R-R55: Misunderstanding

TERPUTUSNYA langkah Retta bertepatan dengan iris cokelatnya yang jatuh pada sosok lelaki di depan pintu rumah. Retta membisu, memandang punggung lelaki di sana. Tanda tanya besar mengisi kepala Retta. Namun, saat tubuh lelaki itu memutar, menghadapnya. Entah kenapa kekecewaan tak dapat dihindarkan, kala wajah familiar itu bukan seseorang yang Retta harapkan.

Bodoh! Retta tersenyum miris, merutuki pikirannya yang mengharapkan lelaki itu adalah Regha. Hanya karena pusat pikiran Retta bercabang pada nama Regha, dia ikut melupakan sosok lelaki di depannya sekarang.

Yang dapat Retta lakukan hanya berdiri kaku saat sang lelaki melangkah mendekat. Menjatuhkan iris cokelatnya pada milik Retta. Setelah hanya keheningan yang menjadi saksi keduanya berdiri berhadapan.

Retta memaksa suaranya untuk keluar dan mengukir senyuman tipis. "Kenapa lo ada di sini?"

Tidak ada senyum atau candaan yang cowok itu lontarkan. Wajah Ragel tidak berekspresi sama sekali. "Nyokap dan Ayah lo nyuruh gue buat jemput lo."

Tanpa berniat adanya obrolan di antara mereka Ragel hanya menjelaskan kedatangannya ke rumah Retta.

"Buat apa Ayah nyuruh lo jemput gue? Dia nggak ada di Jakarta," heran Retta. "Ayah gue dapat tugas dari tempat kerjanya buat kerja di Lombok selama seminggu."

Jujur saja Retta merasa heran dengan dirinya sendiri. Untuk apa dia menjelaskan hal itu pada Ragel? Ya memang Retta kebingungan oleh kedatangan cowok itu yang tiba-tiba ke rumahnya. Belum cukup Retta merasa bingung dengan itu. Lalu Ragel juga menjelaskan jika sang Ayah meminta lelaki itu untuk menjemputnya. Menjemput kemana?

Mata Ragel bergerak ke segala arah, seperti menghindari kontak mata dengan Retta. "Ya karena Ayah lo nggak ada di Jakarta, dia nelpon Nyokap untuk jagain lo selama dia pergi."

Dibuat terperangah oleh penjelasan itu. Retta tak mampu untuk berkata-kata. Ayahnya meminta Tante Veni untuk menjaganya selama dia pergi, jika begitu, sama saja sang Ayah menyuruhnya untuk tinggal di rumah Tante Veni. Tinggal satu atap dengan Ragel.

Oh Tuhan...

"Jadi kedatangan lo ke sini buat jemput gue ke rumah lo?" tanya Retta jelas dengan nada tidak percaya.

"Ya!" jawab Ragel singkat, bahkan iris cokelatnya masih enggan menatap Retta.

"Tapi gue di rumah nggak sendirian, ada Bi sani," ucap Retta.

"Gue cuma ngikutin perintah Nyokap gue," jelas Ragel malas. "Lo harus mau karena ini kemauan Ayah lo."

Tidak ada pilihan lain selain menuruti, Retta mengangguk tanpa minat. Dia mendongak, ditatapnya wajah kaku Ragel. Hela napas lelah terdengar di sunyi antara mereka. Retta sangat mengerti dengan perubahan sikap Ragel padanya.

"Gue tunggu sini, lo bisa masuk ke dalam dan bawa beberapa baju untuk lo tinggal di rumah gue." Ucapan itu jelas sangat dingin, padahal diucapakan oleh seseorang yang memiliki satu ikatan keluarga. Tapi Retta tidak terlalu memusingkan itu. Dia mengayunkan langkahnya meninggalkan Ragel.

Hanya untuk satu langkah, Retta tersentak saat tubuhnya tertarik ke belakang dan mengakibatkan tubuhnya jatuh di pelukan Ragel. Retta terpaku, semua benang otaknya seperti sengaja dikusutkan, hingga menyulitkannya untuk berpikir.

Jarak tipis itu, mengambil persediaan udara milik Retta. Diam, iris cokelatnya jelas membalas tatapan Ragel yang lekat padanya.

"Apa gue salah punya perasaan ini, Ta?" Pertanyaan bodoh yang selalu menempel erat di otaknya, langsung Ragel keluarkan. Tapi Retta tidak bisa menjawab.

"Kenapa takdir kejam banget sama gue? Kenapa gue harus ditakdirin suka sama seseorang yang nggak bisa gue milikin? Kenapa takdir harus ngebiarin gue suka sama... SEPUPU GUE SENDIRI?!"

"Gel..." kedua tangan yang mengelilingi pinggang Retta, memeluknya sangat erat. Dituntutnya Retta untuk memandang wajah terpuruk Ragel, melarang melepaskan diri.

