Luo Shen Fu


Dalam kegelapan malam, kuda itu melangkah perlahan menelusuri jalan setapak. Ia dan penunggangnya sebentar lagi akan memasuki kota Luoyang, ibukota Wei. Cahaya matahari baru akan mengintip beberapa jam lagi, sementara itu, Cao Zhi menegak arak ketiganya dengan rakus. Butiran-butiran air lolos membasahi pipi, leher dan kerah bajunya yang mahal namun lusuh dan bau keringat. Bila orang tidak pernah mengenal siapa Cao Zhi si penyair, putra mendiang Cao Cao yang meninggal beberapa waktu lalu, orang akan mengira pemuda itu gembel gila yang mencuri jubah seorang pangeran.

Cao Zhi menepuk leher kudanya. "Sebentar lagi sampai. Ahh!! Berdebar-debar rasanya hatiku! Sebentar lagi saudaraku yang satu ayah dan satu ibu itu akan mencabut nafasku dengan paksa, dia akan meremukkan tulang belulangku dan mungkin akan menggunakan dagingku untuk memberi makan anjing-anjing istana! Aku harap dia tidak menyembelihmu juga, temanku."

Cao Pi, kakaknya yang baru saja naik tahta menjadi raja Wei, telah mengundangnya berulang kali ke istana. Dia menyebut penyair itu kurang ajar, anak tidak berbakti karena tidak muncul sama sekali di hari pemakaman ayah mereka. Kini pada hari dimana Cao Pi menjadi Kaisar Wei pun dia tidak juga muncul untuk memberi selamat. Sudah banyak surat dan pesan panggilan dari Cao Pi agar saudaranya itu pulang. Sekadar bertatap muka, katanya. Tapi Cao Zhi tahu serigala macam apa yang bersemayam dalam jiwa kakaknya.

Bukan rahasia lagi bila sejak saudara tertuanya, Cao Chong meninggal dunia di usia yang terlalu muda, Cao Zhi telah difavoritkan ayah dari 24 anak lelaki itu untuk menjadi penggantinya. Walau pada akhirnya, Cao Pi lah yang cukup jantan untuk maju dengan kepala dingin sehingga memenangkan kedudukan itu. Namun sepertinya Cao Pi telah terbiasa untuk memandang dirinya sebagai pesaing kuat untuk mendapatkan apa yang begitu dia inginkan.

Rasanya baru kemarin Cao Zhi mendengar kabar duka lain. Kata pembawa berita, Cao Zhang mati saat sedang bermain catur dengan Cao Pi. Walau menurut pengumuman resmi, kematian saudaranya itu adalah karena serangan jantung mendadak, tapi hanya orang bodoh yang percaya. Cao Zhang! Dia yang paling gagah dan tangguh di antara 2 lusin anak Cao Cao, dan dia mati gara-gara serangan jantung?!

Puih! Cao Zhi meludah. Mereka pikir dirinya sebodoh apa, mempercayai berita itu? Cao Zhang sudah pasti mati dihabisi Cao Pi, karena saudara mereka yang gahar itu bisa saja mencekik Cao Pi di tempat dan merebut kedudukan sebagai perdana mentri. Tapi lihat sekarang siapa yang duduk di atas takhta kaisar?

Cao Pi jauh lebih mengerikan dibandingkan seratus Xu Chu!

Kemarin ada surat terakhir datang dari Cao Pi. Seperti biasa, dia ingin Cao Zhi datang untuk menghadap, ditulis dengan kaligrafi yang dingin, kaku dan menusuk. Isi surat itu berbunyi demikian;

"Saudaraku yang baik, Cao Zhi, apa kabarmu?

Apakah kau sudah menerima pesan-pesan dariku tentang kematian ayah? Mengapa engkau tidak datang juga? Datanglah, sudah lama kita tidak bercengkrama. Aku sedih karena tidak juga mendengar kabar  apapun darimu, aku kangen padamu. Apa yang telah terjadi padamu?

