Selamat Datang di Everlude!

"Welcome to The Land of The Drifters!"

"Selamat Datang di Tanah Para Pengelana!", itu bunyi spanduk besar yang dipasang di atas pintu gerbang utara kota Everlude.

Setelah menempuh perjalanan panjang dari kampung halamannya, Ogliolio, Sari boleh berlega hati sekarang karena pintu gerbang Everlude akhirnya dia lewati.

Di dalam kota, terlihat ada banyak orang lalu lalang. Mereka menggunakan pakaian yang unik satu sama lainnya. Beberapa menggunakan sorban, beberapa menggunakan jubah. Memang, mereka sangat bervariatif, seakan orang-orang dari seluruh dunia datang dan bersatu di Everlude tanpa harus menanggalkan kebudayaan ibu mereka. Mulai dari pengamen romantis sampai ksatria berzirah, penyihir sampai ahli kimia, semua bersatu di Everlude. Masing-masing bebas untuk membawa senjata lengkap yang terselempang di badan maupun pinggang. Keberagaman mereka membuat kota ini terlihat seakan setiap hari ada pesta kostum.

Baru beberapa langkah masuk ke dalam kota ini, Sari merasakan sesuatu yang bergerak cepat dari sisi kirinya. Insting pemburu yang telah berkali-kali menyelamatkannya dari serangan para binatang buas di hutan kini mengambil alih kendali tubuhnya dan membuatnya melompat menghindari benda melayang itu. Sebilah kukri, belati tebal yang tajam tertancap  di salah satu pintu bagunan karena gagal mengenai kepala Sari.

Gadis itu terbelalak, menyadari dirinya baru saja lolos dari maut. "Grr... siapa itu yang sembarangan saja melempar benda berbahaya seperti itu?"

Sari menemukan ada dua orang lelaki sedang berkelahi sengit. Yang satu dengan pedang, yang lain dengan flail (sebuah bola besi berduri yang dikaitkan dengan rantai kepada segagang tongkat). Sari tertegun, dia sudah sering melihat orang berkelahi di Ogliolio, tapi biasanya mereka hanya saling mengarahkan pedang ke pedang lawannya, seakan ragu untuk menyakiti lawan. Tapi mereka benar-benar bringas, setiap ayunan senjata yang mereka gencarkan terhadap lawan benar-benar mengarah ke tubuh atau kepala. 

Perisai kedua orang pengelana itu sudah saling terkoyak oleh senjata lawan, tapi bukannya berhenti, mereka malah membuang perisai dengan cara melemparkannya ke wajah lawan dan lanjut menyerang lagi.

"Kalau tidak dihentikan, mereka akan saling bunuh!" Sari kemudian menarik crossbownya yang sudah terpasang sebilah bolt, lalu dia mulai membidik. Namun tangan seseorang menurunkan selongsong crossbownya itu hingga menghadap ke tanah.

"Hei!" Sari segera menatap orang itu, rupanya seorang pemuda ganteng berambut coklat yang pendek dengan kaus santai berwarna putih. 

"Jangan ganggu mereka," kata pemuda ganteng itu.

"Mereka bisa saling membunuh!" baru selesai berkata demikian, salah seorang dari dua lelaki itu menjerit keras sekali. Sari menoleh kepada mereka dan melihat bahwa tangan lelaki itu telah remuk oleh bola flail lawannya.

"Minggir!" Sari mendorong si Ganteng dan melupakan crossbownya, dia menarik tombak di punggungnya dan melompat ke udara tinggi-tinggi untuk melerai kedua orang petarung jalanan itu.

Sari mendarat di sebelah kedua lelaki itu dan menghajar petarung dengan flail dengan tongkat tombaknya yang terbungkus logam. 

CLANK! Terdengar bunyi keras sekali bersama sedikit percikan bunga api saat bagian bawah tombak Sari itu menghantam helm lelaki itu.

