejutan yang sangat manis.
TING TONG~
Belum sempat memikirkan menu makan malam, ia mendapati bel rumahnya yang berbunyi, menunda puluhan resep makanan yang berputar di otaknya sejenak.
Apa mungkin Nijimura sudah kembali?
Tetapi ini terlalu dini, bahkan ia belum menyiapkan apa-apa untuknya. Kunci diputar, handle pintu pun berbelok ke bawah, pintu kayu tersebut berdecit pelan.
"Selamat datang Shuu-"
Belum rampung ia menyambut seseorang yang ia tunggu sebelumnya, yang ia lihat bukanlah Nijimura.
"Miyaji-san?" Akashi bergumam pelan, sesosok dihadapannya adalah salah satu rekan atau bawahan Nijimura, ia ingat beberapa kali Nijimura mengundangnya untuk makan malam bersama mereka, Miyaji Kiyoshi.
"Shuuzou belum kembali?" Tanya Akashi.
Manik mata pemuda dihadapannya tak membalas menatap Akashi, ia lebih memilih menatap sepatunya ketimbang mata Akashi, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, Miyaji pun menyerahkan sesuatu ke tangan Akashi.
Akashi menatap tangannya, tubuhnya bergetar saat menerimanya. "I-ini?"
"Maaf..." Miyaji hanya dapat mengumamkan kata maaf berkali-kali, tidak pernah berani memandang Akashi, tak sanggup mengatakan yang sebenarnya pada Akashi, ia hanyalah pembawa pesan Nijimura untuk Akashi.
Pesan yang dititipkan padanya hanyalah sekuntum bunga poppy.
Tanpa dijelaskan pun Akashi sudah mengerti maksud dari sekuntum bunga itu. Tak perlu lagi sebuah penjelasan, Akashi sudah sangat mengerti artinya.
Bahwa bunga poppy itu.
"Laporan tentang perang yang terjadi di Perfektur Sapporo! Sebanyak 1435 prajurit dikerahkan guna merebut kembali tanah negara kita yang dijajah oleh Jerman, sebabnya sebanyak 678 prajurit menjadi korbannya, 99 luka ringan, 301 luka berat, dan 278 sisanya telah gugur sebagai seorang pahlawan yang gagah berani!"
Selalu bermakna.
"Dan 1 diantara 278 korban yang gugur adalah-"
Kematian dan lambang penghormatan tentara yang gugur di medan perang.
"-Sersan Mayor, Nijimura Shuuzou!"
Sepasang iris delima tersebut melebar dan menggelap seketika. Mendadak telinganya terasa tuli saat mendengar nama Nijimura masuk ke dalam daftar orang-orang yang gugur dalam peperangan.
Ah ia tahu, sepertinya ini hanyalah bualan Nijimura saja, mengingat ini adalah hari ulang tahunnya, dan lagi bukankah Nijimura selalu berjanji untuk terus bersamanya bukan?
"M-Miyaji-san, katakan... katakan bahwa ini hanyalah lelucon Shuuzou dihari ulang tahunku, 'kan? Tenang saja aku akan berpura-pura terkejut nanti, jadi... bisakah kau katakan yang sebenarnya?" Lidahnya terasa pahit mengucapkan hal tersebut.
"Maaf, Akashi. Tapi... semua ini adalah kenyataan." Suara Miyaji menjadi parau akibat tangisan tak bersuara miliknya yang tak berhenti mengalir.
Bunga poppy yang sedari tadi berada digenggamannya pun terjatuh di atas tumpukan salju. Hatinya hancur, sehancur dunianya saat menyadari bahwa ini bukanlah rekayasa yang sengaja dibuat.
Mendadak kepalanya menjadi pusing akan banyak hal, apa yang harus ia lakukan sekarang?
Kehidupannya menjadi kelam tak bewarna, membuat seluruh mimpinya bersama Nijimura pun menjadi runtuh seketika. Benar-benar, jantungnya serasa diremas kuat, seakan meminta malaikat maut untuk menghampirinya dan memberinya kematian sekarang juga agar bisa bertemu kembali dengan kekasihnya.
"Di mana dia sekarang? Apakah kalian sudah membawanya pulang?" Tanya Akashi lirih.
Miyaji menundukkan kepalanya sedikit. "Maaf sebelumnya, kami menguburkan Sersan Mayor bersama korban lainnya di tempat meninggalnya, mengingat ketidakmungkinan membawa tubuhnya kembali."
