21. An Amplope.
Udah lama gak publish. Sekitar 4 blnan. Sooo, it gonna be cringe anyway.
//
we continue,
"Lo gajadi ke Kanada gitu ceritanya, makanya tadi setengah jalan mau cari angkot, lo balik ke rumah?"
Mark mengangguk samar.
"Gak masuk akal. Tapi ...," Keisha mendengus. "Lo gak semudah itu buat balik ke Kanada, Mark. Bunda gua dah ngasih tangan kanannya ke lo. Lo gaboleh buat gak nepatin itu. Lo harus selalu ada di keluarga gua, sampe Mas Tayo ngajuin surat pengunduran dirinya. Thats it."
"Yaudah iya, minta maaf." Kata Mark. "Dimaafin gak, nih?"
Keisha merengut kesal. "Gatau deh," katanya dongkol. "pokoknya kalo ada masalah serumiiit apapun itu, lo kudu bin wajib, cerita ke gua. Terserah mau sepanjang apapun, i don't care."
"Iya, iya, bawel banget dah." Sungut Mark. Tak terima dengan petuah yang diberikan.
Keisha hanya bisa meringis dalam hati. Ada sedikit rasa tak enak dengan gaya bicara Mark yang lebih 'sok akrab' dibanding Mark yang dulu. Keisha memaklumi itu, Mark berhak berubah karena itu haknya, Keisha tak bisa menahannya.
Namun ... apa Mark memiliki alasan tersendiri atas keperubahannya?
"Mark, lo aneh."
"Huh?"
"Lo berubah."
"Manusia punya hak buat berubah. Apalagi orangnya imut cem gue."
"Najis lo ga berubah sih emang. Tetep haram." Sungut Keisha, sinis.
Mark memajukan bibirnya 5 senti, "Jahat," katanya sembari menormalkan kemajuan bibir. "Tapi, aneh gak gue kalo cem gini?" Tanya Mark---meminta pendapat Keisha.
"Lah. L-lo pikir dong bangsat," kata Keisha. "Aneh banget. Gue lebih suka diri lo yang gampang dibegoin. Eh gak sih, Mark emang bego dari lahir." Candanya.
"Bego bego gini, gua tuh punya sisi gantengnya tau!"
Keisha tersenyum kikuk. Ia menghargai perubahan itu. Namun, hati dan akal tak selaras. Keisha tetap tak rela melihat sikap Mark yang dahulu pergi, dan diganti oleh sikap Mark yang sekarang.
. . .
XI IPS 2 (32)
Sanha Zucker : ENTAH APAAAA YANG MERASUKIIIMUUU
Sanha Zucker : hingga Kao tega mengkhiyanati kuw yang tyulus melopein mu @Casian
Unknow : sanha, tau g persamaan lo sm kaum sodom tu apa?
Sanha Zucker : sp y
Unknow : sama2 kena azab!
Sanha Zucker : anda siapa, perasaan di absen ga ada tu yg namanya unow unow????¿¿¿
Unknow : 😡😠😡😠😡😠😡
Casian : si memek malah ngetag gua
Casian : fuk yu!!
Keisha
si goblog bhsnya
Sanha Zucker : nah iy
Sanha Zucker : g cck lo bgsd jadi peribadatan d kelas kalo ngmngnya meki mekian
Casian : bkn gua yg nyalonin, tp si lena
Keisha
Mon maap y bgsd, lo kalo mao ngmngin gua gosah blak blakan dong
Casian : gua ngomongin lena, bkn kaw, sapi
Keisha
Y ini gua lg megang hape keikei tai.
Keisha
baku hantam kuy jing, lapangan luas.
Casian : gamao ah
Casian : lg ena ni di kasoer brg seungmin
Unknow : kaum sodom bgst
Casian : LAGI MAEM PRI PAYER ANJINGGGGG
Casian : SAKED AK DISAMAIN SM KAOM SODOM MULU.
Keisha
Lah bknnya emg iyh?¿
Casian : hapus absen nomor 15 dr kehidupan, tulung. Lucas udin ga kuad
read by 2, yang 30 bodo amat.
"MBAKKK!"
Teriakan Jisung yang menggema dari lantai bawah ke lantai atas ini membuat Keisha dan Lena yang tengah mendengar musik sempat terkejut.
"OITT?!"
