SP - Chapter 3
Judul : Soaring Phoenix
Tahun : September 2015
Genre : romance, fantasi, wuxia, san guo/sam kok
----
Kepada adikku, Zhang Fei
Putrimu sudah tiba dengan selamat di Jingzhou, dia sangat sopan dan tidak terlalu banyak bicara. Mungkin karena dia masih belum terbiasa di sini. Kami semua sangat menyukainya, terutama Guan Xing, karena sekarang dia sudah punya teman berlatih.
Seperti dirimu, putrimu tampaknya sangat suka dengan beladiri. Kau harus melihat bagaimana dia menjadi begitu bersemangat saat kuperlihatkan koleksi senjata yang kusimpan di rumahku. Aku melihat Zhang Jingai memiliki banyak bakat, selain pandai beladiri, dia juga sangat pandai melukis dengan tinta. Saat mengetahui aku akan mengirim surat untukmu, dia cepat-cepat melukis pohon bambu di atas kertas. Kuharap engkau menyukai hasil kerja kerasnya.
Aku suka melihatnya tersenyum, dia memiliki matamu yang besar dan garang, namun cantik seperti ibunya. Dia berani dan jujur sepertimu, tapi juga tenang dan anggun seperti ibunya. Aku rasa kelak dia akan dapat menjadi permaisuri yang ideal untuk memimpin Shu mendampingi putra kakak kita, Liu Shan.
(cap stempel nama Guan Yu dalam tinta merah)
Jingzhou, 218 M ...
Kontras dengan gurunya, Guan Ping, Jingai sangat mahir menggunakan tombak maupun pedang. Gadis itu tidak bisa berhenti membuat kagum Guan Ping, bagaimana cepatnya dia menyerap pelajaran yang diberikan. Tidak hanya itu, kemampuan berkelahinya saat menunggang kuda pun tidak bisa dibilang jelek. Dia sanggup menghajar sepuluh boneka jerami yang dipasang sambil menunggang kuda dengan kecepatan tinggi. Dan diakhir putaran, dia menarik kudanya untuk bermanuver kembali ke arah Guan Ping dan Guan Xing yang sedang menonton dengan rasa kagum. Tombak di tangannya dia putar ke udara, lalu menyambar sesuatu di atas tanah. Kopiah yang digantungkan Guan Xing di atas salah satu boneka jerami.
Guan Xing menangkap kopiah itu, "bagus, Jingai!"
"Sepertinya kamu sudah tidak butuh diajariku lagi, mungkin harusnya aku yang minta kau ajari," puji Guan Ping pada gadis itu.
"Kakak Ping sangat berlebihan. Aku hanya sedang berada dalam suasana hati baik saat ini, dan sedang bermain-main saja."
"Bermain-main saja seperti itu, kau sudah siap untuk terjun ke dalam medan perang yang sesungguhnya, Jingai." Sahut Guan Xing.
"Sebentar lagi tahun baru, usiamu akan menjadi 15. Kau harus menentukan senjata apa yang akan kau gunakan seumur hidup," kata Guan Ping.
"Haruskah demikian? Aku suka semua senjata."
"Semakin dekat dengan senjatamu, semakin sakti ilmumu. Itu sudah menjadi kepercayaan di antara kami. Kalau sudah kau tentukan, bilang saja padaku agar ayah bisa memesankan senjata khusus untukmu."
Sesi latihan hari ini sudah berakhir, setelah menanggalkan pakaian pelindung kayunya, dia mengenakan pakaian santai warna merah jambu dengan corak-corak batang bambu pada ujung-ujungnya. Para dayang muda yang periang merapikan rambutnya dan menjepitnya dengan tusuk kayu berwarna hitam.
"Nah, selesai. Anda cantik seperti biasa, Nona Zhang." Puji dayang pertama.
"Aku iri sekali, anda tampak gagah waktu memegang senjata, tapi saat dirias anda tampak seperti putri kaisar yang lemah lembut. Aku jadi penasaran lelaki macam apa yang kelak akan jadi suami anda," dayang itu menutup bibirnya dengan tangan saat dia tertawa.
Pipi Zhang Jingai sedikit bersemu saat dia membayangkan warna merah. Merah menyala dari kain yang menutupi lantai, dinding dan meja makan. Dirinya akan menggunakan tirai wajah warna merah, dan jantungnya bergetar cepat saat dia membayangkan Guan Ping menyingkap tirai merah itu dan wajah gagahnya tersenyum padanya. Memang, Guan Ping sudah berusia tiga puluh tahun lebih, terlalu tua untuknya. Tapi Jingai tidak peduli mau seuzur apapun, ia akan tetap mencintai Guan Ping apa adanya. Cinta itu tidak mengenal batas.
