Para Bully Bermunculan
Entah Armin yang jadi semakin sensitif atau memang benar demikian, rasa-rasanya kehidupan di sekolah jadi semakin sulit sejak Jean tinggal serumah dengannya. Bukan salah Jean sih, tapi sepertinya Armin menjadi lebih paranoid dari biasanya.
Misalnya saat ini, ketika dia berjalan di koridor sekolah melewati siswa lainnya, sepertinya mereka memperhatikan dirinya dengan ekor mata. Di kantin, ketika dia datang untuk membeli makanan dan duduk di sana untuk makan, sepertinya orang-orang yang duduk di sekitarnya jadi menjauh dan mendadak dia sudah duduk sendirian.
Keesokan harinya, saat Armin membuka loker, keadaan di dalam lokernya sudah penuh dengan sampah-sampah plastik dan kulit pisang yang membusuk. Sepertinya ada yang membuang sampah ke dalam lokernya melalui celah di pintu loker.
Esoknya bullying semakin menjadi-jadi. Saat dia masuk ke wc, siswa yang sedang pipis di sebelahnya meninggalkan dia sambil berkata, "najis, gay!"
Tidak hanya sampai di sana, kadang ada kejutan lain di loker sepatunya, seseorang memasukkan surat warna pink, Armin mengira Himawari sedang salah kirim surat lagi, tapi ternyata itu berasal dari seseorang yang mengaku bernama Gay, dan isi suratnya sangat vulgar menyerang jati dirinya sebagai seorang homoseksual.
"Wah surat cinta," mendadak Eren duduk di sebelahnya dan memakai sepatu. "Dari siapa?"
Armin cepat-cepat menutupnya dan menyembunyikannya dari Eren. Dia bisa ngamuk dan membuat keributan kalau sampai tahu hal ini.
"B-bukan, tidak apa-apa," Armin mengambil sepatunya dan menemukan ada permen karet menempel di sana, sudah mengering dan lengket dengan kaus kakinya.
Kali ini Eren melihatnya, "siapa yang melakukan ini? Ada yang mengerjaimu?"
"Tidak tahu, sepertinya, ada yang sentimen padaku karena aku menyukai sesama jenis," kata Armin.
"Kita harus laporkan ini pada guru!"
"Eren, tunggu!!"
Eren sudah pergi ke ruang guru untuk melaporkannya pada Pak Levi.
"Memangnya kamu tahu dari mana mereka membully temanmu karena dia gay?" tanya Pak Levi.
"Karena Armin merasa seperti itu, ya kan?" Eren menoleh pada Armin.
"Eren, bisa kau keluar sebentar? Aku ingin bicara dengan Pak Levi," kata Armin.
"Kau tidak ingin aku terlibat dalam masalahmu, ya? Jangan begitu, Armin! Kita di sini bersama! Kau pacarku, aku harus melindungimu!"
"Kalian pacaran??" Levi terbelalak.
"Armin ini pacarku, Pak. Aku harus tahu apa yang terjadi padanya!" kata Eren, merangkul Armin mendekat padanya.
"Eren, aku menghargaimu, tapi sungguh, aku tidak ingin membebani siapapun. Aku ingin menyelesaikan masalah ini sendirian," kata Armin. "Aku memaksa."
"Apa kau tidak percaya padaku, Armin? Kau tidak ingin aku ada untukmu?"
"Tidak, bukan begitu, tapi ..." Armin bingung harus mengatakan apa, dia tidak ingin melibatkan Eren. Kalau sampai terlibat, orang-orang tahu bahwa mereka pacaran, bisa-bisa Eren diserang juga. Bisa-bisa karirnya di kesebelasan sekolah berakhir dengan tragis gara-gara dirinya. Lagipula, ini masalah pribadinya, dia tidak ingin terlihat lemah di depan orang yang dia cintai. Tunggu dulu ... kenapa mendadak jadi teringat pada Jean ya? Jangan-jangan ini juga yang Jean pikirkan saat dia hilang tanpa jejak untuk menolong kakeknya yang sakit. Ya, pasti dia merasa begitu, dia pasti tidak ingin merepotkan Armin dan mengganggunya karena dia cinta pada Armin, sama seperti Armin mencintai Eren maka dia tidak ingin membebani Eren.
"Terserah kamu," Eren meninggalkan ruangan Pak Levi. Tapi sungguh, ucapannya tadi benar-benar dingin seakan Eren tidak paham maksud baiknya. Ingin rasanya Armin mengejar Eren namun langkahnya terhenti saat dia menyadari mungkin ini juga yang dia lakukan terhadap Jean.
