Strategi dan Tipuan
Ragnarok berwarna biru mendarat di landasan udara Delling. Kala itu siang hari, matahari sedang terik-teriknya, Quistis menyeret kopornya turun dari hangar.
"Terima kasih atas tumpangannya, Jason," wanita itu berhenti berjalan dan menghadapi pemuda ganteng di sebelahnya.
"Sama-sama," seakan mengetahui bahwa dirinya barusan diusir secara halus oleh Trepe, Jason berkata lagi, "tapi aku ada urusan di Delling, aku harap kau tidak keberatan kalau kita jalan bareng."
Perjalanan dengan kereta dari Ballamb ke Delling paling lama membutuhkan waktu tiga hari non-stop. Quistis harus melakukan transit-transit yang melelahkan di Timber dan Ballamb. Pada saat dia tiba di Delling, konser Rinoa sudah selesai. Dia butuh rute perjalanan yang hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja, maka dari itu Squall menyuruh Jason, seorang SeeD kelas A yang berbakat untuk mengantarkan Quistis sampai ke Delling. Ini pertama kalinya Quistis dan Jason bertemu, dan Jason menempel padanya seperti tahi ikan.
"Aku hendak mengunjungi teman lamaku, Rinoa Heartily. Kau tahu dia, kan? Penyanyi terkenal yang baru saja merilis albumnya?"
"Tentu saja," kemudian Jason menyanyikan lagu Rinoa yang berjudul "A Thousand World".
"Oke," potong Quistis. "Kurasa kita berpisah di sini saja, karena Rinoa pasti tidak akan punya kepentingan denganmu, begitu juga sebaliknya."
Baru tiga langkah Quistis berlalu, dia mendendengar suara Jason, "aku diutus Komandan untuk menemui Jendral Carlway. Bila tidak salah ingat, artis cantik kita masih tinggal bersama ayahnya, kan?"
Quistis pun tahu bahwa ini akan menjadi perjalanan paling menjemukan ke rumah Rinoa.
"Silakan," Jason membukakan pintu mobil sedan yang baru saja meluncur keluar dari hangar Ragnaroknya. Sedan warna merah itu ditempeli banyak stiker pada badannya. Sepertinya siapapun yang memiliki sedan itu menempelkan stiker apapun yang dia pikir menarik pada mobilnya, tanpa peduli apakah akan enak dilihat atau tidak akhirnya.
Sesuai dugaan, Jason duduk di sebelah Quistis di bangku belakang. Ini seperti seorang bos besar dengan istrinya saja.
"Asik...," Mathiu, si supir sedan yang juga seorang SeeD satu tim dengan Jason itu menyeringai. "Ngomong-ngomong, kemana kita? Hotel?" tanya Mathiu, masih saja melirik-lirik kaca spion sambil berbicara dengan kaptennya.
"Hotel kedengaran oke, tapi sayangnya, kita akan ke rumah Jendral Carlway," kata Jason.
Kediaman Jendral Carlway masih sama seperti saat pertama kali Quistis mengunjunginya. Hanya saja, kali ini ada beberapa pekerja bangunan yang sedang sibuk di bagian depan mansion tersebut. Sepertinya ikut pemilihan umum membuat Jendral Carlway merasa perlu menaikkan imejnya dengan memperbaiki bagaimana huniannya terlihat. Kalau dia melakukan pemilihan umum di Ballamb, mungkin bagaimana pintu rumahnya terlihat tidak menjadi masalah, tapi ini Delling. Kota seni, budaya dan arsitektur, semakin bagus pintu rumah seseorang, semakin meningkat elektabilitasnya. Irelevan? Begitulah orang normal.
Dulu Jendral Carlway merupakan seorang pria tegas dan serius, tapi sekarang dia sudah berubah, minumannya sekarang wine Montgomerry 1445, dan Quistis merasa sayang untuk meneguk anggur termahal di dunia ini.
"Aku ucapkan selamat datang, kepada kalian, SeeD Ballamb Garden. Aku tahu, popularitasku bisa mengancam keselamatan jiwa putriku yang manis. Untuk itulah aku berterima kasih pada Squall Leonheart, komandan kalian, yang tahu apa yang harus dia lakukan," kata Jendral Carlway, dan dia masih akan terus berbicara seputar elektabilitas dan popularitas dirinya.
Sementara itu Quistis mengintip koran yang tersembunyi di kolong meja di depannya. Masih bisa terbaca headline koran tersebut; "Carlway vs Sinclair : Pilih Kebakaran atau Kebanjiran?"
