Chapter 4 - Peternakan Darah

Biasanya "berserk call" hanya digunakan 10ml saja cukup untuk membuat seseorang bisa melempar truk kontainer menghilang di langit. Hardy menggunakan semua sebanyak 100 ml. Sepertinya dia benar-benar sudah siap untuk mati, dan memberikan perlawanan terakhirnya dengan maksimal.

Massa otot Hardy menebal berkali-kali lipat sehingga tinggi dan besarnya jadi melebihi Longinus. Wajahnya menjadi merah padam dan saluran pembuluh darahnya bermunculan di dahi maupun leher. Ia seperti Incredible Hulk berwarna merah padam karena pompaan jantung yang sangat kuat seperti piston motor.

Seorang vampir hinggap di punggungnya dan menghujamkan taring tajamnya ke bahu Hardy. Tapi gigi taringnya patah. Belum sempat vampir itu mengekspresikan rasa sakitnya, tangan Hardy sudah menangkap wajahnya dan membanting vampir itu seperti handuk. Tanpa ampun diinjaknya kepala vampir itu hingga hancur dan terbakarlah vampir itu menjadi debu dan arang.

Vampir lainnya tidak lebih beruntung, wajahnya ditinju satu kali hingga berubah bentuk, sepenyok kaleng kosong. Darah bermuncratan dari lubang hidungnya dan mulutnya mengerjap kejang. Tapi tanpa ampun tangan Hardy sudah mendarat lagi dengan kekuatan yang lebih besar sehingga wajah vampir itu pun hancur.

Akhirnya hanya dia dan Longinus yang tersisa. Hardy mencoba menghajar Longinus, namun vampir itu memang beda dari yang lain, mungkin karena usianya. Hajaran Hardy hanya mampu menimbulkan luka lecet di bibir atau dagu. Sungguh sulit dipercaya! Bahkan dengan kondisi drugs penuh seperti itu pun Longinus masih lebih cepat. Seperti matador dia meladeni Hardy yang mulutnya mulai berliur.

Pada akhirnya, efek sampinglah yang menjadi pembunuh bagi Hardy. Saat darah keluar memuncrat dari semua lubang yang ada di tubuh Hardy, Longinus mendengus "dasar pemula."

Hardy menyusut saat tubuhnya terkapar di atas lantai yang berlumut, tergenang darahnya sendiri. Ia seperti balon kempes yang meletus tertusuk jarum.

Vampir itu menginjak kepala Hardy seperti semangka, setelah itu dia membersihkan debu yang menempel di pakaiannya dan berlalu pergi.

***

Papan kayu itu tadinya adalah tutup box makanan yang menumpuk di gudang. Para prajurit melepasnya dan menyatukan papan-papan itu menjadi seukuran dipan ranjang. Di bawahnya mereka kaitkan dengan ban-ban sepeda bekas yang menumpuk di gudang juga. Jasad Hardy diletakkan di atasnya bersama dengan belati perak miliknya.

Kolonel Bollevar berjongkok di sisi tubuh tak berkepala itu, yang seluruh jaringan ototnya sudah robek karena overdosis. Kulitnya yang memerah saat mati tidak kembali seperti semula, malah kini menghitam seperti bagian tubuh yang terserang radang dingin. Professor Burns sempat meminta untuk mengotopsi tubuh Hardy dan menemukan jantungnya tidak ada. Sebagai gantinya, ada sebuah jaringan robek yang terkoyak seperti kain gombal yang terpakai puluhan tahun di daerah seharusnya jantung manusia berada.

"Teman kita gugur dalam tugas." Kolonel Bollevar melepaskan tambang yang menahan papan kayu itu hingga terbawa arus selokan air. Sedikit demi sedikit, papan tersebut mengecil di kejauhan dan berbelok mengikuti arus yang lebih deras. Mungkin dalam beberapa jam dia sudah sampai di laut.