"You drive me crazy with this feeling, Retta!" Netra yang langsung jatuh di iris cokelat Retta, membuat kegetiran itu juga mengaliri tubuhnya.

"Lo nggak salah, Gel!" membiarkan dirinya untuk menjelaskan. Dapat Retta rasakan lidahnya kaku, tenggorokannya sakit. "Perasaan lo nggak salah, mungkin emang ini udah takdirnya. Lo nggak bisa nyimpan semua perasaan lo buat gue, lo harus ngelupain gue, Gel!"

Kegetiran itu kian kentara terlukis di wajah Ragel, menciptakan kebingungan untuk Retta menjelaskan. "Tapi percaya sama gue, Gel, lo pasti bahagia. Walaupun nggak sama gue."

Ragel menggeleng, tatapan nanar itu membuat Retta kembali membisu. "Tapi gimana kalo kebahagian gue itu lo, Ta?"

Lagi-lagi tali di otak Retta terputus, hanya karena pertanyaan yang tak pernah diduganya. "Gel..."

Semua kata-kata yang sudah siap untuk Retta jelaskan, terpaksa terhenti karena Ragel menarik Retta lebih dekat, merengkuh tubuhnya. Menyandarkan kepala Retta di dada laki-laki itu, hingga Retta bisa mendengar detak jantung yang bergerak dengan cepat.

"Gue nggak pernah maksa lo untuk ngasih hati lo ke gue..." Ragel meletakkan kepalanya di surai lembut Retta, dan menemukan kenyamanan di sana. "Gue ngomong gitu, cuma karena gue mau ngasih tau lo, kalo gue bakal berhenti untuk ngejar cinta lo, Ta."

"Gue bakal berusaha nerima semua takdir gue."

***

Di kamarnya Regha berjalan ke kanan-kiri berulang kali. Sesekali tangannya dilarikan ke rambut untuk diacak-acak. Kenapa seperti ini? Kenapa rasanya Regha sulit untuk melupakan Retta sejenak saja?

Perempuan itu sudah mengatakan kata-kata yang menghancurkan Regha saat itu. Tapi kenapa pikiran dan hati tidak pernah berjalan bersamaan. Pikirannya berkata untuk mendiamkan Retta beberapa hari hanya untuk menyadarkan Retta kalau perempuan itu membutuhkannya.

Tapi hatinya memberontak, menyuruh Regha untuk menghampiri Retta di rumahnya. Tidak! Tidak! Itu ide gila. Dia tidak bisa menuruti itu, tapi setiap kali Regha menolak menurutinya, dapat dia rasakan tubuhnya seperti dibenturkan ke tembok berulang kali.

SHITT!! Kenapa Regha tidak bisa menghiraukan Retta untuk beberapa waktu?

Gila! Regha benar-benar bisa gila jika seperti ini!

Apa dia menelpon Retta sebentar, hanya untuk mendengar suara perempuan itu?

Itu ide yang lebih gila! Apa yang harus Regha katakan saat perempuan itu mengangkatnya? Dia justru akan terjebak seperti orang bodoh, yang tidak bisa berbicara.

Oke lebih baik, Regha berbaring di tempat tidur, mencoba memejamkan mata. Merilekskan pikirannya yang berantakan. Ya! Itu ide yang bagus, setelah hari ini lelah dengan belajar di sekolah dan lelah memikirkan Retta, mungkin tidur adalah cara yang terbaik.

Lima belas menit kemudian, Regha telah rapi dengan kaos putih, yang tertutup hoodie abu-abunya, celana jeans yang terlihat sobek di bagian lutut. Dia melangkah keluar rumah, menuju garasi rumahnya. Mengeluarkan mobil SUV putihnya.

Sial... pada akhirnya akal pikiran Regha kalah dengan suara hatinya.

Mobil putih itu sudah melaju di jalanan. Matahari masih bersemangat memancarkan sinarnya. Padahal waktu sudah menunjukkan waktu setengah lima sore. Tatapan Regha terfokus pada jalan. Meski begitu, pikirannya mulai membentuk jawaban-jawaban yang mungkin akan Retta pertanyakan.

Tidak butuh waktu lama untuk Regha mencapai rumah Retta.

Dengan rasa percaya diri yang seharusnya sudah menghilang karena kalah dengan perasaan di hati. Regha melangkah turun dari mobil yang terparkir di depan pagar rumah Retta, mengetuk-ngetuk sepatu putihnya di halaman rumah perempuan yang sudah membuat Regha menjadi tidak waras.

Sampai kakinya mendadak sulit digerakan. Mata cowok itu terbelalak, terkejut bercampur dengan emosi yang membentuk. Regha merasa jantungnya merosot ke bawah. Menghilangkan detaknya di sana.

***

"Retta?"

