Plothole

Baru selesai mengkokang hyperion, sirene berbunyi dan cahaya merah dari sinere mewarnai ruangan. Dari luar ruangan komandan, terdengar suara langkah kaki yang berat bersama suara Squall sedang berbicara dengan orang lain.

"Pokoknya aku mau semua kadet diamankan, suruh mereka absen, begitu juga dengan karyawan garden, absen semuanya. Perintahkan semua SeeD untuk berjaga di setiap sudut Garden dan mencari Seifer Almasy. Pasang wajah ketiga orang itu di proyeksi agar yang belum pernah lihat mereka, tahu siapa mereka sekarang."

"Siap, komandan!"

Pintu bergeser terbuka dan Squall terpaku, seakan seseorang penyihir keturunan Hein baru saja melepaskan jurus Blizaja padanya sehingga dia membeku ditempat. Gunbladenya mungkin tidak mampu menembakkan peluru, namun desain hyperion berbeda. Selongsong gunblade itu sedang tertuju ke wajahnya, Squall pun bergerak hati-hati. 

Mengikuti aba-aba Seifer untuk menutup pintu dengan rapat, Squall melakukannya.

"Biar aku jelaskan..."

"Ya. Tadinya aku minta kau menjelaskan, tapi kupikir sudah jelas semuanya. Kau merenggut semua dariku, Squall. Impianku, mantanku, ... apapun yang kuinginkan, kau yang akan mendapatkannya. Sekarang aku mau kebebasan, dan kau akan merenggutnya lagi?"

"Aku tidak akan mau menjelaskan kalau kau tidak letakkan itu di lantai. Yang pasti aku tidak pernah menganggapmu orang jahat. Sekalipun tidak," kata Squall sambil menunjukkan kedua telapak tangannya yang kosong.

"Ya, aku letakkan gunblade ini di lantai, setelah itu apa, Squall? Kau serang aku dengan Griever, GF mu itu?"

"Seifer, kau terlalu banyak asumsi," Squall berusaha sabar sambil berharap orang ini mendengarkannya juga.

"Tiga tahun keparat kulewati dengan leherku menempel di belati para pengincar bounty! Agen-agen rahasia menodongkan pistol ke dahiku! Ada hari-hari dimana aku tidak percaya bahwa detik ini juga aku masih bernafas ... sekarang kau menuduhku terlalu banyak asumsi?" kata pemuda bersenjata dengan trust issue akut di ruang komando.

"Lalu siapa yang menyelamatkanmu dari itu semua? Kau pikir siapa?!" balas Squall. 

Squall selalu hadir di sana untuk menolongnya dari orang-orang yang mengincar kepalanya. Dalam setiap aksinya dia selalu menggunakan topeng, seperti ninja. Dia sengaja menyembunyikan wajahnya agar kamera CCTV sial yang kebetulan merekam mereka tidak mampu menjelaskan kalau wajah orang yang menolong Seifer Almasy tidak lain adalah Squall, komandan Ballamb Garden. Squall juga yang mengusulkan agar Seifer bersembunyi di FH. Di tempat itu, kartu identitas tidak wajib dimiliki. Namun Squall memberikan identitas palsu bagi Seifer; Samuel Redcross. Dia juga memberikan kartu kredit dan akun bank atas nama itu dan sebulan sekali Squall mengirimkan dana agar Seifer bisa hidup. Walau semua dana itu tidak pernah digunakan lagi oleh Seifer dan menumpuk di bank, tidak lain karena Seifer masih belum tahu untuk apa Squall menolongnya sampai seperti itu. Baginya, ini plothole. Selama lubang belum tertutup, dia tak mau menyentuhnya.

"Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau selalu datang untuk menyelamatkanku dari para agen dan bounty hunter itu?"

"Karena kita bersaudara, Seifer, walau darah kita berbeda, tapi kita sudah saling mengenal sejak kita belum tahu apapun. Sekarang dengarkan aku, letakkan gunblademu di lantai, dan biar kujelaskan kenapa aku ingin kau mendapatkan Fenrir," kata Squall.

Seifer tidak meletakkannya di lantai, melainkan menggantungkannya di pinggang. 

"Ya sudahlah," yang penting gunblade itu sudah tidak teracung ke wajahnya, pikir Squall.

"Duduk," Squall menunjuk sofa hitam dengan kelima jarinya. Seifer hanya menjawab dengan menyilangkan tangan dan memiringkan kepala penuh curiga.

"Baiklah, aku saja yang duduk."

"Mulai dari Fenrir. Kenapa kau mau aku punya GF? Apa konsekuensi yang kuperoleh setelahnya?"

Squall harus berhati-hati menjelaskan ini, karena memang ini penting, namun bila sampai Eshtar dan Galbadia tahu, mereka bisa tidak percaya kepada SeeD, dan akhirnya bisnis akan melemah, Ballamb Garden bisa bangkrut.

