Pintu ruang kerja divisi kejahatan berat terbuka tiba-tiba, menampakkan sosok Roni dan Elena yang berdiri. Keduanya bermaksud untuk menemui Erick tetapi tempat itu kosong melompong.
"Tak ada siapapun di sini," kata Elena.
"Kemana mereka semua?" gumam Roni.
Kemudian suasana hening sesaat, keduanya terdiam hingga sebuah suara ketukan pelan terdengar. Seperti suara pukulan tapi berirama. Roni mengambil ponselnya dan menghubungi Budi.
"Halo, Bud?"
"Panggil namaku secara lengkap!" Suara gerutuan Budi terdengar dan membuat Elena nyaris terbahak.
"Memangnya kenapa? Sama kayak cotton bud ya?"
"Kampret, aku disamain dengan pembersih telinga."
Roni tertawa terbahak-bahak. "Omong-omong Erick dan yang lain gak ada di sini nih," bisiknya, "apa yang harus kami lakukan?"
"Bisakah kau edarkan ponselmu ini ke sekeliling ruangan?" pinta Budi.
Roni mengangkat ponselnya ke udara dan membawa ponsel itu berjalan ke sekeliling ruangan. Tetapi dia berhenti begitu mendengar suara Budi yang menyuruhnya berhenti.
"Kalian mendengar suara pukulan itu?
"Ya," jawab Elena dan Roni, bersamaan.
"Siapapun yang melakukannya, dia membuat sinyal SOS. Ikuti suara itu!"
*****
Roni dan Elena terus berjalan di lorong kantor sambil menajamkan pendengaran. Beberapa kali mereka balik arah karena suara yang mereka dengar terasa menjauh. Hingga akhirnya mereka sampai ke pintu ruang arsip yang suara pukulannya terdengar paling keras.
"Aku heran mengapa tak ada seorang pun yang menyadari suara pukulan ini." Elena berbisik sambil membuka pintu ruangan itu dengan perlahan. Pintu kayu berwarna cokelat itu mengeluarkan suara berderit khas pintu tua.
"Mungkin karena suara itu baru saja muncul, mungkin?" balas Roni sambil mengedikkan bahunya.
Elena masuk duluan diikuti dengan Roni yang kemudian menutup pintu. Dia melihat-lihat isi ruangan yang penuh dengan berkas. Rak-rak besi penampung map menjulang di kedua sisi mereka. Bisa dibilang nyaris seperti hutan kertas karena banyaknya file kasus dalam bentuk fisik yang disimpan di sini.
Duk! Duk! Duk! Suara pukulan itu kembali terdengar, kali ini lebih nyaring dari sebelumnya. Roni dan Elena saling berpencar, mencoba menemukan hal yang membuat bunyi tadi. Tapi tak membuahkan hasil.
Elena menunjuk sebuah pintu berwarna sama dengan pintu masuk yang berada tepat di ujung ruangan. Tertutupi oleh sebuah rak yang penuh dengan map membuat siapapun yang melihatnya hanya mengira bahwa pintu itu tidak terpakai. "Kita belum memeriksa pintu ini, Roni," bisik Elena, "bantu aku menyingkirkan rak ini."
Roni menggulung lengan jaket hijau tuanya lalu menggeser rak itu bersama Elena. Rak yang menutupi pintu itu berukuran lebih kecil dari rak lain sehingga mereka lebih mudah menggerakkannya. Setelah rak tersebut berhasil disingkirkan, keduanya mendapati pintu tersebut tidak terkunci.
Roni membuka pintu dan mendapati ada sebuah lorong sempit yang hanya dapat dilewati dua orang. Dia langsung menyalakan senter yang berhasil membuat lorong terang benderang. Elena melirik ke atas, sebuah lampu tergantung di langit-langit lorong tetapi tak menyala.