Setelah si petarung dengan flail itu ambruk karena getaran kuat pada helm besinya, Sari dengan cepat menancapkan belati tombaknya ke lantai untuk membantunya melakukan tendangan berputar dengan lutut ditekuk. Tanpa halangan, lutut Sari menghujam perut si petarung dengan pedang di tangan. Begitu keras tendangan Sari sehingga lelaki itu menyemburkan air liurnya keluar sebelum terguling di atas tanah berdebu kuning.

Kedua petarung itu butuh waktu untuk memulihkan diri, sementara itu si Ganteng sudah berlari kecil ke sisi Sari.

"Oh wow ... semoga mereka berdua tidak mengincar lehermu karena ini,"  gumam si Ganteng.

"Mengincar leherku? Aku baru saja mencegah mereka saling bunuh!"

Si Ganteng itu menggelengkan kepalanya, "bukan, bukan begitu cara kerja di Everlude. Aku maklum saja karena kau baru pertama kali sampai di tempat ini. Tapi bila kali ini kau mau dengar saran dari seseorang yang lahir dan besar di tempat ini, kau harus berlari menyelamatkan diri sebelum mereka pulih."

"Kau saja yang pergi!" balas Sari kepada orang itu. Kemudian kepada dua lelaki yang tadi berkelahi itu, Sari mengomeli mereka, "kalian ini kenapa saling membunuh seperti itu? Bagaimana kalau polisi datang dan menangkap kalian?"

Namun kedua petarung itu malah tertawa.

"Polisi katanya," ujar si petarung dengan pedang, dia sedang mengambil nafas sambil memegangi tangan kanannya yang remuk oleh senjata lawan tadi.

Namun si petarung dengan flail itu tidak sesantai si petarung dengan pedang. Dia sangat marah karena dia hampir saja membunuh lawannya tadi, dan tanpa bicara apapun, dia menyerang Sari dengan mata menyala-nyala.

Sari menghindari serangan-serangan bola besi berduri yang terayun sangat kuat ke kepalanya. Begitu kuat ayunan-ayunan itu sampai-sampai terdengar suara embusan angin. 

"Hei! Kenapa kau menyerangku?" tanya Sari sambil terus berusaha menghindar.

Si petarung dengan flail itu hanya membalas dengan erangan-erangan perang dan serangan-serangannya semakin brutal. Sebongkah kotak kayu di tepi bangunan hancur berkeping-keping oleh satu kali ayunan senjatanya, Sari jadi sedikit merasa takut, kalau dirinya terus menghindar nanti dia pasti akan celaka sendiri seperti kotak-kotak kayu itu. Maka dari itu dia kembali mengayunkan tombaknya untuk memberikan perlawanan.

Kebrutalan petarung itu dia lawan dengan fokus dan kejelian. Dengan sabar Sari menunggu si brutal itu memberikan serangan maut yang dihindarinya dengan gesit. Dia tidak berbeda dari harimau arang yang sering berkeliaran di hutan, dan Sari sudah sering menghadapi binatang buas itu seorang diri. Segera setelah dia mengeluarkan serangan brutalnya, Sari menghindar sambil menyabetkan gagang tombaknya ke lutut orang itu.

Petarung bringas itu menjerit keras saat terdengar suara retakan dari kakinya. Ketika dia berputar menghadapi Sari lagi, semua orang bisa melihat bahwa kaki kanannya sudah gemetaran dan tidak bisa digerakkan.

"Sialan ...," petarung dengan flail itu menyesal karena dia tidak membawa crossbownya hari ini.

"Sudah? Aku tidak mau berkelahi denganmu, aku tidak kenal kamu dan tidak punya masalah denganmu," kata Sari dengan lantang.

"Kamu seenaknya saja ikut campur, kamu tahu tidak kalau si Brengsek itu merebut pacarku?!" kata si petarung dengan flail itu sambil marah-marah. Petarung pedang yang tangannya remuk itu hanya tertawa saja sambil duduk di tanah.

