Simbol yang Bernafas
Semua berawal dari sebuah keinginan. Keinginan yang tidak jelas datang dari mana, ada begitu saja. Seperti cerita murahan dimana karakter tercipta begitu saja, tanpa latar belakang. Mungkin ulah Guardian Force, mungkin. Karena ingatan itu sama sekali hilang, seakan tidak pernah ada, tapi tetap saja kejadian yang dialami hari ini tetap ada. Memberikan kesan seperti lukisan yang berlubang di bagian tengahnya, sekalipun lubang kecil, namun cukup untuk membuat makna dalam lukisan itu menjadi cacat.
Seifer bukan jenis orang yang suka merenung, namun setelah Galbadia menginginkan lehernya, Trabia meracuninya, dan Eshtar meledakkan tempat kostnya, Seifer pun terpaksa berpikir dan merenung.
Perang sudah berakhir, penyihir berbahaya sudah tiada, Ultimecia sudah hilang. Hanya Seifer yang tersisa, setiap orang melihat wajahnya, mereka ingat akan kepahitan Perang Penyihir kedua. Segera, segenap kemanusiaannya tereduksi menjadi simbol sederhana tentang Perang Penyihir 2.
Setelah lolos dari panasnya bom Eshtar, Seifer merayap setengah mati ke gorong-gorong kota yang mengering dan terabaikan, menjahit luka-lukanya tanpa anestesia, dan berjuang agar tidak menjerit, dia mengambil nafas dan membiarkan panasnya air mata bergulir turun dari ujung mata melewati ujung pipi.
Apa sih salahku? Perang sudah selesai, kenapa mereka masih marah padaku?
Tinggalkan aku sendiri, aku sudah membuang jaket salib merah itu dan menggunakan pakaian yang sama dengan kalian. Aku bukan lagi ksatria penyihir, aku hanya seorang Seifer Almasy, gelandangan yang bekerja serabutan untuk bertahan hidup. Impianku sudah hilang, bahkan memikirkannya lagi membuatku muak.
Terdengar suara kokangan pistol tidak jauh dari telinganya. Seifer menoleh, melihat seorang lelaki berkumis menatapnya tajam.
"Hallo, Almasy," sapanya dengan suara mendayu, gembira karena sebentar lagi akan mendapatkan uang dan sejarah mencatatnya sebagai pahlawan yang menangkap antek penyihir.
"Kau mendapatkanku sekarang, huh?"
"Ya, tiga juta gil sedang kutodong. Lima juta, bila kutarik pelatuk ini," wajahnya menyala saat dia menyulut api pada rokoknya.
"Kalau begitu, sia-sia aku menjahit luka ini barusan, dong?" Seifer meremas lengannya yang baru selesai dia jahit.
"Tidak juga. Kalau kau tidak menjahit luka itu, darah yang keluar lebih banyak lagi, kau bisa mati sebelum aku membunuhmu, dan aku hanya dapat tiga juta," kata si detektif.
"Aku tahu siapa kau, kau akan mendapatkan berapapun uang untuk kau habiskan di meja judi. Aku lebih ikhlas andai yang menangkapku adalah seorang pemilik rumah yatim piatu, misalnya," kata Seifer.
"Oh ya, ngomong-ngomong soal pemilik rumah yatim piatu, kami sempat melacakmu menggunakan detektor DNA, kau tahu kan, setidaknya ada tiga orang yang punya DNA sama? Ayah, ibu, anak. Bila kita mendapatkan DNA seseorang, kita bisa menemukan ayahnya, ibunya, dan anak-anaknya."
"Aku tidak punya anak," kata Seifer.
"Bukan anak," detektif itu menyanggah. "Aku menemukan orangtua kandungmu. Dia ada di Cetra sekarang. Kau mau tahu siapa?"
Seifer menunggu, namun detektif itu jatuh pingsan sebelum berbicara lebih banyak. Sebagai gantinya, terlihatlah sosok bertopeng. Ada luka codet dari dahi ke pipi kiri.
"Yang benar saja ... dia baru saja akan menyebutkan siapa ayah biologisku!"