Bila engkau tidak datang juga akhir pekan ini, maka aku harus mengirim seratus pasukan untuk memeriksa kediamanmu dan memastikan engkau baik-baik saja.

Saudaramu, Cao Pi."

Sungguh surat undangan yang mengerikan. 

Seratus pasukan itu pasti datang dengan bersenjata lengkap atas perintah seorang yang tega membunuh saudara satu ayah-satu ibunya sendiri, mau apa mereka?! Cao Zhi bisa saja bersikeras untuk menolak pergi, tapi mereka pasti akan menarik rambutnya dan menyeret dia sampai ke depan ibu jari kaki Cao Pi di Luo Yang. Cao Zhi bisa saja makan banyak-banyak sehingga tubuhnya menjadi gempal dan mereka tidak bisa menyeretnya karena terlalu berat. Tapi mereka bawa pedang! Mereka bisa memotong-motong dia menjadi potongan-potongan kecil kemudian dibawa ke hadapan Cao Pi, di atas meja makan bertabur rempah. Mungkin. Atau paling praktis, mereka bisa menggunakan pedang-pedang itu untuk menebang pilar-pilar rumahnya dan menyusunnya untuk menjadi panggung kremasi, dengan demikian mereka hanya perlu membawa satu guci abu yang dulunya adalah Cao Zhi ke hadapan Cao Pi.

Setan sudah menggerayangi kepalanya, kendi arak sudah kosong. Dibuangnya kendi keramik arak itu ke sembarang arah. Cao Zhi merasakan tumpulnya gigi-gigi setan yang sedang menggigit kepalanya. Tangan setan itu meremas-remas telinganya hingga terasa panas. Badannya jadi dingin, tapi kepalanya penat. Tapi setan itu sudah menjadi kawannya setiap hari, sejak hari dimana satu persatu miliknya dirampas untuk diberikan pada Cao Pi.

Pertama, ayah menjanjikannya Nona Zhen, wanita cantik hasil "rampasan perang" ketika mengalahkan Yuan Shao dan antek-anteknya nyaris dua puluh tahun lalu. Namun nona itu diberikannya pada Cao Pi. Tak lama kemudian ayah memujinya sangat cerdas dan pantas untuk menggantikannya sebagai perdana mentri. Tapi gara-gara satu kesalahan fatal dalam tugas negara, sekarang sang ayah menyerah padanya dan mewariskan jabatannya pada Cao Pi.

Cao Pi lagi, Cao Pi lagi.

Apa yang tidak dimilikinya? Berbeda dengan Cao Zhi, si kakak cukup populer di kalangan kerajaan dan para mentri. Menurut Cao Zhi, Cao Pi sangat pandai berbicara. Semua orang diambil hatinya demi mendukungnya mencapai tahta. Wahai setiap pejabat cerdik dan cerdas yang dulu membantu ayah, gumam Cao Zhi dalam hati, buka mata kalian! Ada seorang ambisius sadis yang tidak akan pernah berhenti hingga dia memiliki segalanya. Bila Cao Pi sudah memiliki seluruh dunia, dia akan meminta langit!

Mendadak seekor kucing hitam melintas melewati kuda sehingga membuat kuda yang ditunggangi Cao Zhi terkejut. Badan depan kuda itu naik setinggi-tingginya, bila tidak ada setan yang sedang menggantung seperti kera gila di punggungnya sekarang, Cao Zhi tidak akan kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari pelana.

Rerumputan basah mencoba menahan tubuh Cao Zhi, namun mereka terlalu gemulai. Si pemuda merasakan salah satu bahunya sakit seperti digigit anjing, tapi semua itu tidak terasa bekat gigi-gigi tumpul si setan yang masih saja bertengger di punggung dan kepalanya.

