18. Dream

"Papa ayo cepat."

"Sebentar, papa sedang mencari sepatu mahal papa."

"Ckck, mahal sih iya, tapi udah buluk terlalu sering dipake tanpa dicuci, sepatu warna putih udah jadi warna hitam," celetuk Yeon Joo yang tak jauh dari posisi Yoongi.

"Ayo cepat papa," rengeknya lagi.

"Sebentar papa sedang mengikat sepatu, Ayo." Yoongi bangkit dan berjalan menuju pintu keluar.

"Pa, Yeon Jae ditinggal?" Yoongi menepuk jidatnya pelan. Yoongi kembali ketempat dimana ia menyimpan Yeon Jae dan mengangkatnya lalu ia simpan di troly.

"Kenapa ditroly?"

"Susah buat lari sambil gendong anak, kalau nanti lari tiba-tiba Yeon Jae jatuh atau ilang dari gendongan papa tanpa ketauan papa gimana? Mau kamu liat mama marah-marah?" Yeon Joo menggeleng.

"Makanya papa bawa troly."

"Tapi pa, kan nanti susah buat larinya. Nggak mungkin kan Yeon Joo ikut di troly terus papa yang dorongnya," keluh Yeon Joo.

"Itu masalah gampang sayang, nanti kita titip di satpam aja," ide Yoongi.

Yeon Joo berpikir sejenak jika perkataan papanya ada benarnya. "Baiklah, ayo kita jalan."

Mereka pun berlari mengelilingi komplek dengan tetap mendorong troly karena pak satpamnya sedang tidak ada, Yeon Joo naik keatas batu dan berjalan setapak demi setapak dengan perhatian penuh dari sang papa.

"Noona, hati-hati nanti kau jatuh," peringat Yoongi.

"Iya pa." Yeon Joo merentangkan tanganya lebar dan berjalan perlahan dengan menyamakan langkah papa-nya.

"Pa, mama kapan pulang?" tanyanya dengan tetap berjalan.

"Empat hari lagi. Kenapa? Udah rindu mama?" tanya Yoongi yang terus menatap puterinya.

"Hmm," ia berhenti berjalan membuat Yoongi ikut menghentikan langkahnya. "Aku bermimpi buruk," ceritanya.

Yeon Joo menduduki jalannya, ia mengayunkan kakinya dengan gelisah. "Apa yang kau mimpikan?"

Yeon Joo diam tak mengubris pertanyaan papa-nya. "Ceritakan kepada papa, papa akan mendengarkannya." Yoongi ikut duduk disamping puterinya dan tak lupa mengendong Yeon Jae.

"Ceritakan semuanya, sekarang papa akan menggantikan mama untuk mendengar cerita noona, ayo ceritakan." Yoongi membujuk puterinya dengan mengelus rambutnya dengan lembut.

Yeon Joo menunduk lalu menatap Yoongi dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Papa pergi, papa ... meninggalkan kami, papa tidak akan pernah kembali, papa ...." Yeon Joo pun tidak bisa melanjutkan ucapannya, ia menangis membuat sang adik ikut menangis.

Yoongi terdiam mendengar cerita sang anak, ia memeluk keduanya. "Jangan menangis, papa tidak pergi, papa akan ada untuk kalian, papa akan membesarkan kalian bersama dengan mama, papa akan melihat kalian besar dan memiliki kehidupan kalian sendiri, papa tidak akan meninggalkan kalian." Yoongi ikut meneteskan air matanya karena tak sanggup mendengar tangisan kedua anaknya.

"Tapi papa tetap akan pergi." Yoongi semakin erat memeluk puterinya.

Yoongi membuang nafasnya. "Papa janji, papa tidak akan pergi meninggalkan kalian."

Yeon Joo semakin mempererat pelukannya. "Papa, maafkan Yeon Joo. Yeon Joo tau kalau Yeon Joo nakal, tidak sopan dan selalu melawan papa."

"Yeon Joo memang anak nakal, cerewet, dan tidak bisa diam. Tapi Yeon Joo tetap puteri papa yang akan papa sayang selalu, yang akan papa lindungi, yang akan papa jaga. Kalau Yeon Jae besar pasti dia yang akan ikut menjaga noona-nya yang cantik ini." Yoongi menjawil hidung Yeon Joo gemas

"Ayo kita pergi, bukankah kau akan latihan balet?"

***

"Ayo kembali latihan," ujar pelatih dengan dua kali tepukan tangannya.

"Yeon Joo tangan kanan diatas kepala dan tangan kiri kesamping lalu lengkungkan," arahan pelatih.

"Seperti ini?"

"Yap, oke. Tinggal kau berputar dan gerakkan badanmu dengan lebih ringan."

"Nam Hee, kau sudah cepat menangkapnya, sekarang kau kedepankan kedua tanganmu dan kau harus lebih relaks jangan kaku. Apa kau membeli baju baru?"

Nam Hee hanya mengangguk dan memasang wajah seriusnya. "Iya ssaem, baju ku yang kemarin sobek oleh daddy," pelatih hanya tersenyum aneh. 

"Seok Hee sedang apa kau sayang?" tanyanya dengan lembut.

Seok Hee hanya menunging dan tertawa pelan. "Sebentar ssaem."

"Seok Hee sedang menunggu apa?"

"Ada sesuatu yang membuat Seok Hee seperti itu ssaem," ujar Nam Hee yang berlatih dan terus melirik Seok Hee. Tak lama kemudian terdengar suara seperti bom dari arah Seok Hee dan ia hanya tertawa lalu bangkit dan memutari Nam Hee lalu kearah Yeon Joo untuk mencium bau kentutnya yang super bau itu.

"Seok Hee kamu makan apa hari?" amuk Yeon Joo dengan menutup hidungnya, bahkan hampir seruangan merasakan bau yang di hasilkan dari gadis kecil itu.

"Makan telur," jawabnya polos.

"Kalau mau kentut itu ke kamar mandi." Nam Hee mengomel.

"Seok Hee nggak kuat eonni, Seok Hee juga mau berbagi."

"Berbagi apa?"

"Kentut," polosnya.

"Kenapa berbagi kentut?!"

"Karena Seok Hee ingin orang lain bisa merasakan harumnya kentut Seok Hee," lagi lagi Soek Hee kentut dan membuat mereka berteriak tak jelas lalu tak lama pintu terbuka dan menampilkan ketiga bapak yang akan menjemput puterinya.

Bapak yang akan masuk ruangan pun terhenti karena mencium bau aneh, mereka mengendus ngendus. "Hyung kenapa ini sangat bau," bisik namjoon.

"Benar, ini seperti bau busuk."

"Siapa yang kentut?" tanya Hoseok.

Seok Hee tersenyum dan mengangkat tanganya dengan sangat tingi tak lupa juga ia terus meloncat-loncat supaya ayahnya bisa melihatnya.

"Kamu kenapa sayang?" tanya Hoseok lembut.

"Seok Hee tadi ketut loh, kentutnya wangi bangeeeeettt," ia merentangkan tangannya dan membuat Hoseok tersenyum.

"Nak, kamu bersedekah dengan sangat baik sayang," ujar Hoseok.

Ketahuilah wahai kalian jika Seok Hee diajarkan bersedekah seperti itu oleh salah satu pamannya, Kim Taehyung.

Bandung, 17 November 2018

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top