Jisung kembali berteriak dari lantai bawah. "SAORI ABIS, YA??" pekiknya lantang hingga Keisha yang masih mengenakan earphone pun membesarkan volume lagunya. Saking penging maksudnya kalau dengar suara si adik.
"LO MAU NGACAKIN DAPUR, GUA STRAP DI LAPANGAN!"
"DUAR MEMEW KAMU, MBAK!" Balas Jisung dengan teriakan yang sedikit ketus. Baru saja Keisha ingin merasa 'bodo amatan', tiba-tiba Jisung berteriak lagi dengan nada memelas dan memohonnya hingga runtuhlah sikap bodo amat Keisha.
"JISUNG BELOM MAKAN DARI PAGI, MBAKKKK. IIIIH SEBEL!"
Keisha mendengus seraya menarik bebas earphone itu dari telinganya. "Iya, iya! Mbak turun nih!"
"HOII, JISUNG KAN GAK MINTA MBAK BUAT TURUN!"
"UDAH LO DIEM AJA BANGSAD!"
Lena menarik tubuh Keisha dengan tiba-tiba. "Anjing. Terus lo ninggalin gua sendiri di kamar??" Gaspolnya.
Keisha mengacungkan telunjuknya pada bibirnya. "Ssstt. Jisung gatau kalo ada lo disini. Makanya lo diem aja kemem."
Lena memutar bola matanya yang bulat bak kelereng. "Serah lo, dah, Jaehyun." Namun setelahnya, Lena memekik seraya membinarkan matanya yang cokelat bak hazelnut. "Tapi, gue bolehkan, make PS lo?"
Keisha mengembuskan napasnya. "Yodahlah." Pasrahnya.
"TARARENGKYU JING!"
. . .
"Hayoo belanja!"
"Bareng Mark bisa kan?
Jisung menggendikan bahunya. "Orangnya ga ada." jelas Jisung dengan singkat, padat, dan jelas. Adik dari Keisha ini pun menyalakan ponselnya, kemudian menunjukkan layar kunci ponselnya itu pada sang kakak. "Udah jam berapa, tuh?"
Keisha hanya bisa memasang wajah dongkol selayaknya orang yang emang udah capek banget. "Yaudah buruan. Mana motornya?"
"Masih jaman naek motor. Pesen kuy-car lah." celetuk Jisung seraya menekan aplikasi berlogo warna hijau itu. "Noh, dua puluh ribu. Lo ceban, gua ceban."
Keisha hanya mengangguk kecil. Mengiyakan usulan adiknya. "Emang lo mau belanja dimana? Terus mau beli apa?"
Jisung hanya mengangkat bahu, "Bumbu dapur, sama penghilang rasa gabut aja, mbak." Lalu tersenyum kecil, "Terus ini tujuannya ke Mall Z ya, mbak? Hehhehee."
Keisha merengut kesal kemudian berdecak sembari memukul bahu Jisung pelan. "Pantes mahaaal biaya anternyaaa!"
"Atuh udah sih, mbak. Patungan gini sama adek."
Usai bicara pada Keisha, ponsel Jisung pun tak lama berbunyi. Ada telepon masuk dari orang tak dikenal. Keisha sedikit melirik, lalu berujar. "Kang ojol tuh. Angkat aja."
Jisung masa bodo, kemudian mengangkatnya, "Iya, bang?"
"Jisung, ini nomor Lami. Simpen, ya? Soalnya gue SMS gak dibales-bales."
Jisung terdiam dalam satu kedipan mata. Keisha menatap Jisung dengan kening yang berkerut. "Bentar, mbak." gumam Jisung dengan raut memohon alanya.
Jisung menjauhkan jaraknya dari sang kakak. "Apasih?"
"Ini gue, Lami. Lo Jisung kan?"
"O-oh ... kirain siapa ..."
Terlalu kaget, Jisung pun bergegas menekan tombol matikan teleponnya itu. Jisung menatap nomor itu lekat-lekat. Hingga akhirnya bunga-bunga kecil pada hatinya pun tumbuh seketika.
Tak lama setelah itu, telepon lainnya masuk. Kali ini, Jisung percaya jika ini adalah nomor telepon kang kuy-car. Jisung mengangkatnya, lalu memberitahu jika ia menunggu tepat di depan rumah.
"Iya, makasih, ya, bang. Dari gerbang masuk pokoknya lurus aja dah. Titik ga ada koma." tutup Jisung, lalu kembali pada posisi semula.