Naik pitam, Akashi menarik kerah pakaian Miyaji.
"Apa-apaan itu!? Kenapa kalian tidak membawanya kembali!? Setidaknya biarkan aku dan keluarganya yang ada di sini untuk menguburkannya! Aku tidak sudi ia berada di tanah yang penuh darah itu!" Cengkeramannya melemah, menunduk sambil menggertakkan giginya, yang Miyaji tahu saat ini hanyalah Akashi sangat terpukul akan hal itu.
"Padahal dia sudah berjanji... Shuuzou, kau kemana?" Gumam Akashi pelan disertai air mata yang mengalir turun secara perlahan.
Ia berharap dinginnya udara saat ini dapat membekukan luka perih hatinya yang baru saja terbentuk.
Perjalanan cinta mereka yang selalu dinantikan nyatanya hanya menjadi angan-angan belaka, tak ada yang bisa mengerti bagaimana hancurnya kehidupan Akashi sekarang ini. Bahkan menangis pun ia tak sanggup.
Hanya sebuah penyesalan yang tersisa sekarang.
*.-A M B I V A L I D-.*
Langkah kakinya terhenti tepat di depan sebuah pintu bewarna coklat. Tangannya nampak ragu untuk mengetuk pintu dihadapannya dan hanya bisa mengepal sedari tadi.
Setelah beberapa saat ia memantapkan dirinya, akhirnya dengan penuh keyakinan ia menekan bel pintu tersebut dan mengetuknya.
Tak selang beberapa lama kemudian pintu terbuka, menampakan sesosok figur yang lebih tua darinya, senyuman mengembang di wajah pria itu hingga dapat terlihat keriput yang muncul di kedua sudut matanya.
"Akashi- kun, lama tidak bertemu. Silakan masuk." Sang empunya mempersilakan Akashi masuk dengan memberinya ruang.
Mengangguk disertai senyuman kecil. "Terima kasih, paman Ken."
Akashi masuk, mengekor bak anak kucing pada induknya, duduk di sofa yang sudah disediakan oleh empunya rumah. Sesekali netranya menyapu seluruh sudut rumah tersebut.
Menatap deretan piagam penghargaan, piala-piala, dan sesosok yang begitu tak asing baginya dibalik foto figura yang terpajang di samping televisi.
Ken pun kembali dengan dua cangkir teh lemon hangat, ia duduk di hadapan Akashi sambil sesekali memperbaiki kacamatanya.
"Kau merindukannya, Akashi- kun?" Tanya Ken yang masih tersenyum lembut ke arahnya.
"Tidak tahu."
Bukan respon yang bagus memang, tapi Akashi bingung bagaimana menjawab apa yang dirasakannya. Dan Ken mengerti dengan keadaan Akashi.
"Malam ini kenapa tidak menginap saja? Sepertinya sebentar lagi akan ada badai salju, kau bisa memakai kamarnya, Akashi- kun." Ken mencoba untuk mengalihkan topik sensitif bagi Akashi, namun apalah daya semua yang ia katakan selalu menyangkut tentang seseorang yang begitu berharga bagi Akashi.
"Baiklah, terima kasih, paman Ken." Akashi hanya sanggup tersenyum tipis, siapapun tahu bahwa itu adalah senyuman terburuknya.
Berjalan lunglai dengan kaki gemetar hebat, ia berdiri di ambang pintu kamar yang gelap, hanya ada cahaya dari koridor yang menyusup masuk.
Masuk perlahan kemudian duduk di kasur berukuran single. Terlihat sebuah jersey Teiko yang menggantung diganggang lemari, figura yang memperlihatkan foto seluruh anggota tim basket SMP Teiko pada masanya.
Akashi mendekat ke arah figura yang terletak di meja belajar tersebut, menyentuh kemudian merabanya perlahan tepat pada sesosok pemuda berambut hitam pekat.
Membanting tubuhnya pada kasur tersebut, lengan kirinya menutup kedua matanya, dadanya kembali sesak bukan kepalang seketika ia dapat mencium aroma maskulin seseorang yang begitu dicintainya.
"Shuuzou... kau akan kembali, 'kan?" Gumamnya pelan.
Ponselnya berbunyi, ia menatap nama pengirimnya. Matanya membulat seketika, napasnya tercekat kala mendapati deretan nama kanji sang pengirim.
Nijimura Shuuzou.
