: Hey, Mr. Curiosity :

👆👆👆lagunya Jason Mraz. Lagu lama tapi enak. Yang punya kuota banyak, play deh. Adem dengernya.


❇❇❇


Curiosity is on of the many masks of love

~Gabriel Garcia Marquez~




: Part Five :



~ 82 Hari Sebelumnya ~




PENASARAN.

Satu kata itulah yang kuyakini sebagai biang kerok dari semua keanehan yang kurasakan sekarang. Bayangkan saja, sudah dua puluh tiga hari sejak aku berkenalan dengan Nara, tapi perempuan itu belum juga menujukkan tanda-tanda ketertarikan. Apa perlu kuperjelas lagi? DUA-PULUH-TIGA-HARI. Dan selama itu juga, aku seperti biksu yang kehilangan gairah bercinta dengan perempuan. 

Eh, wait! 

Beberapa hari lalu aku bercinta dengan seorang instruktur di Jakarta Do Yoga. Badannya kencang, menarik, tapi ... dia terlalu tenang. Tahu kan, bagaimana orang-orang seperti itu mengatur napasnya dengan baik. Aku seperti bercinta dengan manekin. Parahnya, aku hampir kehilangan nafsu di tengah-tengah permainan, sampai akhirnya bayangan wajah Nara melintas. Shit! Rasanya seperti ada cambuk yang memecut pantatku dan membuat otakku kembali meninggalkan kewarasan and feels so fucking good. Instruktur itu bahkan sampai menggigit pundakku saat mencapai ekstase penuh.

Tapi kemudian, pikiranku kembali tak terkendali karena selalu berujung pada wanita yang bahkan tak bisa kurayu.

Aku tidak punya alergi dengan perempuan berpasangan. Jangankan cuma pacaran, aku bahkan pernah tidur dengan isteri seorang pengusaha yang kuakuisisi perusahaannya. Jangan salahkan aku! Pria setengah abad itu yang tidak bisa memuaskan isteri mudanya di ranjang. Jadi sekali lagi kuberi tahu, aku tidak peduli Nara sudah punya kekasih, apalagi pria seperti ... siapa namanya kemarin? Oh iya, Pecundang?

Masalahnya, setiap kali bertemu Nara dan mengobrol dengannya, alih-alih melancarkan serangan maut, justru aku sendirilah yang dibuat tak berkutik dengan pesonanya. Nara yang kupikir pendiam, ternyata seperti petasan banting—tidak berbahaya, tapi lumayan mengejutkan—sampai akhirnya aku sadar kalau semua rayuanku benar-benar tidak mempan. Sementara semakin lama, kebiasaan mengobrol dengannya sukses menjadi rutinitas baru yang tak ingin kulewatkan. Huft, pujangga di kepalaku semakin bersorak girang.

Nah, lihat! Lihat pipinya yang merona merah setiap kali aku menggodanya. Bibir berkontur khasnya yang merah alami meski lipstick yang dipakai mulai pudar, mata kelabunya yang menyesatkan, dagunya yang lancip dan membuatku tak tahan ingin menciumnya dengan rakus. Sial! Cuma begini saja celanaku sudah mulai terasa sempit. Aku sampai menelan ludah berkali-kali membayangkan bagaimana Nara menggigit bibir bawahnya saat berada dalam tindihanku.

"Kamu kenapa sih senyum-senyum? Ada yang aneh, ya?"

Aduh suaranya. Pasti luar biasa merdu kalau suara itu mendesahkan namaku.

"Elias!"

"Iya! Aku cuma nggak nyangka aja kalau selera musik kamu tuh ... wow. Progressive rock? Seriously?" Akhirnya jawaban itu yang kupilih setelah tadi Nara sempat merengek dan memelas menggemaskan pada si dementor untuk menambah volume lagu I am A Mirror yang sekarang sedang diputar di Costa Coffee. Eh, jangan bayangkan Nara merengek benar-benar merengek ya. Merengeknya Nara itu ... berkelas. Ya ... gitulah.

Nara tertawa dan aku semakin melayang. "Emang kenapa, sih?"

"Ya nggak nyangka aja kamu suka Alan Parson. Maksudku, perempuan kayak kamu tuh biasanya suka pop, ballad, atau ... apa yaa.... Ya, semacam Enrique Iglesias things? Atau Adam Levine yang sedikit catchy. Yang nggak gedumbranganlah pastinya."

Nara tersenyum luar biasa manis. Disibaknya rambut panjang yang sebagian jatuh menutupi wajah untuk diselipkan ke kuping. Kuperhatikan jarinya yang lentik, yang ingin kurasakan sentuhannya di kulit. "Emangnya aku perempuan kayak apa, El?"