Keisha berdecak, "Ditelpon siapa, ya, kok lama banget?" sindirnya.
Jisung hanya menggaruk tengkulnya yang tak gatal. "Kang driver," lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. "sama pujaan hati. AWOAKWOAKOWK."
"Coba kenalin ceweknya ke gue. Kalo cocok, dempet dah."
Jisung mengacungkan ibu jarinya pada Keisha, "Siap, kapten! Udah pasti cocok kok!"
Keisha tersenyum manis sambil menepuk pelan pucuk kepala Jisung. "Mbak gak rela, adek kecil mbak ini dah punya pengganti yang bakal ngurus lo."
Jisung menatap Keisha sendu. Ia tahu, ada masanya ia harus terima keadaan. Keisha yang punya penjaga selain Jisung, dan Jisung yang mempunyai sosok malaikat tak bersayapnya selain Keisha dan Bundanya.
"Hehe. Lop yu pul, deh, mbak."
. . .
"YA ALLAH, JISUNGGggG! MBAK LUPAAA! ADA LENA DI RUMAH SENDIRIAN. ADUH GIMANA INIHHH?!?!" pekik heboh Keisha seraya menatap takut layar ponselnya. Jisung yang tengah melihat-lihat pc gaming ini hanya bisa berdeham.
"Emang ada Kak Lena di rumah? Kok aku gatau?" ujar Jisung yang fokusnya masih pada barang-barang aneh itu.
Keisha hanya bisa menggila di toko ini. Untungnya, orang-orang sekitar pada masa bodo dengan Keisha.
"Aduuh, parah, Jis! Mbak kudu ottokeeee?!"
"Diem aja udah. Ntar juga Kak Lena balik sendiri ke rumah."
"LO MAH TERLALU GAMPANG MIKIRNYA!"
Jisung mendecak. "Ngapain pusing-pusing lagian, elah, mbak!"
"Jelas pusing lah! Wong rumah ga ada yang jaga. Mark gak jelas kemana, kunci aja ada di aku! Gimana si Lena bisa ngunci rumah, Jis?!"
Jisung diam tak berkutik sedikit pun. Si adam hanya bisa menatap kosong atmosfer sekitarnya, hingga akhirnya membelalakan mata. "Ah! Jisung tau!"
"Ape niii?"
"Balik ke rumah. Sekarang. Jisung takut anjir, mbak. Di omelin papah... :("
Mental banci emang si Jisung ini. Gimana mau dapetin hati orang tua Lami kalo sama bapak sendiri aja masih sawan.
Keisha pun main asal ngangguk aja. Sudah panik di ujung tanduk katanya. "Yodahlah, hayok!"
🎡
Lenlenq💄
| anyin' bat law
| utg mark dah pulang :(
| jd aq ada temen maen ps aowkawokao
Keisha
ALHAMDULILLAH YAWLOH |
read.
Keisha
nyet. di read doang :D |
seen.
"Ngape?"
"Mark dah kombek home. Anjas bahasa gua."
Jisung mengangguk pelan. Ia pun menyodorkan ponsel miliknya kepada sang kakak. Keisha mengrenyitkan dahi ketika melihat foto seseprang di layar ponsel Jisung. Jisung terkekeh, "Itu cewek yang Jisung suka."
Keisha beroh ria, sebelum akhirnya ia bertanya. "Dari kapan suka sama dia?"
"Kelas 7 kak. Awal-awal MOS banget."
Keisha beroh ria lagi untuk yang kedua kalinya. "Orangnya gimana? Dah pernah sekelas?" tanya Keisha seolah penasaran sekali pada perempuan yang bisa merebut hati adiknya ini.
Jisung mengembuskan napasnya. "Ga pernah sekelas, sumpah, kesel banget." tuturnya. "Orangnya baik, mbak. Pernah waktu itu ngobrol dikit, suaranya mbaaaak, lembit banget gatau lagi adek mah." ceritanya pada Keisha. Alhasil, Jisung pun senyum-senyum sendiri membayangkan betapa indahnya senyuman Lami.
"Siapa namanya tuh, poho?"
"Lami, elah."
"Besok pas mbak abis pulang sekolah, mbak jemput kamu, ya?"
Jisung menoleh dengan tiba-tiba, "Leh? Ngapaain! Jisung balik aja pake angkot kek biasanya. Ribetin aja."