"Fenrir adalah GF sederhana seperti Carbuncle, Tonberry, jenis GF yang bisa sekalian kau jadikan peliharaan. Aku harap kau suka Alascan Malamute," kata Squall. "Tapi kelebihan Fenrir adalah dia tidak mengambil tempat di otak penggunanya, karena dia selalu hadir. Dengan kata lain dia tidak perlu menempati badan penggunanya. Kau benar-benar punya anjing peliharaan."

"Jadi intinya apa?" Seifer mendesak.

"Fenrir bisa mengembalikan ingatan yang hilang. Karena dia termasuk GF yang punya omni memory, dengan kata lain dia bisa melihat memori banyak orang dengan kondisi tertentu, terutama pemiliknya. Saat ini, Seifer ... kita tidak sendirian. Ada orang dari dunia lain yang berdatangan ke sini, dan dia ingin menguasai dunia ini. Karena GF, kita lupa apa yang pernah terjadi di masa lalu. Untuk itu kadang kita tidak mengerti apa yang terjadi di masa kini, kenapa kita berperilaku sedemikian rupa. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku tidak pernah berpikiran buruk tentangmu, walau kadang aku menyayangkan tindakanmu..."

"Bisa tidak kamu jelaskan ..."

Pintu ruang komando meledak. Daun pintu itu terbang melayang dalam keadaan terbakar. Seifer tidak sempat menghunus gunbladenya, maka dia melindungi tubuhnya saat benturan terjadi dengan menggunakan lengan kanannya. Pintu berat dari bahan besi itu menghantam kepala Seifer sehingga darah mengalir dari kulit yang robek.

"Squall!! Kau tidak apa-apa?!" Zell dan Ifrit di belakangnya memasuki ruangan komandan. Atas perintah Zell, Ifrit mengangkat pintu besi yang berat itu dan Seifer langsung menyerang Zell dengan gunblade terhunus.

Dengan gesit Zell menghindari serangan itu dan langsung membalas dengan mendaratkan sikutnya mengenai punggung Seifer. Terhuyung, Seifer mencoba mengembalikan keseimbangannya. Namun tiga orang SeeD yang datang bersama Zell di pintu komandan itu menyerangnya dengan senjata masing-masing. Ada yang punya tongkat, ada yang punya nuchaku, ada yang menggunakan tongkat baseball.

Seifer bertahan sekenanya namun serangan-serangan itu berdatangan seperti badai. Maka dia mengibaskan gunbladenya memutar udara di sekitar menjadi twister yang terbakar dengan kekuatan api. Dia menerbangkan ketiga SeeD itu ke udara dengan jurus BLOODFEST. 

Belum sempat mendarat, Zell sudah menghajarnya dengan tinju-tinju dan tendangan berputar. Jurus duel standar namun menyakitkan karena kekuatan Zell yang luar biasa. Seifer tidak mau berduel dalam jarak dekat dengan Zell, maka dia menjaga jaraknya sejauh mungkin.

"Kau lelet, chicken-wuzz!!" ejek Seifer, dia tidak mau mengakui kalau dia hampir saja kena pukulan dahsyat lelaki pendek itu.

"Yeah? Tunggu sebentar aku serius dulu," Zell kini bergerak semakin cepat dan Seifer benar-benar kewalahan sehingga dia tidak sempat lagi membuka mulut untuk berbicara. Terlebih saat Zell menangkap tangannya dan mematahkannya sehingga Seifer tidak lagi bisa memegang hyperion.

Namun Seifer tidak menyerah, dia memegang belakang kepala Zell dan menyeruduk hidungnya dengan dahinya yang keras. Zell terhujung dengan tulang hidung yang patah, darah merah membanjir dari hidungnya yang menggembung karena bengkak.

Seifer memungut hyperion dengan tangan kiri lalu menyerang Zell, "kubunuh kau!!"

"Seifer?" ada suara wanita dari sudut ruangan. Seifer menoleh ke sana, dan melihat seorang gadis cantik dengan warna mata berbeda. 

"Ya, benar ... itu benar-benar kau, Seifer," wanita itu terlihat senang sekali. Untuk suatu sebab yang tidak jelas, seperti plothole, Seifer tidak mampu memalingkan wajahnya dari wanita itu.

"Siapa kau?" tanya Seifer.

"Kau lupa padaku? Ini aku, Yuna," kata wanita itu. "Kau bilang dulu padaku, kau ingin jadi ksatriaku."

Kata-kata itu seperti pematik kompor yang gasnya sudah dicabut. Harusnya ada api yang menyala tapi karena gasnya tidak ada, jadi tidak ada api. Tapi si kompor tahu, harusnya ada api. Dia hanya tidak mampu menemukan gas.

Seperti plothole.

Sesuatu yang berat menghantam kepalanya, membuat Seifer terhuyung jatuh dan terpaksa harus tertidur. 

========================================================

  *gap = a break or hole in an object or between two objects.  (celah di antara dua benda)

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top