"Hayo! Membayangkan siapa?" ledek dayang itu.
"Ah, bukan siapa-siapa. Mau tahu saja!" balas Zhang Jingai.
"Nona kan sudah 14 tahun, pasti sudah mulai melirik laki-laki. Sudah, jujur saja padaku, aku takkan bilang pada siapapun kok." Bujuk dayang itu.
Mungkin kalau dia menceritakan pada Xiao Er, rasanya akan menjadi sedikit lega dan lebih menyenangkan. Terlebih karena perasaan menggembirakan ini akhirnya dapat dibagi dengan orang yang mungkin peduli. Tapi selagi Jingai mempertimbangkan hal itu, Xiao Er yang tidak sabar menyeletuk, "Guan Ping atau Guan Xing?"
"Xiao Er, kau ini tidak sopan. Sudah, aku mau pergi!" Zhang Jingai cepat-cepat beranjak dari cermin dan meninggalkan kamarnya.
"Eh, Nona mau ke mana? Tunggu aku!" seru Xiao Er sambil mengejar nonanya dengan cepat.
Ada kantung kecil berwarna merah yang dibawa Jingai, isinya adalah beberapa keping uang yang telah lama direncanakan untuk membeli sesuatu bagi seseorang. Sebentar lagi tahun baru, dia memutuskan itu adalah saat yang tepat untuk menghadiahi orang itu dengan sesuatu yang bagus.
"Maaf, Nona Zhang, saat ini Jendral sedang tidak ada di tempat. Kami diperintahkan untuk tidak mengizinkan siapapun keluar dan masuk. Harap anda mengerti," kata prajurit penjaga pintu itu dengan hormat.
"Tapi ... kami cuma sebentar saja." Kata Xiao Er.
"Maaf, kami tidak berani melanggar perintah Tuan Jendral," prajurit itu tidak mau mendengar apapun lagi dan dia tidak akan mau membukakan pintu istana.
"Ya sudah, masih ada hari esok," kata Zhang Jingai sambil meninggalkan pintu gerbang dan kembali ke dalam istana.
Ada kolam yang cukup luas dimana bebek-bebek peliharaan jendral biasa berenang. Zhang Jingai suka duduk di sana hanya untuk menikmati pemandangan indah yang menentramkan hati. Dulu pernah dia belajar menyulam di tepi kolam, mencoba membentuk gambar kolam dengan bebek-bebek di atasnya. Tapi hasil rajutan itu tidak bagus, Jingai lebih suka melukis kaligrafi.
"Sepertinya aku ingin melukis, Xiao Er," kata Jingai tiba-tiba. "Bisa kau ambilkan aku kertas, tinta dan kuas?"
"Baiklah Nona. Tunggu ya," dayang muda itu beranjak pergi meninggalkan tepi kolam dan Zhang Jingai yang duduk di bawah pohon cherry yang besar.
Akhirnya sendirian, Zhang Jingai tertawa kecil saat dia menonton iring-iringan bebek yang berenang seperti sedang tersesat, sementara bebek terdepan kelihatannya sok tahu sekali harus pergi ke mana. Udara sore yang cerah terbawa oleh angin sepoi yang sejuk, perlahan Jingai lupa bahwa dirinya sedang dikurung dalam istana megah.
"Tanpa terasa sudah enam musim gugur kita bersama ..." terdengar suara dari suatu tempat. "... bunga-bunga mekar kemudian mati, pohon tumbuh lebat kemudian berguguran..."
Zhang Jingai sangat yakin bahwa dia pernah dengar puisi ini di suatu tempat. Tapi siapa yang sedang berbicara, dia tidak tahu, maka dia berdiri dan menoleh ke segala arah untuk mencari orang itu.
"... tapi hatiku tetap mekar untukmu, apapun musimnya ..."
Kata-kata itu bagaikan api yang menggodok darahnya, mendidih naik sampai ke wajah. Zhang Jingai menoleh ke atas dan menemukan seorang bocah tanggung seusianya sedang duduk di atas pohon sambil membaca sesuatu di atas secarik kertas.
"... ksatriaku yang gagah, kapan kau akan menyadari bahwa aku ada untukmu?"
"Hei!! Turun kau!!" seru Zhang Jingai dengan suara keras, menyesal kenapa dia meninggalkan tongkat kayunya di dalam kamar. Wajahnya sudah semerah buah apel. Apalagi melihat si pembaca kurang ajar itu tertawa-tawa mengejek puisi tersebut.
"Guan Ping dan Zhang Jingai untuk selamanya!" Orang itu menutup puisi yang sedang dibacanya keras-keras, lalu tertawa terbahak-bahak.