"Seingatku, Squall mengatakan bahwa dia akan mengirim Zell Dincht?" tanya Jendral Carlway pada Quistis.
"Ya, benar, kami sudah membicarakan hal itu. Tapi kami kemudian mendapat informasi kelanjutan, bahwa ada gangguan di pintu barat Fisherman's Horizon. Jadi ada perubahan rencana secara mendadak, dan Jason Roth yang menggantikan Zell," Quistis menjelaskan.
"Gangguan seperti apa?" tanya Jendral Carlway. Dia tidak boleh tahu bahwa Seifer-lah yang akan mendatangi putrinya. Sampai dia tahu, Jendral Carlway akan mengupayakan segala cara untuk menangkap orang itu dan mengesekusinya. Squall ingin Seifer dalam keadaan hidup, dan itulah yang akan diperjuangkan Quistis.
"Seperti yang kita tahu, seminggu sekali para nelayan Fisherman's Horizon akan mendistribusikan hasil tangkapan mereka ke Galbadia. Para perompak itu akan menyamar sebagai nelayan untuk menyusup sampai ke Delling. Di sanalah Zell berada untuk memeriksa mereka," kata Quistis.
"Masuk akal," Jendral Carlway akhirnya duduk di sofa. "Walau begitu, ada yang mengusikku. Memangnya siapa orang-orang ini yang berani mengancam putriku? Apa urusannya nelayan Fisherman's Horizon dengan aku? Memangnya mereka sangat berbahaya sehingga Squall harus mengirimkan tiga SeeD terbaiknya?"
"Oh ya, Jendral. Mereka sangat berbahaya," kata Quistis.
"Boleh saya minta profilnya?"
Quistis sudah mempersiapkan kru bajak laut FH yang paling garang dan dia sodorkan profil mereka untuk Jendral Carlway.
***
Quistis berbicara yang sebenarnya mengenai Zell berada di pintu barat FH. Pangkatnya SeeD S, itu berarti di atas A, dia memiliki jabatan sama dengan Quistis sebagai wakil komandan ke dua. Harusnya dia bisa duduk di dalam kantornya dan menunggu laporan anak buahnya. Tapi mengetahui siapa yang mereka incar di pintu barat FH ini, dia tidak akan suka mengistirahatkan pantatnya di kursi kehormatan. Tanpa kenal lelah, dia turun langsung untuk memeriksa mobil-mobil truk pengangkut ikan dari FH.
SMS dari Squall masuk.
"Update?"
"Belum."
"Ingat, Zell, aku ingin dia dalam keadaan hidup."
"Kau butuh mulut dan pikirannya, kan? Beres."
Send.
Ponsel Zell berdering.
"Jangan kau lukai dia. Ingat, kita besar bersama dibawah asuhan wanita yang sama. Dia saudara kita."
"Kau tahu sekadar stun gun tidak akan mampu menghentikan dia," kata Zell.
"Apa-apaan itu?" Squall terdengar marah. "Kau Zell Dincht. Kau punya otak dan otot!"
"Oke, aku mengerti. Aku harus kembali bekerja, ada mobil sedan yang datang."
Zell mengantungi ponselnya dan berjalan melewati mobil-mobil pengangkut ikan untuk mendatangi mobil sedan kuno tersebut. Seorang lelaki berambut pirang sedang duduk di kursi kemudi dan terlihat berusaha untuk sabar menunggu giliran razia.
"Selamat siang," kata Zell.
"Ada apa ini pak? Buronan lepas?" tanya orang itu.
"Semacam itulah. Lepaskan kacamata hitammu," perintah Zell.
"Kenapa aku harus melakukannya? Kau polisi lakukan saja tugasmu, aku hanya orang biasa yang ingin mengunjungi mamaku di Winhill!" orang itu berkata dengan tidak sopan.
Satu ayunan tangan dari Zell sudah cukup untuk membuat para SeeD mengepung mobil sedan tersebut dan membekuk orang itu. Pria itu berteriak-teriak dan mengeluarkan sumpah serapah saat mereka menggeledahnya. Zell membuka dompet orang itu dan membaca kartu identitasnya.
"Sam Redcross."
"Aku mau kau periksa kartu identitas ini," Zell menyerahkan kartu itu pada bawahannya. "Bawa dia!"
"Lepaskan aku!" pria bernama Frank itu berteriak-teriak marah saat para SeeD menyeretnya ke post keamanan. "Apa salahku?! Aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh!!"
Mereka mungkin meletakkan tangan Sam di belakang punggungnya, namun itu tidak mencegah Sam untuk menggeser sebuah tuas kecil yang terpasang pada cincin titanium di ibujarinya.