"Dia sudah keluar, sekarang, kamu mau bicara apa denganku?" tanya Pak Levi.
Armin mengeluarkan surat yang tadi dia temukan di loker sepatunya. Isinya benar-benar kasar dan menjijikkan, Pak Levi saja membacanya sampai marah sendiri.
"Kamu benar-benar tidak tahu ini tulisan siapa?" tanya Pak Levi.
"Mungkin aku bisa tahu kalau membandingkannya dengan tulisan teman-teman lainnya," kata Armin.
"Sabtu besok kamu dan Jean pergi denganku ke pantai, kan untuk menjalani hukuman?" tanya Pak Levi.
"Iya,"
"Masih ada dua hari sampai hari itu tiba, aku akan mengumpulkan sampel-sampel tulisan itu dan kau bisa mengambilnya di sini nanti saat pulang sekolah, oke?"
"Terima kasih, pak."
Sebelum Armin meninggalkan kantornya, Pak Levi memanggil, "Armin, sini sebentar."
"Ya, Pak?"
"Kamu punya kecurigaan tidak, siapa yang melakukannya?"
"Tidak, pak. Aku tidak tahu. Bisa jadi semua orang...," kata Armin.
"Begini, kamu kan punya teman yang badung itu, yang datangnya telat terus itu," kata Pak Levi.
"Jean?"
"Ya, coba kau bicarakan dengan dia. Kurasa dia cemburu karena kamu pacaran dengan Eren sekarang," kata Pak Levi dengan wajah serius.
"Hah?? K-kok bisa bapak berpikir begitu?" Armin shock.
"Aku cuma bercanda," kata Pak Levi dengan wajah serius.
"J-jangan bercanda, pak."
"Tapi bicara serius, aku ingin kau bicara dengannya soal ini. Karena menurutku, sekalipun nilai sekolahnya pas-pasan tapi dia cukup jeli melihat situasi. Dulu aku pernah kehilangan tongkat pel, dia berhasil menemukannya. Pernah juga ada yang mengirim surat ancaman langsung ke kantorku, dia juga yang berhasil melacaknya. Kurasa dia cukup pintar dalam hal ini, coba diskusikan dengannya saja," kata Pak Levi.
Maka Armin membawa surat itu pada Jean. Dia sedang ada di kelas, main game ular-ularan di handphone murahan yang diberikan Armin padanya. Melihat Armin datang, dia hanya melirik saja lalu kembali pada gamenya.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Jean.
"Aku ... aku diancam seseorang," kata Armin.
Jean meletakkan handphonenya begitu saja, tidak peduli akan game over atau tidak. Dia langsung duduk tegap di kursinya dan meletakkan tangan di atas meja.
"Siapa?"
Armin duduk di depannya dan menyerahkan surat vulgar yang masuk ke loker sepatunya. Jean melihatnya sebentar, tak ada ekspresi apapun yang naik di wajahnya. Lalu dia bertanya, "tak ada pengirim, tak ada tujuan, kau yakin ini ditujukan untukmu?"
"Surat itu masuk ke lokerku."
"Kemarin kau bilang ada adik kelas yang kirim surat cinta untukku tapi nyasar ke lokermu, jangan-jangan ini surat untukku juga?" kata Jean, sambil mengalihkan tatapannya dari surat itu ke Armin, dia menaikkan salah satu alisnya. Lirikan itu sudah sepaket dengan senyum tipis di salah satu sudut bibir sehingga membuat Armin jadi sedikit deg-degan. Bisa-bisanya dia nge-flirt di situasi seperti ini!
"Jangan bergurau, Jean! Kau tidak tahu apapun!" Armin langsung berdiri meninggalkan Jean dan kembali ke tempat duduknya sambil melipat kedua tangan di dada.
Armin salah. Jean tahu sesuatu. Awalnya dia tidak tahu ada yang berbuat begitu kepada Armin, namun kemudian setelah membaca surat itu, dia curiga dari coretan tulisannya tampak familiar sekalipun tampak sengaja diubah. Lokernya sudah sering menelan surat cinta, dan sekalipun tidak pernah digubrisnya, bukan berarti tidak pernah dibaca. Jean membaca semua surat cinta itu sampai dia hafal betul ciri khas goresan tangannya. Sekalipun menggunakan jenis huruf yang berbeda, tapi mengenai tekanan tulisan, tarikan spontan dan posisi tulisan tersebut masih menyebutkan identitas si pengirim.
