Asosial dan Salib Merah

Suara kipas angin tua berdengung statis di sudut bar. Angin yang digerakkan oleh turbinnya hanya cukup menghilangkan pengap karena suhu udara Fisherman's Horizon yang lembab.

"Jendral Carlway merasa yakin bahwa dirinya akan memenangkan pemilihan umum Presiden Galbadia ..."

Suara pintu terbuka dengan cepat lebih menarik perhatian para tamu bar itu daripada berita yang sedang disampaikan televisi di sudut atas ruangan itu. Dia menaikkan kerah jaket kulitnya yang hitam sampai menutupi bagian bawah daun telinganya kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan. Pemuda itu menurunkan topinya lebih ke bawah lagi karena berani sumpah, dia benci perhatian.

Dia duduk di depan barista dan dengan cepat memesan, "teh."

Barista mengusap keringatnya yang membanjir di kening kemudian menuangkan minuman itu ke dalam cangkir dan menghidangkannya pada Pemuda Asosial itu. 

"Sebaiknya kau minum teh itu atau dia akan terus memandangimu," kata seorang pengunjung lain di sebelah Pemuda Asosial. Dia memiliki tato salib merah pada lengan kirinya.

"Ini bukan teh, ini secangkir berisi cairan berwarna merah," si Pemuda Asosial protes.

"Ini warung Fisherman's Horizon, Leo, kalau kau berharap seseorang meletakkan daun teh di dasar gelas lalu menyiramnya dengan air panas, sebaiknya kau pergi ke Delling saja," kata si Salib Merah.

Leo, si Pemuda Asosial itu, menyesap air teh tersebut. Barista lalu kembali pada kesibukannya, karena si tamu sudah minum, dia bisa menagih uangnya.

"Jadi, kau bisa jelaskan kenapa dia baru berhenti memandangiku setelah aku minum? Maksudku, apa yang dia harapkan? Ini hanya teh," kata Leo.

"FH, bila kau tidak memakan apa yang kau pesan, kau punya alasan untuk pergi tanpa bayar," si Salib Merah menyengir dulu sebelum menjawab, tangannya mengaduk-aduk sereal coklat yang sudah dingin. Leo bertaruh sereal itu pun hasil cidukan dari kuali, bukan sereal yang dimasak secara khusus pada saat makanan itu dipesan.

"Jorok ... tapi aku tidak mungkin makan tak membayar," kata Leo.

"Tapi semua orang, terutama yang setidaknya punya pisau lipat melakukan itu di sini. Ini kampung halaman rampok," kata Salib Merah.

"Jadi ... kau membaca pesanku," kata Leo, menegak tehnya sekali lagi dan dia ingin muntah karena rasanya aneh. 

"Ya, pesanmu agak sulit kupahami awalnya, untung Fuujin membantuku," kata si Salib Merah.

"Fuujin, pintar juga dia," kata Leo.

"Dia terlalu pintar sehingga dibully. Sebelum bertemu aku dan Raijin," kata Salib Merah.

"Aku baru tahu itu, kukira kalian yang membully anak-anak lain," Leo ingin kembali menyesap tehnya namun dibatalkan niat itu karena masih ingat dengan rasa aneh teh tersebut.

"Yeah, manusia memang begitu, kan? Awalnya mereka yang membully. Raijin karena terlalu bodoh, Fuujin karena terlalu pintar. Sampai mereka bertemu aku, lalu kubantu mereka membalas, dan akhirnya kita yang jadi orang jahatnya," kata si Salib Merah.

"Tapi, bukannya kalian ...?"

"Kau pikir saja, Leo, kalau kami memang menyalahgunakan jabatan sebagai kumite kedisiplinan, kenapa Kepala Sekolah Cid mempertahankan kami?"

Tepat pada saat itu, televisi menyiarkan peristiwa sebuah organisasi masyarakat di Delling yang sedang berdemonstrasi sambil melempari polisi dengan batu. "Komunitas yang menamakan PGAP, Pemuda Galbadia Anti Penyihir sekali lagi mendemonstrasikan rasa cemas mereka akan aktivitas yang dilakukan oleh para pemburu Guardian Force yang terlihat di sekitar Timber..."

"Kau dengar itu?"

"Mana yang mencemaskanmu?"

"Bisa kau tebak?" tanya Leo.

"Sebagai pimpinan baru, seharusnya yang ada dalam pikiranmu adalah bagaimana caranya agar melaksanakan tugasmu dengan baik. Hal-hal yang berhubungan dengan keamanan, atau masalah yang masih hangat soal penyihir, pasti menjadi perhatian utamamu. Tapi ..." si Salib Merah sudah menghabiskan serealnya, dia memposisikan sendoknya menungging. "... kalau memang penyihir yang jadi isunya, kau tidak akan mencariku."

Kemudian mereka saling bertatapan dengan tajam. Seseorang bilang mereka selalu bertengkar, namun mereka sendiri merasa tidak ada yang lebih memahami mereka selain orang yang sedang mereka tatap saat ini.

"Kau ingin aku mendapatkan Guardian Force itu untukmu, untuk Ballamb Garden."

Leo mengembangkan senyum yang lebih tepat disebut seringai.

"Kenapa aku?"

Leo meletakkan satu lembar uang yang terlalu mahal untuk melunasi makan siang mereka berdua siang ini. Sambil mengelosor turun dari kursinya, dia berkata, "mereka bilang kau punya bakat tidak jelas, Seif. Tapi bagiku, kau punya otak yang tajam. Aku yakin, aku tidak perlu menjelaskannya. Kau akan mengerti sendiri."

Pada saat Leo keluar dari bar, si Salib Merah masih tinggal di sana. Tatapannya tertuju pada televisi di pojok ruangan. Seorang demonstran sedang berbicara di depan televisi dengan mata melotot menyala-nyala.

"Guardian Force itu antek penyihir! Siapapun yang menggunakannya, mereka ingin jadi penyihir! Ballamb Garden adalah sekelompok tentara bayaran yang selalu menggunakan Guardian Force, mereka itu semua adalah alasan kenapa di dunia ini selalu terjadi perang! Ganyang Ballamb Garden sampai rata dengan tanah!! Perang kalau perlu!!"

"Apa yang kau inginkan, Leo ...? Eksistensi Ballamb Garden, atau calon mertuamu menang pemilihan umum Presiden Galbadia ... sehingga kau mendapatkan lebih banyak pengaruh di dunia?" gumam si Salib Merah.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top