Kamu itu perempuan yang sudah membuat jatah umurku berkurang drastis, Nara. Kurang tidur, kerja jantung terlalu berat, aktivitas otak berlebihan karena terus-terusan berfantasi liar. Belum ditambah diabetes karena wajah dan suaramu yang mengandung banyak glukosa. Kejahatan apa sih yang tidak kamu lakukan padaku, Nara?

Eh, eh! Siapa itu yang bicara?

"Kamu belum tahu aja kalau aku suka Linkin Park. Dari dulu, dari jaman SMP. Pas SMA suka nonton parade musik underground gitu di Unsud. Eh, tapi Enrique not bad, kok."

"Serius? Ya, keren sih tapi tetap aja.... Kamu tuh terlalu kalem buat jadi el-pe underground."

"Apaan, sih? Nggaklah. Kamu belum tahu aku aja. Lagian aku nggak pilih-pilih sih kalau urusan musik. Selama enak di kuping, ya aku dengerin. Nah, kalau Alan Parson ini. aku bukan cuma suka musiknya. Liriknya suka juga. Kalau kamu? Kamu suka dengerin apa?"

Aku suka dengerin kamu, Nara. Upsst.

"Bach, Rachmaninoff. Dulu pernah suka banget sama James Taylor, Tim Mc Graw juga. Sisanya sih random aja pas lagi di mobil atau lagi suntuk di apartemen. Cuma ada satu yang nggak pernah berubah dari dulu, aku suka banget Frank Sinatra. Kalau Alan Parson, aku bukan penggemar, tapi aku suka Eye In The Sky."

Mata kelabu Nara membelalak lebar mendengarku menyebut salah satu judul lagu Alan. Mulutnya tersenyum puas seperti baru saja menemukan Longchamp klasik di keranjang obral. "Wah, nge-hits banget kan lagu itu. Yang paling terkenal dari mereka sih. Ternyata kamu suka juga?"

Suka? Tentu saja tidak, Sayang. Kugigit bibir bawah sambil menahan diri untuk tidak tertawa. Ya bagaimana tidak? Aku kan cuma mau membuatnya terkesan dan reaksinya langsung excited begitu. Tapi aku tidak sepenuhnya bohong kok. Aku memang pernah beberapa mendengar lagu itu saat bersama Tony yang memang pecinta musik rock tahun tujuh puluhan.

Eh, hold on for a sec!

Sepertinya, aku melewatkan sesuatu; membuat terkesan? Aku? Elias? Sumpah demi Pamela Anderson dan payudara supernya, aku tidak pernah melakukan hal-hal receh seperti itu pada siapa pun. Lebih tepatnya, aku tidak pernah berusaha untuk membuat wanita yang kukencani—kalau hubungan semalam bisa disebut kencan—terkesan dengan sikapku. Normalnya, aku cuma melempar senyum, melirik penuh arti yang bisa langsung dipahami dengan sangat baik, juga beberapa gerakan kecil yang selanjutnya akan membuat kami terlibat obrolan panas hingga berakhir di ranjang. Apa itu masuk dalam kategori 'membuat terkesan?'

"El!"

Aku tersentak. Seringai lebar mampir di wajahku yang pasti tampak konyol saat mendapati Nara menatapku dengan bibir merengut lucu. Oh, jangan lupakan soal gemas menurut versiku.

"You're not listening!" omelnya.

"Eh, I'm sorry. Sampai mana tadi?"

"Distopia. Alan Parson yang Eye In The Sky."

Skakmat! "Ah ... yes! Alan parson. Distopia. Less protection, power and health. Mungkin Alan tahu kali ya kalau kondisi pemerintah di masa sekarang akan jadi seburuk ini."

What the heck, Elias! Ngomong apa, sih?!

Apa aku berusaha terlalu keras? Sumpah, aku ingin melihat sendiri wajahku di kaca untuk melihat betapa tololnya tampangku sekarang. Sementara Nara justru tertawa geli melihatku yang gelagapan karena baru saja mencapai bukit imaji yang bisa dengan mudahnya kudaki setiap kali Nara cuma berjarak beberapa senti. Hei, aku puitis lagi.