Dengan satu gerakan ia membuka pesannya, tonggorakannya seperti tercekat, liquid bening yang sedari tadi tertahan secara tidak sadar mengalir dengan lembut di pipinya menciptakan aliran anak sungai.
"Shuuzou..."
From: Nijimura Shuuzou
Subject: -
Kau, sudah tidak perlu menungguku lagi, Akashi.
Tidak apa, berjalanlah secara perlahan.
Dan berlari sekencang mungkin.
-END-
Tangisan memilukan pun pecah, menggema diseluruh penjuru ruangan, mengeluarkan seluruh beban dihatinya selama ini.
Tanpa siapapun sadari, Ken-Nijimura Ken- menangis tanpa suara sambil menggenggam ponsel putranya dengan sebuah pesan yang penerimanya adalah Akashi.
*.-A M B I V A L I D-.*
"Hei Akashi, besok hari libur, bagaimana kita pergi ke taman hiburan?"
"Mau naik wahana apa?"
"Bianglala, besok adalah hari yang indah untuk naik bianglala bersama, bagaimana?"
"Tidak, aku bukan wanita Shuuzou, aku juga masih punya beberapa pekerjaan."
Kebohongan Akashi untuk yang kesekian kalinya.
Bohong jika saat itu ia tidak ingin diperlakukan manis seperti itu.
Bohong besar saat ia mengatakan masih punya beberapa pekerjaan.
Dan sebuah kebohongan ketika ia menolak ajakan Nijimura.
Akashi Seijuurou adalah orang yang pandai berdusta.
Selamanya perasaannya yang begitu kuatlah yang terus tersembunyi dari pandangan.
Dan hanya mampu mengatakan perasaannya tanpa suara di dalam hati.
*.-A M B I V A L I D-.*
"Akashi- sensei?"
Perlahan manik delima tersebut membuka tak kala mendengar suara yang mengintrupsinya sedari tadi, menyadarkannya dari mimpi panjangnya yang seolah tak berujung.
"Sayu?" Akashi mengusap matanya, mengambil kacamata yang tergeletak rapi di atas nakas.
"Ada apa kemari?" Tanya Akashi seraya tersenyum lembut.
"Aku ingin mengunjungi Akashi- sensei setelah sekian lama tidak pernah muncul, aku sudah bisa memasak, sensei mau menyicipinya sedikit?" Tanya Sayu penuh harap.
Akashi tertawa kecil mendengarnya dan bangkit dari tempat tidurnya. "Baiklah, kita lihat apa yang kau buat saat ini."
Yang ia dapati adalah semangkuk sup tofu dengan sebuah rangkaian bunga camelia putih di tengah-tengah meja.
"Aku sudah membuatnya dengan baik, kuharap sensei menyukainya," ucapnya riang.
Akashi menarik kursi dengan perlahan, mulai menyendok sup tersebut, menyesapnya penuh hikmat. Irisnya terbuka dan berbinar senang.
"Ini sangat lezat, Sayu."
"Syukurlah! Untung aku tidak mengecewakan sensei. Lain kali aku juga akan membawa beberapa cake dan brownis buatan tangan," ucapnya seraya melepas celemek yang menempel pada tubuhnya.
Akashi seperti melupakan sesuatu saat menatap punggung Sayu dari belakang, berapa tahun sudah berlalu sejak kejadian itu?
"Sayu... berapa umurmu tahun ini?" Tanyanya ragu.
Dirinya takut, takut saat menyadari waktu yang berlalu, terlalu takut untuk mendengar pernyataan Sayu, ia hanya berharap waktu baru terlewati 2-3 bulan.
"Umurku sudah 27 tahun sensei, dan lagi aku sudah mempunyai bayi perempuan." Sayu menjawab dengan antusias.
Sendok terlepas dari genggaman kemudian membentur lantai.
Secepat inikah waktu terlewati?
Bahkan rasanya ingatannya menjadi kacau sekarang. Ia meremas dadanya kuat, rasa sesak tersebut kembali hadir, menyakitinya kembali setelah beberapa waktu belakangan tak pernah muncul.
Bahwa semuanya sudah jelas.
Dirinya melupakan Nijimura sebelum ini.
Sebegitu terbiasanya kah ia?
Rantai yang awalnya menghilang dan bersembunyi pun kembali mengekang.
Ini adalah kutukannya.
Waktu dan takdir yang berjalan tidak pernah bermurah hati padanya.