"Terima kasih kembali, Seifer," Squall segera menarik lengannya. "Ayo!"
Squall membawanya ke sebuah pod kecil, seukuran kapal selam. Fuujin tampak resah sedari tadi dan Raijin sedang berdoa. Keduanya tampak senang sekali ketika melihat Squall datang bersama Seifer.
"Cepat, sebelum mereka melihatku!" bisik Squall.
Masuk ke dalam kapal selam, Squall melepaskan topengnya dan menyetel kemudi otomatis menuju suatu tempat.
"Kita sudah aman. Kalian boleh berisirahat, karena ini pasti hari yang melelahkan," kata Squall. Dia duduk di sebelah Seifer dan membuka kembali jahitannya.
"Aku berjuang keras menjahit itu tanpa anestesia, dan kau memintaku mengulanginya lagi?" tanya Seifer.
Squall menyerahkan perlengkapan medis P3K pada Fuujin, dia tahu apa yang harus dilakukan dengan perlengkapan itu.
"Benang apa yang kau pakai? Jarumnya? Bisa-bisa kau malah mati karena infeksi daripada sembuh."
Fuujin mulai bekerja, Squall memiliki alat penjahit luka yang sangat praktis, berbentuk seperti pistol dan sakitnya hanya seperti kena tusuk jarum saja, namun mampu menutup luka dengan rapat.
"Kemana kau meluncurkan kapal selam ini? Ke tahanan Ballamb Garden? Untuk memamerkan pada dunia bahwa SeeD berpihak pada dunia baru?" tanya Seifer dengan sinis.
"Kau harus belajar untuk menerima bahwa tidak semua orang melihatmu sebagai penjahat, Seifer," Squall mengamati perjalanan mereka dalam layar GPS. Dalam dua jam mereka akan tiba di FH.
"Kata orang yang selalu menendang bokongku pada Perang Penyihir 2 kemarin," Seifer tertawa.
"Kata orang yang terpaksa harus menendang bokongmu karena kau sangat keras kepala dan menyedihkan!" ralat Squall. "Tidakkah kau lelah dengan semua ini, Seifer? Berlari? Tidakkah kau ingin hidup dengan santai, menemukan seorang gadis, jatuh cinta, lalu memulai keluarga?"
"Wow, aku tidak percaya perhatian sebesar itu datang dari orang yang merebut pacarku," Seifer tersenyum kecut.
"Aku tidak peduli dengan masa lalu kalian, dan aku tidak mau membahasnya, oke? Sekarang ini jawab saja pertanyaanku itu; apa kamu tidak lelah hidup seperti itu terus?"
"Apa kau sedang mengkritikku?" tanya Seifer.
"Aku sedang menawarkan kebebasan padamu," jawab Komandan B-Garden itu.
Rahang bawah Seifer mengencang, dan dia tidak lagi menyembunyikan kelelahan jiwa dari sorot matanya itu, "tidak ada yang mau hidup begini, dimana identitasmu hanya sebagai simbol perang yang telah berlalu dua tahun lalu. Aku manusia, aku lebih dari simbol yang orang lain paksakan padaku."
"Kita akan perjuangkan itu, tapi semua butuh momentum. Serahkan ini padaku, dan aku akan mencari cara untuk membebaskanmu dari situasi ini."
"Mendadak kau peduli padaku?" Seifer curiga.
"Aku berpikir sama denganmu, kau manusia, lebih dari simbol yang orang lain paksakan padamu. Jadi serahkan ini semua padaku, yang perlu kau lakukan hanya bersembunyi sambil menunggu waktu yang tepat. Aku yakin bila kita melakukannya dengan benar, dunia akan memaafkanmu," kata Squall.
Enam bulan setelah kejadian itu, Squall datang membawa seorang pemuda berkulit gelap dengan rambut pirang. Dia terlihat asing dan memandang segala sesuatu penuh curiga.
"Teman baru?" Seifer menunjuk pemuda itu dengan dagunya.
"Aku menemukannya di pantai Trabia. Para kanibal di sana mengejarnya untuk dimakan, kasihan. Jadi aku membawanya ke sini."