"Ia gugur demi melindungi harapan yang ada di gorong-gorong. Ia mati demi masa depan yang ia percayai. Jangan kecewakan dia!"

Ingram dan Shaheed berharap saat itu mereka menuruti emosi mereka untuk menolong Hardy. Tapi bila saat itu mereka memilih untuk melakukannya, Hardy juga tetap akan mati dan belum tentu mereka mampu mengalahkan Longinus. Longinus seperti tak tersentuh, bahkan dengan drugs penuh. Mendadak Ingram merasa pesimis mereka bisa memenangkan perang ini.

"Innalillahi Wainalilahi Roji'un" bisik Shaheed, mengencangkan kepalan tangannya yang menggenggam erat dog tag dengan nama Jeff Hardy.

Itu adalah pertama kalinya dia menyaksikan sendiri legenda mengenai Longinus.

***

Sejak kematian Marja, Baron Norvam minum banyak darah berkolestrol. Favoritnya adalah O, rasanya seperti besi, agak sedikit lucu di pangkal lidah. Sudah hampir 100 jam berlalu, namun polisi masih belum juga memberi kabar.

Kini dia hanya duduk dalam kediamannya yang mewah berdesain minimalis dengan perabotan yang memancang dan rendah, memberikan persepsi santai pada mereka yang menghuni ruang tersebut. Sambil duduk di atas sofa berlapis kulit warna hitam, Norvam mengganti-ganti saluran televisi tanpa tahu apa yang ingin ditontonnya.

"Vampir, bisa apa mereka? Mengendus seperti anjing." Sekali lagi Norvam menegak minumannya sampai habis dan seorang peliharaan berkelamin wanita dengan fisik yang cantik datang dengan botol baru. Saat mengambilnya, Norvam menendang peliharannya itu, loyang alumunium jatuh berkelontang tapi manusia itu tetap tabah dan berlalu. Manusia membuatnya ingat kembali pada teroris, dan teroris mengingatkannya pada kepala Marja yang tergeletak di atas lantai, tidak sadar sudah mati.

"Vampir tidak bisa berpikir. Otak vampir hanyalah untuk mencari makan dan berkembang biak dengan cara elegan. Tidak hanya darah yang mereka ambil dari manusia, tapi juga kebudayaan. Sebagai bangsawan mereka mengadopsi budaya elite di masa medieval, tinggalnya di pelosok sambil menjajah manusia di kaki gunung. Dan kau tahu yang paling tolol dari semua itu? Mereka menyuruh seorang detektif vampir untuk menyelidiki teroris! Ini lelucon!" Norvam mengomel sendiri, membuka botol darahnya dengan label O berkolestrol.

Meneguk darah dengan rasa besi itu, dia melempar tutup botol yang baru dibuka dan mengenai kepala Salvador. Pemuda itu bergeming.

"Hehehe ... kamu tahu alasanku membiarkamu hidup?"

Sepertinya Salvador tidak peduli.

"Karena kamu salah satu dari mereka. Teroris itu."

Baru saja diteguknya kembali darah favoritnya tersebut, suara lantang masuk ke dalam ruang duduknya. "Jadi kamu pelihara teroris di kandang? Oh, begitu."

Baron Norvam beranjak dari tempat duduknya, menunggu Detektif Valentine sampai di hadapannya diikuti peliharaannya, seorang lelaki tua bernama Chipper. Dia benar-benar sudah masuk ke dalam! Norvam tidak pernah suka dengan vampir ini. Seperti Declan, Valentine adalah seorang deviant. Mereka adalah jenis vampir delusional yang beranggapan manusia dan vampir harusnya bisa hidup berdampingan. Tapi berhubung orang ini sudah di dalam rumahnya, mau tidak mau tamu harus disambut.

"Ah, detektif, maling berbusana hukum. Selalu tahu bagaimana cara menerobos keamanan dan sampai di dalam rumah seseorang."

