Rapat Kelas

Armin mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Guru sejarah, Erwin Smith mengangguk padanya, "ya? Silakan bertanya, Arlert."

"Tadi bapak bilang bahwa genosida terhadap suatu ras tertentu itu merupakan kejahatan besar yang melanggar kemanusiaan. Saya ingin bertanya, apabila ada ras tertentu yang memiliki budaya untuk menghancurkan ras lain kemudian digenosida, pastinya kita telah menyelamatkan ras lain dari ras penghancur tersebut. Bukankah ini berarti bahwa menggenosida ras penggenosida ini adalah suatu hal yang justru mendukung kemanusiaan?" tanya Armin dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa penasaran.

Banyak reaksi yang diberikan oleh teman-teman sekelas oleh pertanyaan Armin barusan. Hanya Sasha yang masih diam-diam makan kentang goreng yang disembunyikan di kolong meja, yang tidak mengerti maksud pertanyaan Armin.

"Menarik," kata Pak Erwin. "Pertanyaan kamu itu mengandung imajinasi yang cukup dalam mengenai bagaimana dunia ini bekerja. Tapi bapak perlu tekankan bahwa kita belum tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Mungkin kita akan menyelamatkan banyak orang dengan membunuh seseorang, misalnya dengan memenjarakan seorang psikopat yang membunuh orang lain secara berkala. Tapi sebelum hal itu terjadi dan terbuktikan, kita tidak bisa sembarangan. Perlu proses dan bukti untuk menentukan apakah suatu makhluk hidup perlu dibinasakan untuk menyelamatkan yang lain atau tidak."

"Jadi menurut bapak, kita harus menunggu korban jatuh dulu baru kita bisa menyelamatkan yang tersisa?" tanya Armin.

Bel pulang sekolah akhirnya berdering dan murid-murid yang sudah pusing dengan argumentasi Armin itu mengungkapkan kelegaan mereka.

"Sebelum kalian pulang, biar Bapak menutup pelajaran hari ini," kata Erwin Smith. "Armin, setiap orang punya caranya masing-masing untuk menyelesaikan masalah. Tapi benar atau tidaknya tindakan seseorang, membutuhkan bukti yang konkrit sebagai pembenaran. Kurasa hanya orang-orang tertentu yang berani untuk dianggap penjahat demi sesuatu yang lebih baik. Sekian pelajaran hari ini, terima kasih atas perhatian kalian."

Murid-muridn menunggu Erwin Smith meninggalkan kelas sebelum mereka melakukannya. Tapi Jean sudah berdiri menghalangi pintu kelas agar tidak ada yang meninggalkan kelas.

"Tolong jangan pulang dulu, teman-teman!" Eren berseru pada teman sekelasnya. "Kita akan diskusi mengenai Festival Ulang Tahun Sekolah!"

Beberapa murid mengeluh, tapi Ymir dan Krista tetap asik mojok di kelas. Mereka tidak keberatan apapun yang terjadi asalkan bisa tetap bersama-sama. Satu persatu mereka kembali ke tempat duduk masing-masing.

"Jadi kita mau ngapain nih untuk isi acara di Festival Ulang Tahun Sekolah? Kalau booth kita laris manis, kita bisa menabung banyak uang kas untuk kegiatan bersama!" kata Eren.

"Aku ingin main drama!" Krista angkat tangan.

"Jangan drama, atraksi saja!" 

Masing-masing memberikan ide, tapi Eren menyuruh Mikasa untuk menuliskan ide di papan tulis. Mereka melakukan voting dan sampai pada keputusan untuk membuka booth cheeseburger. 

"Yes! Kita akan buat booth cheeseburger paling laris! Kita akan kalahkan semua booth di sekolah ini dan rebut semua pelanggan! Target kita adalah 1.000 cheese burger terjual!"

Seisi kelas bersorak setuju, lebih baik cepat sepakat agar tidak kelamaan tinggal di kelas dan lebih cepat pulang.

Tapi Jean langsung protes, "tunggu dulu Eren, itu terlalu berkhayal!"

Mendengar omongan Jean seisi kelas menjadi sebal karena orang itu sepertinya komplain terus.

