Chapter 6 - Souvenir untuk Rey
"Senang melihatmu lagi, Ben."
Karena prajurit perempuan itu masih berada dalam pengaruh spray pengalih cahaya, maka Ben Xabat tidak bisa melihatnya. Yang pasti dia ada di suatu tempat di sebelah kanan. Tangannya masih menggenggam tangan Xabat, dan sementara mereka berlari melewati atap-atap gedung, terasa embusan angin yang dibelah tubuhnya.
"Untuk apa kau membawa potongan tangan itu? Souvenir untuk Bollevar?" tanya perempuan itu sekali lagi.
Teringat kembali apa yang ingin dilakukannya tadi, Xabat melepaskan diri. Mereka berhenti di sebuah atap apartemen kumuh. "Amber, kita berpisah di sini."
"Kau tidak ikut pulang?"
"Pulang? Ke mana?" Xabat orang bebas tanpa rumah sekarang.
Xabat tidak yakin setelah pertemuannya dengan Bollevar kemarin, mereka masih mau menerimanya di markas. Apalagi Norvam telah membunuh Ryan di Duck Avenue.
"Gorong-gorong, mana lagi? Kita sudah jadi keluarga sejak di Sunshine Valley, bukan?"
"Amber, itu masa lalu. Permisi."
Xabat berlari menuju distrik di barat. Sesekali ada vampir melintas, tapi shotgun yang dibawanya ini tidak memiliki peluru yang mampu menyakiti vampir. Xabat berusaha mengabaikan kecemasannya, urusannya saat ini lebih penting daripada keselamatan dirinya.
Semoga para vampir begundal itu belum tahu Baron Norvam baru saja mati. Tato di lehernya bisa menyulitkan suatu saat, seluruh vampir bisa memburunya untuk dibunuh. Ben harus mencari cara untuk melenyapkan tato dengan inisial nama Norvam itu. Mungkin nanti dia akan mengorek permukaan kulit itu dengan pisau, atau membakarnya dan menunggu lapisan yang baru muncul, menutup tinta yang mengendap di sana. Lebih baik sakit sedikit daripada menderita nantinya.
Untuk sekian lama dirinya hanya diam di dalam rumah mewah milik Norvam, berperan sebagai peliharaan yang baik. Sudah lama dia tidak berjalan di tengah kota, semakin banyak tanaman dan debu, bahkan rumput liar tumbuh subur sehingga gedung terbengkalai tampak seperti gunung tebing di padang gurun. Saat ini efek spray masih aktif, sedikit bagian di wajah dan rambutnya sudah mulai terekspos. Mungkin dalam beberapa menit atau kurang dari itu dirinya akan kembali terlihat seutuhnya. Setidaknya bau manusianya masih tersamar di indera penciuman para vampir jalanan yang kelaparan di sekitarnya.
Sampai di distrik barat, Benker Xabat turun ke jalan dan berjalan seorang diri di tengah jalan raya. Rerumputan liar tumbuh mendobrak lapisan aspal yang retak, perlahan Cox berubah menjadi hutan berbeton. Xabat gagal membayangkan tempat seperti apa distrik ini sebelum para vampir menguasai Cox.
Sebelum bisa mengingat sesuatu, Xabat sudah tinggal di Sunshine Valley bersama teman-teman sebayanya, termasuk Ryan dan Amber Ferrett. Mereka semua dilatih oleh seorang kepala polisi, dipersiapkan untuk menjadi gerilyawan di Cox. Di antara teman-temannya, Xabat paling tidak becus melakukan apapun; tidak bisa menembak, tidak bisa berkelahi, naik sepeda pun takut. Mereka menyebutnya "muka mayat", katanya setiap kali menjalankan latihan, wajahnya jadi sepucat mayat. Sepertinya ada atau tidak ada dirinya, pasukan Spectreswarms tidak akan terpengaruh.
Mungkin memang dia manusia yang paling tidak berguna. Andai seorang vampir mengigitnya dan menjadikannya vampir sekalipun, vampirnya sendiri yang akan rugi.
Distrik Barat, jalan Mooneliza. Di sinilah Reynold berada sekarang, berjalan terseok-seok dengan anggota tubuh yang menghitam digerogoti belatung. Katanya zombi akan benar-benar mati dalam dua atau tiga tahun, bila mereka tidak makan apapun selama itu. Namun Reynold masih bergerak. Bersandar di tepi bangunan dalam gang yang gelap, terkurung di antara pagar kawat yang tinggi.