Keduanya berhenti serentak begitu mendengar suara rintihan pelan yang diiringi dengan suara pukulan. Roni dan Elena berjalan melintasi lorong kecil yang menghubungkan mereka dengan sebuah ruangan. Ruangan itu berbentuk kotak dengan ukuran yang kecil. Di sana ada sebuah meja kerja lengkap dengan kursinya, sebuah peta kota Jakarta yang dipenuhi tempelan kertas-kertas kecil beraneka warna, ember besar yang terguling di lantai, dan seorang pria yang bergelung di sudut ruangan. Wajahnya tak terlihat jelas karena rambut hitam yang menutupi.
Roni memeriksa peta dan Elena mendekati pria itu. Dia menyibak rambut hitam si pria dan kemudian memanggil Roni.
"Ada apa?"
Elena menunjuk pria itu. "Apa kau mengenalnya?"
Roni berjongkok di sampingnya, mengambil senter miliknya tadi dan menerangi wajah pria itu. Matanya langsung membelalak.
"Dia ... Roy!" kata Roni. Dia mematikan senternya dan balik menatap Elena.
"Elena, kita harus melepaskan ikatannya. Dari peta yang kulihat tadi, sepertinya ruangan ini milik si Rubah!"
Kemudian Roni menjelaskan apa yang dilihatnya pada peta Jakarta yang ditempel di dinding. Berbagai daerah yang ditandai adalah tempat yang merupakan TKP pembunuhan yang dilakukan Rubah Hitam.
Iris mata Elena membesar. "Yang benar saja! Jadi selama ini ... si Rubah adalah polisi?!" Elena membalas dengan bisikan.
Roni mengangguk. Dia bergegas mengambil peralatan membuka kunci yang biasa disimpan di tas pinggangnya. Peralatan itu berupa sebuah kantong dari kulit sintetis yang berisi sederet tangkai besi yang kurus dan pendek. Tangkai-tangkai besi itu memiliki ujung yang berbeda-beda, mulai dari yang berulir sampai yang berbentuk seperti sabit.
Roni mengambil gembok kecil pengikat rantai yang membelit lengan Roy. Kemudian dia mengambil salah satu tangkai besi yang ujungnya berbentuk seperti dua buah segitiga yang dimiringkan. Jarinya mengarahkan tangkai besi tadi pada lubang gembok dan memutarnya sedikit demi sedikit. Cklek! terdengar suara gemeretak pelan dari arah gembok, benda itu jatuh ke lantai dengan suara gedebuk pelan.
Erggh....
Roni terkesiap. Telinganya menangkap lirihan pelan dari Roy tapi pria itu tetap bergeming. Elena menepuk bahu Roni, pemuda itu langsung berpaling dan menyadari seseorang di belakangnya.
"Roni?"
*****
Erick menggaruk rambutnya yang tidak gatal begitu melihat Roni dan Elena. Dia tak menyangka anaknya itu bisa masuk ke kantor polisi, terlebih lagi ruang arsip. Tak hanya kehadiran Roni dan Elena yang membuatnya kaget, sosok Roy yang telungkup di ruangan itu berhasil membuat jantungnya nyaris berhenti. Dia segera memeriksa denyut nadi Roy.
"Bagaimana?" tanya Roni.
Erick menghela napas, lega. "Normal, tapi dia harus segera mendapat perawatan medis," jawab Erick, "dan kalian berdua harus menjelaskan semua ini. Terutama kau, Roni!"
Roy dibawa ke rumah sakit kepolisian yang berada tepat di samping kantor polisi. Sementara Roy dirawat, James dan Andi menunggui Roy karena polisi muda itu masih belum sadarkan diri. Sedangkan Erick menggiring Roni dan Elena ke dalam ruangan divisi 'Kejahatan Berat'.
Sebenarnya, unit kejahatan berat adalah yang terbaru di kepolisian. Unit ini memasukkan kejahatan berat (seperti namanya), seperti: pembunuhan, perampokan, maupun penyanderaan.
Karena itulah, mereka menangani kasus Rubah Hitam ini.
Erick menghempaskan tubuhnya ke sofa. Iris biru cobalt itu menatap Roni lekat-lekat. Seolah hendak mengupas kulit yang menempel di tubuhnya satu persatu.