Zhang Jingai memberengut, memandangi orang itu tertawa dari bawah pohon dan sungguh berharap ada belati lempar yang sangat tajam dalam gengaman tangannya saat ini. "Kau benar-benar tahu bagaimana cara membuat kesabaranku habis, Tuan Guan."
"Terima kasih, Nona Zhang, dan kau benar-benar tahu bagaimana cara membuat lelucon. Aku tidak percaya kau menulis ini," Guan Suo menjulurkan tangannya jauh-jauh, seakan ada cahaya menyilaukan yang keluar dari kertas itu.
"Itu artinya aku manusia yang punya perasaan. Dan cukup normal untuk menyukai seorang pria dewasa yang selain gagah, baik hati, tampan dan tidak menyebalkan. Kembalikan puisiku!!"
Guan Suo segera melepaskan jari-jarinya yang menjepit kertas itu. Selembar benda putih terbang ringan menuju permukaan rumput. Namun angin segera berganti haluan sehingga kertas itu mendarat di atas permukaan kolam. Zhang Jingai hanya memandangi puisinya perlahan menjadi basah, kemudian hanyut ditelan air.
"Aduh, sayang sekali. Barang bukti menggelikan itu sudah lenyap selamanya," Guan Suo melompat turun dari atas pohon, mendarat tepat di belakang Jingai.
"Menggelikan, katamu? Itu adalah ekspresi perasaanku!" begitu kesalnya Zhang Jingai sehingga dia kehilangan mood untuk melukis atau menonton bebek-bebek bingung di tengah kolam lagi. Dia ingin kembali ke kamarnya dan tidur sampai perasaan kesalnya ini hilang.
Namun Guan Suo berjalan cepat dan menghadangnya, "hei, jangan marah, aku hanya bergurau."
Gadis itu tidak mendengarkannya dan terus berlalu, namun Guan Suo tidak menyerah. Dia terus memanggil nama gadis itu sekalipun si gadis tampaknya tidak menghiraukan dia sedikitpun.
"Kenapa kau serius sekali, Jingai? Apakah tidak ada urat santai sedikitpun dalam kepalamu?" Baru setelah Guan Suo memegang lengannya dengan kuat, gadis itu berhenti berjalan. Namun masih saja memalingkan wajah darinya. "Begini saja, sebagai permintaan maaf, aku akan mentraktirmu sesuatu."
"Lepaskan aku."
Tapi Guan Suo tidak mendengarkan ancaman itu, "ayo kita turun ke kota, di sana ada jauh lebih banyak benda yang mungkin bisa membuat hati Kakak Ping senang. Semisal kau membeli piring, kita bisa tulis puisimu itu untuknya di atas piring tersebut. Dengan begitu, kakak Ping bisa memajang puisimu di dalam rumahnya."
Akhirnya gadis itu menatapnya juga. "Kau yang bayar?"
"Aku yang bayar!" ujar Guan Suo sambil menepuk dadanya yang bidang.
"Tapi bagaimana kita keluar? Pintu gerbang dijaga ketat. Dan kau tahu sendiri, gara-gara ada anak bandel yang selalu mencoba kabur, maka Jendral selalu menegaskan kepada siapapun yang ingin keluar untuk minta izin darinya terlebih dahulu," sindir JingAi.
"Hahaha! Kau masih cemaskan hal sepele itu? Ayo ikut aku!"
Tanpa tahu apa yang ada dalam pikiran Guan Suo, Zhang Jingai mengikutinya ke suatu tempat. Awalnya mereka berjalan menelusuri tembok, dan sampai di daerah dimana banyak pepohonan lebat dan nyaris tak terawat. Ada semak berlukar yang tumbuh di daerah itu, dan Guan Suo membuka sebilah papan yang menunjukkan sumur tua kecil yang nyaris tak terlihat.
"I-ini kan sumur berhantu ..."
Guan Suo menatapnya aneh, "kau percaya hantu?"
Kata-kata itu seperti tantangan, dan tentunya orang ini akan menertawakan Zhang Jingai apabila dia benar-benar percaya bahwa hantu itu ada. "Bukan, aku hanya terkejut karena Xiao Er ternyata tidak bohong kalau memang ada sumur di daerah ini."
"Aku yang mengarang cerita hantu itu, agar tidak ada yang kemari," Guan Suo berbohong. Dia mengambil seuntai tali yang tampaknya selalu terpasang di sana, terikat pada batang pohon dan ujungnya menghilang di kegelapan dasar sumur tua itu.
"Kalau takut tidak usah ikut, biar aku saja yang belikan hadiah untuk Kakak Ping yang tampan." Setelah meledek demikian, Guan Suo menggelincir turun, ditelan kegelapan.