Waktu berburu beberapa tahun lalu, Norvam mengajaknya ke distrik barat. Di sini dia menemukan Reynold dan mengurungnya. Saat ini sang kakak berada di sebuah gang sempit, terpenjara oleh pagar kawat yang tinggi bersama dengan tumpukan kotak kayu dan ban sepeda yang telah berdebu dan meleleh. Pada salah satu pagar kawat itu ada pintu, namun sebilah crowbar tersangkut pada lubang kunci. Gara-gara itu, Reynold terpenjara di sana.
Xabat masuk ke dalam sebuah gedung kosong yang kacanya sudah pecah. Suasana gelap luar biasa. Untung dia tidak pernah dengar cerita horor mengenai penampakan hantu, jadi suara-suara angin yang berembus di sela-sela celah bangunan itu tidak mengganggu imajinasinya. Sampai di lantai atas, dia melangkah ke sisi barat gedung, di sana ada dinding yang sudah jebol. Dua tahun lalu Xabat melempar zombie dari lantai dua, menabrak dinding hingga jebol. Sekarang dinding yang jebol itu masih belum diperbaiki dan zombie itu masih terjebak di sana.
Perlahan efek spray light-bender habis dan sosok Xabat terlihat. Mungkin vampir-vampir liar di sekitarnya sudah mulai mengendus aroma darahnya dalam 30 meter, dan ini menjadi malam terakhirnya. Xabat tidak punya banyak waktu, sebelum menyambut para vampir kelaparan yang menginginkan hemoglobinnya, dia duduk di penghujung dinding yang jebol itu. Potongan tangan Norvam ia letakkan di sebelahnya, memandangi sesosok makhluk yang dilemparnya tahun lalu.
Bersama tumpukan kotak kayu dan ban sepeda, bagian tanah di sana sudah tergenang air yang menghijau dan kental. Perairan di sana dipenuhi gangang dan tanah yang lembab menghitam. Reynold berkubang di sana seperti boneka rusak.
"Stt!!" siulan Xabat memecah keheningan malam.
Tidak ada gerakan. Mungkin setelah lima tahun menipu dewa kematian, Reynold benar-benar sudah mati sekarang.
"Rey!"
Tidak ada reaksi, namun Xabat melihat ada gerakan dari sesosok mayat itu. Kepalanya yang tertunduk perlahan bergerak untuk menengadah, menampakkan wajah yang menghitam dengan helaian rambut hitam sebahu yang sudah rontok sebagian. Kulitnya kering dan menebal, seperti kulit kerbau yang diawetkan. Salah satu matanya sudah terlepas dari rongga, mungkin karena burung gagak sempat mampir dan mencaploknya. Dengar-dengar katanya burung gagak paling suka makan daerah mata yang jaringannya cukup lunak.
Saat pertama kali menemukannya, Reynold sedang terseok-seok berkeliaran tanpa arah di distrik barat. Keluhan dan geraman terdengar dari mulutnya, mungkin karena merasakan gigitan para belatung sedang menyantap lehernya yang berlubang dua.
Norvam suka berburu di distrik barat, mungkin karena dekat dengan rumahnya. Xabat sebenarnya jarang diajak ikut berburu karena penakut dan tidak berguna banyak. Tapi setiap kali pulang dari berburu, dia membawa potongan tubuh untuk memberi makan Reynold.
"Gruuuhhh..." geram Reynold, lemah.
Lihatlah dia sekarang. Dulu dia termasuk pemburu vampir yang sanggup beraksi sendirian, terutama bila dia menyuntikkan cairan penghilang wujud yang warnanya seputih susu kedelai. Tapi dia dan Bollevar tidak terlalu akur, mereka sering bertengkar meributkan betapa semberono Reynold dalam bertindak, kadang melawan komandonya. Walau begitu seingat Ben, semua orang di gorong-gorong hormat pada Reynold. Bagi mereka, Reynold sangat berani. Mungkin karena itulah mereka mengharapkan Ben juga seberani Reynold.
"Rey, kau ingat dulu aku pernah janji untuk membawakanmu makanan sesuatu?"