Keisha menoyor kening Jisung yang lumayan jenong itu. "Jadi gituuu, kamu udah gamau temenan lagi sama mbak? Oh yaudah biarin aja. Nanti pas ada lomba band lagi, mbak sama Mark ga bakal nonton!"
"E ettttt, ga ga ga, ampun mbak!"
"Yaudah!" Keisha menatap sinis Jisung dengan bibir yang maju dua senti itu. "Pokoknya kamu pulang sama mbak! Tapi satu syarat, kamu haris bawa Lami ke mbak. Bisa?"
"AH GA ADIL KEK GITU MAH!" pekik Jisung tak terima. "Waktu mbak pacaran sama Kak Jeno, Jisung ga segitunya, yaaa!"
"Jeno tu temen deket mbak, ya! Lah Lami apaan. Kenal aja baru kelas 7 ini, hilih. Satu sekelas aja belum pernah, chat aja malu-malu, terus ditelpon aja masih panas dingin! Hilih."
Hening.
"Dek, udah sampai. Bangun..."
Jisung membuka matanya lebar-lebar. Ia menatap sekeliling, ia seperti kenal jalanan ini. "Ini udah nyampe?"
"Udah. Hehehe. Itu kakaknya gak dibangunin, dek?" tanya mas supir sembari menunjuk ke arah Keisha menggunakan ibu jarinya. Jisung menoleh, lalu menghela napasnya kasar.
"Bangun woi, MBAK!"
"ALLAH!"
Keisha terlonjak kemudian ia bergegas mengacak isi dompetnya untuk memberikan upah antar sampai ke rumah. Keisha mengusap daerah sekitar mulutnya sambil menyodorkan uang dengan nominal 20.000. "Nih, pak! Maaf banget ketiduran."
"Iya, neng. Gapapa."
Keisha mengangguk. "Makasih ya, pak." lalu memukul bahu Jisung pelan. "Maksud kamu apa teriak-teriak tadi?! Gabisa pelan napa!"
"Ya kan mbaknya budeg!"
"Budeg pantatmu budeg!"
"Apa? Mau ngomong sama pantat saya? Nih tqk kasih!"
Keisha melayangkan satu tinjuan pada punggung Jisung. Membuat bunyi bugh yang terdengar lumayan kencang. "Awas lo yaa!"
Mas supir menyela perdebatan Keisha dan Jisung yang cukup sengit ini. "Eh, eh. Udah-udah, berantemnya dilanjut di rumah aja, ya? Saya mau narik lagi soalnya."
'Drrrtttt drrrrttttt
Lenlenq💄is calling you...
Agree | Reject
"Hehehe, yaudah pak. P for punten, ya, pak."
"Oce oce. Jangan lupa bintang limanya ya, neng." kekeh mas supir.
"Gamao ah. Masnya udah ngusir saya geh. Bye!"
. . .
"Napa, Len. Kok nelpon gua?"
Lena yang tengah bermain ponsel dengan posisi membelakangi pintu kamar itu hanya bisa ngerungsing diatas kasur. Guling-gulingan misalnya. "Gua. Kesel. Banget, Kei!"
"Kenapa?"
Lena terdiam sebentar hingga akhirnya ia merengek sambil menatap lekat ponselnya itu. "Sodara guaaaa!" Lalu Lena membanting ponselnya itu ke arah sofa. Namun meleset, ponselnya itu jatuh. Mencium lantai, dengan casing yang sudah lepas. "Pokoknya kalo ada apa-apa, lo harus terima banget, Kei."
Keisha terlonjak. "Lo kenapa sih!?!"
"Sodara gua!"
"Kenapaaaa?!"
Lena meringis kecil kemudian bangkit dari duduknya untuk mengambil tas kecil yang ada digantungan dekat pintu kamar. Keisha hanya menatap lekat Lena yang sibuk membenarkan ponselnya. Lena mengemasi barang-barangnya dengan kasar. Keisha sangat menaruh tanda tanya besar disana.
"Lena! Lo mau kemana?!"
"Balik kampung!"
"WOI LENAA!"
Ada amplop kecil tertinggal disana. Keisha membukanya, tak ada isi. Namun, ketika Keisha membaca siapa pengirimnya. Keisha justru mengrenyitkan dahi.
From: Y
To: Alenna.
Baca aja. Gue harap, lo bisa ngerti pasal orang yang kabur dari RS waktu itu, Len.
Salam,
Your lovely, Yang.
_ _ _
okok.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top