***
Seifer mungkin tinggal di FH, namun bukan berarti dia ketinggalan teknologi. Justru FH yang merupakan kampung halaman para nelayan ini sangat maju teknologinya dalam hal navigasi. Ketika mobil Sam Redcross dihentikan oleh para penjaga Galbadia, dia akan mengetahuinya karena mobil Sam tidak bergerak dalam waktu yang lama. Tak lama kemudian titik itu berkedip-kedip merah.
"Kau lihat itu, Raijin?" Seifer melepas kacamata hitamnya dan menunjuk titik yang tadinya berwarna merah di gerbang barat FH dengan gagang kacamata hitam itu.
"Kenapa dengan Sam?"
Seifer dulu mungkin akan marah-marah karena Raijin sangat lemot seperti ini, tapi seiring berlalunya waktu dia sudah belajar untuk mengendalikan kemarahannya itu. Dia menyalakan speaker.
"Halo, Sam," terdengar suara Zell dari speaker.
"Hei, aku tahu, aku tidak bekerja sama. Tapi kau harus tahu, aku memang benci orang berseragam, itu sebabnya aku marah-marah. Tapi apapun itu, kau salah orang."
"Mungkin aku salah orang, tapi orang itu mungkin pernah lihat pria di foto ini?"
"Tidak, aku tidak pernah melihatnya sama sekali."
Kedua mata Raijin langsung melotot dan mulutnya terbuka membentuk huruf O yang sangat besar.
"Sekarang kau tahu kenapa kita ke arah Eshtar?" kata Seifer.
"Ehh ... tidak."
Seifer menyerah. Ya sudahlah, bodoh ya bodoh.
"Apa itu di jarimu?"
"Hei, hei!! Jangan! Bukan apa-apa!!"
"Maksudku, kalau kau ingin mencapai Rinoa, kenapa harus memutar jauh sekali? Kenapa tidak menabrak mereka saja? kan beres. Kalau kita lewat Eshtar, pasti konsernya sudah selesai sebelum kita sampai," Raijin mencoba bersikap seakan dia masih punya otak.
Suara grasak-grusuk seperti dua orang sedang bergulat terdengar dari speaker.
"Begini ya ... sebenarnya yang aku rencanakan adalah ..." ada pantulan cahaya yang sangat menyilaukan datang dari belakang mobil, terpantul oleh kaca spion. Untuk beberapa detik, Seifer terbutakan oleh cahaya itu dan kehilangan kendali atas kemudi. Fuujin yang duduk di sebelahnya dengan sigap memegang setir dan membantingnya ke arah kanan.
"Tombol apa ini?"
sssrkrkkkrkkkkk....
Suara ledakan terdengar dengan keras saat cahaya itu membakar aspal di titik mereka berada sebelumnya.
"Holly sh*t!! Apa itu, Seif?!" Raijin segera menoleh ke belakang mereka dan melongo melihat sesosok makhluk tinggi besar kembali masuk ke dalam jembatan FH. "Monster! Aku melihat monster! Bentuknya seperti kerang dan sepertinya ada yang dipenjara di dalamnya! Makhluk apa itu? Guardian Force??"
Ketika Seifer membuka mata, penglihatannya masih tersamar karena sinar itu sangat terang. Dia hanya melihat warna biru dan objek dalam penglihatannya sedikit kabur. Namun dia mengambil kembali kemudi sedan itu dan mencabut kaca spion itu dengan marah.
"Fuu, awasi sekitar kita!" Seifer merasakan matanya perih seperti terbakar. Dia meraba-raba kantung jaket denimnya dan menemukan obat tetes mata, lalu membanjiri kedua matanya dengan obat itu.
"Seifer! Aku melihat Leviathan!" seru Fuujin. Dia segera melemparkan cakram berbelatinya untuk menyerang sesosok monster laut berbentuk ular tersebut. Tapi cakram itu tidak kembali. Fuujin pun memincingkan matanya untuk melihat lebih jelas.
"Ada seseorang ..." dengan cepat Fuujin mengambil teleskop sniper yang dia simpan di dashboard mobil.
"Seorang lelaki, rambutnya biru. Dia punya tanduk."
"Jadi ... mereka masih ada rupanya ... para penyihir itu..." geram Seifer yang masih mengerjapkan kedua matanya. Segera dia turunkan kecepatan dan menginjak rem. Mobil sedan tua itu ngedrift untuk berhenti. Seifer yang pertama kali turun dari sana, berjanji untuk tidak akan melepaskan kacamata hitamnya lagi sambil memasang gunbladenya, Hyperion.