Mata Valentine pucat, namun selalu ramah senyum. "Terutama peternak korup yang sering mengabaikan aturan berburu." Ia melihat Salvador di sudut ruangan dan tersenyum ramah padanya. Pemuda itu tetap bergeming.

"Nah, kebetulan aku yang ditunjuk untuk menangani kasusmu. Jadi aku perlu memeriksa sedikit hal di kandangmu."

"Jangan buru-buru. Biar kutraktir kau dulu sebagai tuan rumah yang bermartabat. Kau suka darah apa? A? B? O? atau campuran?"

"Kau punya AB vegetarian?"

"Hahaha! Pasti ada." Kemudian Norvam berteriak pada salah satu peliharaannya untuk mengambilkan botol darah AB vegetarian. "Jarang ada vampir yang suka meracuni diri dengan darah para vegetarian."

"Oh, tidak perlu heran. Manusia juga banyak yang suka meracuni diri dengan alkohol." Jawab Valentine, santai.

"Kalau peliharaanmu suka apa?"

"Dia partnerku, bukan peliharaan." Kemudian menoleh pada Chipper yang sudah berkeringat gugup di belakangnya. "Kau mau jajan apa?"

"Kentang chips mungkin enak." Chipper menyeka butiran keringat di keningnya.

Valentine kembali pada Norvam, "kau punya chips kentang?"

"Tentu saja. Haha ... sekalipun sudah jadi vampir, tapi dulu aku manusia juga. Aku kebal pada sayuran, dan juga terhadap peluru perak."

"Tapi jadi alergi bawang, kan?"

Norvam tersenyum kecut. "Bawang itu spesial. Bahkan manusia biasa pun kadang tidak suka."

Datanglah sebotol darah AB vegetarian dengan semangkuk chips kentang. Norvam menuangkan darah itu ke sebuah gelas anggur dan menyerahkannya pada Detektif Valentine.

"Minuman sudah dituang, mari kita hentikan basa-basi ini dan langsung saja ke inti permasalahan?"

Detektif Valentine menyesap darah di gelasnya sedikit, kemudian dia mengeluarkan geraman nikmat. "Aku suka darah vegetarian. Membakar kerongkongan dan menghangatkan tubuh."

"Bila kau berhasil mengungkap siapa otak dibalik terorisme ini, aku akan menghadiahkanmu darah paling keras, O bawang. Bila tidak hati-hati, tenggorokanmu bisa terbakar habis." Norvam terkikik sambil duduk di atas sofanya. Valentine ikut tertawa dan duduk di hadapan Norvam. Chipper duduk paling belakangan dan tidak berani jauh-jauh dari Valentine.

"Aku dengar kau pernah berhadapan dengan seorang teroris lima tahun lalu." Valentine membuka percakapan.

Norvam menunjukkan taringnya. "Ya, itu adiknya duduk di sana."

"Aku ingin meminjamnya sebentar untuk interogasi."

Norvam tertawa keras-keras. "Oh, jadi kau pikir mereka ada hubungannya dengan Hantu?"

"Siapa tahu."

"Lupakan saja. Teroris bukan hanya Spectreswarms. Dan aku berani jamin orang ini bukan Hantu."

"Kenapa begitu?"

"Karena dia tidak bisa menghilang!" Norvam menekan suaranya dengan kuat, "kau tahu saat aku menemukannya? Dia hanya berdiri terpaku memandangiku saja. Aku sampai tidak tega membunuhnya. Hahaha!!"

Valentine menoleh ke belakang, memandangi pemuda yang sedang duduk seperti patung hias di pojok ruangan, bersandar pada sebuah meja. Wajahnya suram seperti neraka yang beku.

"Para Hantu tidak menggunakan UV-rifle, mereka banyak beroperasi di daerah selatan dan menggunakan pisau perak. Waktu itu aku menemukan Salvador di distrik barat dan rekannya menggunakan UV-rifle. Di antara semua teroris, para Hantu yang paling merepotkan. Kalau Salvador kerjanya semberono, aku tidak yakin dia bagian dari para Hantu."