Aku baru bisa mengembuskan napas lega setelah mata Nara berhenti menghakimi dan beralih ke paper cup putih yang menampung long black coffee-nya. Dia mengaduk kopinya sebentar dengan stirrer sebelum meminumnya dengan anggun. Matanya yang menarikku sejak pertemuan pertama beringsut, menerawang ke luar jendela seolah tak ingin melewatkan semburat jingga di antara temaramnya cakrawala. Gedung-gedung tinggi menyembunyikan menatari tua yang berkejaran dengan waktu senja. Diiringi latar musik yang memanjakan kuping, perempuan bermata sendu yang duduk manis di depanku itu mendadak menjelma menjadi tokoh puteri dalam sebuah dongeng klasik.

Eh, tunggu! Latar musik memanjakan kuping? Alan parson? Progressive rock? Ah, bodo amatlah! Ada ratusan film di luar sana dengan scoring seenaknya yang malah merusak suasana. Lagipula tanpa musik latar sekalipun, suasana pasti otomatis romantis setiap kali aku menikmati pemandangan Nara yang sedang minum kopi.

Kutatap wajah perempuan ini lekat-lekat. Senyum manisnya mengembang bersamaan dengan lagu yang memasuki bridge kedua. Hatiku bertanya, apa yang sekiranya melintas di pikiran sibuknya sekarang? Apa yang membuat matanya tak ingin berpaling dari sana? Penasaran, aku ikut-ikutan memandang ke luar, berharap bisa melihat apa yang Nara lihat. Tapi, aku tidak mengerti sama sekali.

But the meaning of life is a mystery, how can anyone disagree?

And the music of life is a symphony which we play in a minor key.

Menyerah, mataku kembali pada sosok Nara yang melamun, membuat hatiku mendadak diserbu perasaan asing seiring dengan suara lantang Leo Sayer yang memaksa masuk ke kuping. Entah bagaimana, ingatanku melayang ke hari saat aku melihat Nara menangis. Sesuatu di dalam diriku kembali berontak, menghasut pikiranku untuk mencari tahu perkara apa yang ditangisi Nara sore itu? Apa dia bertengkar dengan si Pecundang?

I am a mirror... I am a mirror...

Looking at me you see yourself

I am a mirror... I am a mirror...

Every face is someone else.

Look at me smile and you're the clown

and if I dance you turn around

Look in my eyes and see your tears

until the music disappears.

Dulu, ada satu masa di mana aku suka memikirkan banyak hal. Kenapa seseorang merasa sedih, kenapa senang; kenapa manusia punya rasa cinta, tergugah melihat gejolak emosi manusia lain; kenapa menyukai seseorang, kenapa tidak suka. Hal-hal semacam itulah. Mengerti, kan?

Aku pernah berusaha mencari, tapi akhirnya memutuskan untuk berhenti. Aku menolak kalau pikiranku harus dikuasai sesuatu yang abstrak semacam itu, sampai akhirnya pertanyan-pertanyaan itu menguap begitu saja. Tapi hari ini, pikiranku kembali terusik. Misalnya seperti, kenapa aku duduk di sini dan menemani Nara minum kopi? Man, aku bahkan tidak suka kopi.

Seseorang yang kukenal saat kuliah di London pernah bilang kalau manusia saling mencerminkan satu sama lain. Beberapa orang mungkin saja mengingatkan kita dengan sesuatu dalam diri kita yang bahkan tidak disadari. Seringkali kita membenci sesuatu—misalnya—tanpa kita tahu kalau yang kita benci justru mengingatkan kita dengan keburukan sendiri. Saat itu aku ngotot menyebutnya sebagai kecenderungan. Tapi Ashley—temanku itu—mengartikannya sebagai self defense mechanism. Menurutnya, semua hal termasuk homo sapiens, memancarkan energi dengan frekuensi tertentu yang akan kembali pada dirinya sendiri baik dalam bentuk pikiran atau perasaan.

Saat itu, aku tentu saja tertawa mendengar penjelasan wanita Irlandia yang tak pernah kutemui lagi. Tapi seperti bergerilya, pada saat yang tepat teori itu menyerangku sekarang, membuat otakku mencerna lebih keras, memikirkan apakah semua yang kulakukan untuk Nara adalah murni cuma karena penasaran? Cuma karena Nara tidak mudah tergoda seperti perempuan lain? Atau ada alasan lain yang tidak kusadari yang membuat malam-malamku seolah dirundung renjana tak berkesudahan saking inginnya menjajal tubuh Nara?

Tanpa mengalihkan pandangan dari senja yang dilukis di kanvas langit, Nara mendesah panjang. Matanya menyipit dan dahinya mengernyit sesekali seolah di dalamnya telah terkumpul pikiran-pikiran rumit yang semakin dirasa semakin menusuk kulit. Melihat ini, sesuatu dalam diriku seperti tersentuh.