Leviathan itu masuk ke dalam lautan, datanglah sesosok makhluk bersayap besar menyambar sesuatu di punggung Leviathan. Bayangan hitam menyelimuti mobil, Seifer, Raijin dan Fuujin sekaligus saat makhluk itu melewati mereka.
Sesuatu dilepaskan oleh makhluk besar itu, seperti semburan nafas yang sangat panas. Fuujin segera memasang medan pelindung dan sesuatu seperti helaian-helaian bunga astral membungkus mereka, melindungi mereka dari semburan nafas yang mampu melelehkan mobil sedan di sebelah mereka.
Makhluk itu mendarat di hadapan mereka bertiga dan sebuah mobil yang hangus, seorang pria melompat turun dari punggung makhluk angkuh dan bersayap itu.
Pria itu menyeringai, tangannya besar dan panjang membuatnya tampak seperti manusia tapi bukan manusia.
"Aku yakin kau yang bernama Seifer Almasy, kan?" tanya pria itu.
"Untuk ukuran pria besar, suaramu cukup melengking, siapa kau?" tanya Seifer, hyperion siaga dalam genggamannya.
"Aku tidak berasal dari duniamu, tapi akulah pria yang akan menjadi raja di dunia ini... aku ... Seymour."
"Raja?" Seifer mendengus geli, "itu yang kau inginkan? Kekuasaan? Yakin kau bisa melakukannya? Dengan bantuan GF-GF itu?"
"Belum ... belum ...," Seymour melangkah santai di hadapan sosok makhluk bersayap yang tadi melelehkan mobil sewaan.
"Kalau aku bertindak sekarang, pastinya dunia ini akan hancur, dan aku akan menjadi raja di atas mayat. Maka dari itu, aku harus menguasai dunia ini dengan tidak membunuh semua orang."
"Hei, kau penyihir. Oke? Kau bisa mengendalikan GF-GF itu; kau penyihir. Aku memang punya sejarah dengan Ultimecia, tapi aku sudah selesai dengan itu semua. Bila kau mau pelayananku, aku sudah pensiun. Fuu, Rai, ayo!"
Sekilat Thundaja menyambar aspal di depan Seifer. Begitu kuat kekuatan sihirnya sehingga Seifer masih terkena setrumannya sedikit walau sol sepatu karetnya masih bagus.
"Kau punya sesuatu yang aku inginkan, Seifer. Kembalikan padaku, dan kau boleh pergi."
"Apa yang kau inginkan dariku?"
"Tiga Raja," jawab Seymour.
"Aku bersumpah, ini pertama kalinya aku mendengar itu. Aku tidak memilikinya dan kau salah orang. Boleh aku pergi sekarang?"
Seketika Seymour sudah sampai di depan Seifer dan mencengkram batang lehernya dengan kuat. Fuujin di hantamnya dengan kejutan listrik yang keluar dari telapak tangannya, gadis itu terbang menabrak pembatas jembatan FH. Sementara itu Raijin di sikatnya dengan amukan api yang meledak di wajahnya. Raijin juga terbang dan jatuh ke aspal, hilang keseimbangan.
"Jangan main-main denganku, Seifer. Yuna pernah memberikannya padamu, sekarang aku menginginkannya karena itu milikku!" kata Seymour.
"Y-Yuna? Aku tidak mengerti siapa yang kau bicarakan...!" wajah Seifer mulai memerah dan urat-uratnya bersembulan di dahinya.
"Tiga Raja! Yuna! Tidak mungkin kau melupakan itu semua!!" cekikan Seymour semakin kuat.
"Aku tidak tahu!" Seifer menebas dengan gunbladenya, melukai Seymour. Cengkraman tangan Seymour melemah dan Seifer memanfaatkan ini dengan menghajarnya dengan taifun api.
BLOODFEST!!
Bahamut, monster besar yang melelehkan mobil sewaan Seifer itu segera lepas landas dan menangkap Seymour, dia segera menyembuhkan diri. Sementara sihir curaja dengan cepat menutup lukanya, Seymour berseru pada Seifer.
"Aku meremehkanmu, Seifer. Tapi ingat, saat aku mendatangimu kemudian, kau akan menyerahkan Tiga Raja padaku."
Bahamut terbang membawa Seymour ke suatu tempat di utara. Seifer mengusap lehernya yang memerah karena dicekik. Dia berani bersumpah bahwa itu bukan tangan manusia. Terlalu besar untuk ukuran tangan manusia biasa.
Selembar foto melayang jatuh, pasti ditinggalkan oleh Seymour. Seifer memungutnya dan gemetar mengetahui siapa yang ada di dalam foto itu.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top