"Begitu rupanya ..." Valentine menyesap darah AB vegetarian sedikit lagi. Chipper sama sekali tidak menyentuh chips kentangnya. "Lalu, ada satu hal lain yang perlu kuperiksa. Aku sudah punya izin untuk memeriksa peternakanmu karena ada sesuatu yang janggal di sana."

"Oh ya?"

"Ya."

"Seperti apa janggalnya? Hanya peternakan biasa dengan infus yang menyedot darah manusia. Sudah seperti ketentuan hukum, aku memberi mereka makanan sehat tanpa obat-obatan aneh yang bisa membahayakan perut kaum vampir."

"Takutnya tujuanku itu hanya untuk memuaskan rasa penasaran yang berwenang, jadi rasanya tidak etis bila kuungkap."

"Hahaha ... kamu ribet sekali. Tanya saja langsung, akan kukonfirmasi biar jelas semua lebih mudah."

"Sayangnya aksi bicara lebih keras daripada omongan."

"Ayolah, semua vampir sangat praktis, kecuali dalam hal berbusana."

"Terima kasih pada partnerku, Alex Chipper, dia yang mengajariku bagaimana detektif seharusnya berpikir ribet. Ini surat izin dari kepolisian, ditandatangani sendiri oleh yang berwenang di Cox. Maka bila kau menolak, kau berurusan dengan orang yang menggoreskan tanda tangan di sini."

"Sejak kapan kau dan Longinus akur?" Norvam menggeleng kepala sambil menerima surat itu. Sayangnya, di bawah sana bukan tanda tangan Longinus Vladovic. Itu tanda tangan Charlotte Allastair, putri kandung dari Count Draco Francois Allastair. Orang yang tidak boleh dilawan sama sekali.

***

Salvador membukakan pintu garasi agar mobil majikannya bisa meluncur keluar dari gedung mansion bernuansa gothic. Pintu gerbang yang hitam dan tinggi terbuka, sebuah mobil limosin hitam meluncur keluar menerbangkan dedaunan yang gugur di atas aspal.

"Sudah delapan belas tahun aku mendirikan peternakan Blatter-red. Bahkan orang yang menjadikanku vampir, Declan Allastair percaya pada insting bisnisku dan memberiku modal. Sudah sejak itu aku memberikan banyak model minuman bagi kaum vampir. Ada rasa besi, manis, asin, asam, ada juga jenis vegetarian bagi vampir yang suka racun. Pelangganku ada di setiap distrik, produk Blatter-ku ibarat Coca-cola. Sekalipun banyak produk lain yang bermunculan kemudian, milikku tetap jadi pilihan nomer satu..."

"Menurutku Pepsi lebih enak," Valentine bergumam, walau minuman cola bersoda jelas bukan favoritnya.

Chipper sudah lebih santai, sekarang dia sedang menggambar coret-coretan di bokong buku catatannya. Valentine berusaha menahan diri untuk tidak menguap sambil mencoba untuk menemukan sesuatu yang menarik dari celotehan Norvam mengenai betapa berjasa bisnisnya bagi kehidupan vampir di Cox.

"... jadi bila aku ingin melakukan sesuatu yang aneh, sudah sejak dulu kulakukan."

Terima kasih, Tuhan, akhirnya dia selesai juga menceritakan petualangan bisnisnya yang luar biasa hebat itu, pikir Valentine dalam hati. Dadanya serasa sedikit sesak dan kepalanya sedikit pusing sekarang. Istrinya sudah lama melarang dia untuk minum AB vegetarian, tubuhnya sudah tidak toleran lagi. Padahal dulu waktu masih bujang, dia sanggup minum sampai berbotol-botol.

"Kau punya istri, Norvam?"

"Sekarang tidak. Vampir tidak tertarik mencari pasangan hidup. Karena kita hidup abadi."

"Tapi kamu kan dulu manusia."