"Uuunggghhh ..." jawabnya, meniru kosongnya lolongan angin di jalanan Cox.
Xabat mengambil potongan lengan di sebelahnya, dan menggoyangnya sedikit di atas kepala. "Aku berhasil mendapatkannya."
Dilemparkan potongan lengan itu ke bawah, tepat mengenai wajah Reynold. Zombi itu langsung bergerak, seperti kucing malas yang sedang mengantuk mendadak disodorkan daging tuna. Dengan ganas dicabiknya daging pada lengan itu dan dimakannya dengan lahap.
"Hehehe ..." Xabat terkekeh. "Senang kau menyukainya."
Suara cekikikan vampir liar mulai terdengar bergema sampai ke telinganya. Itu dia! Mereka sudah mengendus bau manusia dan akan segera sampai dalam hitungan detik.
Benker Xabat berdiri meraih shotgun di punggungnya, bersiap untuk menghadapi berapa banyakpun vampir yang datang padanya. Lima tahun tinggal di antara vampir telah mengusir rasa takutnya terhadap gigi taring mereka. Dia tahu sekalipun kuat dan arogan sehingga intimidatif, sesungguhnya vampir-vampir itu sangat rapuh dan bodoh.
Pengetahuan menyuburkan keberanian.
Namun saat berbalik, seorang perempuan sudah berdiri di belakangnya.
"Ya ampun, Amber! Hampir saja kau membuatku terjun ke bawah!"
Rambutnya pirang dan diikat lalu digulung, perempuan itu juga menggunakan beanie hitam untuk menahan rambutnya yang panjang agar tidak tergerai. Sebuah goggle inframerah tersangga pada keningnya dan di depan lehernya tergantung topeng oksigen yang akan berguna pada suatu waktu tertentu.
"Jadi kau yang mengurung Reynold di sini rupanya? Untung Shaheed memutuskan untuk tidak meledakkannya saat itu." Amber Ferret mendekati dinding yang jebol dan melihat sesosok zombi sedang menyantap lengan yang kini sudah jadi tulang belulang. "Dia terlihat menderita sekali, bukankah lebih baik bila kita membunuhnya saja?"
"Aku memberinya makanan selama ini, agar dia bisa tetap hidup sampai aku memberikan daging Norvam untuknya."
"Berarti, sejak awal kau sudah berniat membunuh peternak itu?"
Xabat menghindari tatapan mata hijau Ferrett, dia memang memegang kuat harapan yang tidak mampu dipercayainya sendiri itu. "Kau tahu, kan? Saat kau merasa keinginanmu terlalu tinggi untuk diraih, namun pada saat yang sama, kau berharap keajaiban terjadi sehingga akhirnya tercapai juga."
"Ya, aku tahu rasanya." Ferrett pun memalingkan pandangannya ke luar gedung, kepada gejolak awan beriak di langit Cox. Dia juga masih terlalu muda saat Cox jatuh ke tangan kaum vampir, bila tidak ada foto-foto yang disimpan oleh Prof Burns, mungkin dia tidak pernah tahu bahwa yang di atas sana adalah langit yang salah. Kaum vampir itu meletakkan lapisan air di atas kota Cox, entah dengan cara apa. Tapi gara-gara itu, cahaya matahari kesulitan menembus sampai ke dasar kota sehingga vampir bisa bebas berkeliaran kapanpun mereka mau.
"Jadi ..." lima tahun tidak mengobrol dengan siapapun membuat Xabat jadi sedikit kaku berhadapan dengan orang lain. "... kalian sudah tidak pakai suntikan lagi sekarang?"
"Ya. Persis setelah kalian berdua menghilang, Ryan punya usul untuk tidak menyuntikkan drugs itu ke dalam tubuh lagi setelah ada yang keracunan dan diare akut. Usulnya dikabulkan dan, begitulah."
"Bagus."
"Cara kerjanya seperti mantel tembus pandang, jadi menciptakan medan untuk membelokkan cahaya."
"Aku tahu."
Amber Ferrett memandangi teman lamanya sepuas hatinya, "Jadi benar kata mereka, kau jadi peliharaan vampir."