Dalam keadaan demikian, segala reputasinya sebagai penutur kata-kata indah yang begitu memahami kecantikan kata, segera dipertanyakan. Mungkin gigitan setan yang membuatnya mengeluarkan sumpah serapah itu. Tapi mungkin bukan gara-gara si setan, mungkin karena rasa takutnya terhadap kematian yang datang mendekat. Atau ... mungkin karena ruang hampa dalam hati saat Nona Zhen diambil darinya.

Tahun berlalu, cantiknya Zhen Ji masih membekas dalam ingatannya. Senyum gadis itu, tatapannya yang hangat, semua masih ada dalam kepalanya. Rasanya seperti baru kemarin mereka bergandeng tangan di tepi sungai Luo. Jari-jari tangan Cao Zhi masih bisa merasakan halusnya helaian rambut hitam Nona Zhen. Kini di depan matanya hanya ada langit malam bertaburan bintang, dan bintang-bintang itu saling menempel, membentuk wajah Nona Zhen.

Malam kembali hening, Cao Zhi hanya mendengar suara nafasnya yang panas. Dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh Nona Zhen di langit hitam berbintang. 

Terpanjat satu harapan, "ingin."

Pandangannya mengabur,"... aku ingin bertemu dengannya lagi."

Nafasnya semakin berat, tertindih emosi di atas hati.

Wajah Zhen Ji pecah seperti cahaya yang terurai saat jari Cao Zhi menyentuhnya. Pemabuk itu kembali mendengarkan suara derik serangga dan aliran air sungai.

Hanya ada hantu Zhen Ji bagi Cao Zhi yang malang, beserta setan gila yang masih bergelantungan di punggungnya dengan gigi-gigi tumpul yang mencoba menghancurkan kepala si penyair.

Pemabuk itu bangkit, sedikit terhuyung namun mencoba untuk mengendalikan langkah kakinya. Kudanya tadi berlari entah ke mana, tapi pastinya tidak akan jauh. Setan di punggungnya ini berat sekali, berdiri tegap saja jadi sulit. Tapi setan itu telah menemaninya sejak lama, dia sendiri yang mengundangnya. Mungkin karena gigitan setan itu lebih terasa nyata dan nyaman daripada kehampaan menganga dalam hatinya.

"Kau cantik sekali, ..." pemabuk itu berbisik, karena wajah Nona itu tidak pernah pergi dari pikirannya. "... seperti bidadari. Bidadari memang cocok dengan dewa, kaisar. Aku? .. aku hanya pecundang yang berkutat dengan kata. Tulisan dan huruf ... simbol pecundang." Gerutunya sambil terseok-seok mendekati suara gemerisik air sungai yang kian terdengar jelas.

Seseorang memanggil namanya dengan suara sejernih aliran sungai Luo.

Cao Zhi berhenti melangkah. Matanya berkedip lemah, mencoba untuk memastikan bahwa itu bukan karena si setan sedang iseng terhadap indera pendengarannya.

"Mifei...?" dia membisikkan nama bidadari sungai Luo.

Angin hangat berhembus melalui kulitnya, membisikkan sesuatu yang maknanya hanya diketahui oleh hati. Setan di punggung yang menggigit kepalanya terusir pergi meninggalkan punggungnya. Cao Zhi tidak lagi terhuyung, dia tahu ada sesuatu di sekitarnya.

Di balik sebatang pohon persik, Cao Zhi melihatnya. Seakan cahaya dari bintang yang telah tercerai berai oleh sentuhannya tadi turun ke atas bumi, untuk menemuinya. Wanita yang telah lama diambil darinya itu, kini ada di hadapannya. Ada selendang sutra mengambang, terjepit pada kedua lengannya seakan bidadari itu berada di dalam air. Gaunnya merah muda, lembut dengan pendaran cahaya bintang putih kekuningan.

"K-kau..."

Hantu itu berbalik dan pergi, lenyap terhisap kegelapan tepi sungai Luo.

"Zhen Ji," bisik Cao Zhi.

