The Heretics
Di dunia ini, di dunia yang penuh warna dan probabilitas ini, ada sesuatu kekuatan yang menopang semesta. Kekuatan itu yang membuat seorang ibu langsung mengecup bayinya yang baru saja dilahirkan dengan taruhan nyawa. Kekuatan itu juga adalah alasan kenapa seseorang mampu untuk terus memperjuangkan impiannya sekalipun tampaknya semua pintu sudah tertutup. Kekuatan itu yang membuat seseorang mampu menjadikan apa yang tampaknya mustahil menjadi mungkin.
Kekuatan itu disebut "abstrak".
Abstrak ini sebenarnya ada, namun banyak orang tidak percaya bahwa abstrak itu ada. Penyebabnya adalah karena mereka tidak mampu melihat abstrak. Ketika mereka tidak percaya, kemampuan untuk bersinanggungan dengan abstrak pun menghilang.
Namun untungnya (atau sialnya, mungkin?) masih ada beberapa kelompok orang yang percaya bahwa abstrak itu nyata. Mereka ini yang akhirnya mampu memanfaatkan kekuatan abstrak menjadi maksimal. Akibatnya? Mereka mampu merapal mantra untuk membuat bumi berguncang sesuai dengan perintah mereka, api menari saat merayap keluar dari telapak tangan mereka, atau menahan ombak besar di udara menjadi laksana dinding air. Para pegiat abstrak ini disebut "conceptor", atau "pengonsep". Orang awam menyebut mereka "penyihir", karena orang awam menyebut "abstrak" sebagai "sihir".
Di lingkaran komunitas para pengonsep, Guardian Fiend mungkin bukan hal yang rahasia. Namun di kota besar yang rata-rata penduduknya lebih banyak yang tidak peduli kepada abstrak, Guardian Fiend merupakan sosok yang misterius.
Sari pernah melihat sesosok Guardian Fiend saat dia sedang mencari binatang buruan. Penghuni hutan itu berbentuk seperti seorang wanita yang transparan, sesayup terlihat garis-garis putih pada tepian tubuhnya. Namanya Banshee, dia berkeliaran di hutan mencari jiwa untuk diambil dan dimakan. Seumur hidup Sari yakin Guardian Fiend adalah musuh berbahaya yang tidak bisa ditakhlukkan manusia.
Itu sebabnya ketika melihat dengan mata kepala sendiri; dua orang lelaki memenjara Guardian Fiend dalam jantung mereka dan menggunakan perwujudan dari abstrak itu untuk berkelahi, gadis itu tidak berkedip. Fram terpaksa harus menarik tangannya ke ruangan lain untuk bersembunyi menghindari percikan-percikan bunga astral yang berpendaran.
Setiap kali pedang kristal milik Lone Bat bertemu dengan tombak es milik si Ksatria, ada dua energi dahsyat yang pecah dan terlepas. Pendaran energi itu melayang liar sebelum habis dan menghilang di udara. Salah satu pendaran energi yang terlepas akibat benturan dua senjata berkekuatan abstrak itu mendarat di meja kayu sebelum lenyap. Setitik kristal es segera terbentuk di sana, karena itu merupakan energi yang terlepas dari tombak milik si Ksatria.
"Aku tidak mengerti ... mereka mampu menggunakan Guardian Fiend untuk berkelahi?" kini Sari merasa cemas, khawatir bila ternyata dia memang tidak cukup kuat untuk menghadapi sebagian penghuni Everlude.
"Ada beberapa Guardian Fiend yang memang bisa ditakhlukkan," Fram menjelaskan. Kemudian dia teringat bahwa gadis ini berasal dari Ogliolio, dan tentunya sebagai seorang mantan pengelana, Fram ingat Guardian Fiend yang ada di daerah Ogliolio. Lalu dia menjelaskan, "Banshee itu jenis Guardian Fiend yang liar. Dia tidak bisa ditakhlukkan, jadi, aku maklum bila kau tercengang melihat mereka mampu mengendalikan Guardian Fiend."