Zhang Jingai memaki-maki kecil sambil mengikuti temannya itu terjun ke dasar sungai, tanpa mengetahui apa yang mungkin akan dia hadapi di bawah sana.
Saat kakinya menyentuh dasar sumur, Jingai merasakan sesuatu yang becek. Ada suara tetes-tetes air yang jatuh ke atas genangan dan dinding sumur yang terbangun dari batu menggemakan suara itu di sepanjang lorong. Sekalipun mata Jingai sudah terbiasa dengan kegelapan, namun dia hanya melihat seseorang sedang berdiri di dekatnya. Orang itu sedikit tidak terlihat karena kulitnya yang gelap, sampai dia berhasil menyalakan api untuk menyulut lentera. Cahaya api terpantul di wajahnya.
"Jadi ini jalan kaburmu?"
"Tidak akan ada yang tahu kalau kau tidak bilang siapapun." Lentera pun siap digunakan dan Zhang Jingai mengikuti Guan Suo menyusuri jalan setapak di bawah tanah.
"Aku akan laporkan ini pada ayahmu kalau kau berani mengejek puisiku lagi!" Zhang Jingai menyengir penuh kemenangan.
"Kalau begitu aku akan mengejek lukisan pria di atas kuda itu saja."
"L-Lukisan kuda...? Maksudmu bukan ... oh sialan! Darimana kau melihatnya?!" Zhang Jingai benar-benar yakin bahwa dia sudah menyembunyikan lukisan itu rapat-rapat di bawah bantalnya.
"Dan corat-coret romantis tentang seorang gadis muda menikah dengan seorang lelaki tua bernama Ping-ai ren ..." tambahnya.
Zhang Jingai tidak tahan lagi, dia menendang kaki bagian atas Guan Suo dengan kesal. "Bagaimana kau bisa tahu semuanya?! Kamu masuk ke kamarku ya?!"
"Aduh! Tidak ada yang melakukan itu. Kau kasar sekali, Kakak Ping tidak suka perempuan kasar, tahu tidak?" Sahut Guan Suo sambil mengusap kakinya yang ditendang tadi.
Mereka terus berjalan. Guan Suo mulai sedikit berlari, mungkin karena hari sudah lepas siang dan khawatir mereka tidak akan sempat pulang ke istana sebelum ayahnya kembali. Mereka keluar melalui saluran air tua, di bawah jembatan tidak jauh dari pusat kota. Guan Suo tidak mirip dengan bebek-bebek yang tersesat di tengah kolam, dia sangat tahu kemana harus pergi. Tak lama, mereka sudah tiba di daerah paling ramai di kota Jingzhou.
"Berapa uang yang kau miliki?" tanya Jingai.
"Tergantung barang yang kau inginkan."
"Tapi aku bisa beli apapun yang kumau, kan?" Jingai menyeringai, matanya yang bulat seakan berkilau saat dia tersenyum jahil. Namun dia terlihat semakin manis dengan tatapan seperti itu.
"Nona Zhang, hari ini anda adalah putri kaisar dan aku adalah bendahara anda yang merangkap pemandu kota, silakan pilih apapun yang anda mau." Guan Suo menjulurkan tangannya memberi jalan, sambil badannya sedikit terbungkuk memberi hormat. Jingai merasa senang, dia berpaling seperti sedang menari lalu berjalan dengan lincah memperhatikan isi kota. Tanpa sepengetahuan dia, tangan Guan Suo menyambar kantung uang seseorang dan lolos berkat kerumunan kota yang sesak.
Ada banyak hal yang bisa dilihat di sini, jajanan manis berbentuk lucu dengan warna merah yang mengkilap, kincir angin dengan beragam bentuk yang indah, kue-kue hangat beraroma lezat, apapun yang diinginkan Jingai, Guan Suo benar-benar membelikannya.
Tapi ada satu masalah, matahari turun semakin dalam di arah barat. Orang-orang mulai bersiap di tepi sungai untuk memamerkan kembang api yang mereka racik untuk festival hari ini, tentu saja tempat itu jadi semakin ramai.
"Hei lihat, kipas ini cantik sekali," dengan riang Jingai memungut salah satu kipas bulat dengan lukisan burung hong pada permukaan kertasnya. Dia menunjukkan gambar itu pada Guan Suo, menutupi setengah wajahnya. Tapi remaja tanggung itu sedang cemas memandangi langit.
"Hei! Kau tidak mendengarkanku ya?"
"Eh? Apa? Barusan bilang apa?"