Sejak Cao Pi mendapatkan istri bidadarinya, Cao Zhi tidak lagi betah di istana. Dia meninggalkan tempat itu untuk tenggelam dalam rengkuhan setan. Dengan suka rela dia berendam dalam peluh neraka yang manis, berharap segala kegundahan hatinya tersapu bersih. Ribuan puisi tercipta bagi Zhen Ji sejak itu, namun semuanya segera menguap tak berbekas karena ditulis dengan suara. Tak ada yang mampu menangkap suara, seperti dirinya yang selalu mencoba menangkap bayangan Zhen Ji yang muncul karena permintaannya pada si setan. Tapi kali ini berbeda. Sesuatu yang baru saja dilihatnya itu bukan karena ilusi yang diciptakan setan. Bayangan cantik itu memberikannya vibrasi yang hanya terasa pada saat dia berdekatan dengan Zhen Ji. Karena hatinya adalah qin, yang dawainya hanya bisa digetarkan oleh jari-jari Zhen Ji.

Seperti serdadu dia berlari di sepanjang bibir sungai Luo. Sampai kakinya sakit, nafasnya habis dan tersenggal, dia berhenti. Matanya masih liar memandang ke segala arah, percaya bahwa gadisnya berada dekat sekali dengannya.

"Cao Zhi,.." suara yang akrab itu membisikkan namanya. Dia sangat dekat, nafasnya menyentuh daun telinga Cao Zhi sehingga pemuda itu menoleh.

Seperti melihat mimpi, gadis itu tersenyum padanya. Mereka sedekat jangkauan tangan, tangannya naik untuk menyentuh wajah itu. Namun saat jarinya sampai di permukaan pipi makhluk cahaya itu, muncul riak seperti yang terlihat di permukaan kolam. Tidak ingin ilusi itu menghilang lagi, Cao Zhi cepat-cepat menarik tangannya dari wajah Zhen Ji.

"Zhen Ji, apa yang kau lakukan di sini?" 

Cahaya lembut itu berpendar semakin kuat, selendangnya mengelilingi Cao Zhi dan kedua tangannya menyentuh wajah Cao Zhi. Wajah gadis itu mendekat, semakin dekat. Cao Zhi memejamkan matanya. Bertahun-tahun direngkuh setan yang begitu berat, kini sesosok bidadari Luo mendayunya hingga melayang.

Cao Zhi lupa bahwa manusia tidak bisa terbang, yang dia tahu, dirinya sedang bergandengan dengan bidadari itu melompat dari bintang ke bintang. Mereka tertawa di antara awan, berdansa dikelilingi bintang, berlarian di atas pelangi. Cao Zhi lupa bahwa bulan tidak bisa dimakan, yang dia tahu, bidadari itu sedang menyuguhkan bulan ke mulutnya dan rasanya lebih manis daripada madu.

Langit sudah biru saat Cao Zhi membuka mata, seekor semut sedang melewati pergelangan tangannya. Setan sudah pergi, meninggalkan rasa berat di kepala yang ditinggalkan oleh gigi-gigi tumpulnya. Sesuatu yang berkilau berbaring di atas telapak tangannya. Batu itu terpoles halus, berbentuk lonjong dan dibingkai oleh sulur emas. Cao Zhi mendekatkan benda itu ke matanya dan menyadari bahwa itu adalah giok ungu. Dia ingat, dulu pernah memberikan benda yang sama pada Zhen Ji di tepi sungai Luo. Ini adalah anting-anting, di mana pasangannya?

Hatinya menggetarkan semangat untuk kembali ke istana. Kini dia punya alasan untuk bertemu lagi dengan gadis pujaan hati. Bila dia hanya boleh melihat gadis itu untuk terakhir kali, dia rela berhadapan dengan ribuan Cao Pi sekaligus!