Jean menjelaskan dengan segera, "di sekolah ini ada lima kelas untuk masing-masing angkatan yang satu kelasnya kira-kira ada dua puluh orang. Itu berarti satu angkatan ada sekitar seratus orang. Dikalikan tiga jadi sekitar tiga ratus orang. Bila kamu mau jual 1.000 cheeseburger, itu berarti satu orang beli tiga atau empat cheeseburger. Kecuali kamu nyolong cheeseburger dari Burger King dan menjualnya seperempat harga atau gratisan, aku tidak yakin ada yang mau beli sebanyak itu."

"Kita buat yang sangat enak sehingga satu orang beli lima! Jangan kehilangan harapan," kata Eren.

"Iya betul! Jean berhentilah mengkritik dan lakukan sesuatu, jangan omong doang!"

Tapi Jean tidak mendengarkan mereka, dia malah berdiri dan bicara semakin lantang, "aku tidak mengkritik atau komplain, aku bicara kenyataan saja. Pertama, gak semua orang suka cheeseburger, kedua, burger di depan sekolah jualnya sepuluh ribu satu biji dan itu sudah gak pakai keju, itu pesaing kita. Kalau mau laku kita harus buat burger yang bisa dijual kurang dari sepuluh ribu. Kedua, gak semua siswa akan masuk sekolah pada hari itu, beberapa siswa pasti akan menggunakan kesempatan tersebut untuk bolos atau kabur..."

"Pengalaman pribadi ya?" sindir Reiner.

Ucapan Jean tersendat sebentar dan dia melirik Reiner yang sedang menyeringai mengejeknya. Jean lanjut bicara, "intinya, kurangi target jadi setengahnya saja lah, 500 cukup realistis."

"Tidak bisa 500," kata Eren. "Karena kakak kelas kita, Rico akan buat kue mochi yang sangat enak, tahun lalu dia berhasil menjual 1.000!"

"Kalau Kue Mochi memang masih masuk akal karena satu orang beli banyak pun masih bisa murah. Rasanya juga enak. Tapi ini cheeseburger, kamu makan satu juga belum kenyang tapi harganya terlalu mahal. Gak masuk akal, Eren!" kata Jean.

Sekarang sekelas jadi murung, karena mereka harus brainstorming lagi. Kenapa Jean nggak ngomong "YA" saja sih, kenapa dia harus mengkritik Eren terus? Kalau dia setuju-setuju saja kan gampang, dan mereka gak perlu pusing begini.

Armin mengerti apa yang dirasakan oleh teman-temannya itu, kemudian dia berbicara, "begini, aku rasa Jean ada benarnya. Tapi 1.000 itu masih bisa kok kalau kita benar-benar memikirkannya dengan matang."

Mendengar ucapan Armin, seisi kelas menaruh harapan padanya. Karena sebentar lagi mereka bisa meninggalkan kelas dan pulang ke rumah!

"Kamu ada ide, Armin?" tanya Eren.

"Ada, tapi kurasa pertama-tama kita harus membentuk tim saja, karena bakal lebih efektif dan teman-teman lain bisa lebih cepat pulang," kata Armin.

"Ide bagus! Ayo kita bentuk tim!"

Tim pun terbentuk, Eren, Mikasa, Armin, Ymir, Krista, Jean, Reiner dan Bertholdt. Satu-satunya alasan kenapa Jean ada di sana adalah karena Armin memaksa memasukkannya dalam tim.

"Ogah, aku mau pulang!" kata Jean.

"Di antara kita hanya kamu yang sadar tentang detil target penjualan dan kemungkinan pasar. Kamu diperlukan di sini," kata Armin, menarik Jean untuk duduk di sebelahnya. 

"Oke, jadi bagaimana? Apa yang kita lakukan sekarang? Bagaimana biar kita bisa menjual 1.000 cheeseburger dari target pembeli yang hanya sekitar 300 orang?" tanya Eren.

"Itu berarti satu orang harus beli empat, minimal tiga," kata Reiner.

"Tidak hanya itu, kita harus jual burger itu maksimal sepuluh ribu, tapi melihat dari bahan-bahannya, modal satu burger itu ..." Mikasa mencorat-coret kertas. "sekitar 8000."