"Tapi kau lihat sendiri, aku yang membunuh vampir itu. Aku yang membebaskan diriku sendiri!" seakan Xabat hendak mengklaim sesuatu, menekankan bahwa dia berhasil melakukan sesuatu yang luar biasa.
Ferrett menepukkan kedua telapak tangannya, seperti memberikan selamat. "Ya, tentu saja. Jadi, majikanmu sudah mati sekarang. Kalau kamu tertangkap, para vampir itu akan membunuhmu. Kau yakin mau hidup sendirian?"
"Bollevar tidak akan suka melihatku. Di Duck Avenue aku nyaris menembaknya."
Entah kenapa Amber Ferrett tertawa, ia menutup mulutnya dengan tangan, "maaf, aku merasa lucu karena lima tahun tidak bertemu ekspresimu jadi seperti robot. Apa sih yang mereka lakukan padamu? Mereka tidak mengganti organ tubuhmu dengan mesin, kan?"
"Jangan bergurau. Kau pikir aku mau bicara dengan para vampir?"
"Baiklah, baiklah, jangan tersinggung. Ngomong-ngomong, jangan khawatirkan Kolonel. Aku sudah bicara dengan Kolonel, dan dia setuju untuk membawamu kembali ke markas. Ayo pulang, Ben."
Gorong-gorong sudah berpindah lokasi sejak terakhir Xabat meninggalkannya. Kali ini mereka menggunakan lebih banyak perabotan dan lebih bercahaya. Pintu masuknya masih menggunakan tirai UV dan sepanjang 100 meter masih dipenuhi aroma bawang yang memuakkan. Tapi lokasinya berbeda. Lebih ke arah selatan, lebih dekat dengan muara sungai yang mengalir dari Sunshine Valley menuju lautan lepas.
Kelihatannya ruangan yang mereka temukan ini dulu menjadi bunker tempat penyimpanan barang-barang seludupan, saat menemukannya, ada banyak senapan mesin yang masih bisa digunakan. Sebagian besar dari mereka kini sudah dimodifikasi sehingga bisa lebih sesuai dalam menghadapi vampir.
Saat melihat Xabat muncul dari pintu masuk, semua prajurit di tempat itu langsung menghunus senjata. Pistol tangan ataupun pistol mesin, apapun yang ada dalam jangkauan.
"Ferret! Minggir!"
"Ada anjing vampir!"
Ferret mengangkat kedua tangannya melindungi Xabat. "Jangan cemas, teman-teman, dia yang membunuh Norvam!"
Mulai dari Ingram, mereka terkikik lalu tertawa.
"Kami hanya bergurau, Ferret."
Satu persatu Spectreswarms menjabat tangan Xabat sambil mengucapkan "selamat datang kembali, bro."
Tapi ....
"Bagaimana rasanya menjadi anjing?"
"Apa Norvam merantaimu?"
"Aku kira kau sudah lupa bagaimana caranya berjalan dengan dua kaki."
Xabat tidak ingin merespon celotehan brengsek mereka itu, dia sudah tahu hal ini akan menimpanya. Spectreswarms benci vampir, terutama manusia yang berubah menjadi vampir. Dan manusia yang menjadi peliharaan vampir—kecuali Chipper—tidak ada bedanya dengan anjing di mata mereka. Mereka lebih menghormati dia yang gugur di pertempuran, atau bunuh diri daripada jadi peliharaan vampir.
Xabat sendiri sempat berpikir untuk bunuh diri pada hari-hari pertamanya menjadi peliharaan Norvam. Tapi ada satu hal yang membuatnya mengurungkan niat tersebut. Apakah karena dia percaya bahwa dia akan bebas suatu saat? Tidak juga. Dia hanya terlalu takut untuk menyakiti diri.
Selama lima tahun dia sudah bisa bertahan dari Norvam, harusnya bertahan dari sindiran sinis orang-orang ini juga tidak sulit.
***
Operasi mata sudah selesai, setelah tiga hari, mata kiri Chipper dibuka dari perban. Perlahan kelopaknya gemetar dan terbuka. Ada corak kehijauan seperti tetesan ingus kental di dalam retina matanya seperti orang katarak. Katarak itu untuk menyamarkan lensa mini yang ditanam dalam matanya, apapun yang dilihat Chipper, akan dilihat oleh mereka yang tinggal di gorong-gorong.