Ia memanjat kudanya yang telah menunggu sejak semalam. Mereka memasuki kota Luoyang tanpa ada seorangpun yang mengenali penyair menyedihkan yang digoda setan setiap hari.

Dia lahir dan besar di tempat yang kini menyambutnya dengan bisu. Pintunya terbuka lambat seperti gerbang penjara. Sorot mata para pengawal setajam bilah es, Cao Zhi tidak akan terkejut bila serdadu yang telah dia lalui tadi mendadak menghunus pedangnya dan menghamburkan darah merah dari lubang di lehernya yang terbelah. Ruangan rumah tidak lebih baik dari itu semua. Pilar-pilar itu adalah bongkahan es, atapnya berat, menekan Cao Zhi hingga gepeng di atas lantai.

Di ruang pertemuan dalam istana, setiap mata menatapnya sinis. Dirinya duduk dihimpit para pegawai istana yang menatapnya remeh. Jantung Cao Zhi gemetaran seperti buah masak yang dilempari batu oleh anak-anak nakal. Seseorang muncul meneriakkan kedatangan Cao Pi, dan berkat nama itu, anak-anak nakal telah berhasil menjatuhkan buah dari ranting pohonnya.

Sang Kaisar menduduki singasananya.

Dia masih seangkuh terakhir Cao Zhi melihatnya, hanya lebih bangga. Wajahnya masih bersih seperti dulu ketika dia masih selugu buaya muda, kini dia buaya dewasa yang lebih bijak dalam menunggu saat yang tepat untuk menangkupkan rahang tajamnya. Dia seperti gunung kokoh yang tidak terbantahkan, namun tak akan ada yang berani mencoba untuk membuat gunung itu meledak sehingga memusnahkan apapun di sekitarnya.

Mungkin datang ke sini adalah kesalahan, sama salahnya dengan menyodorkan kepala di antara dua rahang buaya yang menganga. Mungkin mati dimutilasi seratus pasukan kerajaan yang akan dikirim Cao Pi bila dirinya tidak pulang juga itu jauh lebih baik daripada datang menyerahkan diri dalam keadaan hidup seperti ini. 

Yang paling buruk, seseorang menertawakan dia yang tadi pagi bersesumbar bahwa dia berani menghadapi ribuan Cao Pi sekaligus demi melihat Zhen Ji sekali lagi. Dan orang yang tertawa itu adalah dirinya sendiri. Benar-benar pecundang menyedihkan.

Seperti matahari, dia duduk di kursi terhormat di depan dinding berlukiskan Liong hijau yang berdansa dengan harimau putih di sepanjang pakaian emasnya. Dia mulai membuka mulut dan berbicara panjang lebar menyebutkan daftar dosa Cao Zhi di hadapan para mentri dan pejabat, seperti membuat alasan bagus untuk membunuh saudara kandungnya sendiri yang setiap hari hanya bercumbu dengan setan. Tapi kepala Cao Zhi menjerit, dia berharap setan muncul lagi untuk mengigiti kepalanya agar setiap ucapan kakaknya ini tidak membuatnya membayangkan golok pancungan atau tiang gantungan.

"Jadi, saudaraku, apa yang menjadi alasan kuat bagiku untuk membiarkanmu hidup?" tanya Cao Pi. Lamunan Cao Zhi segera pecah berhamburan seperti genangan air yang dilintasi kereta kuda.

Setan terlalu sering menggerogoti kepalanya, dia menjadi agak lambat untuk memberi reaksi. Wajahnya kuyu seperti orang linglung. Dia sedang berdiri di penghujung batas kewarasan. Cao Zhi bisa merasakan setiap mata pejabat-pejabat itu menatapnya setengah tertawa. Kemana si penyair jenius yang dulu sanggup mengengangkan setiap orang di istana dengan puisi-puisi spontannya itu?

"Kakak, aku sendiri tidak mengerti apa yang kau takutkan dari penyair malang sepertiku." 