Mendengar itu kedua mata Sari terbelalak, dia benar-benar terkejut bagaimana Fram bisa tahu bahwa Banshee merupakan teror di hutannya? Saking terkejutnya sampai-sampai dia akhirnya berpaling juga dari Lone Bat dan Ksatria bertombak es yang masih berkelahi di ruang makan penginapan itu.
Menyadari tatapan Sari kepadanya, Fram menjelaskan lagi dengan, "apa kabar Goda? Dia masih suka main origami dari daun?"
"Kau pernah ke Ogliolio?" tanya Sari.
"Begitulah."
"Kapan? Usia kita tidak berbeda jauh, tidak mungkin kau mengunjungi Ogliolio sebelum aku lahir," tanya Sari dengan penuh curiga.
"Aku hanya mampir di sana. Setahuku seorang pemburu bisa menghabiskan waktu beberapa hari di dalam hutan, kan? Apalagi bila mereka sedang ujian," Fram menjelaskan.
Ketika Sari berusia lima belas tahun, dia dianggap cukup dewasa untuk menjadi seorang pemburu, maka dari itu dia menghadapi ujian dari warga Ogliolio untuk membawa pulang suvenir dari hutan. Gigi serigala salju seukuran ibu jari ayahnya itu masih tergantung di lehernya sampai sekarang. Itu adalah tiga hari paling berkesan dalam hidup Sari.
"Tapi ... bukankah ini menyalahi hukum alam?" tanya Sari. "Maksudku, abstrak itu lebih suci daripada manusia. Mereka itu dewa! Memenjarakan mereka di dalam jantung dan memanfaatkannya demi kepentingan pribadi seperti itu rasanya sangat-sangat arogan. Apa mereka tidak takut terkena hukuman setelah mati?"
"Itu pandangan kalian," jawab Fram. "Pandangan kami berbeda. Bagi kami; selama bisa dilakukan, kenapa tidak?"
Setelah hidup setengah hari di Everlude dan melihat beberapa hal sejak tadi, Sari sudah kehabisan energi untuk mendebat. Namun dengan cepat dia merasa tidak kerasan berada di tempat liar ini. Semua tentang Everlude rasanya sangat salah. Mulai dari cara hidup, pandangan hidup, hingga gaya hidup, semuanya sangat salah. Tempat ini adalah ladang neraka yang dipupuk oleh para iblis itu sendiri.
Mendadak Sari teringat pada aroma Ogliolio. Kicau burung hutan yang damai, desiran angin pada atap-atap hutan yang lebat, aroma dapur ibu yang bercampur dengan asap pipa rokok ayah. Lantai hutan yang licin oleh lumut, binatang hutan yang eksotis walau berbahaya. Sari merindukan itu semua. Dia ingin berlari sekarang juga kembali ke Ogliolio. Sari memejamkan matanya dan berharap saat membuka mata dia sudah berada di Ogliolio sekarang. Seakan perjalanan dan pengalamannya yang singkat di Everlude ini hanya mimpi yang tidak menyenangkan saja.
Ah, tapi bagaimana dengan Melody? Kalau dia pulang sekarang bagaimana nasib Melody? Gadis itu bertahan di tempat ini selama dua tahun. Gadis lembut dan naif itu, tidak menyerah sampai dia menemukan ayahnya dan kini hilang entah di mana. Kenapa Sari, yang lebih tega, yang lebih pandai berkelahi, yang lebih kuat dari Melody, menyerah hanya karena dia tidak setuju dikelilingi oleh manusia-manusia yang salah dari segala sisi?
Setidaknya, dia harus tahu dimana Melody berada. Bila Melody sudah mati, dia harus tahu dimana sahabatnya itu dikubur. Tapi bila Melody masih hidup, dia harus tahu dimana dia, apa yang dilakukannya, dan apakah dia butuh pertolongannya atau tidak.