Jingai meletakkan kembali kipas itu pada tempatnya. Seakan sedang mengambek, dia berjalan meninggalkan Guan Suo. Guan Suo cepat-cepat memungut kipas bergambar burung hong itu dan membayarnya lalu mengejar Jingai. Tapi kerumunan semakin ramai, Guan Suo seperti sedang melawan arus sungai yang deras. Banyak ibu-ibu dan anak-anak, kemudian orangtua yang berjalan memenuhi jalanan. Langit semakin meredup, dan dia menjadi semakin cemas ayah akan pulang sebelum dia pulang.
Selepas dari jalan besar di tepian sungai, Guan Suo akhirnya berhasil keluar dari arus kerumunan manusia. Tapi jantungnya berdegup kencang, dia kehilangan Zhang Jingai.
Dia mencari sambil bergulat dengan panik dalam hatinya. Kepada setiap orang dia bertanya apakah mereka melihat seorang gadis cantik menggunakan pakaian merah muda dengan motif bambu? Dia menyebutkan ciri-ciri Zhang Jingai, namun tak ada yang merasa melihat gadis itu. Menyerah, Guan Suo bersandar pada dinding, setengah berjongkok. Dia memutar-mutar kipas bulat dengan motif burung hong berulang kali. Rasanya sangat sedih, dia tidak mungkin tersesat di sini, berhubung jalanan ini sudah dikuasainya sejak kecil. Tapi bagaimana dengan Zhang Jingai yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam istana? Bagaimana bila dia ditipu orang, atau diculik? Ayah pasti akan sangat marah. Sehubungan dengan itu, dia tidak mungkin bertanya pada prajurit atau petugas keamanan. Mereka pasti melaporkan hal ini pada ayah dan ayah akan bertanya bagaimana dia bisa keluar.
Tapi ada masalah lain yang harus dihadapi oleh Guan Suo sekarang. Firasatnya tidak enak saat angin berembus mendadak, dan di penghujung jalan, serombongan laki-laki bermata galak menunjuk-nunjuk dia. Penuh dendam mereka berderap ke arahnya, dan Guan Suo teringat akan korban-korban copetnya hari ini.
Dia berlari, masuk kembali ke arus kerumunan. Orang-orang itu takkan berani bertindak kasar pada kerumunan karena para penjaga akan segera menangkap mereka. Tapi Guan Suo salah. Mereka tidak ragu mendorong seorang kakek renta menabrak gerobak, walau tidak sampai terguling, namun cukup bagi mereka untuk membuka jalan.
Guan Suo melompati jembatan dan sampai di parit, kemudian dia terus berlari.
"Kejar bocah itu! Dia copet!" seru mereka keras-keras.
Tentu saja kerumunan yang benci copet itu membantu mereka sehingga Guan Suo terpaksa harus menarik tumpukan barang seperti keranjang berisi ayam-ayam potong ke tengah jalan untuk menghalangi jalan. Dengan lincah dia memanjat atap dan menendang dinding untuk mendorong tubuhnya naik lebih cepat. Dia berlari sekencangnya tanpa hambatan, melompat ke atap seberang dan menimbulkan lubang di beberapa bagian genteng yang telah lapuk.
Ini bukan pertama kalinya dia dikejar-kejar sebagai copet. Dia pernah tertangkap dan dihukum dalam kurungan. Tapi dia selalu bisa lolos berkat pertolongan Guan Ping, yang tidak akan pernah melaporkannya pada ayah. Tapi kali ini dia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.
"Kepung dia! Kepung!" seru para pengejar. Entah bagaimana, jumlah mereka jadi semakin banyak saja. Sepertinya Guan Suo telah membuat kesalahan tadi, mungkin tanpa sengaja dia mencuri dompet seorang preman yang punya banyak anak buah sehingga rasanya seluruh kota muncul untuk menangkapnya.
Mungkin karena hari mulai gelap, Guan Suo salah memijakkan kakinya dan terjatuh. Mereka segera menariknya dan mencekik lehernya dengan lengan sekeras batu. Guan Suo berusaha melawan, dia mengangkat tubuhnya dan menendang dengan kedua kakinya. Dua orang preman di depan terjengkang jatuh oleh tendangannya. Lengan yang sedang mencekiknya itu dia gigit kuat-kuat dan saat pegangannya terasa mengendur, Guan Suo mengayunkan siku lengannya kuat-kuat ke belakang. Hidung preman itu terhantam dengan kuat, membebaskan Guan Suo. Namun para preman itu telah mengepungnya rapat. Dan mereka bersenjata.
"Aku hanya pinjam uang kalian. Aku akan kembalikan semuanya kelak, anggap saja berhutang!" Guan Suo mencoba tawar-menawar, namun mereka tertawa dan meludah.
"Kamu pikir bisa lolos dengan hal itu? Kami harus memotong tanganmu untuk memastikan tidak ada korbanmu yang lain!"