"Aku mencoba untuk menggigit istriku dan menjadikannya vampir. Tapi kemudian ingat dia sering mengomel, jadi kuhabiskan saja darahnya." Norvam tertawa.

Valentine hanya menanggapi dengan senyum yang kaku, berharap mereka cepat sampai di peternakan. Ia tidak suka mengobrol dengan orang ini, selera humornya tidak lucu.

"Kalau anak, punya? Atau kau ingat mereka sering melawan ucapanmu jadi kau habiskan darah mereka juga?"

Norvam tertawa geli mendengar guyonan sarkastis itu. "Aku tidak butuh anak. Tapi aku memang tidak punya anak. Makhluk abadi tidak butuh anak."

"Tapi Count Allastair pun punya anak."

"Itu urusannya."

Akhirnya limosin sampai di peternakan dengan tulisan "Blatter-red" besar-besar pada pintu masuknya. Branding itu sudah populer di seluruh Cox dan hampir semua vampir minum produk itu. Norvam benar-benar pebisnis yang serakah, tidak hanya produk mahal, tapi dia juga membuat produk yang berharga murah agar bisa dikonsumsi oleh vampir berandal yang tidak banyak uang. Lagi, fungsi uang bagi kaum vampir adalah untuk membatasi konsumsi agar tidak berlebihan.

"Aku kagum dengan kebersihan peternakanmu ini." Valentine masih berbasa-basi, walau yang paling mencolok di peternakan ini adalah penjaga. Penjaga di mana-mana. Di setiap pintu, di setiap lantai, di setiap lorong. Dan melihat bahwa mereka semua tidak tampan, necispun tidak, maka Valentine bisa memastikan bahwa semua penjaga vampir di sini mungkin adalah homo mutos nosferatu.

"Itu sebabnya bisnisku yang terbaik di Cox." Norvam berjalan dua langkah di depan Valentine dan Chipper, mengantar mereka masuk ke pintu utama peternakan.

Chipper terkesan akan betapa terorganisirnya tempat ini, selain terorganisir juga rapi dan bersih. Bentuknya seperti sebuah penjara yang terawat baik. Lebih seperti apartemen yang punya pintu masuk tapi tidak punya pintu keluar dan setiap ternak hidup di dalam ruangan berdua-dua. Pembagiannya sangat kompleks, ada untuk rentang usia bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, manula, bahkan ada juga pembagian berdasarkan gender.

Chipper lupa berkedip saat melewati ruang ternak bayi. Bayi-bayi itu masih belum bisa merangkak atau berdiri. Mereka sudah diambil darahnya. Sejenak Chipper tidak percaya pebisnis itu dulunya manusia.

Mendadak Norvam sudah berdiri di depannya. "Tentu saja kami tidak menyedot habis darah mereka. Hanya diambil sedikit. Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit. Tapi ya begitu, bayinya harus banyak. Makanya harga Blatter-red Baby sangat mahal dan hanya Count Allastair yang pernah mencicipnya."

"Uhh ... ohh ... ya. Brilian, pak." Chipper tergagap, berusaha menghindari sorot mata Norvam yang ungu muda. Setelah itu dia menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan.

Norvam sudah kembali ke sisi Valentine dalam sekejap mata sambil memperkenalkan produk baru, yaitu vegetarian. Sayuran tertentu seperti lemon dan bawang ternyata ada yang berminat juga. Di luar gedung peternakan yang mirip dengan sistem apartemen itu, ada sebuah peternakan yang dipenuhi oleh manusia dengan tubuh kekar. Saat mereka melewatinya, mereka sedang berlatih parkour.

"Itu ternak untuk darah sehat. Blatter-red Sporty sangat diminati oleh kaum vampir untuk kebugaran. Kau mau coba?" Tawaran Norvam itu ditolak oleh Valentine dengan santai.