"Oh," balas Seifer dengan singkat.
"Dia amnesia, semua ingatannya hilang. Bila dia hidup dengan orang yang salah, kasihan."
Seifer tertawa, "dan kau menitipkannya padaku?"
Jawab Squall, "hanya kau yang bisa kupercaya saat ini."
"Kenapa?"
Squall memanggil bocah itu dan menyuruhnya mendekat. "Kau punya ide, dengan nama apa kita memanggilnya?"
"Pakai saja identitas Sam Redcross. Aku tidak pernah menggunakannya juga selama ini."
Kesepakatan dengan mudah dicapai, Squall mendorong pemuda amnesia itu kepada Seifer. "Oke, teman, mulai hari ini, kau adalah Samuel Redcross. Seifer, jaga dia baik-baik. Oh ya, dia jago menyelam."
Seifer menepuk bahu pemuda amnesia itu, "bagus, kalau begitu kita bisa menggali dasar laut tanpa harus membuang bensin untuk kapal selam."
"Menggali dasar laut?" akhirnya si pemuda amnesia berbicara. "Maksudmu menangkap ikan di bagian laut yang lebih dalam?"
Tidak setiap hari bajak laut berkelahi rebutan harta di laut. Tapi pada saat mereka selesai melakukannya, para nelayan FH berebut menyewa kapal selam untuk melakukan penggalian. Seifer sedang menabung untuk membeli kapal selamnya sendiri, tapi sejak Sam ada di antara mereka, tabungan itu terbengkalai.
Sam benar-benar jago menyelam, kedalaman seperti apapun tidak membuat gendang telinganya pecah. Dia bisa melihat jelas di dasar laut, dan gerakannya sangat gesit dibawah tekanan air, seperti burung pinguin. Yang lebih penting, dia bisa menahan nafas selama mungkin di bawah sana.
"Huah!! Woohoo!! Aku dapat jackpot!" seru Sam sambil melambaikan tangan.
"Kalau begitu cepat kemari! Sampai nelayan lain melihatmu, kau bisa ditembak dengan tombak paus dan jackpotmu direbut!" kata Seifer.
"Yang benar saja, bos! Tidak ada siapa-siapa di sini. Aku masih sanggup menggali lebih banyak lagi dan kita bisa makan banyak malam nanti!" kata Sam.
"Sepertinya kalian sudah akrab," mendadak Squall muncul di antara mereka.
"Hei," sapa Seifer, tetap menyelingkapkan kedua tangannya di ketiak. Musim dingin sudah datang, harusnya siapapun akan merasa menggigil saat menyelam. Tapi Sam terlihat biasa-biasa saja. "Lama gak kelihatan."
"Ya, banyak kesempatan yang terlewatkan dengan konyol, dan aku tidak mau membahasnya," Squall terlihat kecewa. "Ngomong-ngomong, aku ingin mencoba menyelam juga, penasaran dengan apa yang kalian lakukan di bawah sana."
"Aku akan menemanimu," Seifer memanggil Raijin untuk mempersiapkan pod penyelam untuk dua orang.
Pod itu berbentuk seperti gelembung yang terbuat dari besi. Tapi bentuknya tidak benar-benar bulat. Antara kubus dan gelembung, yang memuat dua orang dimana satu orang beraksi sebagai penyelam, dan orang lain sebagai pengemudi.
"Seifer!" panggil Fuujin setelah dia dan Squall berada di dalam pod. "Hati-hati."
Seifer paham, maksud Fuujin bukan hati-hati menyelam, tapi hati-hati terhadap Squall.
Ada perbincangan antara dia, Raijin dan Fuujin. Mereka tidak tahu kenapa Squall bersikap sangat baik pada mereka. Kenapa Squall merisikokan kedudukannya sebagai komandan Ballamb Garden dengan melindungi seorang buronan perang yang paling diburu di seluruh dunia? Kalau sampai mereka tahu dia sering datang ke FH, sudah pasti para negara yang memburu Seifer itu akan mempertanyakan posisi Ballamb Garden. Tidak menutup kemungkinan juga mereka akan menindak tegas B-Garden.
