Day 2 : Ketakutan yang Semu
Hari ke dua, Tylba telah mengetahui detektif mengawasinya sejak kemarin. Karena penasaran, Tylba menanyakan pada sang detektif, kenapa dia ada di sini dan membuntutinya terus? Setelah yakin bahwa Tylba adalah seorang warga biasa, bukan Psikopat yang sedang diincarnya, Detektif pun mengingatkannya, "Hati-hati. Ada psikopat ganas bersembunyi di Desa Watthem."
Perbincangan bersama Detektif membuat Tylba menjadi galau seharian....
Ada yang tak biasa hari ini. Aku yakin ada sesuatu yang aneh yang terus mengamati. Itu tak mungkin. Absurb. Aku seorang pengamat yang merasa diamati. Apa aku sudah gila? Ah, mungkin salah satu iblis tak terlihat berhasil menyelinap lewat celah-celah portal. Tapi tak mungkin juga. Portal itu tertutup sangat rapat. Bahkan semut tak mampu melewati celahnya. Jadi apa? Atau mungkin siapa? Aku sudah gila? Itu sih TAK MUNGKIN!
Ah, entahlah.... Lebih baik aku lanjut menulis. Aku harus menyelesaikan mantra ini. Wuu wuu wuu wuu.... Tunggu dulu! Hey, siapa sih yang mengamatiku? JENGAH TAHU DIAMATI TERUS!!! Eh, percuma juga kuberteriak dalam kepala. Wuu....
***
Di tempat lain, Riesling, jendral nyaris pensiun.....
Sepi.
Kemarin sepi. Hari ini juga sepi.
Seharusnya aku senang. Toh aku memang ke sini untuk mencari sepi. Sialnya aku tak bisa berhenti menanti-nanti bunyi ledakan dan rentetan tembakan. Perang sudah berakhir. Bahkan tak ada lagi orang yang membawa senjata...
Aku harus berhenti berkhayal. Aku ke sini untuk beristirahat, bukannya terus-terusan bersiaga. Ini bukan medan perang. Tidak akan terjadi apa-apa di kota kecil seperti ini.
Ya. Harusnya aku bersantai saja. Toh tidak akan terjadi apa-apa...
***
Xarks, mantan Sersan.........
Aku tidak bermimpi..
Disini ada manusia yang memiliki bau darah yang sama pekatnya denganku..
Bahkan lebih pekat dari wangi susu yang baru aku angkat..
Perasaan aku tidak enak..apa aku harus membawa pisau untuk berjaga-jaga?
108 orang yang telah aku bunuh, sepertinya hanya menjadi angka yang kecil bagi manusia yang berbau darah sangat pekat ini...
***
Acacia_Leaf, penyihir berkepribadian ganda........
Kemarin hari yang melelahkan. Acacia merebahkan kepalanya di atas kasur suatu penginapan dengan pikiran yang memikirkan tentang sesuatu.
Matanya menangkap suatu gerakan antara dua orang.. Ah, bukankah itu Tylba? Acacia nenyadari ada orang lain di belakang Tylba yang sedang menulis mantra! Siapa gerangan orang tersebut?!
Dengan keringat bercucuran, Acacia mencoba tidak menghiraukan orang yang membuntuti Tylba dan membenamkan kepalanya ke dalam bantal.
***
Zee~orang gila...........
Malam?... Entah... Zee tidak bisa mengingat waktu... Bahkan Zee tak ingat kapan terakhir makan... Tapi perut Zee lapar... Itu yang Zee tau... Dan ketika perut Zee lapar... Hanya 1 tempat yang Zee tau... Tempat bau di ujung jalan sana yang penuh dengan makanan... Hanya untuk Zee... Tidak... Zee tidak bisa kesana... Zee takut... Orang-orang kampung jahat...mereka memukuli Zee... Zee benci orang-orang kampung...
Gelap... Zee tak bisa melihat... Hanya sosok berkelebat... Zee takut... Zee mencium bau amis... Pasti bukan makanan... Pasti... Perut Zee lapar... Zee harus makan...
***
Malam itu Desa Watthem tertidur pulas, hanya seorang detektif yang sedang memburu sasarannya yang masih terjaga malam itu. Ia terus menyelidiki, menyamar sebagai apa tersangka yang diburunya. Kecurigaan sang Detektif pun mengarah pada seorang Jendral di penghujung masa pensiunnya.
Setelah seharian menyelidiki dan membuntuti jendral, tahulah bahwa dia pun seorang warga awam yang bersih. Sang Jendral bukanlah psikopat yang sedang diburunya..........
Tylba mengetahui ada yang salah di desa ini. Ia menjadi benar-benar resah, khawatir nyawanya terancam. Malam itu Hansip berjaga di sekitar tempat tinggal Tylba untuk melindunginya dari bahaya. Namun Hansip itu ketiduran hingga pagi karena sepanjang malam tidak ada yang datang.
Begitu terbangun, Hansip segera merasa bersalah, "celaka! Aku ketiduran! Bagaimana ini?"
Hansip segera masuk ke dalam rumah Tylba sambil berharap cemas tidak ada apapun yang terjadi padanya. Pagi itu, ia melihat Tylba sedang membuat sarapan, cacing goreng mentega dengan secangkir kopi. Melihat Hansip tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumahnya, Tylba sempat menjerit sekilas. Disangkanya si Hansip adalah orang mengerikan yang belakangan ini meresahkan Desa Watthem.
"Oh, ternyata kau." Tylba tidak dapat mengungkapkan betapa lega hatinya.
"Untunglah kau masih hidup. Aku sempat ketiduran ketika berjaga-jaga di sekitar rumahmu." kata si Hansip.
"Aku juga heran kenapa aku bisa tidur pulas. Terima kasih sudah berjaga semalaman. Kau mau cacing goreng mentega ini? Aku gorengkan untukmu."
Melihat hidangan itu, Hansip menjadi jijik. "Uhh .. tidak, terima kasih."
"Kopi?"
Disadarinya betapa harum aroma kopi yang sedang diseduh Tylba pagi ini. "Mungkin satu cangkir saja."
Mereka berdua pun menikmati sarapan bersama secangkir kopi pagi itu. Hari ini mungkin mereka masih dapat hidup, namun tidak ada yang tahu strategi apa yang sedang dimainkan sang Psikopat.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top