Mereka maju menerjang dengan pisau, pedang dan tongkat kayu di tangan. Guan Suo tidak punya pilihan lain selain melawan. Sekarang dalam pikirannya hanya ada satu hasrat; bertahan hidup. Dia berhasil menangkap pergelangan tangan seseorang yang membawa tongkat kayu, kemudian meninju dagunya, tapi kena lehernya dengan telak. Orang itu terhuyung dan rebah ke tanah, senjatanya telah berpindah ke tangan Guan Suo.
Lelaki dengan pedang maju untuk menghajar bocah remaja lima belas tahun itu, Guan Suo tidak punya waktu untuk berpikir dengan cara apa dia harus merespon serangan ke dahinya, dia mematikan pikirannya dan membiarkan tubuhnya bergerak merespon dengan ayunan kuat ke atas yang menahan serangan tersebut. Kakinya menendang tepat pada ulu hati si pria berpedang itu, kemudian cepat-cepat berpaling pada orang lain dengan pisau yang menyerang dari belakang.
Tapi Guan Suo hanya seorang bocah, pengalaman berkelahinya tidak sebanyak para preman itu. Para preman itu terbiasa berkelahi, terbiasa menerima pukulan dan sudah terlatih untuk mengabaikan rasa sakit yang mereka dapatkan dari perkelahian. Mereka segera bangkit lagi dan menyerang lebih galak. Itu sebabnya akhirnya mereka berhasil membekuk Guan Suo dan menyudutkan pemuda itu di ujung gang buntu, dimana mereka menendanginya dengan keras sambil mengejeknya.
"Bagaimana sekarang, kau suka, ha?! Ayo cepat mohon ampun!" bentak mereka sambil tertawa, lalu mendaratkan ujung kaki ke perut Guan Suo.
Pemuda itu ingin bangkit, namun perutnya terasa sakit bukan main. Lututnya terasa lemah dan kepalanya berdenyut-denyut. Tadi ada yang sempat memukulkan tongkat kayu ke kepalanya, dan dia teringat bagaimana kayu itu terbelah jadi dua dan potongannya berkelontang di depannya.
Mereka menginjak kepalanya, menekannya untuk remuk di atas tanah. "Ayo cepat mohon ampun! Atau kami akan hancurkan kepalamu sehingga ibumu takkan lagi mengenali mayatmu!"
Babak belur, Guan Suo tertawa. Mungkin karena mereka menyinggung ibunya.
"Kenapa kau tertawa? Sudah gila ya?!"
"Sepertinya kau memukul kepalanya terlalu keras tadi, hahaha!"
Mendadak terdengar suara wanita, lantang dan berani, ada sebilah tongkat kayu di tangannya. "Hmm ... Tuan Guan, kau terlihat menyedihkan. Apa kau butuh bantuan?"
"Oh tidak apa-apa," jawab Guan Suo, kemudian tersedak kecil. "Aku tidak butuh bantuan siapapun. Dan aku sedang mencoba bagaimana rasanya tiduran di gang buntu."
"Kau merakyat sekali, Tuan Guan. Baiklah, kurasa aku tinggalkan kau bersenang-senang dengan paman-paman ini. Selamat tinggal!"
"Ehh... tunggu! Jingai! Aku mencarimu dari tadi!" Guan Suo mengulurkan tangannya seakan dia bisa menggapai dan menangkap Jingai yang sedang berdiri di mulut gang.
"Memohonlah padaku bahwa kau butuh bantuanku," Jingai meniup kuku-kuku jarinya yang terawat.
"Jingai, jangan pergi. Susah sekali mencarimu!"
"Mana permohonanmu?"
Mendengar percakapan dua remaja itu, para preman itu jadi kesal. "Hei, apa yang kalian berdua bicarakan? Tangkap gadis itu!"
Akhirnya Jingai tidak pernah mendengar permohonan dari mulut Guan Suo karena sekarang dia harus melakukan sesuatu agar para preman itu tidak menangkapnya juga. Tapi berbeda dengan Guan Suo yang setengah mati mempertahankan dirinya, Jingai terlihat sangat anggun. Ia dan tongkat di tangannya kelihatan seperti satu tubuh yang menari harmonis. Dan oleh tariannya yang indah namun mematikan itu, para pria kekar jatuh pingsan dengan wajah bonyok, atau hidung berdarah.
Ketika sudah seorang diri, preman yang menginjak kepala Guan Suo memilih untuk lari terbirit-birit menyelamatkan diri.
Sambil membersihkan pakaiannya yang berdebu, Guan Suo bangkit.