"Roni."
"Ya?"
"Mengapa lututmu lebam?"
"Eh?" Roni langsung menggulung celana jeansnya dan mendapati lebam berwarna biru yang muncul di kulit lututnya. Dia hanya tersenyum simpul sedangkan Elena seperti akan menjatuhkan rahangnya ke lantai.
Insting keduanya luarbiasa. Terhubung seperti arus listrik berkekuatan super. Seolah mampu melihat hal yang tak bisa dilihat orang lain.
"Bagaimana Pak Erick bisa melihatnya?"
Erick dan Roni serentak memalingkan pandangan pada Elena. Gadis itu langsung terkesiap. Dipandangi serentak oleh dua orang lelaki sekaligus membuat jantungnya nyaris melompat.
Erick membalasnya dengan senyuman. "Hanya naluri Elena, hanya naluri," katanya masih dengan senyuman di wajah.
"Jangan menggodanya," desis Roni sambil balas menatap tajam Erick -yang merupakan ayahnya sendiri-. Erick langsung tertawa terbahak-bahak.
"Sudahlah, kita terlalu banyak bicara. Jadi begini, semalam ada anggota dari partai 13 yang diculik," dia menghela napas, "namanya Rian Krein. Dia adalah salah satu anggota penting di dalam keanggotaan partai."
"Rian sedang berkendara dengan mobil tipe Agnit*, melintasi jalan di daerah Slipi. Tetapi, hari ini kami menemukan mobil tersebut teronggok di depan Bamboo Inn tanpa supir." Erick menjelaskan panjang lebar.
Roni berkata, "sudah cek kamera kepolisian?"
Erick menganggukkan kepala. "Sudah, tapi adegan penculikan tak terekam di kamera manapun." Dia menghela napas panjang.
"Berarti penculikan itu terjadi di sudut mati kamera." Tiba-tiba Elena ikut berpendapat. Erick menjentikkan jarinya sambil menyeringai.
"Sebenarnya," bisik Erick, "kamera cctv kepolisian punya satu kelemahan."
Roni mengangkat alisnya. "Coba kutebak, karena kamera yang kalian miliki tidak cukup untuk semua daerah. Akibatnya banyak sudut mati pada kamera-kamera kalian."
"Tepat sekali," sahut Erick, "karena itu, ada beberapa tempat yang tidak terlihat pada kamera."
Dengan tangan yang saling menangkup, Roni menopang dagunya. Pikirannya seperti melanglang buana ke tempat lain. "Tapi," bisiknya, "kamera kepolisian selalu tersembunyi, bagaimana bisa si Rubah menculik Pak Rian tanpa terlihat di kamera manapun?"
*****
Tony mengambil jeriken besar berwarna merah dari bagasi mobil pick-up miliknya yang terparkir di halaman gedung Bank Reksa. Di dalam jeriken, semacam cairan terlihat berguncang saat Tony membawanya naik ke lantai dua. Di lantai tersebut, dia menatap dua orang bermantel putih yang mengapit seseorang yang diikat di kursi.
Iris mata ungu terang itu seketika meredup begitu melihat pria yang diikat di kursi. Kedua matanya menyipit, kemudian dia memberi kode para dua mantel putih tadi untuk pergi dari sana. Keduanya mengangguk lalu serentak berlari ke arah tangga.
Sekarang mereka hanya berdua. Si tawanan dan bajak laut. Yang terikat tali dan yang terbelenggu amarah. Keduanya sama-sama terikat masalalu.
"Rian Krein, wakil ketua partai 13. Calon Gubernur DKI Jakarta sekaligus otak dari pemusnahan keluarga Wiran," Tony menghela napas, "apa aku salah?"
Dia menatap Rian yang hanya terdiam di bangkunya. Lalu Tony memutar tutup jeriken hingga terbuka. Dia menuangkan cairan tadi ke sekeliling kursi dan sepatu Rian, kemudian dia juga menuangkan cairan tersebut membentuk sebuah garis yang membentang sampai ke pojok ruangan. Aroma khas yang menyesakkan dada menguar ke udara. Membuat Rian mengguncangkan kursi, mencoba melepaskan diri.