"Kiamat belum sedekat itu, Nara," celetukku berusaha mendapatkan lagi perhatian Nara. "Matahari masih keluar dari timur dan terbenam di barat."

Nara tersenyum kecut. Entah karena dia sadar dengan usahaku untuk membuatnya tertawa atau karena pikirannya yang masih menggelayut. "Kamu pernah nggak sih mikir gimana kalau hidup itu lagi nipu kita?"

Aku tidak minum atau berusaha menelan apa pun. Yang kulakukan sejak tadi cuma menatap Nara seperti pengamat mengagumi sebuah karya seni. Tapi, tiba-tiba saja aku terbatuk seolah ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokanku sekarang. Pertanyaan macam apa itu?

"Maksudnya? Aku nggak ngerti."

Pelan, Nara menoleh dan mengunci kedua mataku. Demi Candice—tahu kan siapa dia—memakai bikini, aku ingin melebur ke dalamnya dan membiarkan tubuhku tenggelam dalam lautan kelabu yang tenang tapi menghanyutkan itu.

"Iya.... Gimana kalau ternyata semua yang kamu lakuin itu cuma kesalahan? Gimana kalau ternyata semua itu cuma jalan memutar yang justru bikin kamu dua kali lipat lebih jauh dari tujuan hidup kamu yang sebenernya? Dari ... takdir kamu. Gimana kalau ternyata...." Ada jeda dalam kalimat Nara karena menarik napas, " ... hati kamu bohong sama kamu?"

Sekali lagi, kutelan ludah dengan susah payah. Bukan untuk menahan libido kali ini, tapi karena bingung harus berkomentar apa. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan inikah Nara melamun sejak tadi? Kupikir, aku cukup pintar untuk bisa mengerti banyak hal. Tapi kalau begini, aku seperti bujangan yang tidak tahu harus berbuat apa saat melihat perempuan telanjang di depan mata. Benar kata Rose Dawson kalau hati wanita itu seperti lautan yang dalam. Hiiy ... aku sampai bergidik memikirkannya. Eh, Rose itu tokoh wanita di Titanic kalau ada yang tidak tahu.

"Yah ... paling nggak, sesuatu yang salah bisa membuat kita tahu mana yang benar, Nara. Lagipula ada banyak hal yang bisa kita lihat kalau kita lewat jalan memutar. Ini bukan soal benar atau salah, tapi pelajaran apa yang bisa kita ambil dan gimana sikap kita setelahnya."

Woo ... hoo! Kalian dengar itu? Catat dan ingat baik-baik karena tidak setiap hari aku bersikap bijak seperti ini. Apa aku terdengar seperti motivator sekarang?

Bukannya menanggapi dan menghargai kerja keras otakku yang berhasil merangkai kalimat seindah itu, Nara yang masih menatapku intens cuma diam. Sialnya, itu malah membuatku tidak nyaman. Yang benar saja! Sudah puluhan wanita kutaklukkan, tidak pernah aku merasa secanggung ini.

Terakhir kali tidak mengedip, aku berakhir dengan mata merah seperti crossroad demon di film Supranatural. Itu cuma taruhan kecil dengan Tony untuk mendapat hak pakai atas perempuan seksi yang kami temui di Immigrant. Sialnya, aku kalah telak. Itulah kenapa sekarang aku mengakui dalam hati kemampuan Nara yang bisa menatapku selama ini, tanpa berkedip.

"Apa sih yang bikin kamu tiba-tiba mikir kayak gitu?" tanyaku lagi.

Seperti merasa kalau yang dilakukannya adalah dosa besar, Nara malah menarik pandangannya dariku dan menyeruput kopinya yang tak panas lagi. Sampai akhirnya kopi itu habis tanpa sisa dan senja berubah kelam, Nara tak juga menjawab, membiarkanku menebak-nebak ke dalam hati dan pikirannya yang selama ini samar karena senyum manis dan keramahan yang ditunjukkannya.

Nara yang seperti ini, sungguh mengingatkanku pada Nara yang menangis diam-diam dulu di taksi warna biru.

Lagi-lagi pikiranku terusik, sama seperti bibirku yang mulai tersendat saat berusaha mencairkan suasana. Mengurungkan niat, akhirnya mulutku ikutan terkatup rapat. Kubiarkan Nara menikmati sendiri pikirannya yang mungkin tak akan pernah bisa kumengerti. Aku bisa jadi jago renang, tapi kalau harus menyelami hati Nara yang seperti lautan yang dalam penyimpan rahasia, tentu saja aku jadi gamang.

Jadi, apa kabarmu, Pujangga Penasaran?




[...]


Bekasi, February 26, 2017

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top