Demi senyum manis Melody, demi gadis yang tidak pernah menyusahkannya itu, dia harus bertahan!
Kilau cahaya menyala terang ketika ledakan abstrak terjadi di restoran. Seakan baru saja ada batu yang meledak, diiringi suara kayu yang pecah. Sari menoleh keluar dari bilik tempat Fram mengamankannya dan melihat Lone Bat dihantam dengan tombak si Ksatria yang berayun kuat. Tubuhnya terbang keluar penginapan dan mendarat di jalanan berdebu.
"Bat! Bat!" seorang lelaki menghampiri tubuh Lone Bat yang tergeletak dengan luka-luka lecet sepanjang tubuhnya itu. Lelaki itu menggunakan topi dengan tulisan "Lone Hound" di kepalanya. Kelihatannya mereka satu tim.
Lone Hound menampar-nampar pipi Lone Bat. Namun Lone Bat tetap tak sadarkan diri dengan segaris merah mengalir keluar dari lubang hidungnya.
"Kamu mau dihajar juga?" tanya Ksatria itu dengan suaranya yang berat dan galak.
Lone Hound terpaku. Di satu sisi orang-orang kini berkerumun di luar penginapan Blue Lagoon karena menyadari ada perkelahian abstrak antara seorang pemburu melawan pengelana. Mereka telah menyaksikan Lone Bat diterbangkan keluar dari penginapan, bila Lone Hound tidak membalas kekalahan partnernya itu, maka guild mereka telah dipermalukan. Lone Hound tahu dia harus melawan, demi harga diri guildnya, tapi di sisi lain, dia tahu dia bukan tandingan Bat, apalagi Ksatria bertombak es yang telah mengalahkannya. Bila dia nekad melawan si Ksatria bertombak es itu, sudah pasti dirinya akan dikalahkan dan guildnya akan semakin dipermalukan.
"Kurasa kamu juga minta ditendang," Ksatria itu memutar tombak dan memperbaharuinya dengan kekuatan abstrak es. Sebelum dia berbuat lebih banyak lagi, Fram sudah berdiri di depannya, "wow, hari ini cukup berat, ya. Uhm! Aku salut kepadamu."
Kemudian dia berbisik kepada Ksatria itu, "bila kau menyudahi perkelahian ini sekarang juga, kau bisa menginap gratis selama yang kau mau di sini, kau hanya perlu mengganti biaya reparasi saja."
Tentu saja Ksatria itu jadi menurut dan memutar tombaknya sebelum menggantungkannya kembali di punggung. Fram membantu menaikkan Lone Bat ke punggung Hound, lalu dia memastikan semua orang di jalan yang berkerumun itu mendengarnya saat berkata kepada Hound, "dia minum banyak sekali, makanya orang itu menendangnya keluar penginapan. Kenapa dengannya? Stres?"
Lone Hound merasa lega dalam hati karena harga diri guildnya terselamatkan. Setidaknya orang paham sekarang bahwa Lone Bat tidak kalah duel, tapi hanya mabuk berat dan ditendang keluar. Walau orang pasti akan curiga dengan bilur-bilur di tubuh Bat.
"Ini semua karena Lionaldo," bisik Lone Hound kepada Fram.
"Kenapa dengannya? Aku belum bertemu dengannya sejak pulang dari pertambangan."
"Lionaldo mencuri sesuatu dari kami, maka Bat membuat perhitungan. Bila dia pulang, kau harus jauhkan dia dari pamannya. Orang itu membawa pengaruh buruk bagi Lio," kata Lone Hound dengan wajah serius. Tanpa bicara banyak lagi, Hound segera meninggalkan Blue Lagoon Inn sambil memapah temannya.
"Paman, ya?" Fram bergumam. Sepertinya telah terjadi sesuatu ketika dia pergi selama beberapa hari ke pertambangan. Dia hanya berharap bahwa ini semua bukan jebakan sang Administrator.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top