Kira-kira ada tiga jam mereka berkeliling di peternakan itu, lengkap dengan pabrik pengemasannya. Akhirnya setelah tur selesai, Norvam membawa mereka ke kantor kerjanya. "Nah, tuan detektif. Anda sudah melihat setiap sudut dan jengkal dari peternakanku, aku bahkan membawa kalian ke area terlarang; pabrik. Sekarang katakan padaku, apa tujuan kalian datang ke peternakanku?"

"Seperti yang kukatakan tadi, kami tidak bisa mengatakannya." Valentine mengembangkan senyum. "Tapi aku berani katakan, aku cukup terkesan. Bisnismu sangat terorganisir."

Namun Norvam masih memeriksa detil wajah Valentine seperti ada teka-teki menarik yang harus dipecahkan. Hal ini membuat Valentine sedikit tidak nyaman. Apalagi mengingat dirinya bukan jenis vampir yang kuat, Norvam bisa dengan mudah membunuhnya kapanpun dia mau. "Oh lihat, sudah sore sekarang. Aku masih bisa berlama-lama di sini dan bergurau dengan anda, tapi partnerku manusia. Dia tidak boleh berkeliaran pada saat hari gelap."

Sedikit tergesa, Valentine berlalu ke pintu keluar kantor. Namun mendadak Norvam sudah berdiri di depannya. "Kamu datang ke sini bukan untuk melihat peternakanku, kan?"

Alarm merah! Pikir Valentine.

"Apa yang kau curigai?" Norvam mulai menunjukkan gigi taringnya.

"Aku rasa belum terlambat untuk mundur, Norvam." Valentine tersenyum dengan tenang, "saat ini belum banyak yang tahu. Mungkin kau perlu berpikir untuk membubarkan setengah dari penjaga-penjagamu. Kulihat satu sudah cukup tangguh, setangguh dirimu. Tidak perlu sampai ribuan penjaga, kan?"

Norvam membiarkan Valentine dan Chipper bergegas pergi meninggalkan peternakan. Satu hal yang mereka lupakan, mobil Valentine ada di rumah Norvam. Tapi Valentine tidak bisa mengungkapkan betapa lega dirinya setelah keluar dari pintu gerbang peternakan, dan lebih-lebih saat mereka sudah kembali ke lingkungan kantor polisi. Jadi mungkin dia ikhlaskan saja mobil rongsok yang sudah sering keluar masuk bengkel itu.

"Tiga ribu penjaga, peternakan mana yang butuh tiga ribu penjaga? Dan apa itu, darah olahragawan? Mana ada bedanya dengan darah pemalas? Semua darah rasanya beda-beda tipis hanya tergantung golongan darah atau usia manusianya."

"Tapi kau suka AB Vegetarian." Sela Chipper.

"Sebenarnya kalau manusia itu tidak makan bawang atau putih telur, tetap tidak terasa bedanya kok."

"Begitu ... sepertinya memang tidak diragukan lagi. Lalu bagaimana? Kau berniat melaporkannya?"

"Sebaiknya tunggu dulu. Aku beri dia kesempatan untuk berubah pikiran. Harusnya satu minggu sudah cukup." Seperti Valentine yang biasanya; selalu memilih jalan damai daripada kekerasan. Bahkan terhadap orang-orang yang tidak memenangkan simpatinya sekalipun.

Mereka telah sampai di distrik tempat markas kepolisian mereka berada. Di sekitar sana ada rumah Chipper, dan rumah Valentine pun tidak jauh dari tempat itu.

"Mau makan malam di rumahku?" tanya Valentine.

Berhubung di rumah cuma ada telur dan makanan instant, Chipper sangat gembira dengan tawaran itu. Dua sahabat beda generasi itu lanjut bergurau kecil sambil melangkah jalan turunan menuju blok lain dimana ada rumah hijau dipenuhi bunga. Sesekali ada vampir berandal yang mengendus aroma lezat dari Chipper, tapi mengetahui dia berjalan dengan vampir lain, mereka tidak berani macam-macam.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top