Semua bantuan itu terjadi tanpa alasan.
"Kau perhatikan GPS itu, di layar ini ada pendeteksi emas, perak, dan logam lainnya; itu target kita. Layar yang ini adalah statistik denyut jantung penyelam dan dia akan memberi tahu apabila terjadi ketidak stabilan dalam kinerja biologis dan otak juga. Bila terjadi bahaya, kau bisa menarik secara manual, tali yang menghubungkan penyelam dengan pod ini," Seifer mengambil pakaian selamnya, namun Squall merebutnya.
"Kan sudah kubilang, aku ingin mencoba."
Seifer tertegun sesaat. Yang dia pikirkan saat ini adalah apakah Squall sebodoh itu untuk menyerahkan nasibnya di tangan Seifer? Bisa saja saat dia menyelam, Seifer memutus tali penghubung antara dia dan pod sehingga Squall tenggelam di dasar laut sana. Tapi dia benar-benar terjun dan menyelam. Dia mendekati lokasi emas itu berada dan memungutnya.
"Ini menakjubkan, aku harus akui sedikit menakutkan di bawah sini bila aku terlalu memikirkan betapa berbahaya posisiku saat ini," Squall terdengar santai.
"Ya, aku pernah kecelakaan saat sedang mengangkat hasil bajakan. Baju selam yang kupakai bocor dan pemiliknya hanya menyelotip dengan lakban lalu disemprot dengan warna yang sama," Seifer mengawasi monitor-monitor di hadapannya sambil makan kacang kulit.
"Parah!"
"Aku tahu. Baru ketahuan saat aku sudah berada di dasar sana, lakbannya jebol dan air merembes masuk."
"Gila! Kalian benar-benar berani, melakukan ini semua tanpa asuransi jiwa!"
"Asuransi itu omong kosong!" Seifer menyeringai.
"Lalu bagaimana kau menyelamatkan diri?"
"Berenang," Seifer angkat bahu; memangnya ada pilihan lain selain berenang?
"Ow! Whoa!!"
"Ada apa?"
"Tidak, ada mayat bajak laut melayang melewatiku. Dia baru saja mati, kurasa, tubuhnya masih utuh walau ... bagian bawahnya sudah ... hilang?"
"Kapal itu baru karam kemarin, Squall, dia pasti tewas tenggelam kemudian digerogoti ikan."
Squall berdecak, "kau, Pak, membuatku berpikir dua kali saat akan makan hidangan laut di kemudian hari."
Seifer tertawa terbahak-bahak.
"Seif. Aku tidak harus memungut emas, kan?"
"Terserah, yang penting punya nilai jual."
"Sepertinya aku menemukan ... lukisan..."
"Rupanya kau punya perhatian terhadap seni juga, Squall?"
"Ini lukisan Lucretia yang hilang dua bulan lalu di museum Dollet. Bila menemukannya, mereka bersedia menebus dengan harga mahal!"
"Menurut catatanku, kapal itu memang pernah berlabuh di lautan Dollet, pasti mereka menggunakan boat untuk mendarat di Dollet dan mencuri lukisan itu agar identitas kapal tidak ketahuan penjaga pantai," kata Seifer.
"Aku akan memungutnya. AHHHH!!!"
Hening.
Seifer berhenti mengunyah kacang. Dia melirik pada layar pendeteksi kondisi fisik Squall. Layar itu offline. Dia masih menekan-nekan tombol komunikasi, memeriksa segala yang bisa dia periksa sambil memanggil-manggil Squall. Tak lama kemudian, lautan terguncang dan dari podnya, Seifer bisa melihat ada gejolak di dasar laut. Debu yang mengendap di dasar lautan kembali naik mengepul, menyembunyikan pandangan. Seifer memasang kacamata renang yang sejak tadi terpasang di dahinya, dia baru bersiap untuk menyelam ketika kemudian dia menyadari ada sepasang mata yang sangat besar terbuka.
"Olthros ..."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top