"Wah, ada tetesan darah. Bagaimana kau akan menjelaskan ini pada ayahmu?" ledek Jingai sambil menyentil tetesan darah di salah satu bagian baju Guan Suo.
"Itu urusan mudah. Kemana saja kau? Aku mencarimu sampai pusing!"
Zhang Jingai tersenyum riang, "aku tahu."
"Kau tahu?" Guan Suo meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Iya, sangat menyenangkan melihatmu panik dan memanggili setiap gadis berbaju merah jambu." Jingai tertawa.
"Kau licik. Kau ..."
"Aku menyelamatkan nyawamu, copet."
Guan Suo kehabisan kata-kata.
Ada suara lengkingan naik ke udara, sesuatu berpendar di langit malam yang hitam. Perhatian mereka berdua teralihkan ke langit, pada cahaya warna warni yang mengisi malam hari di Jingzhou. Kembang api adalah sesuatu yang aneh, mengapa melihat pendaran cahaya seperti itu rasanya seperti baru melihat alam terbuka untuk pertama kalinya. Tapi ada sesuatu yang lebih indah daripada cahaya kembang api, kilauan warna cahaya yang terpantul dari pipi Zhang Jingai. Dia berharap kembang api berlangsung selamanya, agar dia bisa memandangi wajah itu lebih lama lagi.
Jingai tersenyum, kemudian dia berpaling pada Guan Suo. "Bagus sekali!"
Dan melihat gadis itu gembira, hati Guan Suo terasa tenang.
"Kau sering melihat ini, Guan Suo? Benar-benar berbeda dari tembok istana!" sahutnya lagi.
Guan Suo mengeluarkan kipas bergambar burung hong dan mengibasnya berulang kali sehingga udara terembus ke wajah Jingai sehingga gadis itu akhirnya berpaling dari kembang api di langit. Dia menyerahkan kipas itu. Zhang Jingai jadi sedikit merasa bersalah karena sebenarnya dia tidak menginginkan kipas ini. Guan Suo salah paham. Tapi dia menghargai niat baik orang itu dan menerima kipas itu baik-baik, menempelkannya lekat di dada.
"Bisakah kita bergegas? Saat ini ayah pasti sudah sampai di istana."
"Ya sudah, kalau begitu kita cepat pulang saja sekarang."
"Tapi kita belum dapat hadiah untuk Kakak Ping."
Jingai tersenyum manis, "tidak apa-apa. Aku akan buat sendiri hadiah itu. Kurasa itu akan jadi lebih berarti daripada dibuatkan orang lain."
"Tapi aku menghilangkan puisimu, dan bermaksud menggantinya."
Jingai memutar mata sejenak, memikirkan sesuatu. Saat dia mendapat ide bagus, dia tersenyum, "kamu masih belajar menempa, kan?"
"Tentu saja masih."
Guan Suo dinilai sangat tidak berbakat dalam bela diri. Dia mungkin seorang pemuda yang kuat, namun ilmu semudah apapun sepertinya tidak pernah bisa tinggal lama dalam kepalanya. Dia selalu merasa bahwa jurus kungfu itu bodoh dan tidak berbeda dengan menari, dia selalu menganggap bahwa ilmu sesungguhnya dipelajari dari perkelahian nyata, bukan sekadar tarian. Gara-gara hal ini, Jendral Guan sempat marah besar padanya dan menyuruhnya memilih apa yang ingin dia lakukan untuk masa depannya. Guan Suo selalu menyukai api, itu sebabnya dia ingin menjadi seorang penempa.
"Tadi pagi Kakak Ping bertanya padaku, apa yang akan aku pilih sebagai senjata utama. Aku masih bingung karena aku suka semuanya. Kau ganti puisiku yang kau lenyapkan itu dengan membuatkanku senjata." Sambil berkata demikian, Zhang Jingai menghunuskan kipas bulat di tangannya lurus-lurus ke wajah Guan Suo.
"Hei, yang benar saja, masa senjata digunakan untuk menggantikan puisi yang hanyut di danau?!"
"Kalau tidak mau, aku laporkan jalan rahasiamu itu pada Paman Guan!" ancam Zhang Jingai.
"Ya sudah, ya sudah. Aku buatkan senjata untukmu."
"Bagus. Nah, amatir, buat yang bagus ya! Jangan sampai aku mati di tengah perang gara-gara senjata buatanmu sangat jelek!"
Guan Suo menyeringai, "enak saja. Aku akan membuatkan senjata yang sangat bagus sehingga kau tidak akan mau menggunakan senjata lain!"
Mereka bergegas kembali ke saluran air tersembunyi itu, namun pada saat sedang menyeberang jembatan, mereka bertemu dengan rombongan Jendral Guan yang sedang dalam perjalanan pulang.
