Prolog
Ludy tersenyum sinis seraya melanjutkan perkataannya, “Apa yang kamu tahu tentang aku?
“Kamu nggak pernah, kan, ngerasain hidup seolah berada di neraka?! Merasa lelah dengan masalah yang nggak bisa kamu cegah? Memikul beban yang nggak bisa kamu selesaikan? Bahkan, kemana pun kamu pergi, selalu ada duri yang menancap di kaki?
“Jika kamu sama seperti mereka ... yang bisanya hanya berkata tanpa bisa merasa, sebaiknya kamu pergi saja! Aku sudah capek. Aku ingin dimengerti, aku ingin dipahami. Bukan sebaliknya!
“Jika kamu datang dengan menyamar menjadi pendeta dengan segala ayat sucinya ... sebaiknya kamu enyah saja. Aku nggak mau percaya.
“Jangan juga kamu menakutiku dengan hukuman alam baka. Jika neraka itu ada, maka aku akan sampai lebih dulu di sana. Lalu, aku belajar banyak tentang bagaimana cara hidup dengan bahagia. Dan aku, akan memandu saat kamu tiba. Kita berdua sama bejatnya. Baik kamu dan aku, mana berhak mencicipi surga?
“Lagi pula, hidup manusia itu nggak ada yang abadi. Baik berjuang sampai akhir atau menyerah sekarang, ending-nya akan sama saja, mati.
“Umur manusia juga pendek. Meninggalkan dunia sedikit lebih cepat beberapa tahun nggak akan membuat bumi menjadi sepi.
“Aku bukan siapa-siapa. Keberadaanku di sini juga nggak ada pengaruhnya. Aku pergi pun, nggak akan ada yang terluka.
“Aku juga sudah nggak berguna. Aku nggak bisa melakukan apa-apa. Aku juga nggak bisa lagi memberikan manfaat. Aku bukan ladang berkat yang dimaksud dalam Alkitab.
“Jangan kira keputusanku menyerah ini perkara mudah. Kamu hanya nggak tahu bagaimana beratnya aku berjuang melawan rasa bersalah. Kamu juga nggak tahu seberapa keras aku mencoba berdamai dengan penyesalan ini.
“Tapi, terima kasih atas niat baikmu. Aku menghargainya.
“Dan --”
“Kau terlalu cerewet untuk ukuran orang yang mau mati,” ucap Sam memotong perkataan Ludy. “Ingin mati itu urusanmu. Tapi, kalau kau mau percaya padaku, aku akan membantumu mati dengan cara berkesan ... dan menyenangkan.”
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top