Dan kegelapan pun menjadi penglihatan terakhirnya sebelum tubuhnya terjatuh dari kursi dan membentur lantai kayu.
*.-A M B I V A L I D-.*
Mata membuka refleks, mendapati pemandangan sebuah langit-langit kamarnya, dan sebuah atensi tengah terlelap di pinggir ranjangnya. Posisinya kurang nyaman dilihat dari mana pun.
Melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 8 malam, segera ia perlahan bangkit tanpa suara, mengambil jaketnya dan keluar dari kediamannya dengan mengendap-endap.
Salju berhenti turun, Akashi bersama kesendiriannya pun berjalan tanpa arah, melewati satu demi satu barisan pertokoan di sisi kiri dan kanannya. Ber- nostalagia kala mengingat beberapa kenangan lucu dan manisnya bersama Nijimura.
Berdelusi ria saat membayangkan Nijimura berada di sampingnya dan tengah membicarakan tentang liburan akhir tahun seperti ini.
Dan semuanya runtuh seketika saat terdengar seorang wanita tua memekik nyaring, menarik eksistensi masyarakat yang tadinya tengah sibuk menjadi memperhatikan wanita tersebut.
Akashi berbalik hendak melihat apa yang terjadi, dan yang dilihatnya adalah seseorang yang berlari ke arahnya dengan mengenakan topi rajut sambil membawa pisau lipat di tangan kanannya dan sebuah tas wanita di tangan kirinya.
"MINGGIR!" Pekik sang pencopet.
Akashi tak sempat mengambil alih pisau tersebut. Mengakibatkan dirinya menjadi korban tusukan pencopet tersebut. Beberapa orang terdengar berteriak nyaring.
Akashi tersungkur di jalan, terjatuh diantara salju yang menumpuk.
Mengubah salju yang awalnya putih menjadi merah.
Memberinya warna pada salju.
Salju melupakan warnanya, itulah mengapa warnanya menjadi putih.
Dan Akashi memberi ingatan pada sang salju, seperti dirinya yang menerima berbagai ingatan manis akan Nijimura.
Akashi dapat mencium semerbak aroma besi yang mengalir dari ulu hatinya. Terakhir kali ia menatap camelia putih yang ada di genggamannya sedari tadi. Berusaha sekuat mungkin untuk tersenyum manis.
Pandangannya berkunang-kunang, perlahan menjadi berat, dan setelahnya terpejam.
Bersamaan dengan napasnya yang terhenti.
Semilir angin, deburan ombak mengisi pendengarannya. Saat ia membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah pantai yang tak berujung dengan dirinya yang tengah berdiri di atas tebing.
Memandang tangan kanannya yang menggenggam sekuntum camelia putih yang mulai layu.
"Sudah lelah berlari?"
Iris delimanya melebar kala mendengar suara yang sudah lama ia rindukan, bahunya bergetar, dan isakan kecil lolos dari bibirnya.
"Ya, sudah cukup bukan...? Aku sudah berjuang dengan baik, 'kan?" Tanyanya pelan.
"Dan sekarang, aku boleh berhenti berlari, bukan?"
Tubuh yang lebih besar darinya pun merengkuhnya, menyalurkan sensasi hangat yang begitu ia rindukan disaat apapun.
"Kau sudah berjuang dengan baik, Akashi." Suara lembut tersebut berbisik ditelinga.
Keduanya saling bergenggaman tangan dengan bunga camelia putih diantaranya.
Karna keduanya sudah selesai dengan penantian yang tak berujung ini.
FIN
A/N:
Fict terpanjang saya. Sebenarnya saya ingin membuat yang lebih panjang dari ini, tapi berhubung kesibukan sekolah yang menggila menjelang ujian kenaikan kelas saya terpaksa harus bekerja ekstra.
Dan lagi akhir-akhir ini kondisi tubuh saya mulai menurun karna kekurangan istirahat, jadwal makan yang tidak teratur, dan insomnia selama seminggu belakangan.
Jadi mohon maklum jika ada beberapa kesalahan dalam fict ini, saya sudah semaksimal mungkin merevisi berkali-kali agar tidak ada kesalahan dalam penulisan dan lain sebagainya.
Seperti biasa di akhir kalimat.
Terima kasih sudah membaca sebelumnya!
Silakan nantikan karya saya yang lainnya!
Mind to Vote and Comment? ^^
Utarakan kesan Anda saat membaca fict ini.
Ciao!
Sign out
AoiKitahara_
01 Mei 2016
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top