"Kita akan jual 8.500 rupiah!" kata Eren. "Kalau untung 1.000, kita  bisa dapat untung 5 juta!"

"Iya, tapi kalau tidak, bisa tekor; capai di ongkos dan tenaga," kata Jean.

"Daripada protes terus lebih baik kamu kasih solusi," kata Eren.

Jean mengambil kertas yang jadi corat-coretan Mikasa, "Ini harga standar, aku tahu dimana bisa membeli bahan yang lebih murah daripada ini, kita bisa jual dengan harga segitu tapi juga untung lebih banyak lagi."

"Oke, kalau begitu untuk membeli bahan-bahan kuserahkan padamu, Jean!" kata Eren.

"Siap," kata Jean tanpa bersemangat. Dia sudah bosan, kemudian SMS bosnya, "maaf, aku bakal telat datang. Ada rapat kelas sebentar."

"Oke, sepertinya itu saja, mari kita bekerja!"

Jean langsung mengantongi ponselnya dan bicara, "hei, hei, tunggu dulu! Kamu pikir orang akan datang begitu saja? Kalau promosinya gak bagus bisa-bisa kita keluar duit sia-sia untuk beli bahan yang akan membusuk dalam waktu beberapa hari saja!"

"Apa lagi?" tanya Reiner, dia juga ada kerjaan setelah pulang sekolah ini dan gemas karena belum bisa meninggalkan kelas.

"Promosinya harus bagus. Kita harus pikirkan desain banner yang menarik, konsep tenda, dan terakhir ...," Jean nyengir. "SPG! Harus yang super cantik!"

"Aku bisa mengurus soal itu," kata Bertholdt. 

"Aku akan membantumu, Bert!" kata Armin.

"Oke, Armin. Pulang sekolah nanti kamu ke rumahku, kita akan memikirkan itu bersama di kamarku," kata Bertholdt.

"Hei, hei, harus di kamar ya?" sahut Jean.

"Kenapa memangnya? Komputer pribadiku adanya di kamar," kata Bertholdt.

"Eren, bukannya lebih baik kalau kamu ikut?" tanya Jean lagi.

"Aku harus memikirkan resep yang terbaik untuk masak burger, dan kurasa aku harus mendiskusikan ini bersama Sasha," kata Eren.

"Aku ikut," kata Mikasa sambil memancarkan ambisi yang mengerikan.

"T-tapi ..." Jean masih keberatan memikirkan Armin berduaan dengan Bertholdt mendiskusikan sesuatu di kamarnya seharian.

"Kalau kamu bingung mau ngapain, cari saja SPG cantik untuk mempromosikan burger kita," sindir Armin.

"Apa maksudmu? Itu fungsinya SPG, kan?" Jean protes.

"Sepertinya segitu dulu rapat kita hari ini, teman-teman! Bertholdt, kau langsung kerja saja dengan Armin hari ini, besok sudah harus selesai desainnya, ya!" kata Eren.

"Sip, beres! Ayo, Armin, aku baru beli mainan rakitan kapal perang nih, kamu pasti suka," kata Bertholdt.

"Waahh! Jadi gak sabar masuk ke kamarmu!" Armin meninggalkan kelas.

"Kalau desain sudah jadi, aku dan Krista sayang akan membeli bahan-bahan desain itu dan mengerjakannya, oke?" Ymir merangkul Krista dan mereka berdua meninggalkan kelas.

"Kamu gak ikutan?" tanya Jean pada Reiner.

"Kamu pergi beli belanjaan itu bersamaku, aku juga tahu dimana harus membeli bahan-bahan yang lebih murah itu kok," kata Reiner.

"Tapi gak bisa hari ini, aku ada kerja sambilan. Besok saja," kata Jean.

"Oke, aku akan ikut ke kamar Bertholdt dan threesome bersama Armin!" Reiner segera berdiri meninggalkan kelas, Jean jadi semakin menyesal.

"Kenapa kamu?" tanya Eren.

Jean hanya berdecak kesal, memungut tasnya dan meninggalkan kelas. Bersepeda untuk kerja sambilan.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top