COF - Prolog
Judul : Chronicle of Forgo
Genre : Epic Fantasy, Adventure
Tahun : Juni 2011
Seorang pemuda sedang memejamkan sebelah matanya. Tubuhnya terbusung tegak dengan gagah sementara kedua tangannya terentang menarik sebuah busur. Rambutnya tampak kaku dan tebal perhelainya, sementara seluruh bagian tubuhnya terlihat ramping dan panjang. Kulitnya putih pucat dengan rona kemerahan pada pipinya. Ujung matanya tertarik ke belakang, tampak seperti mata phoenix. Namun ada satu ciri khas yang membuat seseorang langsung menyadari bahwa pemuda itu berasal dari ras muda, aelf; daun telinganya yang berbentuk menyerupai daun.
"Lama sekali kau membidik. Aku saja sudah bosan melihat mereka dari tadi." Ledek halus seorang gadis aelf yang sedang duduk tidak jauh dari tempat sang pemanah berdiri. "Apa yang kau nantikan?"
Jawaban tidak segera terucap dari bibir pemuda aelf itu. Tatapannya terus berkonsentrasi membidik sasarannya.
Mereka tidak perlu alat bantu, penglihatan mereka sudah setajam elang. Mereka tidak perlu khawatir kehilangan sasaran mereka ketika terhalang oleh pepohonan lebat, ada sebuah energi ekstra yang mengalir dalam tubuh mereka yang dapat mendeteksi keberadaan makhluk lain, Force.
Mereka sedang berdiri di atas sebuah tebing yang permukaannya sedikit lebih tinggi dibandingkan pucuk-pucuk pohon di hutan black forest tanah Passifica. Dari ketinggian itu mereka bisa melihat sasaran dengan jelas.
"Maldor sangat teliti." Aelf ketiga di antara mereka akhirnya ikut bicara. "Kau tidak memperhatikan bahwa selama ini, ia selalu membunuh buruannya di tempat yang strategis?"
Aelf kedua mendengus mendengar ucapan temannya. "Sebagai adiknya, aku lebih tahu apa yang ia rasakan; pemburu kita ini sangat hemat. Daripada membeli anak panah, ia lebih suka membuatnya sendiri. Daripada mengambil resiko meleset sasaran, ia lebih suka menggunakan perhitungan Force daripada perhitungan alami. Maka dari itu, bila ia membidik ...."
Pada saat yang sama, Maldor akhirnya melepaskan kedua jari yang menjepit ekor anak panahnya...
"...Ia lebih suka menggunakan satu panah untuk dua target." Senyum percaya diri penuh keyakinan pun tersungging di salah satu ujung bibir si aelf kedua. "Tinggal menunggu momen yang tepat untuk melesatkan kematian indah..."
Seorang gadis muda berlari menembus hutan sambil mencengkram kedua kerah pakaiannya. Wajahnya menunjukkan bahwa ia merasa jauh dari aman. Pakaiannya sobek, tampaknya dirobek benda tajam. Ada segaris air mengalir dari pelupuk matanya, membasahi kedua pipinya sehingga membuat debu dan kotoran yang menempel pada pipinya.
Dalam hatinya, hanya ada satu keinginan; bertahan hidup.
Dua orang manusia di belakangnya, para lelaki kekar menyeringai bengis pada wajah mereka yang jelek. Melakukan pengejaran sambil menunggang banteng. Salah seorang menggenggam pedang besar, seorang lagi menggenggam morning star.
Mereka suka melihat gadis berkulit merah itu panik. Mereka ingin gadis itu semakin ketakutan, maka mereka meneriakkan kata-kata kotor untuknya, mengatai gadis malang itu seenak apa yang ingin mereka katakan.
Gadis itu telah berlari ratusan mil jauhnya selama beberapa hari. Satu hal yang membuktikan bahwa ia bukanlah manusia biasa. Selama itu ia tidak makan, sibuk menahan rasa lapar demi memuaskan hasratnya untuk terus hidup. Black forest menjadi pilihannya untuk menghilang dari para pengejarnya yang terus mengekor dengan ketat.
Akhirnya gadis itu berhenti pada sebuah tepian aliran sungai yang deras. Luasnya sangat tidak mungkin diseberangi begitu saja, siapapun bisa terbawa arus. Maka gadis itu mengambil sebuah dahan pohon untuk melawan.
Manusia itu mengayunkan morning starnya dan meretakkan dahan pohon itu. Manusia kedua menusukkan pedangnya langsung dan mengenai dada perempuan malang itu. Darah merah yang jernih memuncrat keluar sementara bibirnya menjerit.
Bukan jeritan kesakitan karena luka tusuk ... namun jeritan rasa sakit hati ...