Suara yang terdengar tidak asing, menelusup indra pendengaran Retta. Memaksanya untuk menjauhkan tubuh Ragel dan bibir cowok itu di keningnya. Secepat pelukan dan kecupan itu menghilang, secepat pula Retta menoleh ke samping kanannya.

Seolah ada benda yang memutus seluruh indra kerja Retta. Dia membatu, memandang lelaki yang berdiri di sana. Iris hitam itu sudah terlihat lebih dingin dibanding tatapan terakhir kali Retta lihat.

Membisu layaknya dibelunggu oleh ketakutan. Retta hanya bisa mematung. Pikirannya benar-benar sudah berceceran, hingga Retta harus memaksa membuka suara.

"Regha lo kok di-di sini?"

Seperti belati yang siap membunuh, tatapan Regha teralihkan dari Retta, ke seseorang yang berdiri di sampingnya.

Berbagai kemungkinan buruk mulai merambat dan terbentuk di pikiran Retta. Dia takut Regha kalap dan menghabiskan Ragel seperti di Bali waktu itu. Perkelahian yang tidak pernah Retta inginkan. Regha salah paham. Dia pasti salah paham.

"Gha..." Retta berjalan mendekati Regha. Sayangnya, langkah Retta dituntut untuk berhenti.

Tangan cowok itu terangkat, tidak ingin Retta berjalan ke arahnya. "Maksud ini semua apa, Ta?"

Emosi yang bisa disembunyikan di balik tatapan datar Regha, malah memperburuk ketakutan Retta. Tidak ada emosi, hanya tatapan dingin yang melekat di sana.

"Gue—" Retta ingin menjelaskan, tetapi Regha kembali berucap.

"Jadi ini alasan lo nyuruh gue berhenti?" tanyanya, Retta bergeming. Pertanyaan yang tidak pernah Retta inginkan terucap dari bibir cowok itu. Bingung, Retta tidak bisa menjawabnya.

"Lo nyuruh gue berhenti, bukan karena hati gue yang berpaling ke Farah. Itu cuma alasan bohong lo, ya kan?" Lagi-lagi Retta tak bisa menjawabnya, bibirnya terkunci rapat. "Alasan yang sebenarnya adalah lo nyuruh gue berhenti karena hati lo yang udah berpaling ke Ragel!"

Degup jantung Retta berpacu berkali-kali lipat. Ketakutan itu semakin mengikatnya, mengurungnya. Hingga hanya kepalanya yang bisa menggeleng, menolak tanpa adanya suara.

"Perjuangan gue benar-benar sia-sia, kan sekarang?" Kegetiran itu tampak jelas di mata Regha. "Dua tahun gue cuma buang-buang waktu untuk perjuangin sesuatu yang udah nggak ada! Semuanya sia-sia, Ta!"

Langkah Regha terayun mendekat ke arah Retta, tangan Regha bergerak menarik dagu perempuan, memaksa sang cokelat untuk menatap netra hitamnya. "Lo nyuruh gue berhenti, ya kan?"

Pertanyaan yang terkesan dingin dan juga datar, memperparah pacuan jantung Retta di luar kendali.

"Seperti yang lo bilang, untuk nyuruh gue berhenti, gue turutin kemauan lo itu, Ta...," Sesaat detak yang sejak tadi berdentum di ambang batas, seperti mendadak berhenti menunggu lanjutan Regha.

"Gue berhenti untuk merjuangin lo!"

Diam, tak berkutik. Retta merasa jantungnya benar-benar berhenti berfungsi. Aliran napasnya sulit untuk melakukan tugasnya. Semuanya terasa lebih menyakitkan untuk Retta.

Regha membawa tubuhnya menjauh dari Retta, sebelum mengeluarkan kata-kata—yang sebenarnya menyakitkan untuk dirinya sendiri. "Semoga lo bahagia... sama Ragel."

Sejenak Regha melirik Ragel, sebelum memutar tubuhnya, melangkah keluar dari sana. Keluar dari masa lalu yang sejak dulu ingin Regha perjuangkan untuk masa depannya. Dan kebodohan itu mengurung Regha, nyatanya masa lalu akan selalu menjadi masa lalu.

Sejurus mobil itu pergi meninggalkan gerbang rumah Retta, tangis Retta pecah. Air mata itu tumpah ruah membasahi wajahnya. Dada Retta sesak seperti ada benda tajam yang sengaja ditorehkan di sana, meninggalkan bekas luka tak kasat mata.

"Lo harus jelasin ke Regha..." suara Ragel terdengar, setelah cowok itu keluar dari kebingungan yang mengurungnya. "Gue nggak mungkin bisa milikin lo, lo sepupu gue Retta. Dan gue yakin Regha belum tau soal itu."

TBC(21-03-18)
     APING♡

____________

Maunya Retta jelasin ke Regha kalo Ragel itu sepupunya atau biarin aja terus salah paham? Wkwk

Divote ya jangan lupa ;)

Danke❤

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top