Guan Suo punya banyak hal untuk dijelaskan malam itu. Bagaimana dia bisa keluar, kenapa wajahnya babak belur, dan kenapa dia membawa Zhang Jingai. Tapi Jendral Guan marah sekali. Suaranya menggelegar seperti guntur saat dia membentak anak bungsunya, "kamu ini durhaka! Selalu puas kalau sudah melanggar sesuatu! Tidak hanya itu, kamu menyeret-nyeret Zhang Jingai bersamamu!"
Zhang Jingai cepat-cepat bicara, "Paman Guan, ini salahku, aku yang memaksanya untuk membawaku keluar istana. Aku ingin melihat kembang api dari tepi sungai. Ini salahku, hukum aku saja!"
Guan Suo yang tahu betul betapa tega ayahnya bila menghukum anak itu cepat-cepat bicara, "bukan, ayah! Aku yang salah! Jingai bohong, sebenarnya aku yang memberi ide itu. Aku mengatakan padanya bahwa kembang api terlihat berbeda bila dilihat di kota, lalu mengajaknya keluar! Hukum aku saja!"
"Bukan, bukan begitu, Paman Guan. Jangan percaya pembohong ini!"
"Apa? Pembohong? Ayah, jangan dengarkan dia! Dia tidak pernah berpikir waktu bicara!"
Keduanya dihukum berlutut di depan altar leluhur keluarga Guan semalaman sambil merenungkan kesalahan yang mereka perbuat hari ini.
"Kamu sih!" gerutu Guan Suo setelah yakin tidak ada orang di sekitar mereka. Ayah bisa marah bila mendengar percakapan.
"Kok aku? Ini salahmu mencopet sehingga kita terkena masalah!"
Guan Suo tidak sanggup menahan tawanya lagi, tawa itu lolos dari bibirnya. Seakan terbujuk, Zhang Jingai juga ikut tertawa pada akhirnya. Mereka berdua tertawa dalam nada yang serupa, tawa sederhana yang kalem karena perasaan bahagia yang saat ini belum dapat mereka jelaskan.
Mungkin besok pagi Zhang Jingai tidak bisa latihan dengan baik karena lututnya pegal-pegal. Mungkin dia akan bangun kesiangan karena Jendral Guan menyuruh mereka berlutut semalaman suntuk sampai lilin merah di hadapan mereka meleleh seluruhnya. Tapi entah kenapa dihukum bersama Guan Suo rasanya sama menyenangkan dengan menonton kembang api dari tepi sungai.
Zhang Fei , adikku yang baik,
Aku punya kabar tidak menggembirakan bagimu. Menghitung berapa lama waktu telah berlalu, sepertinya kita harus sepakat bahwa putri kecilmu yang manis itu sekarang sudah semakin dewasa. Seperti bunga yang mekar di musim semi, setiap pemuda di Jingzhou mengakui kecantikannya.
Beberapa waktu lalu Zhuge Jin datang kemari dan bermaksud melamarkan dia untuk putra Sun Quan. Sepertinya dia salah paham, mengira Jingai adalah putriku. Jangan risau, aku tahu apa yang akan kau lakukan apabila engkau ada di posisiku. Tapi mengenai orang-orang lainnya, aku tidak berani menjamin.
Apabila perjanjianmu dengan kakak Liu Bei masih berlaku, aku menyarankan agar engkau mengambil kembali putrimu, Zhang Jingai, secepatnya.
(cap stempel atas nama Guan Yu dalam warna merah)
---
---
Author's note :
Soaring Phoenix adalah remake dari Folktale (atau Folktale versi Zhang Jingai/Xing Cai) dengan pematangan plot dan konsep. Cerita ini lebih berat ke sisi romance dan fantasi, karena pengetahuan saya yang minim tentang budaya Tiongkok di masa lalu dan ketidak-akuratan historis. Saya bermaksud untuk mengakali kekurangan itu dengan menghindari cerita ini menjadi historikal fiksi, namun menjadikannya fantasi-san guo (walau cerita san guo yan yi itu sendiri sudah digolongkan secara resmi sebagai cerita fantasi juga). Dalam cerita ini musuhnya bukan manusia. Banyak hal-hal supernatural seperti siluman, monster, raksasa dan hantu yang akan menjadi bagian dari cerita. Beberapa hal saya hilangkan dari Folktale, seperti perselingkuhan permaisuri yang terang-terangan itu sebagai jawaban atas kritik-kritik yang diberikan para beta reader Folktale. Intinya, cerita Folktale dan Soaring Phoenix adalah cerita yang selalu ingin kuceritakan. Semoga anda juga menyukai bagian favorit saya dalam naskah ini. ^_^
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top