Ia tidak merasa bersalah. Seseorang hendak melecehkannya, ia hanya melindungi diri dan kebetulan manusia itu tewas sekali pukul dengan kepala yang retak.
Ia jatuh terduduk dengan air mata mengalir deras tanpa tersedu. Ia ingin hidup, namun ia tidak melihat adanya harapan lagi.
"Langsung bunuh saja dia." kata seorang temannya yang melilitkan rantai morning star ke tangan gadis itu.
"Sayang sekali, baru kali ini aku melihat Aegese secantik dia. Jangan dendam pada kami yah. Salahmu sendiri membunuh bos kami." Kata seorang manusia dengan pedang teracung.
Gadis itu memejamkan matanya dengan pedih. Otak sederhananya berpikir bahwa bila ia melawan, maka akan lebih banyak manusia lagi yang akan mengejarnya untuk dibunuh. Namun ia tidak ingin mati.
Tepat sebelum lehernya dipancung, satu buah panah terbuat dari kayu hutan biasa, melesat kencang dan tajam menembus kepala kedua manusia itu melewati lubang telinga. Setelah itu, panah tersebut berputar dan kembali ke tangan pelesatnya.
Maldor menangkap panah yang kembali itu sambil tersenyum puas dan menyimpan kembali anak panahnya kepada sebuah selempang kecil di punggungnya.
"Ya, aku berhemat. Kau boleh panggil aku si pelit. Tapi aku telah menyelamatkan sebuah nyawa." Katanya sambil melompat turun dari atas tebing.
"Untuk menyelamatkan sebuah nyawa, kau mengorbankan dua buah nyawa, dan kau merasa seperti pahlawan." Sindir Elgerion, elf ketiga, sambil mengikuti Maldor yang sedang menghampiri perempuan Aegese itu.
aelf kedua mengeluarkan tawanya yang terdengar seperti kicauan burung hutan. "Kau tidak perhatikan bahwa Maldor memang rasis sejak ia kecil, Elgerion?"
Maldor berhenti berjalan dan membalikan tubuhnya lalu merentangkan kedua tangannya dengan heran. "Hei, ada apa dengan kalian? Apanya yang rasis bila aku membunuh manusia?"
"Nenek moyang kita manusia, Maldor." Kata elf perempuan itu.
"Eleniel ... nenek moyang kita bukan manusia." Maldor mendesah sambil membalikkan tubuhnya dan melanjutkan langkahnya. "...Animus."
Sementara Maldor masih terus melangkah tanpa memperdulikan kedua temannya, Elgerion dan Eleniel sengaja berjalan lebih lambat daripada Maldor dan berbicara sendiri.
"Aelf itu terlalu keras kepala. Sejak dahulu, ia tidak pernah menganggap manusia sebagai ras, melainkan hewan." Kata Eleniel.
Elgerion menepis sebuah dahan pohon yang menghalangi langkahnya. "Tidak bisa menyalahkannya juga. Manusia adalah ras yang sangat sombong dan tidak tahu terima kasih. Tapi ..."
Ketika mereka tiba di tepi sungai, Elgerion merasa sedih melihat dua tubuh manusia tergeletak tak bernyawa dengan lubang besar pada kedua telinga mereka. Elgerion hanya bisa menghela nafas.
Sementara itu Maldor dengan ramah mengulurkan tangannya pada gadis yang ketakutan itu tanpa memperdulikan dua mayat di sekitar mereka. "Salam, Aegese, jangan takut, manusia itu sudah mati. Kau aman sekarang."
===========================================================
Chronicle of Forgo, "Riwayat Forgo" adalah cerita yang kutulis untuk menggambarkan dunia fantasy Adamos, dan untuk pendalaman cerita mengenai karakteristik ras aegese atau sekarang kuubah jadi "srikandarv". Dalam cerita ini, Forgo, setengah aegese setengah aelf memutuskan untuk meninggalkan negeri aelf (elf) tempat kelahirannya untuk melihat dunia luas yang dihuni oleh manusia. Dalam petualangannya, Forgo berhenti di sebuah kota bernama ... aduh namanya lupa dan males ngecek lagi. Basque kalau ga salah (ilham dari Spanyol sih). Di sana dia jatuh cinta dengan seorang perempuan bernama Irish dan punya sahabat yang setengah aegese setengah manusia bernama Galeno (kisah Galeno pernah kubuat cerpennya untuk fantasy fiesta... ga menang T_T). Petualangan Forgo melihat dunia Adamos dimulai setelah Irish diculik dan untuk menyelamatkannya, Forgo harus menemukan sebuah tempat bernama Amoura, tapi ga ada yang tahu dimana Amoura berada. Tapi proyek ini terhenti entah karena apa ... padahal sampai endingnya sudah tau mau bagaimana ceritanya tapi malas melanjutkan.
Terima kasih sudah membaca! ^_^
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top