4. [Miyoshi] Promise Without Forgetting

AoiKitahara present

10 Ways To Love

Joker Game belongs to Koji Yanagi

Warn: Typo(s), OOC, fluff, drabble, readers!insert, etc.

.
.
.

"Tak ada yang ketinggalan 'kan?"

Gadis itu, [name] menatap kekasihnya yang sedari tadi tengah mencuri-curi pandang pada arlojinya. Dirinya melepas kepergian sang kekasih— Katsuhiko Miyoshi di dermaga pelabuhan.

Miyoshi tak menjawab apapun, netra anggurnya beralih menatap wajah gadisnya dengan seksama. Kedua tangannya mengangkup masing-masing pipi [name] yang membeku. Wajah gadis itu terlihat pucat disertai kantung mata menghitam yang menggantung pada sepasang kelopak matanya.

"Kalau tak enak badan jangan memaksakan diri untuk mengantarku," ucap Miyoshi seraya ibu jari mengelus lembut pipi [name].

Uap putih masih mengepul dari kedua katup bibir pucatnya sambil mengeluarkan tawa kecil, "Aku tak bisa melakukannya, kalau kau pergi tanpa sempat aku melepasmu, yang ada nantinya aku akan terus menangis."

Sebisa mungkin [name] menahan tangisnya, ia tak boleh menangis di hadapan Miyoshi. Tidak sebelum pemuda tersebut telah pergi mengarungi lautan menuju tempat yang jauh dan tak bisa digapai hanya dengan merentangkan tangan.

Syal marun melilit lehernya yang terbuka, memberikan kesan hangat sesaat setelahnya. Dipandanginya wajah seorang yang selama ini selalu ada untuk dirinya. Syal tersebut membelit seperempat wajahnya, menutup hingga ujung hidung, [name] dapat menghirup aroma maskulin Miyoshi di sana.

Dadanya sesak, ada perasaan tak rela untuk melepas kekasihnya mengembara ke negeri orang. Takut nantinya saat kekasihnya kembali dan seluruh perasaan pria tersebut telah berubah. Mana mungkin ia sanggup menghadapi mimpi buruk semacam itu?

"Bagaimana jika nantinya setelah kau kembali, ternyata hal itu ikut mengubah perasaanmu, Miyoshi?" Pertanyaan terlontar refleks tanpa disaring terlebih dulu.

Sudut bibir yang selalu terlihat angkuh pun kini menjadi lembut, tangan kanannya mengusap pucuk kepala sang gadis. Wajah mereka mendekat, hidung saling beradu, begitu juga dengan dahi. Miyoshi terkekeh pelan.

"Aku bukan pria dengan harga diri serendah itu, dear. Aku mencintaimu dalam waktu yang singkat, sesingkat kehidupan dunia." Bersamaan itu, Miyoshi menyematkan cincin besi putih di jari manis tangan kiri [name].

"Kau tahu kan kenapa cincin pernikahan selalu dipakai di jari manis di tangan kiri?"

"Tidak tahu, kenapa?"

Senyumannya tak memudar, "Karena jari manis di tangan kiri bisa mengatur detak jantung, ia lambang sebuah ikatan hati."

Kening dikecup lama, memberikan sensasi hangat di tengah dinginnya musim dingin di penghujung desember.

"Karena itu, tunggulah aku kembali. Dan setelah itu aku akan jadi milikmu selamanya," ucap Miyoshi yang mengakhiri perpisahan mereka.

Kapal pesiar mulai perlahan meninggalkan pelabuhan, semakin mengecil dan menjauh membawa Miyoshi ke belahan lautan yang lain. Meninggalkan dirinya yang masih setia menatap kepergian yang terkasih.

Hari ini adalah musim dingin ketiga setelah perginya Miyoshi. [Name] masih menantinya sembari merajut syal merah guna diberikan sebagai hadiah natal untuk Miyoshi. Pagi ini dengan salju yang menumpuk di pekarangan rumah, terdengar suara ketukan pintu.

Ia dapati sesosok pria yang dinantinya selama 3 tahun belakangan. Senyuman merekah, air mata kebahagiaan dan kerinduan tak terbendung lagi. Pria tersebut mengucapkan 1 kalimat yang menjadi penanda bahwa itu adalah 'dia'.

"I'm here to fulfill my promise, dear. Because the way to love is promise without forgetting."

-FIN-

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top