"Tak perlu kuberi tahu kan?" tanya Tony, "kalau ini bensin?"
Dia mengangkat tangannya yang terkepal ke udara, saat dia membukanya terlihatlah sekotak kecil korek api.
"Api dibalas dengan api, inilah pembalasan dari kematian keluargaku dan anakku yang kau bunuh!" teriak Tony. Dia menggoreskan batang korek api tadi dan langsung menjatuhkannya ke kubangan bensin yang membentang seperti garis. Rian menggumam nyaring sambil mengguncang-guncang kakinya yang terikat.
Matanya terpejam, rasa sakit dari api yang berkobar seolah menghantam kulitnya. Membuat kakinya hangus dan tak bersisa.
Seharusnya itu yang terjadi.
Tapi tak ada api yang berkobar di manapun.
Sedangkan Tony malah tertawa terbahak-bahak.
"Bodoh! Benar-benar bodoh! Kau pikir aku akan membunuhmu begitu saja?"
Tony berjalan cepat ke arah Rian. Tangannya mencengkeram leher pria itu kuat-kuat hingga urat di tangannya bermunculan. "Kau tak akan pergi semudah itu, monster. Kau akan kubuat menderita terlebih dahulu."
*****
Keheningan masih menyergap di dalam ruangan. Erick dan Roni sama-sama terjatuh dalam istana pikiran mereka, membuat Elena yang berada di sana merasa canggung.
"Ng ... Erick?" bisik Elena. Erick mendongakkan kepala.
"Ya?"
"Apa kau tidak tahu kalau Roy ada di gudang arsip?"
"Aku mengira Roy diculik, lalu aku beserta James dan juga Andi pergi ke Bank Reksa untuk--"
Erick tak menyelesaikan kalimatnya, dia terdiam dengan bibir terbuka. Semua hal yang ada di dalam kepalanya seolah saling berlarian hingga mereka bertabrakan pada suatu titik terang. Kini hal-hal itu menjadi jelas baginya.
"Tony! Bank Reksa! Si Rubah!" teriaknya.
Roni dan Elena mengernyitkan kening penuh keheranan. Keduanya sama-sama tak paham apa yang di maksud Erick.
"Apa maksud Ayah?" tanya Roni.
Erick menepuk bahu Roni, membuat pemuda itu terperanjat. Dia balik menatap ayahnya itu sembari tersenyum. Kemudian Roni mengalihkan pandangan pada Elena. Dia mendekatkan bibir ke telinga partnernya itu.
"Siapkan kantong muntah di mobil nanti ya!" bisiknya.
*****
To be continued....
Penerjemah: Agnit adalah tipe mobil yang berukuran kecil (bisa dibilang mirip bajaj tapi dalam bentuk mobil), hanya bisa ditumpangi dua orang (dewasa) tiga orang (anak-anak), beroda empat, dan memiliki AC. Mobil ini awalnya dinamai Go Night karena desainnya yang kecil memudahkannya menerobos kemacetan Jakarta di malam hari. Tetapi akhirnya disingkat menjadi Agnit. Mobil ini dibuat oleh seorang mahasiswa bernama Agnes Tribayanto pada tahun 2018, diperkenalkan ke khalayak umum pada tahun 2020, dan akhirnya dijual ke publik pada tahun 2021. (Sejarah ini buatan sendiri karena tahunnya masih belum terjadi).
Haleoo!
Gimana ceritanya barusan? Saya minta pendapat kalian dong :)
Habisnya makin ke sini makin dikit yang vote dan komen, karena genre yang saya pakai(?). Karena saya tahu, Action dan thriller adalah genre minoritas *sigh*. Tapi gak masalah sih karena punya beberapa pembaca setia aja rasanya udah seneng luarbiasa :)
Really really big thanks for you guys!
See you guys at the next part! (\^v^/)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top