"Penyair ... ya, kau benar. Setiap orang harus berguna, Cao Zhi. Kenapa tidak kau pamerkan saja kemampuanmu itu agar aku terkesan? Bila kau berhasil membuatkan puisi yang indah tentang persaudaraan tanpa menyebut kata "saudara" di dalamnya dalam tujuh langkah, aku akan memaafkanmu," tantang kakaknya.

Ini satu-satunya kesempatan untuk menyelamatkan hidupnya. Setidaknya bila dia berhasil membuat puisi lagi sekarang, dirinya bisa dilepaskan dan kembali dalam pelukan setan. Dia akan menyerahkan diri sepenuhnya sampai gigitan setan itu menghancurkan kepalanya, dan merengkuh jantungnya sampai berhenti berdetak.

Langkah pertama. Pikirannya kosong.

Langkah kedua. Pikirannya hampa.

Langkah ketiga, jantungnya berdebar.

Langkah keempat, dia ingin buang air!

Langkah kelima, Luo Shen Fu tersenyum.

Langkah keenam, mungkin kalau dia mati, dia bisa memohon jasadnya dilemparkan ke sungai Luo sehingga dirinya bisa berdansa lagi dengan Luo Shen Fu di antara awan dan bintang-bintang.

Langkah ketujuh, ....

"煮豆燃豆萁,
"Cooking beans on a fire kindled with bean stalks,"
豆在釜中泣。
"The beans weep in the pot."
本是同根生,
"Originally born from the selfsame roots,"
相煎何太急!
"Why so eager to torture each other!"

Kacang-kacangan yang sedang dimasak di atas kuali menangis semua. Mereka berasal dari kuali yang sama, kenapa begitu ingin untuk saling menyakiti?

Cao Pi terpaku seperti patung yang tak bernyawa, bernafas pun tidak. Ketika dadanya mengempis, air matanya mulai berjatuhan di wajahnya yang masih kebal akan ekspresi. Dia ingat kembali masa kanak-kanak, saat mereka berbagi kacang dan tertawa bersama. Dia, Cao Zhi dan Cao Zhang, saat mereka masih belum tahu apapun tentang politik dan kekuasaan. Saat mereka masih terlalu polos untuk mengetahui bahwa mereka harus saling membunuh agar tidak dibunuh demi kursi yang saat ini sedang dieraminya. Kursi kehormatan itu, dibasuh dengan darah Cao Zhang. Kini dia hendak membasuhnya sekali lagi dengan darah Cao Zhi.

Para mentri menundukkan kepala dalam duka, lalu menyeka wajah mereka yang basah. Saudara satu ayah satu ibu saling bunuh demi kekuatan. Indahnya surga pasti tidak akan mampu menahan tangis Perdana Mentri Cao Cao, melihat anak-anaknya saling bunuh.

"Kau benar, saudaraku..." Cao Pi mengusap wajahnya. "Apa yang telah kulakukan...?"

Kedua saudara itu kembali berjalan bersama dengan akur menelusuri koridor istana berpilar merah. Cao Pi bilang bahwa dia akan memberikan saudaranya itu sebuah tempat yang damai. Cao Zhi tahu daerah tersebut, itu adalah daerah terpencil dari keramaian militer dan politik negara. Dia akan diasingkan di sebuah tempat kecil dan lemah, dan setiap hari diawasi. Tapi sepertinya ini lebih baik daripada mati oleh pedang atau tiang gantungan.

"Terima kasih atas kebaikan hati anda, Yang Mulia," kata Cao Zhi dengan hormat, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk meladeni rasa takut yang sejak tadi berteriak-teriak panik dalam batinnya.

Cao Pi mengangguk, menerima sikap pasrah itu. "Kau bisa berangkat hari ini juga atau besok, aku akan siapkan surat-suratnya sekarang."