"Hanya karena itu kalian saling bunuh?? Ya ampun, kalian benar-benar kurang kerjaan sehingga membuat drama berdarah-darah seperti ini, ya?!" omel Sari.

"Hei orang baru, ini Everlude, di sini semua masalah selesai dengan menumpahkan darah lawan ke tanah!" seru si petarung dengan flail itu lagi.

"Hukum macam apa itu? Kalian tidak takut dipenjara? Kalau kalian jadi narapidana, akan susah untuk mencari pekerjaan di kemudian hari!" Sari mendebat. Ya, tentu saja di Ogliolio ada polisi, ada badan hukum. Wilayah itu termasuk ke dalam daerah perlindungan Granadia. Namun bila ada masalah pidana, warga akan melaporkan ke badan hukum dan badan hukum akan menyampaikan ke ibukota. Dari ibukota kemudian akan memutuskan apakah perlu diadakan pengadilan atau tidak. Bila pengadilan diperlukan, kedua pihak yang bertikai itu menyelesaikan urusan mereka di ibukota Granadia. Tentu saja Sari paham hukum seperti warga kota besar lainnya.

Akan tetapi tidak hanya kedua petarung itu saja yang tertawa mendengar ucapan Sari, melainkan semua orang yang berkerumun menonton mereka, semuanya menertawakan Sari. Gadis itu jadi tersipu merah pipinya karena malu, "kenapa mereka semua tertawa? Aku tidak salah bicara, kan?"

Si Ganteng menjelaskan, "ini Everlude, kota para gelandangan."

"Di sini tidak ada polisi? Tidak ada pengadilan?"

"Ada tapi mereka hanya pajangan saja," jawab Si Ganteng itu lagi.

Petarung dengan flail itu menggeram marah, "sebaiknya kamu berdoa agar kakiku tidak pernah sembuh, anak baru! Karena begitu kakiku sembuh, aku akan menemukanmu dan kucabut lepas kakimu itu!"

Mendengar kata-kata kejam itu, Sari jadi berdebar-debar karena takut. Ini pertama kalinya seseorang menggertaknya sekasar itu. Walau Sari tadi membuktikan diri bahwa dia sanggup mengatasi orang itu, namun gertakan itu mengenainya. Sampai petarung dengan flail itu pergi dari sana, Sari masih meyakinkan dirinya sendiri bahwa orang itu pasti akan lupa seiring berlalunya waktu.

Si Petarung dengan pedang mengangkat tubuhnya sendiri sampai berdiri, kemudian dia membersihkan debu pada celananya. "Hei, Anak Baru!"

Sari menoleh kepadanya.

"Namanya Shadar dari Grotezk, sebaiknya kau ingat-ingat itu karena dia pasti akan datang dalam satu atau dua bulan. Terima kasih padamu karena gara-gara dia mengincarmu sekarang, dia tidak akan menggangguku lagi. Hahaha...!" petarung dengan pedang itu berlalu begitu saja.

Ketika kedua lelaki yang berkelahi tadi sudah bubar, para kerumunan pun ikut bubar sambil mendiskusikan siapa yang lebih baik antara tiga orang yang berkelahi tadi. Sama sekali mereka tidak peduli bila akan ada yang mati hari ini atau di kemudian hari, seakan bunuh membunuh sudah jadi makanan sehari-hari saja.

"Eh, halo?? Aku baru saja menyelamatkan nyawamu dari tangan seorang lelaki Grotezk bernama Shadar, apa aku tidak berhak untuk menerima ucapan terima kasih?" Sari mengomel kepada petarung pedang tadi yang tidak mendengar ucapannya sama sekali.

Si Ganteng yang sejak tadi mendekati Sari itu kini meletakkan salah satu tangannya di bahu Sari dan merangkulnya dalam rasa persahabatan. Kemudian dia berkata, "selamat datang di Everlude."


---------------------------------------------------------

credit : 

artwork "Vekaurastreet" by Charles Lee

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top