Ferret bergidik ngeri melihatnya, "apakah sakit?"
Chipper tersenyum dan menggeleng. "Kita semua berjuang untuk merdeka, tubuhku terlalu lemah untuk berkelahi seperti kalian. Bila ini yang bisa kulakukan, apa boleh buat."
Valentine telah mati, demikian pula dengan Norvam. Kabar itu telah ramai dibicarakan di media. Di atas sana para vampir sedang sibuk mencari Xabat dan Chipper, karena peraturannya; bila majikan mati, peliharaan juga harus ikut mati.
"Tapi bila dia kembali ke permukaan, para vampir itu akan membunuhnya." Kata Ferret, mencoba membujuk Eugene Bollevar menahan Chipper untuk membatalkan niatnya. Namun Kolonel hanya diam bersandar dengan salah satu telapak kaki mendorong dinding di belakang. Ia memejamkan matanya rapat-rapat seperti pura-pura mengantuk untuk menghindari Ferret.
"Ashley masih hidup dan yatim piatu. Secara hukum aku bisa menyelamatkan nyawaku dengan memohon jadi peliharaannya. Tapi konsekuensinya, aku tidak lagi menjadi detektif."
Saat ini Ashley ada di penampungan anak, bersama bocah-bocah vampir lainnya. Mengingat anak perempuan itu setengah manusia, setengah vampir, Chipper cemas Ashley tidak mendapatkan perlakuan baik di sana. Dia juga belum tahu apakah darah Ashley akan terendus sebagai manusia atau vampir. Yang pasti, Chipper ingin ada untuk Ashley.
Prof Burns sedang membersihkan peralatannya, ia ikut berbicara mewakili Bollevar. "Bagaimanapun kita butuh mata untuk memantau keadaan di atas. Kalau Xabat yang naik, dia sudah pasti mati karena para vampir itu sudah curiga bahwa dia yang membunuh Norvam. Tapi Chipper masih punya Ashley. Dan dengan memasukkan kamera ke dalam retina matanya, kita bisa memantau lebih jelas."
"Aku sudah sepuluh tahun lebih melakukan ini, Ferret, aku akan baik-baik saja." Alex Chipper tersenyum.
Ferret memeluk lelaki tua itu dengan erat, "jaga dirimu baik-baik, Chipper."
"Kau juga, Ferret."
Menurut Ingram yang memantau kondisi di sekitar markas, kondisi sudah aman untuk keluar masuk. Saat itulah Chipper merayap keluar dari gorong-gorong dan berjalan kembali ke distrik timur, lalu kembali ke distrik utara untuk menemui pengacaranya.
Sepeninggal Chipper, Bollevar memilih delapan orang anak buahnya untuk masuk ruang konferensi. Shaheed, Ferret, Ingram, Marvin, Osbourne, Todd, Summer dan Presley. Ferret merasa sedikit kecewa karena Bollevar sepertinya masih belum percaya pada Xabat. Sejak kedatangannya kembali ke gorong-gorong, Bollevar tidak pernah bicara, menyinggung ataupun memandang Xabat. Seakan pemuda itu tidak pernah ada di sekitarnya.
Pintu ruang konferensi ditutup rapat, ada papan tulis putih di hadapan delapan orang anak buahnya. Bollevar menggelar peta kota di sepanjang papan putih itu lalu menempelnya dengan empat buah magnet pada setiap sisinya.
"Perhatikan. Kalian berdelapan adalah orang yang kupilih untuk menjalankan operasi ini. Kalian yang terbaik. Kalian mengerti kenapa?"
Wajah-wajah optimis dan bersemangat segera terlihat dari mereka semua. Setiap menjalankan operasi kecil, Bollevar selalu membawa lima anggota yang terbaik dan tiga anggota yang kurang baik. Tapi bila dia membawa semua pasukan terbaiknya, itu berarti ini adalah misi besar.
"Aku namakan misi ini dengan; Exodus." Bollevar menulis kata itu besar-besar pada bagian atas papan tulis yang tidak tertutup peta kota Cox. "Kita akan bebaskan saudara-saudara kita dari peternakan Blatter-red."
Bollevar mengucapkannya sekali lagi, ambisi yang besar menyala-nyala di matanya, "kita acak-acak sumber makanan mereka!"
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top