Sebelum Cao Pi meninggalkannya sendiri, Cao Zhi mengeluarkan sebuah anting dari balik pakaiannya. "Kakak, tadi pagi kutemukan benda ini terlantar di tepi sungai Luo. Bisakah aku menemui pemiliknya sebelum aku berangkat ke sana?"

Cao Pi tidak berkata apapun, namun matanya berbicara banyak. Penyair mabuk itu segera membaca sesuatu yang menyedihkan, dan rasa takut membuatnya menyimpan semua pertanyaan yang timbul. Kakinya terasa melayang saat mengikuti kemana Cao Pi mengantarnya.

Itu adalah bilik yang sangat luas, namun terbengkalai. Ranjang telah kosong tanpa kasur, dan kelambu sutra yang masih tergantung di tepian ranjangnya dibiarkan melambai tertiup angin yang masuk dari jendela-jendela yang terbuka. Tak ada apapun di sana, bahkan sarang laba-laba sekalipun. Almari hitam di sudut ruangan menjadi satu-satunya penjaga yang membisu dalam kehampaan ruangan. Ini seharusnya kamar seorang permaisuri Wei. Kini tidak lebih dari tempat yang dulu pernah indah, dan ditinggalkan oleh penghuninya.

"Ini kamar pemilik anting itu," kata Cao Pi, membiarkan adiknya melangkah masuk ke dalam kamar yang mati bersama pemiliknya.

Kekosongan kamar ini menceritakan segalanya pada Cao Zhi.

Seharusnya dia hidup bahagia, seharusnya ia diberikan perlindungan dan kebahagiaan oleh lelaki yang beruntung memilikinya. Seharusnya seseorang tetap memelihara senyumnya, mengucapkan padanya setiap saat, betapa berharganya dirinya.

Angin hangat kembali memasuki ruangan, seseorang sedang pamit pada Cao Zhi.

Selir Guo sangat ambisius. Tidak puas memiliki Cao Pi seutuhnya, ia ingin menjadi permaisuri. Diletakkannya sebuah boneka kayu kecil di kamar Permaisuri Zhen, ditulisnya nama Cao Pi beserta hari kelahiran raja muda itu. Dituduhkan padanya bahwa Permaisuri Zhen sedang mengguna-gunai rajanya sendiri karena cemburu.

Cao Pi yang marah, mengira dirinya dijampi-jampi, memaksanya untuk meminum racun.

Selir Guo pun bisa tersenyum puas di atas tahtanya sebagai permaisuri.

"Kita adalah dua makhluk yang sia-sia, bidadari Luo ku ...," Cao Zhi berbisik.

Di tepi sungai Luo, Cao Zhi duduk membisu. Dia selalu berkata, Zhen Ji cantik seperti Luo Shen Fu, bidadari sungai Luo. Dulu Zhen Ji sering bersantai di tepi sungai Luo, kecantikannya bersinar melampaui teman-teman yang mengelilinginya. Dia selalu ingat saat gadis itu tertawa dibawah payung merah bermotif petal bunga persik. Saat mata hitam Zhen Ji di kejauhan itu menyadari seorang penyair sedang duduk di seberang sungai, gadis itu tersenyum padanya. Kenangan itu masih ada setiap kali Cao Zhi duduk di sini, di tepi sungai Luo.

Cao Zhi mengambil secarik kertas dan tinta, kemudian mulai bersajak dengan air mata ...

Apa kau tahu warna air mata seorang penyair?

"Gazing upon her from a distance;
Bright as the sun
Over rosy morning clouds.
Step nearer, look more closely,
She shimmers like a lotus
Above the waves.

Neither thick-set nor frail,
Neither tall nor short
Her shoulders seem scripted,
Her waist narrow
As if bound.

The graceful curve of her long neck
Reveals the white flesh of her throat.
There is no need for perfume here,
No need for leaden powder."

Warna air mata penyair adalah hitam. Ya, sehitam tinta.

Di tepi sungai Luoyang, aku duduk. Ya, aku menangis.






Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top