Bilapun Jean tidak familiar dengan cara menulis si pengancam itu, dia masih bisa melacaknya dengan cara mengeliminasi siapa saja orang-orang yang tidak berpotensi untuk repot-repot mengirim surat cinta untuk Armin, kemudian menyelidiki orang-orang yang berpotensi sebagai tersangka itu. Metode manapun mengarah kepada satu tersangka.
Annie, Ymir dan Hitch sedang asik tertawa-tawa sambil meninggalkan sekolahan, dan Jean sudah berdiri di gerbang sekolah untuk menunggu mereka.
"Wow, si ganteng akhirnya nungguin kamu juga, Hitch," sikut Ymir.
"Mencariku? Atau mencari Armin?" tanya Hitch.
"Mencari pengirim surat ini," Jean melemparkan surat vulgar tersebut kepada Hitch. Surat itu sudah dilipat-lipat sampai berbentuk kubus kecil sehingga mendarat seperti bola di tangannya.
"Uhh... Isinya gay banget, yah? Seksehhh!" ledek Hitch.
"Kamu pikir kita yang nulis?" tanya Ymir.
"Aku tidak bilang kalian yang tulis lho," kata Jean.
"Lalu kenapa nuduh kita?!" tanya Annie.
"Aku gak nuduh, aku cuma nyari," sahut Jean.
"Kenapa nanya ke kita? Memangnya kita ada masalah sama kamu dan pacarmu yang cebol itu?" ejek Annie.
"Yah, aku kan cuma nanya. Aku baru tahu juga kalau ternyata ada yang ngirim surat sejorok itu untuk temanku, jadi kalau kalian tahu siapa pengirimnya, aku harap kalian memperingatkan orang itu. Sebelum mereka nyesal nantinya," kata Jean.
"Nyesal bagaimana nih?" Annie maju, menurunkan ranselnya, bersiap untuk berkelahi.
Jean jadi sulit bernafas, dia tahu tendangan Annie bisa membelah pohon jadi dua. Kalau Deddy Corbuzier butuh beberapa menit untuk membengkokkan panci, Annie cukup melakukannya dalam satu detik dengan tendangannya.
"Kamu atau dia yang nyesel?"
Jean menelan air liur, takut dirinya tidak terlihat cool lagi. Kan gak seru kalau dirinya yang dalam posisi mengancam malah jadi pihak yang terancam. Lagipula kalau dia sampai ketahuan sedang gemetaran diancam Annie, bisa-bisa Annie malah ngebully dia nantinya.
"Dia, dong," jawab Jean, kemudian bersyukur karena suaranya tidak terdengar gemetaran.
"Hoh ... Selama ini kamu kubiarkan tak tersentuh karena temanku suka denganmu. Tapi kan kamu sudah mutusin dia 3 jam setelah jadian, kemudian Samsungnya juga sudah dibalikin, jadi aku yakin temanku malah seneng kalau melihatmu babak belur," kata Annie dengan sorot mata tajam dan seringai mengerikan.
"Maka dari itu," kata Jean. "Kalau kalian tidak merasa bersalah, sebaiknya bantu aku menemukan pelakunya. Lagipula, kalau kalian memukulku, bukannya itu malah gawat ya? Kalian bisa masuk daftar kartu memorinya Pak Levi dan itu kesempatan buat dia untuk mencari pelakunya."
Annie pun diam. "Huh! Kita tidak punya waktu untuk ngurusin masalah mu dan mahoanmu itu. Ayo teman-teman, cabut!"
Ketika Hitch melewatinya, Jean menangkap lengannya, "suratnya, sini."
Hitch cukup tahu bahwa bila dia tidak mengembalikan surat ancaman itu, dia pasti akan terlihat mencurigakan. Maka dari itu dia mengembalikan surat itu dengan cara menempelkannya ke wajah Jean sambil mendorongnya dengan kuat.
"Semoga mahoanmu itu baik-baik saja, ya!" kata Hitch penuh dendam sebelum mengikuti kedua temannya meninggalkan sekolah.
Kini Jean benar-benar yakin bahwa Hitch yang melakukannya. Gaya tulisan, tarikan tertentu pada huruf T dan titik pada huruf i menjelaskan semuanya. Dia hanya perlu memancing mereka keluar, dan ini merupakan keahlian Armin.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top